Mimpi, Kah?

1023 Words
“Viola!” Yogi melambaikan tangannya ke arah Viola yang sedang berjalan menuju ke kelas yang kini tak jauh dari tempatnya berdiri. Viola pun melihat sekilas ke arah Yogi, dan kembali menundukkan kepalanya saat ia mengetahui bahwa Yogi lah yang memanggil namanya. Tidak ingin ada kerusuhan seperti kemarin, Viola lebih baik mengabaikan dan di cap sombong daripada Yuna marah kepadanya Yogi menghela nafas berat, karena Viola mengabaikan panggilannya. Membuat Yogi semakin penasaran kepada sosok gadis itu. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Yogi diacuhkan oleh seorang gadis. Padahal sebelumnya, begitu banyak gadis yang bertekuk lutut di hadapannya karena pesona dan ketampanan yang ia miliki. Bahkan tanpa didekati pun, gadis-gadis itu sendiri yang datang untuk berkenalan. Sesampainya di kelas, Viola langsung duduk dan mulai membaca sebuah buku sambil menunggu jam kuliah dimulai. “Aku sudah sering menanyakannya kepada papi aku, Yuna. Tapi tetap saja, papi tidak mau memberitahukan kepada aku di mana alamat rumah pak Alex. Dan papi juga tidak tahu, kapan pak Alex kembali mengajar.” Nuri meletakkan tas yang ia bawa di atas kursi, dan duduk di atas meja. “Aku tidak yakin papi kamu tidak mengetahui dimana keberadaan pak Alex. Sangatlah tidak masuk akal, salah satu rektor di kampus ini tidak mengetahui kemana pak Alex pergi. Kamu ingat, ketika dosen akuntansi tidak masuk? Papi kamu kan yang ngasih tau kalau beliau sedang sakit?” tutur Yuna yang ikut duduk di samping Nuri. “Sebenarnya aku juga ragu, sih. Tapi mau gimana lagi,” jawab Nuri. Gadis itu terlihat murung dan tidak heboh seperti biasanya. Sudah banyak cara yang ia lakukan tapi, tetap saja tidak ada satupun informasi tentang Alex yang bisa didapatkannya. Ia juga sudah membujuk sang ayah agar memberitahukan segala tentang Alex, tapi tetap saja ditolak. Viola yang duduk di dekat meja Nuri bisa mendengar dengan jelas keluh kesah teman satu kelasnya itu. Yang katanya sangat merindukan sosok Alex, yang telah menghilang beberapa hari terakhir. Tidak ada satupun dosen yang mengetahui di mana Alex melakukan pelatihan, begitu pula dengan alamat rumahnya. Bahkan, Viola sendiri yang berstatus sebagai istri sahnya Alex, tidak mengetahui di mana keberadaan dan bagaimana kabarnya kini. Viola juga tidak memiliki nomor ponsel Alex yang bisa dihubungi untuk menanyakan di mana kini keberadaannya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Viola juga sangat merindukan suaminya itu. “Pagi semua ....” Reno, dosen yang lainnya, masuk ke dalam kelas Viola untuk menyampaikan beberapa materi dan tugas yang sempat ditinggalkan Alex. Katanya sih, begitu. Tapi tidak ada yang tahu kapan tepatnya Alex meninggalkan tugas-tugas tersebut. Viola mengangkat kepalanya perlahan, ia kembali kecewa karena pria yang berdiri di depan kelas bukanlah Alex suaminya. “Pagi ... Pak!” sahut seluruh mahasiswa yang ada ada di dalam kelas. “Ok, untuk pertemuan ini, saya datang hanya untuk menyampaikan tugas yang telah dirangkum pak Alex untuk kalian semua. Sisanya, tetap beliau yang akan mengerjakan." Reno menjelaskan secara singkat apa yang membuatnya bisa berada di dalam kelas yang tidak ada di dalam daftar tanggung jawabnya sebagai seorang dosen di kampus tersebut. “Pak ....” Nuri mengangkat satu tangannya, “Pak Alex memangnya pergi pelatihan kemana, Pak? Kok nggak baik-baik?” “Saya juga tidak mengetahui dimana keberadaan pak Alex. Beliau hanya mengatakan, untuk beberapa minggu kedepan tidak bisa masuk karena pelatihan yang harus dihadiri. Sebelum pergi, beliau meninggalkan beberapa materi dan tugas kepada kami yang memiliki jurusan sama seperti beliau," terang Reno. Tetap saja tidak menjawab di mana kini keberadaan Alex. “Bapak tidak bohong, kan?” Nuri mengangkat satu alisnya, menatap kepada dosen tampan berusia dua puluh sembilan tahun yang sedang berdiri di hadapannya. Reno tersenyum dan mendekati Nuri, “Tidak ada untungnya bagi saya jika membohongi kalian semua.” Meraih sebuah buku yang ada di atas meja dan membuka buku tersebut. “Apa masih ada pertanyaan? Kalau tidak, saya akan mulai proses belajar mengajar.” *** Viola menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya, setelah dua jam lebih, kelas hari ini selesai juga. Setelah ini ia bisa kembali ke apartemen. Mengurung diri dan menunggu hari esok tiba. Masih saja seperti itu, seperti hari-hari biasanya. Sebelum pulang, Viola tidak langsung keluar seperti mahasiswa lain. Ia akan keluar setelah kelas kosong Agar tidak ada satupun mahasiswa yang melihat dan melontarkan kata-kata pedas ketika Ia melintas. Namun, kali ini, langkah Viola dihadang Yogi. Pria itu melipat kedua tangannya di d**a dan tersenyum manis kepada Viola. Menebarkan segala ketampanan yang ia miliki untuk memikat hati gadis yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya. “Yogi, minggirlah! Aku sedang tidak ingin bercanda," tegur Viola agar Yogi beranjak dan tidak mengganggu jalannya. “Vio, aku tidak sedang bercanda, aku datang kesini hanya untuk mengajak kamu berbicara.” “Aku tidak bisa. Aku tidak ingin menambah masalah di dalam hidupku. Aku harap kamu paham maksud dan posisiku.” Viola menubruk tubuh Yogi agar bisa lewat dan segera berlari meninggalkan kelas. Yogi yang tadinya berdiri diambang pintu untuk menghentikan langkah Viola termangu karena penolakan gadis itu. Padahal tujuan Yogi datang ingin mengajak Viola berbicara sambil makan di suatu tempat. Tapi sayangnya malah ditolak mentah-mentah seperti tadi. Lagi-lagi Yogi hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena saat ia berbalik Viola telah hilang dari pandangannya. Gadis itu berlari secepat yang ia bisa agar bisa segera menjauh, jauh, dan sejauh mungkin agar tak bisa dilihat oleh siapapun lagi. Lagi-lagi hari ini Viola pulang dengan berlari. Membuat tubuhnya terasa penat dan letih. Dan begitu ia sampai di apartemen, Viola langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya tanpa memperhatikan sekeliling. Tanpa sadar kondisi apartemen berbeda dari biasanya. Usai dengan ritual mandi yang cukup lama, Viola segera berbaring di atas ranjang dan menutup matanya. Tubuhnya terasa sangat lelah, sehingga ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum ia makan siang. Anehnya, baru beberapa menit Viola menutup mata, ia merasakan kasur yang ditiduri terasa turun. Menandakan ada seseorang yang sedang duduk di sampingnya. “Sejak kapan kamu memiliki kebiasaan seperti ini? Pulang kuliah bukannya makan dulu baru istirahat. Kamu ingin sakit?" tegur seorang pria. Pria yang suaranya tak asing lagi ditelinga, sekaligus pria yang telah lama hilang dan dirindukan. Perlahan, Viola membuka kedua matanya untuk memastikan apakah pendengarnya salah atau hanya halusinasi saja. ”Bapak?” ucap Viola sambil mengusap matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD