Alex mengulas dan mengusap pucuk kepala Viola, “Iya, kenapa? Apa kamu berharap orang lain yang ada di hadapan kamu?” ucap Alex sedikit cemberut.
“Bu-bukan begitu, Pak. Saya pikir …."
“Apa?” ucap Alex sambil memiringkan kepalanya.
“Sudahlah, lupakan saja. Tidak seharusnya bapak menemui saya di dalam mimpi seperti ini. Apa Bapak ingin mengajak saya bercinta lagi? Dan begitu saya terbangun bapak sudah tidak ada disini. Jujur, saya sangat merindukan Bapak. Hampir dua minggu saya tidak bertemu dengan Bapak. Tapi kalau boleh saya meminta, jangan hanya muncul di dalam mimpi saya saja, Pak. Saya sangat merindukanmu, Pak!” cecar Viola seraya mengusap pipi Alex.
Alex tersenyum, “Aku juga sangat merindukanmu, sehingga aku memutuskan untuk datang menemuimu. Dan aku melawan seluruh rasa takutku untuk menemuimu, karena aku sudah tidak mampu membendung rasa rindu di hatiku ini untukmu.” Meraih tubuh Viola, dan memeluknya dengan sangat erat. “Aku jatuh cinta padamu. Semakin aku menjauh semakin besar rasa rindu ini. Semakin aku menyangkal, semakin sesak yang kurasa karena jauh darimu," akunya mengungkap segala rasa yang telah dipendam selama ini.
“Aku juga mencintai, Bapak. Aku berharap, suatu saat nanti mimpi ini menjadi kenyataan. Walaupun ini semua hanya mimpi, tapi itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku bahagia. Aku sudah bahagia meski hanya bisa mengungkapkan dalam mimpi saja padamu." Viola berucap dengan lirih. Merasa cukup bahagia bisa mengungkap isi hatinya meski tidak nyata.
Dan ia cukup bahagia, di alam mimpi ini Alex juga mencintainya.
“Vio, benarkah kamu mencintaiku?” Alex mengurai pelukannya dan menangkup kedua pipi Viola
Viola mengangguk pelan. Mengakui sekali lagi kalau ia benar mencintai Alex. Toh ini hanya dalam mimpi. Mau mengatakan cinta jutaan kali pun tidak akan ada yang tahu.
“Terimakasih” Alex mempererat pelukannya kepada Viola. Akhirnya, ia mendengar dengan jelas bahwa Viola sangat mencintainya. Meskipun gadis itu menyangka ini bukan kenyataan.
Namun, Alex akan menyadarkan Viola bahwasanya ini bukan mimpi.
Perlahan, Alex membawa tubuh Viola berbaring. “Viola ....”
“Mmm,” gumam Viola, seraya menyembunyikan wajahnya di dalam ceruk leher Alex. Mencari kenyamanan dan kehangatan yang telah lama dirindukannya.
“Apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku. Padahal, usiaku jauh lebih tua darimu. Tiga puluh dua tahun dengan dua puluh tahun. Apa kamu tidak malu memiliki suami setua ini?"
“Aku tidak tahu kenapa bisa jatuh cinta padamu, Pak. Tetapi, yang aku tahu saat ini, aku sangat nyaman dan bahagia berada di dekatmu. Dan aku merasa kesepian dan rindu di saat bapak jauh dariku. Di dunia ini, aku pun hanya memilikimu."
“Benarkah?” Alex menatap sayu kepada Viola.
“Iya,” ucap Viola, sambil mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Alex.
“Berjanjilah padaku, kamu harus selalu setia dan menjaga cinta ini.” Alex menekankan setiap kata yang terucap dari mulutnya. Trauma dengan pengkhianatan yang dilakukan Arinda di masa lalu, membuatnya takut memulai kisah baru, tapi tak ingin pula hanyut dalam luka untuk selama-lamanya.
“Aku berjanji, Pak.” Viola memantapkan diri untuk mengucapkan janji yang begitu tulus dari dasar hatinya yang paling dalam.
Alex tersenyum senang. Cintanya bersambut dan ia bisa melihat dengan jelas ketulusan dan keseriusan dari tatapan mata Viola.
Sehingga Alex meraih tengkuk Viola. Perlahan, Alex melumat bibir gadis itu dan menyusupkan tangannya ke dalam kaos yang dikenakannya. Mata Viola membesar saat merasakan tangan besar Alex yang telah menyentuh dadanya. Persis seperti yang ia rasakan di mimpi beberapa hari lalu.
Masih mimpi, Viola memilih menikmati saja dan kembali menutup kedua matanya saat Alex memainkan kedua ujung gundukannya secara bergantian. Meremas lembut, agar ia merasakan sensasi aneh yang mulai membakar dadanya.
“Aku ingin memberikan hakmu sebagai suami hari ini. Seperti di mimpiku yang lalu. Di alam mimpi inilah aku bisa memilikimu secara utuh," lirih Viola di sela ciuman panasnya dengan Alex.
“Aku milikmu, Sayang. Kamu bisa memiliki aku seutuhnya. Bukan hanya di alam mimpi saja,” ucap Alex setelah melepaskan tautan bibirnya pada bibir Viola.
Segera ia bangkit dan membuka pakaiannya sendiri. Ia hanya menyisakan satu helai kain tipis untuk menutupinya di bawah sana.
“Hari ini, aku ingin memilikimu seutuhnya, Sayang. Kalau memang benar kamu ingin memberikan hakku hari.” Dengan cepat, Alex menindih tubuh Viola dan kembali mengulum bibir istrinya itu.
“Mmhhh ....” Viola melenguh, saat Alex memasukkan tangannya ke dalam celana yang ia kenakan. Jari telunjuk Alex langsung memainkan tonjolan kecil yang ada di dalam sana, tanpa melepaskan tautan bibirnya mereka.
Lenguhan Viola semakin terdengar nyaring, saat Alex memasukkan jarinya kedalam lorong kenikmatannya. Disana Alex bisa merasakan gadis itu yang telah mencapai puncak kenikmatan. Cairan licin sudah membasahi Viola membuat Alex tidak sabar untuk masuk.
Viola yang masih berpikir ini hanyalah mimpi, tidak segan mendesah dan melenguh panjang, menikmati sentuhan demi sentuhan yang Alex berikan. Ia juga tahu, saat masuk nanti pasti mimpi indahnya akan segera berakhir.
“Jangan menyiksaku, Pak,” lirih Viola seraya mengusap Alex yang telah membesar di balik celana dalam yang ia gunakan.
“Kamu yakin ingin menyerahkannya sekarang, Vio?” bisik Alex.
“Aku yakin, Pak. Lagi pula ...,”
Alex langsung mengulum bibir Viola, dan segera membuat tubuh istrinya itu polos tanpa sehelai benangpun. Ia sudah tidak mampu lagi menahan hasratnya sendiri. Karena Viola sudah mengeluarkan adik kesayangannya dari sangkar.
Alex langsung menindih tubuh Viola, kembali mengulum bibirnya dan menyapanya di bawah sana.
Tubuh Viola melentik saat merasakan bibir basah Alex yang turun menyesap salah satu ujung gundukan kenyalnya. Bersamaan dengan gesekan halus padanya di bawah sana.
“Ahh ..., Pa-pak,”
“Sebut namaku, Sayang ...,” bisik Alex
“A-alex … ini pe-perih," ucap Viola terbata-bata saat Alex mulai mencoba masuk. Ia meremas kuat sprei yang bisa ia jangkau. Sungguh ini sangat sakit, seakan ini benar dunia nyata.
Bahkan Viola merasakan tubuhnya dibelah menjadi dua bagian saat Alex semakin membenamkan diri di bawah sana. Ia ingin terbangun saja dari mimpi kalau begini sakitnya. Sakitnya begitu nyata dan terasa amat menyiksa.
Melihat Viola yang menggigit bibir bawahnya, Alex kembali menyesap bibir istrinya itu agar tidak terlalu fokus terhadap rasa sakit yang sedang mendera.
“Tahan sebentar, ya, Sayang," bisik Alex di sela ciumannya dengan Viola.
Viola menutup kedua matanya dan mengangguk pelan. Ia tidak menyangka mimpi kali ini terasa sangatlah nyata. Beberapa kali ia membuka dan menutup matanya agar segera sadar dari alam mimpi. Agar sakit dan sesak ini segera hilang dari bawah sana saat Alex berkali-kali mencoba untuk masuk.
Namun, Alex yang amat besar dan kekar membuat Viola harus menahan sakit yang amat menyakitkan. Karena suaminya itu berkali-kali gagal untuk meruntuhkan sekat yang masih utuh di bawah sana.
Berkali-kali gagal dan meleset. Berkali-kali juga Viola meringis dan merasa sesak menerima Alex yang kokoh itu. Hingga akhirnya ….
"Owh … Alex …," erangnya kuat. Saat Alex masuk dengan sempurna. Tubuh Viola bergetar hebat. Sakit, sesak, penuh, telah bergabung menjadi satu.
Nafasnya putus-putus, dengan keringat yang telah membasahi tubuhnya.
Begitupun dengan Alex, ia puas. Akhirnya bisa memiliki Viola secara utuh. Dan rasa puas itu pun bercampur bahagia karena ia adalah orang pertama bagi Viola.
“Tahan sedikit lagi, Sayang,” bisik Alex, sebelum bergerak untuk menyelesaikan permainan mereka berdua.
Viola mengangguk. Menahan nafas saat Alex mulai bergerak.
“A-ah ..., Pak. I-ini sakit.” Sumpah demi apapun. Rasanya Viola tidak sanggup untuk lanjut. Ini amat menyakitkan baginya.
Alex segera menghentikan gerakannya, “Kita istirahat saja, ya. Aku tidak tega melihat kamu kesakitan seperti ini.”
“Ti-tidak, Pak. Selesaikan saja.” Ini tidak akan lama kan, ya?"
Tidak ingin Alex kecewa, Viola memilih terus maju. Meski hanya dalam mimpi, ia tidak ingin Alex merasa kecewa dengannya.
“Maafkan aku, Vio," bisik Alex pelan, seiring dengan pergerakannya.
Perlahan, rintihan Viola berubah menjadi desahan kenikmatan. Hingga Alex mulai mempercepat tempo gerakannya, agar ia dan Viola bisa sama-sama mendapatkan pelepasan mereka berdua.
“Sayang ..., aku selesai,” erang Alex, seraya mengentak dalam untuk mengantarkan benihnya ke dalam rahim Viola. Ia ingin benih cintanya segera hadir di dalam sana. Agar Istrinya itu tidak memiliki alasan untuk meninggalkannya seperti Arinda dulu. Rasa takut kehilangan Viola, membuat Alex melupakan status mereka yang belum diketahui oleh kedua orang tuanya.
“Terimakasih, sayang," ucap Alex pelan, sebelum mengecup sekilas bibir Viola. Ia pun membawa Viola kedalam pelukannya, dan menutupi tubuh polos mereka dengan selimut.
Viola yang telah kelelahan hanya mampu menganggukkan kepalanya. Nafasnya masih memburu karena percintaan pertamanya dengan Alex yang sangat menguras tenaga. Rasa lelah dan mengantuk langsung membawa Viola kembali ke alam mimpi yang sesungguhnya.
Merasakan nafas Viola mulia teratur, Alex sedikit menurunkan wajahnya untuk melihat gadis itu. Ternyata Viola sudah tertidur dengan sangat nyenyak di dalam pelukannya. Tidak ingin mengusik, Alex memutuskan untuk kembali tidur. Setelah ini barulah ia akan menceritakan apa saja yang dialami selama mereka berjauhan.