Kedua mata Nuri mengerjap. Merasakan sesuatu yang begitu penuh di dalam miliknya. Ia juga merasakan gelenyar aneh, saat ujung dadanya dihisap kuat. “Selamat pagi, Sayang …,” serak Bayu. Seraya melepaskan ujung d**a Nuri yang sedari tadi ia hisap. Untuk membangunkan gadis itu. “Aku pikir siapa yang mengganggu tidurku. Ternyata kamu,” balas Nuri. Mencoba melepaskan diri dari pelukan Bayu. “Aku menginginkan kamu, Sayang. Tidak bisakah kita menikah saja?” “Aku masih kuliah. Dan perlu kamu ketahui, ya. Aku mencintai pak Alex. Dan karena ulahmu, semakin sulit bagiku untuk mendapatkannya.” “Sayang, lihat aku,” lirih Bayu. Pria itu menindih tubuh Nuri dan menempelkan dahi mereka berdua. “Untuk apa kamu mengejar pria yang tidak mencintaimu. Sedangkan kamu tahu, dia sudah memiliki istri.”

