“Ngapain tadi?” tanya Miller dingin. Bikin gue gelagapan. Mario udah pergi ke kamar seolah nggak melakukan apa-apa. Dia nggak tau gara-gara dia bentar lagi gue dikuliti sama Miller. Atau lebih parah Miller telan gue hidup-hidup. “Tadi—” “Hem.” Dia berdehem nggak minat dengan penjelasan gue. “Kamu ngapain kesini pagi-pagi?” niatnya sih nanya doang. “Kenapa? Ngerasa terganggu?” yang dapat malah sindiran nggak mutu. Miller menekankan kata terakhir bersamaan satu alis terangkat. “Hmm….” Gue pindah duduk ke sebelahnya dengan muka cemberut. Gue memeluk lengannya yang dibalut jaket kulit warna cokelat. “Jangan marah yaaaa, tadi tuh Marionya tuh nggak tau kenapa tiba-tiba—” “Terserahlah!” kata Miller sambil menarik tangannya dari kepala gue yang bersandar manis disana tadinya. Hoams, k

