5. Mario

3345 Words
Hari Kelulusan “YEAAAAY! GUE LULUUUUUUUUUS!” teriak gue sambil menggigit tangan ntah siapa yang tadi mampir dipapan pengumuman. “AAAW!” jeritnya. Gue menoleh dan ternyata Raisa. Cewek populer katanya. Atau lebih tepatnya dia mantannya Miller. Dia menatap sebal sambil mengusap-usap jarinya. “Emang nggak bisa ya membiasakan hidup normal kayak manusia lainnya?” katanya sambil melihat gue dari atas sampe bawah. “Kenapa? Ada masalah?” tantang gue. “DASAR MONYET RABIES!” pekiknya sambil menjambak rambut gue dengan kasar. Eh, k*****t nih cewek! “ADUH! WOI LEPAS WOI! SAKIT MONYONG!” pekik gue lalu menjambak rambut ikalnya yang sepinggal. MATI! “APA LO BILANG? @#@$%#@%$#!” Raisa mengumpat dan mendorong gue sampe jatuh ke tanah. Dia duduk diatas perut gue tanpa mau melepaskan jambakannya. Nggak mau kalah, gue meraih kerah bajunya lalu mendorongnya hingga jatuh. Sekarang giliran gue yang duduk diperutnya. “GY! ADUH GY! UDAH DONG!” gue tau itu suara Melon dan Gia. Anak-anak mulai berdatangan mengerumuni gue sama Raisa yang masih jambak-jambakan. “MAUGY! UDAH DOOOOONG!” teriak Gia. “GY! UDAAAAH!” tambah Melon. Sementara yang lain… “RAISA! RAISA! RAISA!” “MAUGY! MAUGY! MAUGY!” Masing-masih fans saling berteriak memberi dukungan. Cih. “MAUGY!” Suara itu membuat gerakan gue dan Raisa berhenti. MILLER! Gue bangun sambil menepuk-nepuk tangan yang kotor terkena tanah. Raisa ikut bangun dengan muka mewek. “Miller! Aku digigit sama Maugy tadiii huhuhu.” Katanya sambil menunjukkan tangannya yang ada bekas gigitan gue. “Nyantai dong nggak usah main jambak juga kali!” sembur gue. “Huhuhu, sakit!” adunya sambil menempelkan dadanya kelengan Miller. Ish, menjijikkan. “Udahlah sana, Sa! Gerah!” balas Miller ketus lalu tatapannya beralih ke gue. “Pulang sekarang!” kata Miller ke gue seperti biasa. Dingin dan jutek. “Ya!” balas gue lalu pergi diikuti Melon dan Gia. Gue sempat noleh ke belakang dan apa-apaan itu? Miller mengusap-usap tangan Raisa? “Mau ngapain lo Gy?” Tanya Melon yang melihat gue memungul bekas minuman kaleng. “Nih! Lihat!” kata gue lalu melempar kaleng bekas itu ke arah Raisa. PLETUK! Kena kepala. Raisa mengerjap-ngerjap sambil menekan pelipisnya. “JURUS LANGKAH SERIBUUU!” teriak gue lalu ngacir diikuti Melon dan Gia. Kita bertiga lari ke semak-semak belakang pohon. Sampenya di balik semak, gue liat si Raisa udah pingsan dipangkuan Miller. Halah, dasar Drama Queen. Gue tau dia pura-pura pingsan, kan lumayan ntar digendong Miller. “Tuh! Mati! Cemburukan lo? Lo sih pake lempar kaleng segala!” kata  Gia. “Iya Gy, tuh tuh tuh digendong deh dia sama Miller!” sambung Melon sambil nunjuk-nunjuk Miller yang membawa Raisa ke arah UKS. Gue sempat liat Raisa mengangkat jempolnya ke arah gue lalu membalikkannya ke bawah. Ngejek. “Biarin!” kata gue berusaha nggak perduli. Padahal kalo ini lagi dikamar, udah nangis kejer. “Ngapain kalian disini?” suara Nelo membuat gue dan yang lain kaget. “Ihhh, Nelo ngangetin deh aaaa!” kata Gia sok manja sambil menyundul kepala Nelo dengan kepalanya. “Lo ngapain disini?” Tanya gue lalu berjalan ke dekat pohon besar. Gue duduk dibangku panjang dibawahnya. “Hmmm…cuma mau salam perpisahan aja.” Kata Nelo lalu duduk di sebelah gue. “Huuuu Nelooo jangan gitu dong! Kitakan masih bisa jumpa di rumaaah!” kata Gia sambil mencubit pipi Nelo dengan gemas. Gue mulai curiga, jangan-jangan Gia suka lagi sama Nelo. “Gia! Ucup ngeliatin lo tuh!” tunjuk Melon ke arah lapangan basket. Gia angkat bahu cuek. “Biarinlah! Bukan siapa-siapa gue juga!” “Dia mau kesini tuh!” kata Melon lagi. “Mau ngapain lagi sih dia?!” Gia mendengus sebal. “Hai semua, selamat ya kita semua lulus!” kata Ucup setelah berdiri tepat dihadapan gue dan yang lain. “Hai, Cup! Iya, selamat juga buat lo! Mau nyambung kuliah dimana lo?” Tanya Melon. “Hmmm…Gia lo dimana?” Ucup mengalihkan pandangannya ke Gia. Gue sempat melirik ekspresi Melon yang mendadak mendung. Eh, kenapa dia? “Mau tau aja!” jawab Gia jutek. Ucup tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Gia. “Besok gue terbang ke Singapura. Mau lanjut sekolah kesana, bye?” “Dikata batman kali bisa terbang…” cibir Gia tanpa menoleh. “Kak Gigi…” tegur Nelo sebagai tanda agar Gia mau  menyambut uluran tangan Ucup yang masih menggantung di udara. “Iyaaaa! Byeeeeee!” kata Gia lalu menjabat tangan Ucup nggak minat. “Jauh amat ke Singapura, Cup?” Tanya Nelo. “Iya, sekalian mau bantu usaha Papa gue disana…” jawab Ucup sambil tersenyum tipis. “Oh, semoga sukses aja deh! Kalo balik ke Indo, kasih tau kita ya?” kata gue sambil menjabat tangannya. “Hati-hati ya, Cup! Sukses buat lo!” kata Melon dan menjabat tangan Ucup. Gue lirik dengan ujung mata, Melon kelihatannya beda deh. “Iya, thanks ya! Eh, gue mau foto bareng kalian dong, buat kenang-kenangan?” kata Ucup. “Biar gue yang foto!” kata Gia lalu meraih kamera ditangan Ucup. “Tapi gue mau ada lo juga…” kata Ucup lirih. “Biar gue yang foto aja deh sini!” kata Melon lalu merebut kamera ditangan Gia. “Gi, terakhir doang…” bisik gue ke Gia. “Ntar kalo dia melet gue lewat foto gimana? Atau dia ngirim santet?” “Dasar dodol! Nggak mungkinlah! Ucup tuh baik lagi, Gi!” kata gue dan menarik Gia untuk duduk disebelah Ucup. Melon mundur beberapa langkah sambil mengarahkan kameranya ke arah gue dan yang lain. Gue, Gia, Ucup, dan Nelo berfose sambil ngacungin jari berbentuk V. Ada lima jepretan dan berakhir dengan pose hidung babi. “Thanks ya, ini bakal gue pajang besar-besar dikamar gue!” kata Ucup senang. Apalagi waktu melihat foto dia dan Gia yang sengaja diambil Melon tanpa ada gambar gue dan Nelo. Yaaa kasian deh Ucup. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Gia keterlaluan, padahal Ucup baik banget loh. Tapi ya cinta emang nggak bias dipaksain. Drrrrt drrrrrrrrt Gue merogoh saku rok gue yang bergetar tanda ada panggilan masuk. Mario Calling…… “Ngapain lagi sih nih anak?” gumam gue kesal. “Kenapa, Gy?” Tanya Gia dan Melon bersamaan. “Bentar…” jawab gue lalu menekan tombol hijau. “Halo?” “Maug, gue udah dibandara nih. Lo jemput gue sekarang yayaaa?” suara sok manis itu masuk telinga gue dengan sempurna. “Males ah!” jawab gue lalu terkikik. “Kan…bukannya kemaren bilangnya iya? Plis ya jemput gue? Masa tega liat gue kayak anak hilang disini?” katanya lagi setengah merayu. Suaranya manis banget sih! Eh. “Iyaaaaaaa! Tungguin disana!” “Eh eh, ntar gimana caranya lo tau gue dan gue tau lo? Kitakan belum pernah jumpa?” “Gampang! Ntar gue bawa papan nama!” “Ooooh, yaudah ya, gue tunggu disini sampe lo datang!” kata Mario lagi penuh penekanan. “Yuhuuuuuu!” “Maugy gue serius!” kata Mario serius. Wow, dia manggil gue Maugy. “Iyaaaaa! Tungguin aja deh disana! Nih gue mau kesana!” kata gue sebal lalu menekan tombol merah. “Siapa sih Gy?” Tanya Gia penasaran. Gue liat Melon juga ngeliat gue penasaran. “Itu loh, anaknya tante Kenny yang waktu itu lo bilang mau tinggal di rumah gue, sekarang udah sampe dan gue harus jemput dia!” kata gue lalu mengambil posisi tegak. “Siapa?” Tanya Nelo dengan alis terangkat. “Mario.” Jawab gue lalu ngacir menuju parkiran. Saatnya ngerjain si bocah cengeng HUAHAHA! ►► NELO POV “Mario siapa sih?” Tanya gue ke Gia dan Melon setelah Maugy pergi dengan motornya. “Anaknya tante Kenny yang di Jerman itu loh…” jawab Gia.  “Terus dia mau ngapain kesini?” Tanya gue masih penasaran.  “Katanya sih mau tinggal di rumah Maugy sekalian mau kuliah disini…”  “Cowok?” “Iyalah Nelo, namanya aja Mario! Emang kenapa sih?” Tanya Gia sambil menatap gue lekat-lekat. Ada cowok yang mau tinggal serumah sama Maugy? Orang asing? “Nggak ada. Mau pulang bareng?” Tanya gue mengalihkan pembicaraan. “Maaaaaaaaau buangeeeeet!” teriak Gia sambil menggamit lengan gue. “Melon! Kok malah bengong sih?” Gia menyikut pinggang Melon. Ketahuan nih Melon, galau ditinggal pergi sama Ucup. Gue tau dari dulu Melon suka sama Ucup. Sayangnya Ucup sukanya sama Gia. Ribet. Sama aja kayak gue. Hem. “Eh? Iya tungguin!” kata Melon lalu beranjak dari tempatnya. Mario? Kenapa berita ini seolah jadi berita buruk buat gue?  ►► BANDARA SOEKARNO-HATTA “Aduh Papan namanya!” gue berbalik dan mengambil papan nama bekas ntah milik siapa yang ada ditong sampah. Gue ambil spidol yang tadinya gue pake buat coret-coret baju teman sekolah gue dan gue tulis besar-besar nama Mario. MARIO d***o! HUAHAHAHA Gue berlari kecil menuju pintu keluar. Sekarang orang-orang pada ngeliatin gue dari atas sampe bawah. Gue masih pake seragam sekolah yang penuh coretan piloks dan spidol. Bodo amat, sekalian pamer gue udah lulus SMA hihihi. “Permisi! Permisi!” kata gue ke beberapa orang yang menghalangi jalan gue. Mereka tinggi-tinggi banget sih. Gue jadi susah buat lihat ke depan. Gue menerobos masuk tanpa perduli omelan om-om dan tante gendut yang tadinya ada didepan gue. “MARIO d***o! I’M HERE! MARIO d***o!” teriak gue sambil mengangkat tinggi-tinggi papan nama yang terbuat dari potongan kardus. Sesekali gue celingukan ke arah pintu keluar. Yang mana sih orangnya? Pasti jelek deh! Kalo nggak cungkring, hitam, gendut, atau ingusan? Puk puk. Gue lihat ke sebelah kiri, ada tante-tante hamil nepukin pundak gue dengan mata melotot. Satu tangannya lagi menunjuk ketek gue yang basah. “Kenapa tante?” Tanya gue dengan kening mengerut. “Ba..uh.” BRAK. Dia jatuh pingsan seketika. Eh? Gue buru-buru pindah tempat dan balik teriak lagi. Gue sempat liat tante hamil itu digotong ntah kemana. “Duh, mana sih Mario!” Gue ngomel-ngomel sambil mengutak-atik ponsel. “Halo?” “Lo dimanaaaa siiiiih? Gue udah didepan nihhhh!” “Oh, iya ya? Bentar ya Maug. On the way!” KLIK. Kenapa gue jadi deg-degan gini sih? ►► AUTHOR POV Mario melepas handsfreenya lalu buru-buru berjalan ke arah pintu keluar. Sampainya disana, dia mulai mencari-cari orang yang akan menjemputnya. Mario menggeleng lalu mengacak rambut cokelatnya. Dia juga membasahi bibir bawahnya tanpa bingung. Keningnya mengerut penuh tanya. Sesekali dia berguman tanpa melepaskan tatapannya dari sekumpulan orang-orang didepannya. Sampai akhirnya, dia mendapati sebuah papan nama dengan tulisan ‘MARIO d***o!’ ? Mario terkikik lalu mendekati seorang gadis yang masih berseragam sekolah penuh coretan warna-warni. Cewek itu menunduk tapi kedua tangannya terangkat ke atas memegang papan nama.  Mungkin dia orangnya. Bukan mungkin. Pasti DIA! “Hei?” ►► MAUGY POV Gue masih celingukan mencari-cari sosok Mario. Yang mana sih orangnya? Ih lama deh! Mana gerah lagi! Baju kotor gara-gara Raisa k*****t! “Hei?” Gue mengangkat wajah nggak minat, dan… DEG. BUSET, NIH COWOK GANTENG AMAT? “Y..ya?” kata gue tanpa mengedip. Jantung gue kenapa rasa dikejar-kejar gini sih? Aaaa…gregretan dibuatnya! Miller lewat deh! “Maug?” tanyanya sambil tersenyum. HAH? MAUG? JANGAN BILANG DIA? “MARIO?” Tanya gue setengah teriak. Papan nama itu terjatuh dramatis. “Iya…why?” tanyanya sambil menaikkan satu alis. OH MY GOD! GANTENG BINGIIIIT! OH MY GOOOOOOOD! “Are you ok?” tanyanya mengedip bingung. “Ok!” jawab gue lalu berbalik. Ya Tuhan, demi apa Mario kok ganteng banget sih? “Maug!” Jiiih. Sekali lagi panggil gue Maug, gue kerjain! “MAUG!” panggilnya setengah teriak. Astaga, cakep-cakep kok nyebelin sih? Gue kerjain aaaah. Hhihih. “Apa sih?” kata gue galak sambil bertolak pinggang. Dia nyengir. “Lo ngapain pake baju kayak gini jemput gue?” tanyanya sambil memperhatikan gue dari atas sampe bawah. “Kenapa? Masalah?” gue balik Tanya. “Galak amat haha.” Dia ketawa memamerkan giginya yang putih bersih. “Ck! Yuk pulang!” kata gue lalu kembali melangkah. Itu Mario? Beneren? Kok…ganteng sih? Ih, apaan sih! Harusnya kan jelek, ingusan kayak waktu kecil dulu. Ini apalagi kayak ada yang narik-narik dibelakang. Gue menoleh ke belakang dan mendapati satu tangan Mario memegang ujung baju gue. “Lo ngapain sih?” “Gue takut hilang…” jawabnya dengan senyum lebar. Astaga! “Lo kan bisa jalan disebelah gue! Gue kaya bawa orang i***t tau nggak?” kata gue pelan tapi jutek. Dia mengangkat bahu cuek. “Biarin. Daripada gue nyasar, terus hilang?” Jawabnya sambil mempererat pegangan jarinya dibaju gue. Gue mendelik sebal lalu kembali berjalan dengan posisi Mario di belakang gue sambil megangin ujung baju gue. Astaga, gue kayak bawa anak i***t. Seperti rencana awal! BUAT MARIO NYASAR HUAHAHAH! “Lo tunggu disini, gue ambil motor dulu!” kata gue setelah sampai diparkiran. “Ikut!” katanya sambil ngangkat jari telunjuknya. “Nggak jauh kok! Disana tuh!” kata gue menunjuk motor bebek putih punya gue. “Perasaan gue nggak enak nih…” katanya sambil melepas tangannya dari baju gue. “Stay here!” kata gue lalu buru-buru berlari ke tempat motor gue parkir. HAHA, MATI LO MARIO! GUE KERJAIN LO HUAHAHA! Gue balik ke tempat Mario lalu menyodorkan helm. “Pake motor?” tanyanya dengan satu alis terangkat. “Iya, lo pikir?” “Mobil?” “Gue belum dibolehin bawa mobil kemana-mana sama Mama Papa.” Jawab gue. “Hahah, sini biar gue yang bawa!” katanya sambil menurunkan ranselnya. “Nggak usah! Gue aja!” tolak gue tegas. “Oh, oke deh Maug.” Katanya lalu naik diboncengan. Gue menaikkan satu alis, nggak lupa senyum iblis mengembang dibibir gue. “Udah belum?” “Udah…” jawabnya kalem. Gue manggut-manggut lalu meng-gas motor secara tiba-tiba. DUG. Kepalanya yang belum memakai helm kejeduk helm gue.  Wkwkwk “Aduh!” gue lihat dari kaca spion Mario mengusap-usap jidatnya yang kejeduk. Wahaha, lucu mukanya. “Ups! Sori!” kata gue pura-pura ngerasa bersalah lalu melajukan motor gue dengan kecepatan sedang dan sesekali sengaja mengerem mendadak. DUG, Lagi kepalanya kejeduk helm gue. “Duh.” Mario bolak-balik membetulkan posisi helmnya. Huahaha, sekarang saatnya! Ciiit. DUG. Untuk kesekian kalinya Mario kejeduk helm gue. Dia turun saat gue mematikan motor. “Lo nggak ngerjain gue kan?” tanyanya penuh selidik sambil melepas helmnya. “Ngerjain maksudnya?” Mario menarik nafas dalam lalu menatap gue lekat-lekat. “Ini apa sih dimata lo?” katanya lalu mengambil sesuatu yang menempel dipinggir mata gue. …… “Semut! Untung nggak masuk mata. Ngomong-ngomong ini udah sampe?” tanyanya sambil melihat sekeliling. Gue mengerjap sambil mengusap wajah gue. Itu tadi apa ya? Kok rasanya… “Kayaknya bensinnya habis deh! Lo tunggu disini yaaaaaaaaa daaaah!” Brrrrrum. Gue tancap gas tanpa perduli dengan teriakan Mario. Gue lihat dari kaca spion, Mario melambai-lambaikan tangannya ke gue. Haha, kasian deh Mario. Sori yaaaa huahahah. Pulang aaah, mandi terus nonton terus tidur deh. Gue jahat? Emang kwkwk. ►► AUTHOR POV Mario berdiri dipinggir jalan –ntah dimana- sambil menggaruk-garuk kepalanya tanda bingung. Ini dimana? Daerah apa? “Kok nggak balik-balik ya?” gumannya sambil menatap jalanan yang masih padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Udah setengah jam dia duduk dipinggir trotoar sambil memeluk ranselnya. Mario mengambil ponselnya dengan gusar. “Yah, mati.” Dia berdecak kesal saat tau batre ponselnya habis. Mario duduk menopang dagu sambil melihat orang yang berlalu lalang. Satu jam kemudian…. ►► MAUGY POV “YA AMPUN GY SUMPAH DEMI APA LO NINGGALIN MARIO DITENGAH JALAN SENDIRIAN?” pekik Gia setelah mendengar cerita gue. “HAAAA? MAUGY KAMU NINGGALIN MARIO DITENGAH JALAN?” suara itu mengagetkan gue. Duh MAMA! Sejak kapan juga ada dibelakang gue. “Ng…i…iya tadi Ma…iseng doang…” jawab gue lalu nyegir. “MAUGYYYYYYYYYYYY!” pekik Mama sambil menjewer kedua kuping gue. “Rasain lo!” kata Gia tanpa suara. “Sekarang jemput Mario ditempat kamu ninggalin dia tadi! CEPAT!” kata Mama sambil bertolak pinggang. “Maaaaa! Nggak mungkin dia nggak catet alamat rumah kitakan? Diakan udah gede!” “Tapi Maugy, ini di Jakarta! Ini bukan tempat lahirnya Mario! Dia nggak mungkin tau tempat-tempat disini! Mario terakhir kali ke Indonesia waktu umurnya 4 tahun! Sekarang jemput Mario ditempat kamu ninggalin dia tadi!” kata Mama dengan alis bertaut tanda marah. “Sukurin lo!” kata Gia lagitanpa suara dari balkon kamarnya. “Telpon aja gimana, Ma? Kita pesanin taksi?” kata gue antusias. “Mama dari tadi udah nelponin ke nomornya Mario tapi nggak aktif! Mana tante Kenny sama Om Juna nanyain Mario lagi! Duh, udah deh sekarang mending kamu pergi jemput Mario! Buruan!” kata Mama sambil mendorong-dorong gue untuk turun. Mario pliss tetap disana! Jangan kemana-mana! Kalo sampe Papa tau masalah ini, uang jajan gue dipotong hueeee! ►► Mario beranjak dari tempatnya lalu kembali menenteng ranselnya menuju halte bis yang ada diseberang jalan. Udah satu jam setengah dia ditinggalkan Maugy ditepi jalan. Mario yakin kalo Maugy sedang mengerjainya.  Dia janji akan membalas perbuatan Maugy ini. Lihat aja nanti. “Mas…mas?” Mario mendekati seorang cowok kurus berbaju merah muda dengan tindik dibagian kupingnya. Cowok itu menoleh dengan mulut mangap lebar. “Iyaaah?” sahutnya dengan tangan mengayun genit. Mungkin Mario belum sadar kalo cowok itu…ngondek. “Boleh nanya?” Tanya Mario sambil menjauhkan wajahnya dari sentuhan tangan cowok itu yang sempat mendarat dipipinya. Mario melihat sekeliling. Nggak ada orang lain lagi selain cowok itu. “Nanyah apaaah?” kata cowok itu lalu berdiri sambil mengedip-ngedipkan matanya. “Hm…disini…tempat untuk melaporkan anak hilang dimana ya?” tanya Mario sambil mundur perlahan karna gerakan cowok itu benar-benar mengganggunya. “Siapa yang hilang? Anaknyahh ahh?” tanyanya sambil mengelus pipi Mario. Mario merasakan bulu kuduknya merinding. “Sa..saya. Tau tempatnya?” tanya Mario lagi. “Ah, modus ah! Masa udah gede gini bisah hilang siiih?” tanya cowok itu dengan desahan yang membuat Mario ingin muntah. “Gimanah kalo kamuh sayah curi aja? Biar benar-benar jadi anak hilang? Hihihi.” “AAAAAAAA!” Mario kabur dengan langkah seribu tanpa perduli dengan b*****g itu yang mencak-mencak. “Aaaah sayaaaaang! Iiihhh kok kabuuur sihhh aaaa! Huhuhu!” cowok itu merengut lalu nangis dipojokan. Mario mengumpat kesal dan sesekali bergidik geli mengingat-ngingat cowok tadi. Baru kali ini dia melihat cowok kayak gitu. Di tempatnya gay itu ada, tapi nggak seperti yang tadi. Di tempatnya, para gay tampil menarik dan nggak melambai. Oke, Mario punya teman gay disana. Mario berhenti diperempatan jalan saat melihat seorang wanita duduk melamun dipojokan. Bajunya kusam dan rambutnya berantakan. Mario mendekati wanita itu tanpa perasaan aneh. Mungkin dia belum sadar kalo itu…orang gila. “Mbak… mbak?” Mario menepuk pundak wanita itu dengan pelan. Wanita itu menoleh dengan tatapan tajam. Tapi, saat melihat senyum diwajah Mario, dia buru-buru berdiri lalu menggigit kukunya sambil mengedip-ngedip. “Cayangku…” kata wanita itu sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya kenanan dan kekiri. “Huh?” Mario mengerjap. “Cayangku ganteng banget hihihi!” katanya sambil mencubit pipi Mario. “……” Mario melihat wanita itu dari atas sampai bawah. Sepertinya dia mulai menyadari siapa orang ini. “Mas…mas? Akrab banget sama orang gilanya?” tegur seorang laki-laki perut buncit yang lewat di depannya. “AAAAAAAA!” Mario ngacir lagi tanpa perduli dengan teriakan orang gila itu. Mario berhenti tepat dilampu merah. Dia duduk lemas dipinggiran trotoar. Langit mulai gelap. Sial, benar-benar hari yang sial. Ini semua gara-gara Maugy! Mario janji akan membalas cewek itu nanti. Lihat aja. “Sori…?” suara itu membuatnya mendongak. “Ada yang bisa dibantu?” tanya orang itu. Mario mengerjap beberapa kali. Seorang cewek berambut ikal panjang tersenyum ke arahnya. “Hei, ada ada!” jawab Mario buru-buru berdiri. “Gue Mario, baru dari Jerman, gue nyasar,” kata Mario sambil menggaruk-garuk tengkuknya. “Gue, Raisa. Gimana kalo lo ikut gue dulu?” tanya cewek itu dengan senyum manis. “Boleh!” sahut Mario lalu masuk ke dalam mobil mewah warna merah. MAUGY POV “MARIO MONYONG DIMANA SIH LOOOOOOOO!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD