4. Miller

2457 Words
“Mereka berantem sama Miller!” Gue dan Gia buru-buru ngacir menuju loker anak kelas satu . Disana udah dipenuhi dengan kerumunan orang. Baik cowok maupun cewek. Aduh, ada apa sih sebenarnya? Miller dikeroyok sama Nelo dan Gio? “COWOK b******k TAU NGGAK LO?!!” BUG. Gio menendang perut Miller sampai Miller tersungkur ke lantai. Cewek-cewek yang menonton menjerit ketakutan. Gue terdiam melihat Gio menarik kerah baju Miller dengan kasar lalu menonjoknya dengan kuat. “GY! PISAHIN GY! PISAHIN!” kata Gia sambil mendorong-dorong gue untuk maju ke depan. Gue menggeleng kuat. Takut. “ADUH GY! KALO KAYAK GINI NTAR BISA BAHAYA!” kata Melon yang udah berdiri disebelah gue. “Mereka pada emosi! Takut gue! Ntar gue yang kena!” kata gue sambil menggigit jari Melon dengan gugup. “AW! SAKIT MONYONG!” pekiknya kaget. “NE… NELO UDAH!” teriak gue sambil melompat ke hadapan Nelo yang bersiap melayangkan tonjokannya ke wajah Miller yang udah penuh darah. Tangan Nelo diam diudara, gue bisa lihat ada luka dibibir dan hidungnya. Nelo menatap gue dalam-dalam. Dia menurunkan tangannya lalu mengacak-ngacak rambut gue. “Oke…” katanya lalu berbalik tapi tiba-tiba Miller menariknya lalu menonjok Nelo tepat dibibirnya. Nelo menabrak loker lalu jatuh ke lantai. Darah dihidungnya berjatuhan ke lantai. “NELO! MILLER LO APA-APAIN SIH?” kata gue melotot ke arahnya. Miller diam, dia melihat gue dari atas sampai bawah. Apa yang ada dipikirannya sekarang? “Kita Putus.” Kata Miller lalu pergi. Hening. Gue mengerjap berkali-kali. Memandangi punggung Miller yang terus berjalan tanpa berhenti, ataupun berbalik ngeliat gue meskipun sedetik. Nggak berapa lama, langkah kaki dan bisik-bisik orang yang tadi menonton mulai menjauh. Tinggallah gue disini, bareng Gia, Melon, Nelo dan Gio. Mereka diam menunggu reaksi gue yang masih terlalu bingung. “Oke…yuk balik ke kelas! Kalian nggak apa-apakan? Atau ke UKS aja dulu biar…biar…” gue menarik nafas dalam dan berusaha tersenyum, “biar lukanya diobatin ya…ya…gitu…” kata gue dengan mata berkaca-kaca. Nelo berdiri lalu mendekati gue, dipeluknya gue dengan penuh perhatian. “Nggak boleh nangis disini, key…” bisik Nelo sambil mengacak-ngacak rambut gue. “Iri deh.” Kata Gia sambil menyeka air hidungnya. “Samaaa!” sambung Melon sambil gigit jari. “Hati-hati, ntar ada yang marah.” Kata Gio lalu pergi. Gue mengedarkan pandangan ke sekitar, tepat disana, diujung tangga, ada Karenina. Gue mau menarik tubuh gue dari Nelo tapi kok dia nggak mau ngelepasin pelukannya? ♥ NELO POV Tetap disini…ini bikin gue…nyaman, Gy. ♥ Author POV “Bisa nggak sih kakak bersikap lebih dewasa?” Karenina mendekati Miller yang tiduran dilantai ruang seni. Suara Karenina terdengar jelas diruangan yang luas itu. Miller bangun dan menahan lututnya dengan kedua tangannya. “Cowok lo tuh gangguin cewek gue terus,” balas Miller lalu menarik nafas dalam. “Mereka itu sahabatan dari kecil kak! Kakak kan tau itu!” kata Karenina penuh penekanan. “Dan lo sendiri juga meragukan itukan? Lo tau Nelo itu suka sama cewek gue! Nggak usah pura-pura buta!” kata Miller lalu bangun. “....” Karenina diam lalu menghempaskan tasnya dengan kesal ke lantai. “Mau ngapain lo? Bolos?” tanya Miller sambil menunjuk tas dibawah kakinya dengan lirikan mata. “Perduli apa kakak sama Nina?” “Oh… terserah!” kata Miller lalu pergi. “KAK!” jerit Karenina sambil bertolak pinggang. Saat Miller menoleh, dia melihat bola mata biru itu berkaca-kaca. Ada sesuatu yang menusuk jantungnya. Apa dia menyakiti lagi? “Please… berubah. Mana kak Miller yang dulu? Nina kangen,” suara lembut itu membuat hatinya bergetar tapi dia berusaha menahannya. Miller tetap berjalan tanpa perduli atau lebih tepatnya dia berusaha tak perduli. Karenina menutup matanya diriingi tarikan nafas. Setitik air keluar dari ujung matanya. Dia meremas roknya dengan kesal. Tas yang ada dibawah kakinya ditendangnya jauh hingga mengenai sepasang kaki. Dia mendongak dan mendapati Nelo tersenyum ke arahnya. Nelo mengambil tas itu dan mendekat. “Jangan nangis… cengeng…,” Dan kamu nggak meluk aku sambil bilang itu… Karenina tersenyum tipis sambil menyeka air mata dengan jari-jarinya yang putih bersih. “Ngapain kamu disini?” “Oh, jadi nggak mau ditemenin nih? Okeee…,” baru aja Nelo mau beranjak, Karenina menarik pinggang Nelo lalu memeluknya dari belakang. “Ngeselin! Tega bikin aku cemburu lagi!” katanya sambil menyandarkan kepalanya dipunggung Nelo. Nelo menyentuh tangan Karenina yang melingkar dipinggangnya. “Hmmm,” “Iya aku ngerti. Nggak usah dijelasin lagi,” kata Karenina dan mencium punggung Nelo. “WOIII ADA YANG m***m DI RUANG SENIIIII!” teriakan itu muncul dari pintu. Karenina dan Nelo menoleh bersamaan. Disana, Ucup menggeleng-geleng sambil bertolak pinggang. “BUBAR WOI BUBAR!” “Ada yang ngiri… bleeeeeee!” ejek Karenina ke Ucup yang mangap-mangap. “MAMPUS! PAK ANJAS KESINI! MATI!” teriak Ucup lalu kabur. Karenina buru-buru melepas pelukannya lalu berlari ke balik piano. Nelo terkikik dan berjalan keluar pintu. “Nelo? Ngapain kamu disini? Inikan masih jam pelajaran?” tanya Pak Anjas, guru olahraga paling macho dan galak. Nelo tersenyum kikuk. Sialan! Kirain si Ucup nipu! Nelo mengutuk dalam hati. “Ng… ada urusan dikit, Pak.” Kata Nelo sambil menggaruk-garuk dagunya yang sama sekali nggak gatal. “Tadi si Ucup teriak ada yang m***m! Siapa yang m***m?” “Saya sama Ucup Pak,” Jawab Nelo sambil menaikkan kedua alisnya. Hening. Pak Anjas mimisan lalu buru-buru ngacir. “Sayang, aku ke kelas duluan ya? Hati-hati, disini ada pocong yang suka nari loh!” kata Nelo setengah teriak dari depan pintu. “Iya sana! Nggak takut, kemaren juga jumpa pocong nari balet!” sahut Karenina cuek dari balik meja piano. Kriek. Nelo menutup pintu ruang seni lalu pergi. Karenina diam dibalik piano. Dia mengutak-atik ponselnya lalu masuk ke gallery foto. Lagi untuk kesekian kalinya, dia menangis setiap melihat foto keluarganya yang masih utuh. Masih ada Papa, Mama, Kak Allan, Kak Miller yang dulu. Kenapa semua jadi berubah sih? Dan kenapa Papa malah nuduh Kak Miller yang bikin kak Allan meninggal? Itu murni kecelakaan. Karenina menarik nafas dalam lagi. Bagaimana bisa masalah yang timbul dipikirannya membuat raganya tersiksa seperti ini.  ► MAUGY POV “Nelo tungguin!” teriak gue sambil menarik rambut yang ada ditengkuknya. Nelo langsung meringis kesakitan sambil mengusap-usap tengkuknya. “Cepetan Gy! Ntar telat!”kata Nelo lalu buru-buru masuk ke restoran mewah milik keluarganya. Alonello Resto. Cute namanya. “Telat lima menit! Hukuman seperti biasa!” suara dari arah dapur membuat Nelo mendengus sebal. Gue ngikik dibelakangnya. “Gara-gara Maugy nih, Ma! Lelet!” katanya nyalahin gue yang cuma bisa nyengir. “Aaaaaaaah NELOOOOO! Kamu ganteng bangeeet siiiiih pake baju iniiiiii! Huhuhu!” Tante Alodia langsung melompat ke pelukan Nelo dan bergelayut manja disana. Pemandangan yang udah biasa. Ntah kenapa tante Alodia ngefans abis sama anaknya sendiri. Setiap hari selalu menjerit ngeliat Nelo pake baju apapun. Dia selalu membangga-banggakan Nelo didepan semua pengunjung restonya. “Maaaa?” Nelo mendorong halus tubuh Mamanya. “Aaaaa Neloooo gituuuu iiiiih!” Tante Alodia manyun. Dia mencopot topi kokinya dengan kesal. “Kan… ngambek deh!” kata Nelo lalu merangkul akrab pundak tante Alodia yang masih manyun. “Maaa? Yaudah Nelo pulang niiih?” “Pulang potong gaji!” kata tante Alodia menaikkan sebelah alisnya. “Huuh! Yaudah, yuk Gy, time to work!” kata Nello sambil menyeret gue menuju dapur. “Semangat ya kerjanyaaa!” kata tante Alodia sambil melambai-lambaikan tangannya. Nggak ada yang tau kan kalo gue sama Nelo kerja di restoran Mamanya? Gue sama Nelo kerja tau disini. Kita digaji setiap bulannya. Nelo bilang dia mau mandiri dan nggak mau menghabiskan uang orangtuanya sesuka hati. Padahal, kalo dipikir-pikir, Om Danola dokter hewan dan udah punya klinik sendiri. Tante Alodia punya restoran mewah sendiri. Nelo bisa minta apa aja tapi dia nggak mau. Gue salut dan itu salah satu alasan kenapa gue suka sama Nelo. “Yah Gy, jangan ngelamun dong! Tuh ilernya netes-netes ish!” katanya sambil toel-toel dagu gue. “Nggak apa-apa biar agak kenyal dikit!” kata gue sambil menepis tangannya. “Jiiih!” katanya jijik. “Nelooo, gue…” gue mengaduk-ngaduk kuah sop sambil menatap matanya. “Ya?” dia menaikkan kedua alisnya. “Kayaknya tadi iler gue beneren jatuh kesini…,” kata gue setengah berbisik. “HAH? SERIUS? Tapi udah lo kasih garamkan?” PLAK! Gue tabok bibir seksinya dengan ujung siku. Dia meringis kesakitan. “Aduh, sakit jenong!” katanya sebal. “Hakakak!” gue meletin lidah sambil terus mengaduk sop daging. “Gy, serius dong? Beneren jatuh apa nggak? Kan jijik banget kalo emang iya!” katanya panik. “Hahah, ya engga lah! Bercanda odong! Lo sekali-kali panggil gue kakak kenapa? Nggak sopan! Kan gue duluan lahir tiga tahun dari lo!” kata gue lalu mengambil potongan kentang dan wortel dimeja lalu menuangkannya ke dalam panci sop. “Jiih, males haha.” Drttt drttt . Gue mengambil ponsel yang bergetar disaku celana. Karenina? “Eh, ngapain si Kare nelpon gue?” “Kare siapa?” “Karenina.” “Tau!” Nelo mengedikkan bahu nggak perduli. “Halo?” “Kak…bisa kesini sekarang nggak? Kak Miller dia....” “Dia kenapa?” PRANG! BRAK Gue dengar suara benda pecah dari seberang sana. Baru aja mau bertanya tentang suara apa itu, telepon terputus. Gue melepas baju koki lalu buru-buru pergi tanpa perduli dengan panggilan Nelo juga tante Alodia. Miller kenapa lagi? Dia ngamuk lagi? Gue menyambar taksi yang baru berhenti lalu masuk dengan cemas. “Ngebut Pak!” ♥ Author POV “INI SEMUA GARA-GARA KAMU! KALO AJA KAMU NGGAK BAWA ALLAN PERGI, DIA NGGAK AKAN MATI!” teriak pria tua berjas hitam ke anak laki-laki dihadapannya disertai tatapan sengit. “....” anak itu diam dan hanya menatap datar ke pria itu. “Pa, itu ke—” “DIAM! KAMU MEMANG ANAK NGGAK BERGUNA! NGGAK PUNYA OTAK!” bentak pria itu yang tidak lain adalah Papanya. “Kak Miller udah masuk aja ke kamar,” kata Karenina sambil menarik lengan kakaknya. Miller mengibaskan tangan Karenina dengan kasar dan dingin. “Papa yang udah bikin semua berantakan. Papa tidur sama tante Tian dibelakang Mama! Papa pikir dari siapa aku tau tentang semua itu? Dari Allan!” PLAK! Sekali lagi tamparan melayang kepipi kanan Miller. Miller meringis menahan perih dipipinya. Namun ada yang lebih sakit dari itu. Hatinya. Sejak Allan meninggal, dia selalu dipukul sebagai pelampiasan marah orang tua itu. “ROY!” Mamanya berlari kecil lalu menjauhkan Roy dari jangkau Miller yang bersiap menghajarnya. “KAMU NGAPAIN HAH? MINGGIR! GARA-GARA DIA KELUARGAKU HANCUR BERANTAKAN!” pekik Roy lalu mendorong wanita itu hingga tersungkur ke lantai. “PAPA!” pekik Karenina dengan mata berkaca-kaca. “PAPA NGAPAIN SIH MASIH NGUNGKIT-NGUNGKIT MASALAH ITU? ITU UDAH SETAHUN YANG LALU PAAA! UDAHLAH, KASIAN KAK MILLER, KASIAN MAMA, KASIAN NINA! PAPAKAN UDAH PUNYA KELUARGA JUGA DISANA!” pekik Karenina tanpa bisa menahan air matanya yang bertumpahan. “Dia udah bunuh anakku. Allan mati gara-gara dia!” kata pria itu lalu pergi. “Anj***," umpat Miller kesal. Darah menetes dari pelipisnya akibat lemparan gelas tadi. “Miller?” suara itu mengalihkan perhatian Miller. Diambang pintu dia melihat gadisnya berdiri sambil tersenyum ke arahnya. Miller menunduk, berusaha nggak perduli. Berusaha untuk tetap mampu menahan. Menahan hatinya yang benar-benar butuh kenyamanan saat ini. Gadis itu mendekat lalu menyentuh pelipisnya yang luka. “Aku obatin ya?” katanya lembut. Miller diam. “Ma, yuk ke kamar,” ajak Karenina pada wanita yang menatap gadis di depannya dengan penuh tanya. Selama ini, hanya gadis itu yang selalu ada untuk Miller. Gadis itu selalu berusaha menunjukkan keperduliannya. Sekalipun Miller berubah, dia tetap disana, disisi Miller. “Kamu ngapain kesini?” tanya Miller setelah Mama dan adiknya pergi. “Aku—” “Kitakan udah putus,” potong Miller. Cewek itu tersenyum tipis. “Akukan nggak gigit kamu, kenapa kamu mutusin aku?” tanyanya polos. Matanya yang cantik memicing sebal. Miller berusaha menahan geli dihatinya. “Yaudah gigit aku!” katanya sambil menyodorkan tangannya. “Aku nggak mau nyakitin kamu.” “Kenapa?” tanya Miller mencuri pandang ke wajah ceweknya yang masih menunduk itu. “ Aku masih sayang sama kamu. Aku nggak tau sebenarnya yang butuh diantara kita itu siapa. Aku yang butuh kamu, atau kamu yang butuh aku…” “Kamu yang butuh aku,” jawab Miller sambil mengusap dagunya. Maugy manggut-manggut lalu menyentuh pipi Miller dengan lembut. Hening. Tangan Miller naik menyingkirkan poni gadis itu. “Gy,” panggilnya lirih. Maugy menatap wajah Miller yang begitu dekat dengannya. Beberapa saat mereka saling pandang. “Udah malam! Pulang sana!” katanya galak lalu beranjak pergi. ………… Maugy mengerucutkan bibirnya sebal. Gagal sudah momen romantis yang sempat dia bayangkan tadi. Maugy melangkah lebar keluar rumah lalu pulang dengan perasaan campur aduk. ♥ MAUGY POV Ini alasan kenapa gue nggak mau putus dengan Miller. Sebenarnya dia butuh gue. Gue tau itu! Miller keras kepala, jaim dan nggak mau mengaku kalah. Gue tau banget sama sifatnya, karna Miller itu seperti pantulan diri gue dicermin. Gue dan dia sama. Tapi, kenapa sekarang…perasaan gue agak berkurang ya? Drrrt drrrt drttt Siapa lagi tengah malem gini nelpon-nelpon gue? Dengan malas gue menjangkau ponsel yang bergetar-getar dimeja dengan ujung kaki. “Halo?” “Hai…Maug?” Ini kayaknya, jangan bilang… “Mario?” “Ciyeee kok bisa tau sih hayo?” katanya lalu cekikikan diseberang sana. “Ngapain lo nelpon-nelpon gue? Lo dapet nomor gue dari siapa?” “Kasih tau nggak yaaaa?” katanya dengan suara yang menyebalkan. Mmm…sebenarnya ngegemesin sih hhhmmm. “Whatever!” kata gue sebal sambil gigitan bantal dengan geram. “Eh, eh lagi gigitin apa tuh? Nggak jempol kaki kan? Huahahaha!” Kampret! “Oke byeeeeeee?” “Eeeeeeeeeh ntaaarrr duluuu!” teriaknya dari sana. “Gue ngantuk byeeeee?” “Eeeeeeeeeh ntaaarr!” katanya mulai geram. Gue ngikik geli. Lucu juga ngerjain anak orang. “Kenapa sih?” “Minggu depan gue sampe! Lo yang jemput gue ya? Pliiiiiiiss?” Apa-apaan itu? Lagian dari kemaren nelponnya minggu depan mau datang, tapi nggak juga nyampe. Eh, peduli apa gue? “Kok gue?” “Gue lupa jalan ke rumah lo! Jemput gue dong Mauuug yayayaa?” katanya memohon. Gue lagi membayangkan wajah jeleknya memelas disana. “Kak ada Papa gue?” “Tapi, gue maunya sama lo ! Yayayaya, Pliss ?” katanya lagi dengan suara merayu yang bikin gue geli. “Ya!” jawab gue nggak minat. “Ikhlas nggak tuh?” “Ya!” “Hem? Gitu amat?” “Iyaaaaaaaaa!” kata gue sebal lalu memutuskan pembicaraan. Mario? Okelah, Gue kerjain lo besok! Lihat aja! HUAHAHA! Uhuuk, sialan! Ketelan nyamuk!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD