Jreng Jreng
Gue berjalan ke dekat jendela waktu mendengar suara melodi gitar yang dimainkan Danelo. Ya ampun lagu itu. Lagu kesukaan gue. Itu lagu pertama yang dinyanyikan Danelo untuk gue waktu dia baru pandai main gitar.
Right here waiting for you –Rirchard Marx
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Danelo nggak menyadari gue berdiri di depan jendela sambil menopang dagu. Ikut melantunkan lagu itu tanpa suara. Gue memandangi wajahnya yang sesekali mengangguk mengikuti lagu dan gerakan jari-jari tangannya.
Dia manis. Gue suka.
“Mau nyanyi bareng?” tanyanya yang baru menyadari keberadaan gue. Gue mengangguk penuh minat. Danelo tersenyum lalu berjalan ke dekat jendela. Dia duduk dipinggir jendela dan menghadap ke samping. Dia mengapit gitar putihnya dibawah ketiak. Danelo mulai lagi dengan intro yang lagi membuat perasaan gue seperti ditaburi banyak bunga.
Wherever you go
Whatever you do
Kita saling pandang. Ya ampun, kenapa gue ngerasa ada sesuatu yang beda dari Danelo?
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Danelo meninggikan suaranya sambil menaikkan dua alisnya ke gue. Dia ternyata udah gede.
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Gue dan dia sama-sama menggerakkan kepala ke kiri ke kanan mengikuti lantunan melodi lagu itu. Seketika, gue merasa begitu nyaman. Bukan, sangat nyaman.
Tapi, gue tau kok apa nama dari rasa yang gue rasakan saat ini.
DANELO POV
“Mau nyanyi bareng?” Tanya gue ke Maugy yang dari tadi bengong didepan jendelanya. Dari jauhpun gue tau dari tadi dia ngintipin gue. Dia mengangguk dengan senyum manis. Gue mulai dari intro. Seperti biasa, kalo gue udah mainin lagu ini, Maugy bakalan senyum-senyum tanpa sadar. Cewek ini…
Wherever you go
Whatever you do
Kita berdua saling pandang. Dia mengerling lucu. Perasaan ini masih tetap begitu. Masih sama seperti yang dulu.
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Dan nggak tau kapan berubah, padahal gue udah berusaha untuk menghapusnya. Gue…nggak boleh jatuh cinta dengan orang ini.
Atau malah sudah?
Nggak boleh Nelo…lo udah punya pacar. Karenina.
♥
MAUGY POV
SMA PLAMBOYAN, Jam istirahat
Gue buru-buru kabur saat beradu pandang dengan Miller. Aduh, kenapa sih tadi gue harus lewat ke kelasnya? Tuh kan! Gue malas deh harus dimarahin pagi-pagi huhu.
Brak!
“Jalan pake mata dong!”
Sialan, dia yang nabrak kok kayaknya.
“Aduh! Jalan tuh pake kaki dodol! Sejak kapan pula jalan pake mata!” kata gue galak sambil mengusap-usap b****g gue yang tadi nyium lantai. Gue mendongak melihat orang yang gue tabrak.
Oh, Karenina toh.
“Eh, kak Maugy ya? Sori kak…” katanya nggak enak hati. Buku yang berserakan diabaikannya dan lebih milih ngurusin gue. Gue tersenyum tipis. Karenina mengigit kukunya panik.
“Iya Kare nggak apa-apa…”
“Ng… Ni… Nina kak…” katanya hati-hati.
“Yaudah, gue buru-buru nih! Beresin sendiri ya byeeeeeee!” kata gue lalu ngacir lagi menuju kelas.
Karenina, pacarnya Danelo. Anaknya cantik banget. Ada bule-bulenya gitu. Rambutnya ikal yang nyaris nyentuh pinggang. Gue suka warna bola matanya, warna biru. Dia juga pinter. Gue udah kenal lama sama dia.
“GY!”
Suara itu? MILLER!
Gue berbalik kaku. Dia disana, berjalan dengan langkah terburu-buru.
“Sengaja ya tadi pura-pura nggak liat? Tadi malem kamu pulang sama siapa? Aku tuh balik lagi kesana tau nggak? Kamu pulang sama siapa kemaren?” tanyanya beruntun lagi.
“Nelo…” jawab gue jujur. Raut wajahnya makin kusut. Keningnya berkerut tanda marah.
“Aku udah berapa kali bilang sama kamu JANGAN DEKAT-DEKAT sama anak itu lagi? Bisa dibilangin nggak sih? Aku nggak suka!!!” bentak Miller tanpa perduli dengan tatapan anak-anak yang lainnya.
“KAK!” suara itu mengalihkan perhatian Miller. Karenina berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa?” sahut Miller galak.
“Nggak malu marah-marah di depan orang rame?” tanya Karenina sambil menunjuk orang-orang yang diam menonton dengan lirikan matanya.
“Ck!” Miller berdecak sebal,“kamu ditungguin Mama dikantor!” katanya lalu pergi.
Kampret! Malu banget gue! Sekarang orang-orang udah bisik-bisik sambil ngeliatin gue.
“Kak…maafin kak Miller, ya? Dia_”
“Iya, kakak lo itu emang nyebelin sumpah!” potong gue sambil manyun.
“Ya emang kak, sejak Papa sama Mama cerai, terus bang Allen meninggal, Kak Miller jadi berubah…”
…………..
Gue menarik nafas dalam. Gue udah tau itu. Mungkin itu salah satu alasan kenapa Miller jadi suka marah. Bukan sama gue aja, tapi sama Karenina juga, yang notabene adik kandungnya sendiri.
“Hem, pada gosipin siapa nih pagi-pagi?” Danelo muncul dengan senyum manis. Aaah, pengen lompat kepelukannya. Tapi, Karenina udah lebih dulu disambar Nelo dengan melingkarkan tangannya dipinggang cewek itu. Hem…
“Nggak ada kok. Gue ke kelas dulu, ya?” kata gue lalu berbalik tanpa menunggu balasan dari mereka berdua.
Andainya…Miller bisa balik kayak dulu lagi…
Flashback on
“Sayang, jangan gigit itu! Gigit tangan aku aja!” Miller menyodorkan tangannya dengan senyum manis waktu ngeliatin gue gigitan sepatu sekolah.
“Nggak mau ah, nanti kalo kamu sakit, siapa yang nyakitin aku eh?”
Miller tergelak. Dirangkulnya pundak gue dengan mesra.
“Hemm…aku punya ide!” katanya sambil tersenyum manis. Pacarku paling kece emang sejagad raya.
“Apa?” Tanya gue menatap matanya dalam-dalam.
“Kalau kamu gigit aku, kita putus!” katanya yang langsung membuat gue mangap-mengap.
“Haaa? Segitunya?”
“Iyaaa, pokoknya, kalo kamu gigit aku! Aku nggak mau jumpa kamu lagi!”
“Masa gitu sih? Itukan udah kebiasaan akuuuu!” protes gue dengan bibir manyun.
“Kamu harus belajar merubah kebiasaan itu dari aku dulu. Siapa tau bisa…gimana?” katanya sambil bergantian menaikkan alis.
“Hmmmm…” gue berpikir sebentar sebelum menjawab, “Iya janji!” kata gue sambil menarik hidungnya yang mancung dengan gemas. Gue sayang banget sama orang ini. Mungkin gue harus ikutan caranya. Siapa tau, dengan gue biasa nggak gigitan dia terus, dan dengan cara ingat ancaman itu, mungkin gue bisa ngilangin kebiasaan jelek itu secara perlahan.
TAPI NYATANYA?
GUE MAKIN SUKA GIGIT ORANG! KECUALI DIA.
Karna…gue takut diputusin. Dia nggak main-main. Pernah waktu itu gue kebablasan gigit tangannya dia terus selama seminggu dia beneran nggak mau jumpa gue. Sedih, galau berkepanjangan. Setelah dia maafin gue, gue bertekad nggak akan pernah gigit dia lagi. SAMPE SEKARANG.
“GY! GAWAT GY! GIO SAMA NELO!” Gia menepuk-nepuk pundak gue dengan panik.
“Kaget gue monyong! Kenapa si mereka?” tanya gue nggak terlalu minat.
“MEREKA BERANTEM SAMA MILLER!”
“HAH?”
♥