Tak tak ting ting. Suara sendok dan piring yang beradu atau lebih tepatnya berisik mengalihkan pandangan Miller ke gue. Diletakkannya sendok dan garpu miliknya lalu menatap gue lurus-lurus.
“Kamu kenapa? Makan jangan berisik bisa?” katanya sambil menunjuk piring gue dengan matanya.
“Aku—”
“Kenapa?”
Miiler selalu begitu. Setiap gue mau ngomong dia pasti motong duluan. Bikin emosi. Liat aja.
“Sebenarnya—"
“Ngomong itu jangan setengah-setengah!”
“Ya ak—”
“Maugy udah berapa kali aku bilang kalo ngomong itu lihat aku!” katanya geram.
Maugy, sabar... ini bukan yang pertama kalinya.
“Aku udah kenyang!” kata gue akhirnya sambil menggeser piring dengan kasar. Miller mengerutkan kening nggak suka.
“Tapi kamu hargai aku dong! Kalau udah tau mau makan diluar ngapain makan dulu tadi?” katanya geram. Lagi. Gue diam aja. Padahal dari tadi siang gue belum ada makan. Sebel sih. Marah mulu kerjanya.
“Kamu dengar nggak sih aku ngomong? Aku nggak suka didiamin!” katanya setengah membentak.
“AKU MAU PULANG! JANGAN MARAH-MARAH TERUS KENAPA SIH?” bentak gue sambil menggebrak meja.
Huuft, mati deh gue.
Dia melirik sekitar, tanpa gue lihatpun, gue tau orang-orang sekarang ngeliatin gue dan dia sambil berbisik-bisik.
Brak. Miller berdiri lalu menarik tangan gue dengan kasar. Berhenti dikasir bentar lalu narik gue lagi ke parkiran.
“Kamu ngapain sih bentak-bentak aku di dalam? Nggak liat didalam banyak orang?”
“Habis kamu marah-marah terus aku—”
“Udahlah!” katanya lalu naik ke motor.
……
“Kamu mau kemana?” Tanya gue karna dia nggak nyuruh gue naik ke motornya. Alamat ditinggal lagi deh gue.
“Pulang. Kamu bisa pulang sendirikan? Kan udah gede!” katanya lalu pergi.
AAAAA SUMPAH COWOK NYEBELIIIIIIN! AAAAAAA!
Sekarang gimana? Gue nggak bawa dompet pula! Disini nggak ada taksi lagi.
Miller keterlaluan! Tega banget dia ninggalin gue sendirian disini! Dia nggak pernah nonton TV apa kalo sekarang banyak penculikan dan p*********n?
Ini udah KeTUJUH kalikannya dia TEGA ninggalin gue kayak gini.
NELO!
Dan untuk kesekian kalinya, Danelo yang akan mengeluarkan gue dari penderitaan ini. Hiks.
“Halo?”
“NELOOOOOOOO JEMPUT GUEEEEEEEEEEE HUHUHU!”
**************
DANELO (POV)
“NELOOOOOOO JEMPUT GUEEEEEEEEE HUHUHU!”
“Emang lo dimana, Gy?” tanya gue lalu buru-buru meletakkan gitar ke atas tempat tidur. Gue mengambil jaket hijau yang tergantung dibalik pintu lalu turun. Gue dengar suara manjanya disana. Ntah dimana.
“Yaudah tunggu bentar ya, ini gue mau kesana. Jangan kemana-mana sebelum gue datang!” kata gue penuh penekanan.
“Mau kemana, Dan?” tanya Papa saat gue berpapasan dengannya diruang keluarga.
“Jemput Maugy, Pa,” jawab gue sambil memakai jaket dengan buru-buru.
“Lagi?” tanya Papa sambil tersenyum.
“Iya, cowoknya minta dihajar!”
“Eh, nggak boleh! Sportif!” kata Papa sambil menepuk-nepuk pundak gue. Gue angkat bahu cuek lalu pergi. Papa selalu begitu. Kalem tapi tegas.
Sampainya diluar gue lihat ada Gio dan Gia lagi main basket ditemani Putri-adek gue- yang genitnya minta ampun. Mirip Mama. Eh.
“Mau kemana lo?” tanya Gio menghadang motor gue.
“Jemput Maugy.”
“Tadi gue lihat dia pergi sama si cowok b******k itu! Jangan bilang Maugy ditinggal lagi?” tanyanya tepat sasaran.
“Iya ditinggal,” jawab gue seadanya.
“t*i emang!” Gio mengumpat kesal. “Besok biar gue ngomong sama tuh anak! b******k amat ninggalin cewek malam-malam gini sendirian! Hati-hati lo!” kata Gio lalu minggir. Gue balas senyum lalu mulai membawa motor gede gue keluar dari pagar.
Saat gue sampai, gue lihat Maugy duduk memeluk lutut diteras restoran yang hampir tutup. Kayak gembel. Tapi gembel cantik. Dia lagi gigitin apa sih? Astaga, sandal?
♥
MAUGY POV
“Gy?”
Gue mendongak dan mendapati Danelo berjalan ke arah gue dengan senyum manis. Gue manyun sambil meluruskan kaki.
“Gue mau bunuh Miller!" teriak gue sebal.
“Yakin? Gigit aja nggak berani mau bunuh-bunuh segala. Gaya deh,” katanya lalu duduk di sebelah gue.
“Hmmmm…tapi dia tega banget ninggalin gue disini! sepi, mana ada suara aneh lagiI!” ucap gue setengah teriak. Gue nunjuk-nunjuk ke pohon besar yang nggak jauh dari parkiran. “Tadi gue lihat ada putih-putih disana,”
“Iya tadi gue sapaan sama Pocongnya.”
“HAH?” kata gue dan merapat ke sisi Danelo. Dia ngakak sambil geleng-geleng.
“Hahah, bercanda. Eh, tadi lo gigitin apaan sih, Gy? Gue nggak salah liatkan kalo lo gigitin sandal?” tanyanya sambil melirik sandal yang ada disebelah gue.
“Gue nggak tau mau gigit apalagi!” kata gue lemas.
Danelo membuka jaketnya lalu menyodorkan tangannya yang putih juga berotot. Keren deh dia kalo pake kaos oblong putih gini. Mirip banget sama om Ganteng Danola.
“Nih, gigit tangan gue aja. Jangan itu, jorok!” katanya sambil tersenyum manis.
“Beneren? Nggak boleh teriak!” kata gue menaikkan satu alis. Dia mengangguk.
“AAAAAAAAAAAAAA MILLER NYEBELIIIIIIIIN! BENCIIIIIIIIIIIII GUEE SAMA LOOOOOOOO! DASAR BERUANG KUTUB!” teriak gue lalu menggigit tangan Danelo.
……
Danelo beneren diam. Gue melepas gigitan gue yang langsung membekas merah dikulitnya. Dia meringis sambil mengusap-usap tangannya.
“Sakit?” tanya gue.
“Lumayan,” jawabnya kalem.
“Lagi?” tanya gue. Dia melongo dan spontan gue ngakak liat ekspresinya yang cute.
“Yuk, pulang!” ajaknya lalu berdiri. Gue manggut-manggut dan mengekorinya dari belakang. Nih anak, kok bisa tinggi gini sih? Nggak adil! Kan gue yang lahir duluan, kok gue jadi cebol gini?
“Lo kenapa sih Gy, masih mempertahankan si Miller? Cowok kayak gitu putusin aja…” katanya setelah naik ke motor kerennya.
“Sebenarnya, gue cuma menunggu,” jawab gue lalu naik ke boncengannya.
“Menunggu apa?”
“Menunggu kalo suatu hari nanti, dia bisa kembali kayak Miller yang dulu.”
“Mana yang terbaik buat lo aja,” kata Danelo lalu melajukan motornya.
……
Menunggu Miller kembali kayak dulu lagi? Kayak dua tahun yang lalu? Apa mungkin? Apa dia berubah? Gue sendiri masih ragu. Sekarang gue cuma mau bersabar dan menunggu hari itu. Semoga aja dia bisa berubah kayak dulu lagi, karna…gue masih sayang dia.
“KAAAAK UUUUGYYYYYY!” suara Putri melengking menyambut gue yang baru turun dari motor Danelo.
“Iya, Putriiiiii! Lagi main apa?” Tanya gue sambil mencubit pipi tembennya. Dia mengedip lucu.
“Main petak umpet! Ikutan main yuk kaaaaak!” katanya sambil menarik-narik tangan gue.
“Iyaaa iyaaa, yuk!” kata gue mengikuti langkah kecilnya yang berlari menuju lapangan basket.
“LO JANGAN CURANG TERUS DONG!” Gia mencekik leher kembarannya dengan geram.
“Uhukk…ge…lih…dodol!” kata Gio berusaha melepas jari-jari Gia yang melingkar di lehernya. Itu kelemahan Gio, dia paling nggak bisa lehernya dipegang. Langsung lemas katanya kawkwk.
“Abang ayok sini main jugaaa!” kata Putri sambil menarik tangan Danelo. Danelo mendekat dan berdiri dibelakang Putri. Putri cantik. Cinanya kelihatan. Putih, matanya sipit. Mirip deh sama Tante Alodia.
“HOM PIM PAH ALAIUM GAMBRENG!”
Tap. Keempat telapak tangan menghadap ke atas. Kecuali tangan Gia.
“Hahaha, kak Gigi yang jaga yaaaa!” teriak Putri jingkrak-jingkrak.
“Pokoknya JANGAN ADA YANG CURANG!” kata Gia sambil berjalan menuju ring basket.
“3 KALI TEPUKAN DOANG GI!” teriak gue lalu duduk manis dibangku panjang. Gia nggak mungkin taulah, orang matanya diikat pake kain. Hikikiki.
Gue lihat Danelo sembunyi berdua dengan Putri dibalik semak-semak. Sementara Gio berjongkok nggak jauh dari tiang ring satu lagi.
“SEPULUH! TEPUKAN PERTAMA!” teriak Gia lalu berbalik. Kedua tangannya terangkat seolah mencari-cari sesuatu.
PLOK
Danelo bertepuk tangan duluan. Gia diam sebentar lalu berbalik menuju semak-semak. Kok dia tau sih? Ih mencurigakan.
PLOK
Gue mengambil alih perhatiannya dengan sekali tepukan. Gia berhenti lalu berbalik menuju gue. Wah, kok dia bisa tau sih?
“HAYO LOO! SIAPA TUH? MATI! DAPET DEH SAMA GUE! NGGAK BOLEH PERGI!” katanya bahagia sambil berlari kecil menuju gue. k*****t, kok dia bisa tau sih?
Sedikit lagi tangannya mau menyentuh wajah gue, satu tepukan membuat gerakan Gia berhenti.
“SIAPA SIH TUH? JANGAN NGERJAIN GUE!” pekiknya geram. Gue bergeser sedikit. Nggak mungkin dong gue mau kalah secepat ini.
“PASTI GIO NIH!” katanya dan mengulurkan tangan ke wajah gue. Dengan cepat gue mengelak.
“Satu tepukan lagi buat yang duduk manis dibangku panjang! Buruuuaaan!” katanya dengan nada bahagia. Bahkan ucapannya terdengar kayak lagu. Gia emang setan.
PLOK
“Hem…” Danelo keluar dari semak-semak. Gia berbalik dan berjalan ke arahnya.
Mati-lo! Kata gue tanpa suara. Danelo meletakkan jarinya dibibir tanda agar gue tetap diam.
“Kayaknya gue tau ini siapaaa!” kata Gia melangkah hati-hati sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya.
“Kak Nelo lariiii!” kata Putri yang udah lari ke dekat gue. Baru aja Danelo mau beranjak, tangan Gia sudah meraih ujung bajunya.
“HAAA DAPAT! GUE TEBAK YA INI SIAPAAA! HAHAHA!” kata Gia sambil memeluk Danelo. Tangannya melingkar dipunggung Danelo. Apa-apaan itu?
“WAAAH INI PASTI NELOO KAAAAN? NELO WANGI DEEEH!” kata Gia sambil membenamkan wajahnya dipelukan Danelo.
“Hahaahaha!” Danelo balas ketawa dan membiarkan Gia terus-terusan memeluknya.
Gia membuka kain yang dari tadi mengikat wajahnya. “TUH KAAAN, NELOOO IHHH GEMES DEEEEEH!” kata Gia tanpa mau melepaskan tangannya. m***m emang tuh anak.
“Lagi pada ngapain nih?”
Suara itu membuat pandangan gue dan yang lain beralih ke asal suara itu. Ucup. Fans berat Gia.
Gia memicing sebal. Dia berjalan ke dekat gue dengan muka manyun. Hahah, Gia kalo udah liat Ucup mukanya langsung kusut. Nggak suka katanya.
“Cowok lo!” bisik gue ke dia.
“Hoeks.” Balas Gia tanpa mau ngeliat tampang Ucup. Menurut gue, Ucup kece kok. Emang ada yang salah dengan hidungnya. Ibarat jambu air jatuh, kebelah dua, terus keinjak lagi. Tapi, dia baik banget sebenarnya. Yang bikin Gia ilfeel, Ucup selalu kepo semua tentang Gia.
“MAUGYYYYY?” dari depan pintu gue lihat Mama memanggil sambil melambai-lambaikan tangannya. “ADA TELEPON!” sambung Mama.
Telepon? Siapa? Miller? Tumben dia nelpon gue ke nomor telepon rumah? Biasanya juga ke handphone.
“Bentar ya?” kata gue lalu buru-buru lari ke dalam rumah.
“Nih! Ada yang mau ngomong sama kamu,” kata Mama sambil menyodorkan telepon.
“Siapa, Ma?”
“Hmmm…tanya aja sendiri!” kata Mama dengan gaya genit. Hih, nggak biasanya.
“Halo?”
………
“Halo? Siapa nih?”
“Hai… Mauuuuug?”
Suara cowok. Tapi ngomong-ngomong kok MAUG?
“M-maug?”
“Hemmm… ini beneren Maug bukan?”
Diseberang sana-ntah dimana-orang itu-ntah siapa-cekikikan nggak jelas. Ini siapa sih?
“MAUGY! Bukan MAUG! Ini siapa sih?” kata gue galak.
“Hahaha, galak amat! Ini Marioooo!”
“Ma… rio?”
“Hem… siapin kamar buat gue ya, minggu depan gue sampe."
Hmmmffff.
“Nggak usah sok akrab deh!” kata gue sebal. Dia ketawa lagi.
“Wah, lo pasti udah gede ya? Gue dengar masih suka gigit ya? Mau doooong digigit kwkwkw.”
Astaga orang ini…
“Lo nggak akan gue biarin hidup tenang di rumah gue!” kata gue horror.
“Wkwkw nggak sabar deh pengen balas dendam.”
Balas dendam katanya?
“Maksud lo?”
“Liat aja besok. Bye, Maug hahahah.”
“Eh ap—"
Tut tut tut. Astaga. Jadi bener cowok cengeng itu mau tinggal di rumah gue??? Terus tadi maksudnya apa? Dia mau apa?
♥