“Kamu kemana aja dari tadi aku cariin di kampus nggak ada?” tanya Miller penuh selidik. Matanya menatap gue dingin, menusuk. Mending tampar aja gue bolak-balik daripada diliatin kayak gitu. “Ada, kok. Kamu aja yang nggak liat aku, aku aja liat kamu.” “Oh.” Hem. Mulai lagi si Beruang kutub. “Aku tadi liat kamu sama anak itu.” Miller bersuara lagi. Waktu gue menoleh dia pura-pura sibuk dengan gadgetnya. “Siapa?” “Yang manggil kamu tadilah! Aku nggak suka kamu dekat-dekat dia.” “Maksudnya, Mario? Oh, nggak deket, kok. Biasa aja.” “Sekarang iya, besok?” “Mau deket gimana? Anaknya nyebelin gitu!” protes gue sambil monyongin bibir. “Nyebelin ntar lama-lama naksir!” “Nggaklah! Kan ada kamu weeeek!.” Kata gue sambil meletin lidah. Miller menoleh dengan satu alis terangkat. Gue seny

