Miller berhenti tiga meter dari makam saat matanya mendapati seseorang berjongkok disana. Menangis dengan satu tangan meremas tanah kuburan yang mulai ditutupi bunga kering. Air matanya bercucuran dan sesekali dia terisak seolah menahan sesak didadanya. “Pa?” Miller memberanikan diri mendekat, bahkan dia menyentuh pundak orang itu penuh perhatian. Orang itu tersentak dan berbalik. Mata merahnya menyala penuh benci. Miller langsung menunduk dan menatap tanah. Takut campur rasa hormat. “Mau apa kamu kesini?” tanya orang itu dingin. “Aku_” “Jangan pernah memanggilku papa lagi…” potong orang itu. Miller mengangkat wajahnya yang mulai basah karna air mata yang perlahan keluar, jatuh ke pipinya yang putih bersih. “Tapi, aku cuma punya satu Papa. Aku udah kehilangan kak Allan, Pa

