13. Gar Dengan Segala Kelebihannya

1354 Words
Secercah cahaya yang masuk dari sudut jendela kamar membuat mataku terasa silau. Aku mengucek kedua mata lalu melirik jam yang tertempel di dinding kamar, jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Aku bergegas bangkit dari tempatku, ah ternyata aku ketiduran selepas sholat subuh tadi. Saat ini aku harus segera ke dapur, menyiapkan sarapan untuk ayah. Aku tidak bisa berlama-lama lagi, karena ayah tidak bisa telat makan walau hanya beberapa menit saja. Aku tidak mau kerena kelalaian ku penyakit ayah harus kembali kambuh. Baru beberapa langkah aku keluar kamar, suara seseorang yang sedang bercengkrama membuatku mengalihkan perhatian. Aku sangat tanda suara ayah, tapi dengan siapa ayah mengobrol di pagi-pagi seperti ini. Langkahku bergerak menuju pintu untuk menitip sedikit siapa orang yang tengah mengobrol dengan ayah. Dari balik pintu aku melihat ayah yang sedang tersenyum sambil terus mengobrol, tetapi aku tidak tahu dengan siapa ayah mengobrol karena saat ini orang tersebut duduk dengan membelakangi pintu. "Siapa orang itu," batinku. Ia menggunakan jaket hitam dan topi yang berwarna hitam juga. Tubuhnya terlihat kekar, ah tapi siapa dia. "Rhe, sudah bangun?" Aku tersentak kaget, pandangan ku beralih, melihat ke arah sumber suara. Saat itu juga, jantungku berdetak lebih cepat, tatapanku terkunci olehnya tatkala kedua mata indahnya menatapku dengan senyum yang terukir di kedua sudut bibirnya. "Rhe?" Panggilnya lagi. "Ha? Eh iya?" Mendadak aku gelagapan bahkan salah tingkah. "Kenapa jadi gugup gitu?" Ia terkekeh pelan, membuatku semakin salah tingkah. "Emm enggak, kok. Kamu pagi-pagi sudah disini? Ada perlu apa, Gar?" "Kenapa, Rhe? Emang saya tidak boleh kesini?" Aku menggelengkan kepalaku cepat. "Nggak gitu, Gar, maksudnya kamu pagi-pagi kesini apa nggak di cariin sama orang tua kamu?" "Enggak kok, Rhe, santai aja." "Gar sudah dari jam enam tadi di sini, Rhe," ucap ayah memperjelas. "Ha? Enggak salah?" "Enggak, dong." Gar menyodorkan sebuah kresek yang entah berisi apa. "Apa ini, Gar?" "Siap kan sarapan untuk ayah kamu, tadi beliau cuma makan roti sama teh saja." Dia tersenyum, ah semesta kenapa senyumnya selalu berhasil membuatku salah tingkah seperti ini. "Hm, okay." Aku langsung berjalan meninggalkan Gar dan ayah, jujur saja mungkin jika berlama-lama menatap Gar aku bisa semakin salah tingkah. Gar, lagi-lagi kamu berhasil membuatku takjub dengan semua keanehan mu. Keanehan yang berhasil membuatku jatuh berkali-kali denganmu. Keanehan yang berhasil membuatmu istimewa di mataku. Sungguh Gar adalah ciptaan yang paling sempurna yang pernah aku temuin seumur hidup. Ku harap semua ini berlangsung lama atau akan lebih baik selamanya begini. Ya, semoga saja semesta mendengarku. Aku mulai memasak sayur yang dibawakan Gar tadi, bukan hanya sayur yang ia bawa tetapi ada juga s**u, beras, minyak, gula, dan juga telur. Sebenernya aku juga tidak enak merepotkan Gar seperti ini, tetapi jika aku melarangnya pun ia juga tidak akan mendengarkan. Gar mempunyai karakter yang sangat berbeda dari yang lain dan aku sangat paham gimana sifat lelaki itu yang tidak pernah mau mengalah terlebib jika sudah menyangkutku dan juga ayah. Sembari memasak, ingatanku terus memutar kejadian semalam sewaktu aku bersama Gar. Bahkan hingga kini aku masih tidak percaya bahwa Gar adalah sosok yang aku cari selama ini. Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata ia ada di dekatku, dia tidak pernah pergi, dia selalu ada di belakang ku, menjadi penyelamatku. Semesta, ku harap kebahagiaan ini akan selamanya berpihak kepada ku dan juga Gar. Aku tahu Gar adalah orang baik, maka dengan amat sangat aku meminta semoga engkau terus melindunginya. Jaga dia semesta, karena dia adalah tuan penebak yang selalu berhasil membuatku tersenyum bahkan dalam situasi sedih sekali pun. "Kalau masak jangan melamun gitu dong, apa lagi sampai memikirkan saya begitu." Aku tersentak kaget dan langsung berbalik menatap seseorang yang sangat aku kenali. "Siapa yang melamun?" Tanyaku berpura-pura. "Jangan bohong kamu, Rhe." "Aku nggak berbohong, Gar." "Kamu lupa kalau aku bisa mendengar isi hati kamu?" Damn, aku melupakan hal itu. Mendadak pipiku memerah, ah aku ketahuan bohong dengannya. "Nggak usah malu gitu, nggak papa kok," ucapnya lagi. Ia berjalan ke arah kompor, melihat apa yang telah aku masak. "Tuh kan gara-gara melamun kamu jadi lama begini masaknya." Gar meraih pisau yang ada di tanganku, lalu mengambil sayur yang tengah aku potong. "Untuk apa, Gar?" "Biar saya bantu, Rhe." "Nggak usah, Gar, biar aku aja." "Nggak, kasihan ayah kamu sudah menunggu lama. Mending kamu menggoreng saja." "Hmm, Gar--" "Rhe ..." Aku terdiam. Jika sudah seperti ini aku selalu kalah di buatnya. Suaranya yang memanggil namaku seolah menjadi mantra agar aku bisa menurut dengannya. Ya, Gar selalu bisa membuatku nurut walau hanya dengan satu kali panggilan. Aku melanjutkan menggoreng telur, sementara Gar memotong sayur lalu memasaknya. Ia terlihat begitu handal dalam hal memasak, seperti seseorang yang telah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini. Kini aku mengetahui satu fakta lagi, bahwa Gar adalah lelaki yang multi talent. Ia bisa melakukan segala hal sendiri dan sangat sempurna, bahkan tanpa cacat sedikit pun. Sungguh Gar adalah sosok lelaki idaman para wanita. "Gar ..." Panggilku. "Iya, Rhe?" "Kamu terlihat begitu lincah, kamu jago masak, ya?" "Tidak jago, Rhe, hanya pandai sedikit saja." "Justru menurut aku kamu malah sangat pandai, jarang banget kan ada cowok yang jago masak seperti ini." "Sebenarnya bukan jago sih, Rhe, saya hanya terbiasa. Di rumah juga saya yang memasak dan melakukan pekerjaan lainnya." "Ibu kamu kemana?" "Ibu saya jarang di Indonesia, beliau lebih banyak menghabiskan waktu di Kanada. Dan karena itu saya bisa tumbuh menjadi lelaki mandiri seperti ini." Aku terdiam. Sungguh aku tidak menyangka seorang Gar ternyata mempunyai banyak kelebihan lainnya, ia sungguh sangat sempurna. "Rhe, sudah masak itu." Aku tersentak, lantas segera mengangkat telur yang tadi aku goreng. "Kamu melamun lagi?" Tanyanya. "Tidak, Gar." "Tidak salah lagi, begitu?" Aku hanya tersenyum canggung. Lagi-lagi Gar berhasil memergoki ku seperti ini. Kami melanjutkan memasak, tanpa berbicara lagi. Kata Gar jika sedang berkerja jangan banyak mengobrol dan melamun karena itu bisa membuat pekerjaan semakin lama selesainya atau bahkan bisa sampai tidak selesai. Dan omongan Gar benar, buktinya sekarang semua masakan telah selesai bahkan dalam waktu kurang dari 30 menit. Aku langsung menyajika di meja makan, masih tetap sama-- Gar masih membantuku. Setelah semua selesai aku memanggil ayah yang berada di luar lalu segera mengajak untuk makan. "Wah, cepat juga ya kalian masaknya," ucap ayah yang mungkin juga sedikit kaget karena dalam waktu yang singkat kami bisa memasak makanan yang lumayan banyak. "Ini semua karena bantuan Gar, yah," ucapku. "Nak Gar juga jago masak ternyata. Wah idaman banget kalau begini, Rhe." "Ih, apaan sih, Yah." Kulihat Gar tersenyum, entah tersenyum karena pujian ayah atau tersenyum karena melihat wajahku yang sudah memerah seperti tomat. Aku menyajikan makanan dalam piring masing-masing, Gar ikut sarapan bersama kami. Ia makan dengan sangat tenang, tanpa berbicara sepatah kata pun. Bahkan susasana saat ini begitu tenang, sangat berbeda dari biasanya. Gar sudah seperti keluarga kami, ia berhasil mengambil hati ayah dan kini ia sudah sangat begitu akrab dengan ayah. Aku tahu selama ini ayah juga memerlukan seseorang untuk menjadi teman bercerita, setelah kepergian mama ayah tidak mempunyai teman untuk bercerita. Aku tahu banyak hal yang ingin ayah ceritakan, tapi ia tidak pernah mau menceritakannya denganku. Aku tahu, ayah tidak ingin membuat ku cemas, makanya ia selalu menyembunyikan sendiri. Dan kini, semenjak kehadiran Gar ayah jadi mempunyai teman untuk bercerita. Ayah tidak menanggung semuanya sendiri, ia bahkan menceritakan segala hal dengan Gar. Segitu percayanya ayah dengan Gar. Ternyata semesta sangat baik, setelah ia mengambil orang-orang yang kami sayang, kini semesta menghadirkan pengganti yang bahkan lebih baik dari sebelumnya. Semesta sebaik itu, ya. Gar, terima kasih telah hadir di kehidupanku. Terima kasih telah menjadi teman bercerita untukku dan juga ayah, aku tidak tahu bagaimana kehidupanku selanjutnya jika kamu tidak lagi berada di sini. Semesta, untuk kali ini bisa kah aku sedikit egois, aku hanya meminta agar engkau tidak mengambil Gar dari kehidupan kami. Karena saat ini hanya dia lah yang bisa menerima ku dan ayah tanpa merasa keberatan sedikit pun dengan keadaan kami. Semesta jaga Gar selalu, di mana pun ia berada dan dengan siapa pun ia pergi. Sebab dia adalah orang baik dan dia tidak pantas untuk terluka. "Rhe ..." Aku tersentak kaget melihat Gar yang menatap ku dengan senyum mengejeknya. Ah, semesta aku lupa kalau Gar bisa mendengar isi hatiku. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD