12. Fakta

1237 Words
"Rhe ...." "Iya, Gar?" "Kamu suka?" "Sangat suka." kulihat Gar menampilkan senyumnya. Tangannya bergerak mengelus kepalaku, lalu perlahan menyandarkan di bahunya. "Bahu saya kosong, sayang kalau gak diisi," ucapnya. Aku terkekeh pelan. Membiarkan kepalaku bersandar di bahunya, dan lagi-lagi aku merasa nyaman berada di dekat Gar. "Rhe, mau saya beritahu suatu rahasia?" "Rahasia apa?" "Jawab dulu, mau atau tidak." "Iya, mau." "Sebelum saya kasih tau, saya mau nanya dulu sama kamu. Menurut kamu rahasia itu apa?" "Emm ..., kalau menurut aku, ya, rahasia itu sesuatu yang hanya diketahui diri sendiri atau seseorang yang sangat dekat sama kita dan orang itu juga ngasih tahu rahasia itu ke orang lain. Bener nggk sih?" Tanyaku lagi sambil menyengir kuda. "Ya, kurang lebih memang seperti itu. Ohiya, coba ulang lagi dua kata terakhir dari penjelasan kamu tadi." "Orang lain," ucapku sedikit bingung. "Nah, kamu orang lain gak di hidup saya?" "Hah? Emm ..., kamu, kok, nanya gitu?" "Jawab dulu, Rhe." Aku menggaruk tengkukku yang gak gatal. "Emm ..., iya aku orang lain di hidup kamu." "Jadi, kalau gitu saya gak bisa kasih tau rahasianya, Rhe. Maaf, ya." "Kalau gak mau ngasih tau, kenapa tadi malah nawarin?!" Gar ini sangat menyebalkan, jika tidak ingin memberitahu kenapa malah bersikap seolah ingin memberitahu. Ah, aku jadi malu dengan diriku sendiri, seharusnya aku tidak perlu ingin tahu tentang rahasianya itu. Toh, aku juga bukan siapa-siapanya-- seperti yang dikatakannya tadi. "Maaf, Rhe. Tapi ada pengecualiannya, kok." Ucapnya, tangannya bergerak untuk mengarahkan kepala ku kembali bersandar di pundaknya. "Apa pengecualiannya, Gar? Is, kamu buat aku penasaran tau gak! Kalau tidak mau memberi tahu nggak usah di pancing ih." Gar terkekeh pelan lalu mengacak puncak kepalaku. "Dasar cerewet," ucapnya. Ia menjeda kelimatnya beberapa saat, "Kecuali, kamu menjadi separuh dari hidup saya, menjadi bagian dari hidup saya." Bibirku terasa kaku mendengar ucapan Gar. "Mm-maksudnya?" tanyaku. "Rhe, kamu mau jadi separuh dari hidup saya? Mau jadi alasan saya tetap bertahan di tengah-tengah masalah hidup? Mau menemani saya disaat muda seperti ini sampai tua nanti? Mau menjadi orang pertama yang berhasil mengisi hati saya?" Gar melontarkan segala pertanyaannya padaku. Aku masih bungkam. Gak tau harus menjawab apa, gak tau ini nyata atau cuma khayalan belaka. "Rhe ...." "Hmm, eh, iya?" "Kamu nggak perlu jawab sekarang, karena saya tahu ini sangat lah cepat dan saya yakin kamu juga belum sepenuhnya percaya dengan saya, kan." Aku hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. "Tidak apa-apa. Untuk saat ini izinkan aku untuk mengenal kamu lebih dalam, Rhe, setidaknya itu menjadi proses untuk gimana kedepannya," ucap Gar lagi. Aku dapat melihat wajahnya yang menyebalkan itu mendadak menjadi serius. Tatapannya yang biasanya teduh kini malah berubah menjadi tatapan sendu. "Yasudah, untuk saat ini kita jalani aja dulu prosesnya, ya, Gar. Untuk hasil akhirnya kita serahkan saja pada semesta," ucapku. Gar tersenyum. Senyum yang sangat amat aku suka dan kini menjadi favorit ku. "Bener, ya? Saya gak menerima penarikan kata dalam bentuk apa pun." Aku tersenyum sambil menganggukan kepalaku, pun dengan Gar dia juga ikut tersenyum Ya, mungkin untuk saat ini itu adalah keputusan yang paling tepat. Jujur saja aku juga belum siap untuk memberikan hatiku pada lelaki lain selain ayah, aku takut nantinya aku lalai menjaga ayah hanya karena sibuk dengan duniaku sendiri. Karena sampai saat ini, ayah lah yang menjadi sumber kebahagiaan ku dan menjadi fokus utamaku. Seterusnya akan begini, kalau pun nantinya ada lelaki lain yang bisa memikat hatiku maka aku akan menomor duakan nya, karena dalam hidupku ayah lah yang menjadi lelaki nomor satu. Dan seterusnya akan begitu. "Rhe... " Panggil Gar. Aku mendongak untuk melihatnya lebih jelas. "Iya, Gar?" "Mau aku ceritakan suatu fakta?" "Fakta apa?" "Tapi janji kamu nggak boleh kaget." "Iya, Gar, janji." Dia tersenyum lalu menarik napas dan membuangnya pelan. "Rhe, jangan kaget ya. Saya akan menjelaskannya sekarang," ucapnya lagi. Aku mendengus kesal. "Iya, Gar. Yaudah sekarang cerita." Aku yang memiliki sikap tidak sabaran ini lagi-lagi memaksanya. Gar tersenyum lalu mulai bercerita. "Rhe, kamu ingat cowok berseragam SMA, dengan topi hitamnya, dan sebuah gitar yang di bawa di tangannya?" Aku mengerutkan keningku. Bukannya menjelaskan Gar malah bertanya padaku, ah dia sungguh aneh. "Yang mana? Aku sering ketemu sama orang yang kayak gitu, kemarin juga ketemu di sebrang sekolah. Emang kenapa sih Gar?" Gar menepuk jidatnya. "Bukan yang itu, Rhe. "Lelaki itu beberapa kali ketemu kamu di jalan, tetapi bukan baru-baru ini melainkan waktu kamu kelas tiga SMP. Ingat?" Aku masih diam, mencoba mencerna ucapan Gar. "Waktu itu dia pernah membantu kamu sewaktu kamu di ledekin oleh beberapa anak cowok, tempatnya di halte bus dan waktu itu kamu baru pulang sekolah." Jelas Gar lagi. Aku mencoba mengingat dan memutar kejadian yang dijelaskan Gar tadi. Terlalu banyak, bahkan terlalu sering orang-orang meledekku seperti yang diucapkan Gar. Tapi iya, aku ingat. Satu tahun yang lalu, sewaktu aku menunggu bus di halte depan sekolah beberapa siswi meledekku dan tiba-tiba seseorang berseragam SMA yang gak ku ketahui siapa namanya datang dan menegur beberapa siswi itu hingga mereka dibuat malu kerena ucapan pria itu dan perlahan pergi. Aku masih ingat masa itu, bahkan sejak kejadian itu aku selalu menunggu di tempat yang sama dan berharap dipertemukan lagi dengan lelaki tersebut. Namun, alhasil nihil sampai aku tamat dari SMP itu, aku masih belum dipertemukan dengan pria tersebut. "Iya, aku ingat," ucapku setelah lama berpikir. Gar tersenyum. "Kamu pernah ketemu sama lelaki itu lagi? Tanyanya. Aku menggeleng. "Semenjak itu udah nggak pernah lagi, Gar. Padahal aku sering nunggu di sana berharap ketemu lagi sama dia." Gar tertawa dan berhasil membuatku kesal. "Kok malah ketawa, iss." "Kamu genit, sih." Mendadak wajahku memerah. Ah, iya, kenapa aku memberi tahu hal itu pada Gar, aku jadi malu sendiri dibuatnya. "Tapi tunggu, kok kamu bisa tahu tentang itu? Lelaki itu? Kok kamu tahu." Kulihat Gar kembali menetralkan dirinya. Pandangannya tertuju padaku. "Kamu tahu lelaki itu siapa?" Aku menggeleng pelan. "Lelaki itu adalah saya. Sungguh, Rhe. Setelah pertemuan itu saya pun juga sering memperhatikan kamu dari jauh, tapi kamu gak sadar. Dan setelah pertemuan itu juga saya mulai menyukaimu," terang Gar. Jantungku berdetak kencang. Apa maksudnya? Kenapa Gar bisa mengatakan hal itu. "Rhe, saya tidak berbohong. Ini beneran, dari dulu saya sangat ingin mengenal kamu tetapi saya tidak berani."  Aku menatap manik mata Gar dan aku tidak menemukan kebohongan di dalamnya. Gar tampak sangat serius. Kalian mau tahu bagaimana rasanya? Seperti bertemu dengan seseorang yang bahkan gak pernah kita temui sebelumnya. Hanya sekilas. Namun berhasil membekas. Ya, aku merasakan itu. Pertemuan sekilas, tapi berhasil membekas setahun lamanya. Aku yang berusaha mencarinya tanpa sadar kalau yang dicari ada di dekatku. Dia gak pergi, hanya mencari waktu yang tepat untuk memberitahu. Setelah beberapa menit saling bertatapan, aku yang gak berhenti meyakinkan diri bahwa ini benar adanya, mendadak meneteskan air mata. Kupeluk tubuh kekarnya. Menangis. Menumpahkan segala tangisan yang tertahan setahun lamanya. Sungguh ini adalah suatu kejutan yang nggak pernah aku duga sebelumnya. Di pertemukan kembali dengan sosok yang aku cari selama setahun lamanya, ah rasanya sangat bahagia. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sebahagia ini, padahal aku dan Gar juga bertemu hanya sekali dan itu pun tidak lama. Tetapi saat ini aku merasa seolah bertemu dengan seorang yang sangat aku kenal, ah aku bahkan tidak bisa mendeskripsikannya. "Rhe... " Aku bahkan tidak sanggup lagi menjawab panggilan dari Gar. Dadaku terasa sesak sangking bahagianya. "Kamu bahagia?" Tanyanya. Aku hanya bisa mengangguk dan terus membekap tubuh Gar. "Kita mulai semuanya lagi dari awal, ya. Anggap saja sebagai proses," Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Entah sudah berapa lama aku menangkup kan wajahku di pundak Gar, menumpahkan segala tangisku di sana. Bahkan dengan jarak sedekat ini aku dapat mencium harum tubuh gar. Semesta, jika boleh aku ingin meminta agar waktu ini berhenti, hanya untuk beberapa saat saja. Agar aku bisa memiliki waktu lebih banyak lagi bersama dengan Gar, menghabiskan waktuku bersama lelaki misterius ini. Semesta, ku harap engkau terus menjaganya, sebab saat ini dia lah yang menjadi sumber kebahagiaanku setelah kehadiran ayah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD