Jika dia mencintaimu, dia akan menjagamu bukan malah merusak dirimu.
~~~~
Setelah selesai dari tempat pertama yaitu tongkrongan Bima, kami menuju tempat kedua yang hingga saat ini pun aku tidak tahu ke mana.
Tadi, ketika di tongkrongan semuanya masih aman. Bima mengenalkan ku pada teman-temannya, dan mereka juga menyambut baik. Walau ada beberapa candaan yang membuatku tidak nyaman, seperti; ini yang ke berapa? sudah ngapain aja? berapa kali? sungguh semua pertanyaan itu membuatku tidak nyaman dan merasa di lecehkan. Bagi mereka itu hanya sebuah candaan bisa, tetapi tidak denganku yang justru malah di rendahkan.
Tadi juga aku sempat marah karena candaan mereka yang sangat keterlaluan, dan mungkin Bima mengerti oleh karena itu ia langsung mengajakku pergi dari sana dan kini kami sedang menuju ke tempat yang kedua.
"Rhea, aku minta maaf ya, karena teman-teman ku tadi ngomong nggak sopan. Sebenarnya obrolan kayak gitu udah jadi candaan biasa untuk kami, tapi mungkin karena kamu baru mendengarnya jadi kamu merasa tidak nyaman."
"Tidak perempuan yang menerima candaan seperti itu, Bim," ucapku merasa masih kesal.
"Iya iya, yasudah aku minta maaf ya, Rhea. Lain kali aku pastikan mereka nggak akan ngomong kayak gitu."
Aku hanya berdeham sebagai jawaban.
"Sekarang kita mau kemana?" tanyaku.
"Ke tempat yang kedua, dong."
"Iya, tapi dimana?"
"Nanti kamu juga tahu, kok."
"Masih jauh?"
"Enggak, Rhea. Sekitar 100 meter lagi."
Aku mengangguk lalu diam-diam mengambil ponselku dari saku, dan kembali men-share lokasi pada Gar walaupun masih sama—nomor Gar masih belum aktif.
Kami melewati pepohonan tinggi yang menurut ku sangat bagus, ada tanaman padi juga yang tumbuh subur sehingga membuat udara menjadi lebih segar, terlebih tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang layaknya jalan kota jadi udaranya benar-benar masih asri.
Tak lama motor Bima berhenti tepat dipinggir sebuah danau kecil namun sangat indah.
"Wow ..." ucapku antusias.
Bima tersenyum. "Gimana kamu suka?" tanyanya.
Aku mengangguk dengan penuh semangat.
"Ini bagus banget, Bim. Udaranya juga masih sangat segar."
"Iya, bener banget, Rhea. Ini danau buatan yang terbilang masih sangat baru, lokasinya yang masuk ke daerah perkampungan membuat danau ini nggak banyak di ketahui orang. Tapi bagus juga sih, Rhea, karena kalau orang kota tau yang ada danau ini malah di rusak, kan."
"Iya, Bim, bener banget. Kalau sepi kayak gini kan jadinya alam sekitarnya masih terjaga."
"Iya, Rhea, benar."
Kami diam untuk beberapa saat, sama-sama meresapi udah yang benar-benar membuat tenang dan nyaman.
"Biasanya kalau sedang ada masalah dan butuh ketenangan, aku selalu pergi ke sini, Rhea. Karena di tempat ini aku benar-benar bisa tenang."
"Aku setuju kalau itu, malah lebih bagus kamu disini dari pada di tempat tadi."
Bima terkekeh pelan. "Lihat kondisinya juga, Rhea. Kalau aku lagi pengen sendiri ya aku kesini, tapi kalau aku merasa butuh hiburan aku bakalan ke cafe tadi. Dua-duanya sama-sama ku butuhkan, Rhea."
"Oh, begitu, ya."
Bima mengangguk sebagai jawaban.
Aku kembali memperhatikan keadaan sekitar; Air danau yang sangat biru, burung-burung bangau yang beterbangan di atasnya, ada beberapa tumbuhan padi juga yang masih dapat dilihat dari tempat kami sekarang. Namun, ada yang membuatku merasa bingung, yaitu gubuk-gubuk kecil yang dibuat tertutup dan berada di pinggiran danau ini padahal masih ada rawa-rawa di sekitar gubuk tersebut.
"Bim, tempat ini berbayar, ya?" tanyaku heran.
"Enggak, kok, Rhea. Siapa aja bisa masuk kesini, gratis."
"Terus itu, kok, ada gubuk-gubuk gitu? malah tempatnya di tengah rawa-rawa gitu lagi."
"Nah, itu lah yang menjadi salah satu kekurangan danau ini, Rhea."
"Maksudnya?"
"Jadi, gubuk-gubuk itu sengaja dibuat oleh warga sekitar untuk orang-orang yang datang kesini dan mau menyewa gubuk itu."
"Ha? Emang ada yang mau nyewa gubuk di tengah rawa gitu?"
"Ada, dong, Rhea."
"Serius?"
"Iya, dan kamu tahu tidak biasanya yang menyewa itu adalah pasangan kekasih yang ingin melakukan hubungan."
"Mau berduaan gitu?"
"Bukan hanya duduk berduaan gitu aja, Rhea, tapi lebih dari itu. Terutama berhubungan badan."
Mendengar perkataan Bima sungguh membuatku kaget, aku bahkan tidak percaya tetapi Bima benar-benar meyakinkan ku.
"Nah, itu kamu lihat. Dua remaja itu masih pakai baju sekolah, kan? Dan mereka menyewa gubuk itu, menutup pintu, lalu apa lagi yang mereka lakukan selain berhubungan badan layaknya suami istri."
"Bim, tapi ini benar-benar keterlaluan. Dan anehnya kenapa malah di normalisasi kan begitu. Ini tempat umum loh, nggak seharusnya kayak gini. Malah dijadiin tempat berzinah, ntar kenak azab baru tahu rasa."
"Mau gimana lagi, Rhea, memang sudah begini dari sananya. Toh, penduduk sini nggak pada protes, karena dengan begitu mereka jadi punya penghasilan."
"Tapi penghasilannya haram."
Bima hanya mengangkat kedua bahunya, seolah memberitahu bahwa dia tidak ikut campur prihal itu.
"Nah, Rhea, kamu lihat. Gubuk yang tadi di sewa dua remaja tadi. Kamu lihat kan goyang begitu, ngapain lagi kalau bukan bercocok tanam."
"Astaga, Bim, ayo kita grebek. Kita usir mereka, biar nggak begitu."
"Lah, mana bisa, Rhea. Yang ada malah kita yang di usir penduduk sini, karena telah merusak mata pencarian mereka."
Sungguh, aku merasa miris melihat keadaan seperti ini. Bisa-bisanya di tempat umum, hal seperti itu dilakukan tanpa tahu malu, dan yang paling mirisnya ialah yang melakukan itu kebanyakan anak sekolahan yang notabenenya masih di bawah umur.
Mengetahui keadaan yang seperti ini, membuat ku merasa sangat tidak nyaman. Yang tadinya aku sangat merasakan kenyamanan, kini malah berubah dan rasanya ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.
"Bim, kita pulang saja, yuk. Aku mulai nggak nyaman disini," ucapku.
"Sebentar lagi, Rhea. Biasanya makin sore makin ramai, ni, yang datang."
"Tapi aku enggak betah, Bim."
"Sabar, Rhea ... atau kamu mau ikut nyoba juga?"
"Ha, maksud kamu?"
"Ya, kita sewa gubuk itu juga. Gimana?" tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Jangan macam-macam kamu, ya, Bim."
"Aku kan cuma nawarin, Rhea. Mana tau kamu minat."
"Gila!" ucapku, lalu langsung menjauh darinya.
Tak lama Bima tertawa, seolah apa yang di dikatakannya tadi lucu.
"Aku cuma bercanda loh, Rhea."
"Ga lucu, Bim," ucapku yang sangat kesal. Dia mengatakan bahwa itu hanya bercanda, tetapi dari wajahnya aku dapat melihat bahwa Bima memiliki niat itu. Sungguh, aku semakin takut. Rasanya ingin cepat-cepat pulang, dan tidak akan mau bertemu dengan Bima lagi.
"Aku mau pulang," ucapku lagi.
"Ih, Rhea, jangan gitu, dong. Kan kita mau ke satu tempat lagi, kamu udah janji loh."
"Aku mau pulang, Bim."
"Yasudah, kita pergi dari sini dan ke tempat terkahir, ya."
"Enggak, aku mau pulang."
"Rhea, ayo lah. Aku udah mempersiapkan semuanya, loh. Masa kamu tega batalin gitu aja."
"Kamu lihat ini udah jam berapa, Bim. Bahkan ini sudah jam enam lewat, tapi kita belum juga pulang. Tadi kan kamu udah janji paling lama jam tujuh."
"Aku enggak ada janji, Rhea. Aku bilang lihat nanti, karena kita kan nggak tahu jalannya gimana," ucapnya masih berusaha mengajakku untuk pergi ke tempat ke tiga. "Aku minta maaf kalau aku salah, udah buat kamu enggak nyaman. Aku beneran minta maaf, Rhea. Tapi please, jangan batalin karena aku udah persiapin semuanya untuk kamu," ucapnya sambil memohon di depan ku.
Melihat wajah Bima yang memelas seperti itu membuatku tidak tega, aku tidak tahu apa yang telah di persiapkannya sehingga ia begitu memaksaku, tapi kemungkinan hal itu sangat berharga untuknya.
Setelah lama berpikir akhirnya aku mengiyakan ajakannya, itu karena aku tidak tega melihatnya dan aku juga tidak mau menyia-nyiakan usaha yang telah ia lakukan.
[][][][]