39. Waspada

1413 Words
Jika seorang sahabat saja bisa berkhianat, tidak menutup kemungkinan seorang teman yang baru di kenal melakukan hal yang sama. Tetaplah berhati-hati, sebab tidak ada manusia yang benar-benar tulus di dunia ini. ~~~~ Kami melewati jalanan yang sangat sepi, pohon-pohon besar tumbuh liar di pinggir jalan, semakin masuk ke dalam pun juga semakin sepi. Beberapa kendaraan yang tadinya betul berlalu-lalang kini tidak terlihat lagi, hanya ada satu atau dua kendaraan yang terlihat di sepanjang jalan. Perasaanku semakin tidak enak, terlebih mengingat kejadian di danau tadi. Perlahan aku melepaskan tanganku dari pinggang Bima, namun sialnya dengan cepat Bima menariknya lagi. "Jangan di lepas, Rhea," ucapnya. Tangannya beralih memegang kepalaku, lalu mendorong ke pundaknya hingga saat ini wajahku sangat dekat dengan wajah Bima. Aku berusaha untuk menjauhkan kepala ku, namun lagi-lagi Bima menahannya kali ini ia bahkan menahan kepala sedikit lebih kasar dari pada sebelumnya. Sungguh, aku benar-benar takut. Semakin kesini Bima semakin aneh. Diam-diam ku lihat wajahnya dari kaca spion, dan seperti yang ku katakan wajah Bima pun sangat berbeda. Ia tampak kaku, datar, sama sekali tidak berekspresi. Entah ada apa dengan dirinya, yang pasti aku benar-benar sangat ketakutan. Bima membawa motor dengan satu tangan, sementara satu tangannya lagi memegang tanganku agar terus berada di pinggangnya. Sesekali aku mencoba menjauhkan kepalaku yang masih berada di lehernya, namun Bima menahannya dengan tangan satu lagi yang seharusnya fokus memegang stir motor. Dan hal itu membuatku sangat ketakutan, sehingga aku tidak berani lagi menjauhkan kepalaku dari pundaknya. "Bim ..." panggilku. "Iya, Rhea," jawabnya, suaranya terdengar serak namun jauh lebih lembut dari sebelumnya. Tapi anehnya aku malah jadi merinding, terlebih saat ini jarak antara wajah kami sangat dekat. "Masih jauh?" tanyaku. "Tidak, Rhea, sebentar lagi." "Tapi kenapa jalannya makin sepi?" "Memang begitu." Bima menggeser kepalanya sehingga membuat wajahnya berada di atas kepalaku. Aku dapat merasakan hembusan napasnya yang sangat kencang, mulutnya yang sengaja ia tempelkan di kepalaku sehingga seolah ia mencium kepalaku. Sungguh aku sangat risih dan takut, untuk bergerak pun aku tidak berani. Aku tidak henti berdoa, berharap semoga Tuhan menolongku dan segala pikiran buruk yang terlintas di otakku tidak beneran terjadi. Tak lama ponselku berbunyi, aku benar-benar merasa bersyukur karena dengan begitu aku menggeser kepalaku dari pundak Bima. "Bim, handphone ku bunyi," ucapku. "Nanti saja di angkatnya, Rhea." "Loh, kenapa? Mana tau itu ayah." "Iya, tapi nanti saja kamu telepon lagi, karena ini kita lagi di jalan toh enggak kedengaran juga suaranya." Aku mengangguk pelan, tidak apa-apa jika nanti harus menelepon ayah yang penting saat ini aku telah berhasil menjauhkan wajahku darinya. Setidaknya itu jauh lebih baik. Tak lama kami sampai di sebuah rumah yang berada di tengah hutan, rumahnya terbuat dari papan, tidak begitu besar namun tampak bersih terlebih udaranya juga segar. Namun, yang membuatku takut ialah di sana benar-benar sepi, tidak ada satu orang pun yang terlihat disana, bahkan suara hewan-hewan seperti burung, jangkrik yang biasa ada di tengah hutan pun tidak terdengar. Begitupun dengan rumah, cuma ada satu rumah, dan disini lah kami berada saat ini. "Bim, ini rumah siapa?" tanyaku. "Rumahku." "Rumah kamu dan orang tuamu?" "Bukan, Rhea. Ini rumah kedua ku, tempat aku tinggal kalau sedang tidak ingin pulang," jelasnya. "Kamu tinggal disini sama siapa?" "Enggak ada, sendiri aja. Sudah ayo masuk." Bima menarik tanganku untuk masuk, jujur aku merasa sangat takut. Di tengah hutan seperti ini, hanya ada aku dan Bima dan sesuatu hal buruk terjadi tidak akan ada yang bisa menolong. "Umm ... Bim, kayaknya kita disini aja, deh. Kan, enggak enak kalau kita berduaan di dalam rumah, apalagi situasinya sepi seperti ini," ucapku mencari alasan. "Memang kenapa, Rhea? Kamu tidak enak dengan siapa? Kan disini tidak ada orang, tidak ada tetangga yang akan menggosipkan, tidak ada lurah atau guru yang akan memergoki. Jadi apa yang kamu takutkan, Rhea." Sial, Bima benar-benar pandai mencari pembelaan. Aku sudah tidak bisa berkutik lagi dan tak tahu harus mencari alasan apa lagi hingga pada akhirnya aku menurut untuk masuk bersama Bima. Mungkin nanti aku akan mencari ide agar bisa pergi dari sini, terlebih saat ini aku juga belum men-share lokasi ku pada Gar dan itu membuatku harus lebih pandai untuk mencari kesempatan Kami telah berada di dalam rumah Bima, jujur saja rumah ini seperti bukan di tempati oleh satu orang saja apalagi orang itu adalah anak laki-laki karena rumah ini sangat bersih, semua barang tertata rapi, tidak ada debu, apalagi sampah. "Bim, kamu yakin tinggal disini hanya sendiri?" tanyaku heran. "Iya, Rhea, benar." "Jago juga ya kamu, rumahnya bersih, semua barang tertata rapi, kayak ada pembantu atau perempuan yang menatanya." "Haha, emang soal menata begini hanya pembantu atau perempuan saja yang tahu?" "Ya, kan biasanya begitu." "Iya, deh iya. Sebenernya juga tidak sebersih dan serapi ini, Rhea. Semalaman aku sengaja membersihkan dan menata semua barang-barang ini, aku lihat contohnya di YouTube. Dan itu semua aku lakukan karena aku mau mengajak mu kesini," jelasnya. "Oh, berarti ini yang kamu maksud kalau kamu telah menyiapkan semuanya? Makanya kamu memohon-mohon supaya aku tidak membatalkannya?" "Yups ..." jawabnya. Lalu kami berdua tertawa. Sebenarnya tawaku ini palsu, aku sengaja terlihat santai saja agar Bima tidak curiga padahal saat ini di dalam hati aku benar-benar sangat ketakutan. "Sebentar, ya, aku akan buatkan minuman," ucapnya. "Oke ..." jawabku semangat. Dan ketika Bima pergi ke dapur aku langsung mengambil ponselku, mencoba menghubungi Gar, dan men-share lokasi padanya. Namun sialnya, ternyata disini tidak ada jaringan untuk mengakses internet. Sungguh aku benar-benar hampir frustasi. Setelah beberapa saat aku mencoba menenangkan diriku, aku yakin pasti ada jaringan karena tidak mungkin Bima bisa bertahan di tempat yang tidak ada akses internet seperti ini. "Bim, aku mau telepon ayah ni, tapi disini enggak ada akses internet, ya?" ucapku setengah berteriak. "Oh, Iya, Rhea. Disini kalau pakai kartu tidak bisa, kamu pakai WiFi saja, ada kok. Dan tidak pakai password," ucap Bima dari dapur. Aku bernapas lega dan tanpa menunda lagi aku langsung mengaktifkan WiFi ku. Dan saat itu juga, beberapa panggilan masuk, pesan, langsung muncul di layar dan itu semua dari ayah dan Gar. Aku bernapas lega, akhirnya Gar melihat pesanku. Lalu, aku langsung men-share lokasi ku saat ini dan untungnya masih terbaca di google map. Tak lupa aku mengirim pesan bahwa aku sangat ketakutan, agar Gar secepatnya datang kesini. Setelah selesai aku langsung menghapus semua pesan-pesan yang ku kirim pada Gar, lalu mengarsipkan nomornya. Semua itu ku lakukan untuk berjaga-jaga jika Bima mencoba memeriksa ponselku. "Sudah, Rhea?" Tiba-tiba Bima datang dari dapur dan itu membuatku benar-benar sangat kaget dan gugup. "Eh, iya. Belum, Bim. Tadi pas aku aktifin WiFi nya, ternyata semua notif langsung masuk. Dan rupanya salah satu artis yang aku idolakan posting foto terbaru, jadi aku lihat-lihat dulu, deh," ucapku yang jelas-jelas berbohong. Aku juga bingung kenapa aku jadi lancar berbohong seperti ini, tetapi tidak apa. Berbohong untuk keselamatan diri sendiri bukan lah suatu hal yang buruk. "Yasudah, kamu telepon dulu ayah kamu. Bilang kamu pulang agak telat, biar nggak khawatir." "Iya, Bim." Aku langsung menelpon ayah, namun setelah beberapa kali menghubungi ayah tidak mengangkat telepon ku. "Enggak di angkat, Rhea?" tanyanya. Aku menggeleng pelan. "Ayah kenapa, ya. Tumben enggak ngangkat telepon. Apa jangan-jangan ayah kenapa-kenapa? Bim, kayaknya kita harus pulang deh, aku takut ayah kenapa-kenapa." "Coba kamu telepon lagi, jangan mikir aneh-aneh dulu." "Tapi biasanya ayah tu selalu megang hp, jadi nggak mungkin dia nggak ngangkat teleponnya." "Di coba lagi, Rhea." Bima masih berusaha menahanku agar tetap disini, dan itu membuatku semakin curiga padanya. Lagi-lagi aku mencoba menelepon ayah, namun tetap sama tidak di angkat. "Enggak di angkat juga, Bim." "Yasudah, kamu kirim pesan aja. Pasti kan nanti di baca, mungkin ini ayah kamu lagi sholat, atau di kamar mandi, kan." Aku hanya menurut. Sebenarnya aku tidak mengirimkan pesan kepada ayah, tetapi kepada Gar. Aku men-spam nomor Gar, berharap ia segera melihat pesanku lagi. Dan isi dari semua pesan ku tetap sama, yaitu aku sangat takut. "Sudah, Rhea?" tanya Bima. "Iya, Bim, udah." "Nah, di letak dulu hp nya, biar enak kita ngobrolnya. Oh iya, ini di minum juga tehnya, enak loh, Rhea." "Iya, Bim, terima kasih." Sebelum meletakkan ponselku, tak lupa aku membuat password terutama di aplikasi w******p agar Bima tidak bisa sembarang membukanya. Dan setelah memastikan semuanya aman aku langsung meletakkan ponselku. "Di minum, Rhea, tehnya." "Iya, Bim, terima kasih. Aku belum haus, kok, lagian masih panas juga, kan," ucapku beralasan. Aku sengaja menolaknya karena aku mengingat ucapan salah satu guruku di sekolah yang mengatakan bahwa; jangan mau menerima minuman atau makanan dari laki-laki jika mereka yang menyiapkan, karena kita tidak tahu apa saja yang dicampur mereka di dalamnya. ~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD