40. b******n

1554 Words
"Rhea, boleh pinjam handphone kamu?" "Untuk apa, Bim?" "Aku mau searching sebentar, handphone aku lagi di cas soalnya. Boleh?" tanyanya lagi. Sebenarnya hal ini sudah ku ada di pikiranku sebelumnya dan ternyata itu beneran terjadi. Dengan ragu aku menyodorkan ponselku pada Bima, semakin kesini aku semakin curiga padanya. Lalu, Bima mengambil ponsel yang telah ku berikan. "Rhea, password nya?" "Ah, iya aku lupa." Aku mengambil lagi ponselku dari tangan Bima lalu membuka password-nya. Aku sengaja tidak membiarkan Bima melihat password ponselku, sebab itu bisa jadi kesempatan besar untuknya. Dan aku tidak mau hal itu terjadi. Setelah membuka kunci, aku kembali memberikan pada Bima. "Terima kasih, Rhea," ucapnya. Aku hanya menjawab dengan senyuman. Kulihat Bima mulai mengotak-atik ponselku, entah dia memang ingin mencari sesuatu di google, atau justru memiliki niat lain. Hanya Bima dan Tuhan lah yang tahu. "Di minum Rhea, tehnya," ucap Bima lagi. "Iya, Bim. Tapi kayaknya aku mau minum air putih aja, deh. Kalau teh agak kurang enak di tenggorokan," alibi ku. "Oh, yasudah biar ku ambilkan." "Enggak usah, Bim. Biar aku aja yang ambil, kamu lanjut aja lagi searchingnya." "Enggak papa, Rhea—" "Udah, Bim, tenang aja. Aku bisa, kok." tanpa berbasa-basi lagi, aku langsung menuju dapur dan mengambil segelas air putih untukku. Sebenarnya aku sengaja meminta air putih, selain agar aku tidak meminum teh buatan Bima, aku juga ingin mencari sedikit informasi tentang Bima, seperti dengan siapa dia tinggal disini atau ada informasi lain mengenai dirinya. Ketika aku menuangkan air ke gelas, aku tidak sengaja melihat sebuah bubuk di dalam plastik kecil yang diselipkan dibalik rak piring. Entah mengapa aku penasaran dengan benda tersebut, diam-diam aku mengambilnya lalu memasukkan ke dalam saku rok. Mungkin nanti aku bisa mencari tahu benda apa itu. Selain itu aku juga melihat sebuah botol kecil yang di simpan di dalam laci penyimpan barang. Dan betapa kagetnya aku ketika membaca fungsi obat tersebut yaitu untuk merangsang dan menaikkan gairah perempuan. Sungguh aku tidak tahu apa maksud Bima menyimpan obat seperti ini di rumahnya, aku melihat ke dalam isinya dan ternyata obat tersebut tinggal setengah dan itu berarti obat tersebut telah digunakan. Kecurigaan ku pada Bima semakin kuat, sungguh aku benar-benar takut. Ingin mencoba kabur dari sini, tetapi rumah ini tidak mempunyai pintu belakang, ingin kabur dari jendela juga sepertinya tidak bisa karena jendela hanya ada di ruang tengah saja. Tuhan, ku mohon selamatkan aku. Sungguh, aku sangat takut jika segala dugaanku pada Bima beneran terjadi atau justru memang telah menjadi rencananya. Semesta, ku mohon beri aku petunjuk agar bisa pergi dari sini. Aku sangat takut jika segala kecurigaan ku benar-benar terjadi. "Rhea ..." tiba-tiba Gar memanggilku, sontak aku langsung membuang benda tersebut ke dalam tong sampah agar ia tidak mencurigainya. "Iya, Bim." "Sudah ambil minumnya?" "Sudah." jawabku setengah berteriak. Lalu, tanpa menunda aku langsung kembali ke ruang depan, sebisa mungkin aku mengontrol ekpresiku agar terlihat biasa saja. "Lama ya, Bim? Tadi aku sambil cuci tangan hehe," alibi ku. "Oh, begitu. Oh iya, Rhea, ponselmu mau sepertinya baterainya habis. Aku carger dulu, ya?" "Eh, habis ya, Bim? tapi perasaan tadi baterainya masih banyak, deh?" "Iya, habis. Tadi ada notif baterai low dan nggak lama langsung mati. Yasudah, aku charger dulu, ya." Bima langsung bangkit dari tempatnya lalu masuk ke dalam kamar. Aku tahu Bima berbohong, karena jelas-jelas tadi aku lihat baterai ponselku masih penuh karena hari ini aku belum ada memakainya selain untuk menghubungi ayah dan Gar. Tidak mungkin juga baterai itu habis hanya karena Bima menggunakannya, padahal Bima saja baru memakai beberapa menit. Seperti dugaan, Bima pasti punya niat buruk. Aku melihat teh yang tadi dibuatkan Bima untukku, entah mengapa aku merasa tidak yakin dengan teh tersebut terlebih ketika tadi menemukan obat perangsang. Segala pikiran buruk ku tentangnya semakin kuat. Lalu, dengan sengaja aku menyenggol teh tersebut hingga tumpah semuanya. "Argh, Bim ..." aku sengaja berpura-pura meringis agar Bima tidak curiga. Mendengar suaraku, sontak Bima langsung keluar dari kamar dengan terburu-buru. "Kenapa, Rhea?" "Aku nggak sengaja tumpahkan tehnya, duh malah panas lagi." Aku meniup-niup kaki ku, seolah merasa pedih karena terkena air panas. "Astaga, sebentar Rhea, biar ku ambilkan salep dan kain pel." Bima langsung ke dapur mengambil kain pel dan juga salep untuk kakiku yang terkena air panas. "Ini, Rhea, di pakai salepnya," ucapnya. "Terima kasih, Bim." Aku mengambil salep tersebut lalu mengoleskan di kakiku, sementara Bima mengepel tumpahan air teh tadi. "Maaf ya, Bim, aku jadi merepotkan mu." "Iya, Rhea, tidak apa-apa. Namanya juga tidak sengaja," ucapnya. "Hehe iya." "Aku buatkan kamu teh lagi, ya?" "Eh, enggak usah, Bim. Aku minum air putih aja, lagian aku juga enggak suka teh panas." "Oh, atau kamu mau teh dingin? Ada es batu, kok di kulkas." "Enggak, Bim, enggak usah. Aku minum air putih ini aja," ucap ku lagi. "Oh, yaudah." Setelah memastikan tumpahan air tadi tidak bersisa lagi, Bima langsung menyimpan kain pel tersebut ke dapur. Aku bisa bernapas lega, akhirnya aku berhasil menggagalkan rencana buruk Bima. Walaupun tadi ia masih berusaha membuatkan ku teh, tetapi akhirnya aku bisa menghentikannya lagi. Kini aku harus memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa pergi secepatnya dari tempat ini. Sebenarnya saat ini juga aku ingin kabur saja, tetapi mengingat bahwa aku tidak tahu daerah sini, terlebih ini adalah hutan, tidak ada orang lain, ponselku juga di sembunyikan Bima di kamarnya, alhasil aku tidak bisa apa-apa. Hanya berharap Gar datang untuk menjemput ku disini. Bima kembali dari dapur, lalu duduk di samping ku. Sepertinya Bima sengaja duduk tepat di sebelah ku dan jaraknya juga terlalu dekat denganku. "Bim, ke luar, yuk?" ajak ku. "Kenapa, Rhea? Bukannya disini lebih enak, ya?" "Menurut aku malah lebih enak di luar, udaranya segar karena kan banyak pohon-pohon." "Umm, jadi kamu mau di luar ni?" Aku mengangguk. Mengajak Bima keluar memang salah satu rencana ku agar jika Bima melakukan hal buruk aku bisa langsung berlari atau teriak, walaupun disini tidak ada penduduk lain tapi aku yakin pasti ada orang lain yang mungkin melintas di tempat ini. Setelah Bima menerima ajakan ku, kami langsung menuju teras rumah ini lalu duduk di bangku yang telah ada di sana. Aku berusaha menenangkan diriku, mencoba untuk tidak terlihat ketakutan agar Bima juga tidak curiga. Tiba-tiba, Bima yang tadinya berada beberapa meter di samping ku, kini justru malah semakin mendekat. Sungguh aku semakin ketakutan dan tidak tenang. "Rhea ..." "Iya." sungguh aku benar-benar takut, Bima terlihat semakin aneh. "Kamu kenapa?" tanyanya dengan suara yang tiba-tiba menjadi serak. Aku menggeleng pelan. "Enggak papa," jawabku. Bima semakin lancang, tangannya mencoba memainkan rambutku. Merasa ini sudah tidak wajar lantas aku bangkit dari tempat ku. "Loh, kenapa Rhea?" tanyanya seolah tak terjadi apa-apa. "Bim, aku mau pulang." "Kenapa pulang, Rhea. Disini aja, kali. Kan, enak. Sepi, jadi kita bisa berduaan." Bima berjalan ke arahku, mengedipkan kedua matanya, dengan senyum yang aku tidak mengerti apa maksudnya. "Bim, kamu jangan macam-macam, ya." "Macam-macam maksud kamu, Rhea?" "Jangan kamu pikir aku enggak tahu kalau kamu punya niat buruk sama aku." Bima terkekeh, lalu tersenyum. Sungguh senyum Bima benar-benar membuatku takut. "Ternyata kamu sudah tahu, ya, Rhea. Pantas aja kamu gugup dan menghindar dari aku, ya." "Bim, please, jangan sakiti aku. Kita teman kan, Bim, aku tahu kamu orang baik." aku tak henti memohon pada Bima, berharap ia berubah pikiran dan tidak jadi melakukan niat buruknya itu. "Aku nggak nyakitin kamu kok, Rhea. Aku justru mau mengajak mu bersenang-senang." Bima semakin mendekat kepada ku, mencoba menarik tanganku, namun aku langsung berlari. Aku berlari sekencang-kencangnya, berharap menemukan orang lain dan bisa membantu ku. "Rhea ... sini. Kamu mau kemana? Mau masuk ke hutan? Di sana ada binatang buas loh, Rhea," ucap Bima setengah berteriak. Aku tidak peduli dan terus berlari, mencoba mencari jalan keluar walau aku tahu hutan ini sangat luas, dan aku tidak mungkin sanggup berlari. Bima terus mengejar ku, ia sama sekali tidak menyerah dan terus memanggil namaku. "TOLONGGGGG!" aku berteriak, berharap ada seseorang yang mendengar dan mau menolong ku. "PERCUMA RHEA, TIDAK ADA ORANG DISINI. SUDAH LAH, RHEA. MENYERAH SAJA, AYO BERSENANG-SENANG DENGANKU." Aku tidak peduli dengan ucapannya, dan terus meminta tolong. Aku yakin Gar pasti akan datang ke sini dan menolongku. Semesta, tolong kirimkan suaraku pada Gar, sungguh aku sangat takut. Aku terus berlari dan tanpa ku sadari Bima tidak terlihat lagi, suaranya juga tidak ada. Aku berhasil. Bima telah berhenti mengejar ku atau mungkin ia kehilangan jejak ku. Aku duduk meringkuk di salah satu pohon besar yang ada di sana, menangis, merutuki diriku yang tidak beruntung ini. Entah dosa apa yang pernah aku lakukan, sehingga hidup ku seperti ini. Tiba-tiba aku terdiam kaku, tatkala sebuah tangan memeluk dari belakang. Tubuhku bergetar, tangis semakin pecah, sungguh aku sangat takut. "Enggak perlu nangis, Rhea. Karena kita akan bersenang-senang disini." Bima membekap mulutku dengan tangannya sehingga aku tidak bisa mengatakan apapun lagi, air mataku tak henti keluar, tubuh ku pun perlahan sudah melemas dan semakin tidak berdaya. "Coba aku tadi kamu tidak lari, Rhea. Pasti kita sudah bersenang-senang di kamar ku, padahal aku sudah menghiasinya loh." Aku semakin menangis, meronta-ronta agar Bima melepaskan ku namun tetap saja tidak berhasil. Ia mendudukkan ku di tanah lalu mengikat tubuhku di samping pohon besar. Lalu ia membelai wajahku dengan tangannya, memainkan rambutku, dan hal yang paling menjijikkan ialah ketika Bima mencium pipiku. Semesta, kali ini aku menyerah. Apapun yang terjadi pada diriku hari ini akan ku serahkan kepada-Mu. Bima mencoba membuka kemeja yang ku kenakan, lalu ... BUMMMM "b******n!" ~~~~~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD