41. Malaikat itu tidak Pernah Mengingkari Janjinya

1041 Words
Lebih mudah bagiku untuk menghubungkan rasa lelah di tubuh, daripada menghilangkan rasa khawatir di kepala saya. ~~~~ "BAJINGANN!" Suara itu. Aku sangat mengenalnya. Suara yang selalu ingin ku dengar, suara yang membuat ku tenang. Gar, dia datang. Dia mendengar suaraku yang tak henti memanggil namanya, tangisanku yang tak kunjung henti karena ketakutan. Akhirnya dia datang, menyelamatkanku. Dan dia tidak pernah mengingkari janjinya yaitu selalu menjagaku. Di depan mataku terlihat jelas Gar memukuli Bima hingga ia tidak bisa berdaya, tubuh Bima biru, wajahnya lebam, hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Melihatnya seperti ini aku tidak tega, tetapi aku tidak bisa memaafkan apa yang telah ia lakukan padaku. Di saat Bima sudah benar-benar tidak bisa bergerak lagi, barulah Gar mendatangiku. Memelukku sambil terisak lalu berkata, "Maafkan saya, Rhe. Saya gagal menjaga kamu." kalimat itu tidak henti keluar dari mulutnya dengan air mata yang turut keluar dari kelopak matanya. "Enggak, Gar. Ini bukan kesalahan kamu. Bima yang jahat, Gar. Sungguh dia sangat jahat." tangisanku pun semakin pecah, terlebih ketika Gar menyalahkan dirinya. Gar terus memelukku dengan erat, seolah memberitahu bahwa ia sangat khawatir denganku. "Kita pulang, ya. Motor saya ada di rumah Bima." Aku mengangguk, kemudian Gar menuntunku untuk berjalan. Badanku terasa sangat lemas, kaki ku pun sangat susah untuk melangkah. Hingga, di pertengahan jalan aku terjatuh. Tubuh ku benar-benar lemas, bahkan untuk menggerakkan kaki pun aku tidak sanggup. "Rhe, kamu kenapa?" "Gar, aku nggak sanggup lagi jalan. Aku tunggu disini aja ya, Gar," ucapku. "Enggak, Rhe. Saya enggak mungkin biarin kamu sendiri disini. Apalagi Bima bisa bangun kapan saja, atau mungkin ia sudah bangun dan sedang dalam perjalanan juga. Rhe, Bima bisa sampai kapan saja ke sini." "Enggak papa, Gar. Aku bisa sembunyi, kok ... nah, itu ada pohon besar, aku bisa sembunyi di sana Gar." "Enggak, Rhe." Tak lama Gar membalikkan tubuhnya, lalu berjongkok dengan posisi tubuh membelakangi ku. "Naik, Rhe," ucapnya. "Ha, enggak, Gar. Nanti kamu kecapekan. Lebih baik aku disini saja, lalu kamu menjemput ku dengan motor." "Please, Rhe. Saya enggak mau mengambil risiko apapun lagi, saya benar-benar nggak sanggup jika hal buruk terjadi lagi sama kamu." "Tapi, Gar, nanti kamu kecapekan." "Lebih mudah bagi saya menghilangkan rasa capek dari pada menghilangkan rasa khawatir saya pada mu, Rhe." "Gar—" "Rhe, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus sudah pergi dari sini sebelum Bima bangun." Gar benar, kami tidak punya banyak waktu karena Bima bisa bangun kapan saja dan mencelakai kami. Akhirnya aku menurut, lalu naik ke punggung Gar. Setelah memastikan aku sudah naik, Gar langsung bangkit lalu berjalan dengan tubuh yang menggendong ku. Selama di perjalanan kami tidak banyak ngomong, aku tidak mau membuat Gar semakin kelelahan dan Gar juga sepertinya sedang meredakan emosinya yang masih berapi-api. Dari atas punggungnya, aku dapat merasakan nafas Gar yang sudah ngos-ngosan, keringat bercucuran dari keningnya. Gar pasti sangat capek. Sungguh, aku benar-benar merasa bersalah padanya, selama ini aku terus menyusahkan Gar dan hanya memikirkan diriku sendiri. Semesta, ku mohon lindungilah Gar di manapun dia berada, dia sangat baik dan selalu melindungi ku. Ku mohon jaga dia selalu untukku. Setelah berjalan kurang lebih satu kilometer, akhirnya kami sampai di rumah Bima. Aku langsung turun dari punggung Gar dan duduk di teras. "Gar, kita langsung pulang sekarang?" tanyaku. "Iya, Rhe." "Tapi kamu kecapekan. Nggak istirahat dulu?" "Tidak, Rhe. Kita harus secepatnya pergi dari sini sebelum Bima kembali." Aku mengangguk. "Aku ambil barang-barang ku dulu, ya." "Saya temenin." kami masuk ke rumah Bima lalu mengambil semua barang-barang ku. "Oh iya, Gar, ponselku di carger di kamar Bima, tadi katanya habis baterai." "Yasudah, kita ambil ya." Kami langsung masuk ke kamar Bima, dan saat itu juga aku benar-benar terkejut melihat kamar Bima yang sudah di hiasin dengan bunga mawar, lampu remang-remang, dan bautnya sangat harum, seperti kamar pengantin baru yang ingin melakukan malam pertamanya. "b******k! Ternyata dia memang sudah menyiapkan semua ini," umpat Gar yang semakin emosi. Aku benar-benar bersyukur karena Tuhan masih melindungi ku, setelah semua hal yang telah terjadi ternyata Tuhan masih menyayangi ku dan tidak membiarkan tubuhku di sentuh dengan lelaki b******n seperti Bima. Setelah mengambil ponselku dan memastikan barang-barang ku sudah terbawa semua kami langsung bergegas pergi dari sana terlebih hari sudah semakin malam dan hutan ini benar-benar gelap. "Sebentar, Rhe." Gar mengambil pisau yang tadi ia ambil dari dapur Bima, lalu menancapkan pisau itu di kedua ban motor Bima hingga ban tersebut bolong. Dengan begitu Bima tidak bisa menggunakan motornya, kalaupun ia ingin pulang ke rumahnya ia harus berjalan kaki karena disini tidak ada orang lain selain dirinya. Lalu, kami naik ke atas motor. Gar menyalakan mesin motornya dan langsung pergi dari sana. Jalanan yang kami lewati benar-benar sangat gelap, tidak ada penerangan sama sekali hanya lampu dari motor Gar lah yang menjadi penerangan kami saat ini. Aku memeluk Gar dengan sangat erat, rasa takut dan trauma masih sangat ku rasakan. Andai saja Gar tidak datang atau terlambat saja datang untuk menyelamatkan ku, mungkin saat ini aku sudah habis di buat Bima. Bukan hanya tubuhku tetapi nyawaku habis di tangan laki-laki b******k itu. Entah dengan apa aku harus membalas semua kebaikan Gar, sungguh jika nanti aku harus membalas kebaikan Gar dengan nyawaku, pasti akan ku berikan. Karena tidak ada yang lebih baik selain aku hidup bersama Gar, atau mati karena tidak ada Gar di hidupku. "Rhe, peluk saya lebih kencang karena saya akan semakin ngebut." Aku mengangguk lalu semakin mengencangkan pelukanku di tubuh Gar. Malam ini, tepat di hutan ini; langit, angin, pepohonan, jalanan, menjadi saksi bahwa ada seorang gadis yang mahkotanya hampir di rebut oleh lelaki b******k, namun hal tersebut tidak jadi karena malaikatnya datang untuk menolongnya. Gar— dia lah malaikat yang dikirim Tuhan ku, yang selalu melindungi dan tidak akan mungkin menyakitiku apapun yang terjadi. Dia lah satu-satunya lelaki yang tidak akan pernah hilang dari ingatan ku, sebab Gar memiliki peran penting di setiap kisah perjalanan hidupku. Dan sampai kapanpun aku tidak akan melupakannya. Semesta, bagaimana pun akhir dari kisah kami; hidup bersama Gar atau pun tidak— ku harap kebahagiaan selalu bersama Gar. Terlepas dari bagiamana kisah kami kedepannya akan ku serahkan kepada-Mu, tetapi yang pasti aku sangat memohon agar Gar terus di berikan kebahagiaan dan kemudahan dalam segala hal. Itu lah doa yang selalu ku ucapkan untuk malaikat yang ada di hadapan ku saat ini. [][][][]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD