Akan ada saat dimana seseorang yang kamu cintai pergi, baik pergi demi cita-cita, keluarga, atau bahkan kematian. Siapkan dirimu dengan hal-hal terburuk itu, dan jika semua itu terjadi kamu sudah siap untuk bertahan tanpa mereka.
~~~
Kurang lebih satu jam kami di perjalanan dari hutan hingga sampai ke rumahku. Dan kini tepat jam sembilan malam aku dan Gar sampai, di sambut ayah yang terlihat sangat khawatir.
Aku langsung turun dari motor lalu memeluk ayah, sungguh aku masih sangat takut. Segala kejadian tadi masih berputar-putar di kepalaku, bahkan saat ini aku ingin sekali menangis tetapi aku mencoba untuk menahannya karena aku tidak mau menangis di depan ayah karena itu aku membuat ayah sedih.
Saat ini ayah pun belum mengetahui apa yang terjadi kepadaku, insiden apa yang sudah aku lewati tadi, ayah belum mengetahuinya sama sekali. Aku juga berniat tidak memberitahu kepada ayah, karena aku takut ayah malah emosi dan itu bisa berpengaruh pada jantungnya.
"Kamu kemana saja, Rhea? Ayah khawatir, loh. Malah enggak ada kabari ayah."
"Maaf, ya, Ayah. Rhea terlalu asik mainnya sampai lupa mengabari ayah," ucap ku berbohong. Sebenarnya aku tidak tega membohongi ayah seperti ini, tetapi aku harus melakukannya demi kesehatan ayah.
"Terus teman kamu itu mana? Kenapa di tidak ikut mengantar kamu pulang? Tidak sopan," ucap ayah yang sudah mulai kesal.
"Umm, ban motornya tadi bocor ... yasudah, ayo kita masuk dulu, dingin di luar. Gar ayo masuk," ucapku berusaha mengalihkan obrolan ini. Rasanya aku sudah tidak mau lagi mendengar atau menyebut nama Bima, sungguh aku sangat benci dengannya.
Sebelum masuk, aku menahan tangan Gar sebab ingin berbicara dengannya sebentar.
"Ada apa, Rhe?" tanyanya.
"Gar, aku mohon. Jangan kasih tau ayah tentang kejadian yang menimpaku, ya. Aku enggak buat ayah khawatir dan aku takut nanti ayah malah emosi dan bisa ngaruh ke jantungnya," ucapku memohon.
"Enggak, bisa, Rhe. Ayah kamu harus tahu ini, biar nanti ayah kamu bisa hati-hati juga."
"Gar, please. Ini bukan waktu yang tepat, kondisi ayah juga belum terlalu baik. Aku mohon Gar, aku enggak mau hal buruk sampai terjadi sama ayah karena aku." aku menangis, sungguh aku tidak siap jika harus melihat ayah terbaring lemah lagi di rumah sakit apalagi jika penyebabnya adalah aku sendiri.
Gar menghela napas sesaat, lalu memelukku erat. "Yasudah, saya nggak akan bilang ke ayah kamu," ucapnya.
"Terima kasih ya, Gar. Aku ngelakuin ini semua demi kesehatan ayah, walau aku tahu bahwa ini ga baik."
Gar mengangguk-anggukkan kepalanya, aku tahu Gar pasti mengerti posisiku yang serba salah ini.
Lalu kami masuk ke rumah untuk menemui ayah yang sudah lebih dulu masuk, dan duduk tepat di sebelah ayah.
"Yah, Rhe gerah banget. Rhe mandi dulu, ya," ucapku.
"Ah, iya, ayah sampai lupa. Tadi ayah sudah masakin air panas untuk kamu, karena ini udah kemalaman jadi kamu harus mandi pakai air hangat."
"Ayah, kenapa di masakin coba. Kan, Rhe bisa sendiri."
"Kalo nunggu kamu yang masak malah makin lama. Yang ada kamu nggak mandi-mandi, Rhe. Sudah sana mandi, biar ayah yang temenin Gar disini."
"Iya iya, yasudah Rhe ke belakang dulu, ya ... Gar, aku bersih-bersih dulu, ya." ucapku.
Gar tersenyum lalu mengangguk.
Aku mengambil air yang tadi telah di masak oleh ayah. Dalam keadaan seperti ini pun, ayah masih berperan sebagai ayah dan juga ibu buatku. Dengan kaki yang tidak bisa di gerakkan dan hanya bisa duduk di kursi roda, ayah masih berusaha keras agar aku tidak kekurangan kasih sayang darinya sebab saat ini hanya dialah yang ku punya.
Tanpa berlama-lama aku langsung membersihkan tubuhku, sebab aku juga tidak enak jika Gar menunggu lama. Ia juga harus istirahat dan membersihkan tubuhnya.
Setelah menyelesaikan semuanya, aku langsung kembali ke ruang tengah.
"Sudah selesai, Rhe?" tanya ayah.
"Iya, ayah sudah."
"Gar, kamu enggak ke kamar mandi?"
"Iya, ni, om. Kalau gitu saya permisi sebentar ya, Om."
"Iya, Gar. Kamu sekalian mandi aja."
"Duh, saya nggak bawak baju ganti, Om."
"Udah tenang aja, om banyak baju waktu muda dulu ... Rhe, Carikan baju ayah yang kecil, ya. Biar bisa di pake Gar, kasian dia pasti gerah banget."
"Oh, iya, Yah. Ada kok di lemari kamar ayah bajunya. Sebentar ya, Gar, aku ambilkan dulu." Aku langsung ke kamar ayah, mencari baju-baju ayah waktu muda dulu yang banyak dan masih bagus-bagus.
Jika begini, aku jadi ingat waktu aku meminjamkan jaket ayah kepada Gar, jaket yang amat ku sayang karena sewaktu ayah tidak ada aku selalu memeluk jaket itu. Dan untungnya Gar menyukai jaketnya, dan hingga saat ini Gar juga masih sering menggunakan jaket itu.
Gar benar-benar sangat baik, ia selalu menghargai pemberian orang lain tanpa melihat baru atau tidak, mahal atau murah, semuanya ia terima dengan hati tulusnya.
Setelah beberapa menit memilih, akhirnya aku menemukan baju setengah lengan berwarna navy dengan bagian tangan yang berwarna marron. Bajunya masih sangat bagus, dan kekinian. Ternyata dulu ayah pandai memilih gaya baju ya, sebab modelnya yang kekinian dan Cocok untuk siapa pun.
Tanpa berlama-lama aku langsung mengambil baju itu, Gar pasti sangat tampan jika memakai baju ini.
"Yah, ini boleh?" tanyaku pada ayah.
"Boleh, dong. Wah, Rhe, pandai memilih, ya. Baju ini ayah beli waktu pertama kali gajian dari tempat kerjaan ayah, belinya sama teman-teman dan dulu ini tu harganya seratus ribuan. Kalau dulu ini tuh udah mahal banget, makanya ayah sayang-sayang."
"Pantas, Yah, masih bagus banget bajunya. Kayak baru."
Ayah terkekeh, begitu pun dengan Gar. Lalu aku memberikan baju tersebut pada Gar, dan dengan senang hati Gar menerimanya.
Ia langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih, dan kini tinggal lah aku dah ayah.
"Rhea ..." panggil ayah.
"Iya, Ayah?"
"Kamu beneran tidak apa-apa?"
"M-maksudnya, Yah?"
"Soalnya dari tadi, waktu kamu belum pulang perasaan ayah benar-benar enggak tenang. Ayah takut kamu kenapa-kenapa, malah nomor kamu enggak bisa di hubungi. Karena khawatir ayah ke sekolah kamu dan bertemu dengan Gar. Gar bilang dia juga enggak tahu kamu kemana, makanya ayah suruh dia cariin kamu, padahal tadi dia lagi ada kegiatan."
"Jadi tadi ayah ke sekolah?"
"Iya, Rhea."
"Astaga, Ayah. Maafin, Rhea, ya. Rhea udah buat ayah khawatir gini, Rhea janji nggak bakalan kayak gini lagi."
"Sudah, Rhea, tidak apa-apa. Tadi kalau kamu pergi dengan Gar ayah tidak khawatir, tapi entah kenapa sama teman kamu yang ini ayah enggak tenang makanya dari awal juga ayah ngelarang kamu untuk dekat sama dia."
Astaga, ternyata selama ini ayah punya firasat buruk tentang Bima tapi bodohnya aku malah tidak menyadarinya. Sungguh, aku jadi menyesal, andai saja aku mendengarkan perkataan ayah pasti kejadian tadi tidak terjadi padaku.
"Rhea, minta maaf ya, ayah. Rhea udah buat ayah khawatir bahkan ayah sampai menyusul ke sekolah."
"Iya, nak, tidak apa-apa. Kamu harus berterima kasih pada Gar, ya. Gar benar-benar lelaki yang baik, ia selalu ada buat kamu dan enggak pernah nyakitin kamu. Gar itu anaknya tulus Rhea, ayah pernah muda dan ayah tahu mana yang tulus dan mana yang tidak. Ayah sangat berharap kamu terus bersama Gar, ya, bahkan kalau pun nanti ayah pergi, Gar lah laki-laki yang ayah yakini untuk menjaga kamu."
Mendengar perkataan ayah membuat air mata ku ingin menetes. Ayah benar, Gar adalah lelaki yang baik, aku bahkan tidak pernah bertemu dengan lelaki sebaik dia. Gar lah satu-satunya lelaki yang selalu ada untukku dalam keadaan apapun, tidak pernah marah, apalagi menyakitiku.
Tetapi aku takut, sangat takut. Aku takut rencana semesta berbeda dengan rencana ku, aku takut jika suatu hari nanti aku kehilangan Gar. Dan jika semua itu terjadi, aku benar-benar tidak tahu harus apa tanpa Gar. Karena aku yakin, suatu saat nanti akan ada masa di mana kami akan berpisah, Gar menjalani hidupnya tanpaku dan aku menjalani hidupku tanpa Gar.
Entah kapan waktu itu datang, tetapi cepat atau lambat itu pasti akan terjadi. Sebab, kembali lagi manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan semuanya.
[][][][]