24. Surat dari Gar

1173 Words
Setelah lelah menangis akhirnya aku memutuskan untuk pulang, walaupun dadaku masih terasa sangat sesak, napas ku juga tidak teratur, tetapi aku mencoba untuk tetap kuat. Segala pikiran negatif ku usahakan untuk hilang, dan segala pikiran positif ku hadirkan di kepalaku. "Aku antar kamu pulang ya, Rhea," ucap Bima menawarkan. Aku menggeleng pelan, "Tidak usah, Bim. Aku bisa sendiri, kok," tolak ku lembut. "Tapi aku enggak mungkin biarin kamu jalan sendirian dalam kondisi seperti ini, Rhea," ucapnya lagi. "Tidak apa-apa, Bim. Aku sudah biasa kok jalan sendirian seperti ini, lagian Gar juga memintaku untuk melakukan semuanya sendiri, aku harus bisa mandiri seperti permintaan Gar." Bima terdiam, ia menatapku tidak percaya. "Rhea, segitu pentingnya dia untuk kamu? Segitu berharganya dia untuk kamu sampai kamu menuruti segala ucapannya?" tanya Bima tak percaya. "Ya, dia sangat penting untuk ku, amat sangat penting." Bima tertawa pelan, tawanya bukan karena hal lucu melainkan merasa miris denganku. "Rhea, kamu dengar, ya. Sebagai seorang lelaki aku kasih tau padamu, jika seorang lelaki benar-benar mencintai mu dia tidak akan meninggalkan mu apapun alasannya, jika dia mencintaimu dia tidak akan mungkin membiarkan mu menangis, menunggu kehadirannya, menunggu kabar darinya, bahkan membuatmu seperti orang yang hilang arah. "Dan terakhir, yang paling penting dan harus kamu ingat, jika dia mencintaimu seberat apapun masalah yang terjadi dalam hidupnya ia tidak seharusnya pergi lalu menghilang, karena pada dasarnya rumah adalah tempatnya untuk pulang, dan jika dia tidak kembali padamu itu berarti dia tidak menganggap mu sebagai rumahnya." Lagi-lagi air mataku kembali tumpah karena ucapan Bima, apakah benar seperti itu? Pada kenyataannya Gar tidak benar-benar mencintai ku? Lalu untuk apa dia datang di hidupku? memberikan kejutan-kejutan, membuatku bak seorang ratu yang bertemu dengan rajanya lalu membuang ku begitu saja hanya karena alasan yang hingga saat ini aku tidak tahu apa. "Terima kasih untuk semua penjelasannya, aku pulang." aku bahkan tidak sanggup lagi berbicara panjang lebar, dan hanya kalimat itulah yang keluar dari mulutku. Setelah mengatakan itu, aku langsung bergegas pergi. Sungguh, dadaku terasa sangat sesak, mataku panas, dan aku tidak yakin bisa menahan agar air mata ini tidak tumpah sebelum aku sampai ke rumah. Walaupun saat ini keadaan ku sedang amat kacau, bukan berarti pikiran serta penglihatan ku juga ikut kacau. Aku bahkan mengetahui bahwa jauh beberapa meter di belakang ku ada seseorang yang mengawasi ku. Bima, ya, lelaki itu mengikuti dari belakang, seperti yang ia katakan tadi bahwa dirinya tidak akan meninggalkan ku dalam keadaan seperti ini. Ia bahkan mengawasi diam-diam hanya untuk memastikan bahwa aku sampai di rumah dengan selamat. Perlakuan Bima terhadap ku membuat ingatanku kembali menampilkan Gar. Gar juga begitu, ia tidak mengijinkan aku pulang sendirian, jika aku memaksa dia akan mengikuti dari belakang. Tetapi sekarang justru berbeda jauh, Gar bahkan meminta ku untuk pergi kemana pun sendirian dengan alasan agar aku menjadi gadis yang mandiri. Ternyata secepat itu ia merubah segala ucapan yang pernah ia katakan kepadaku. Sungguh, hingga saat ini aku tidak tahu ada apa dengan Gar, tetapi suatu saat nanti aku pasti akan mengetahuinya baik penjelasan yang keluar dari mulut Gar langsung, atau clue yang telah di persiapkan oleh semesta untukku. Tak lama aku sampai rumah, dari sudut mataku dapat terlihat Bima yang juga berhenti di ujung g**g. Aku masih tetap sama—berpura-pura tidak menyadari kehadirannya disana. Dan tanpa menunggu apapun lagi, aku langsung masuk ke rumah dan menumpahkan keluh kesah ku di kamar. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik sejak aku sampai rumah lalu masuk ke kamar, dan setelahnya air mataku kembali tumpah dengan derasnya. Gar, sungguh ingatanku tidak bisa beralih darinya. Aku tidak mengerti mengapa bisa seperti ini, Gar benar-benar membuatku rapuh dalam hitungan hari. Ia yang hadir membawa begitu banyak kebahagiaan, lantas pergi dengan teka-teki yang hingga saat ini tak bisa ku pecahkan. "Gar, kalau memang kehadiran mu di hidupku hanya untuk membuatku rapuh, kamu berhasil, Gar," ucapku sambil terisak. Dadaku terasa sesak, air mata tak henti keluar seolah menjadi saksi bahwa hidupku sekacau ini tanpa adanya sosok Gar. Setiap momen yang pernah ku lewati dengannya berputar-putar di otakku, bak sebuah kaset yang memutarkan memori-memori lamanya, potongan-potongan kenangan bahkan dari yang terkecil pun masih jelas teringat dan tak akan mungkin bisa ku lupakan. Lagian bagaimana bisa aku melupakannya, sementara Gar adalah lelaki pertama yang menciptakan kenangan-kenangan tersebut dan mungkin akan menjadi laki-laki terkahir. Setelah lama menangis, tiba-tiba aku teringat dengan kado yang pernah diberikan Gar sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan ku. Dengan cepat, aku mengambil benda tersebut yang masih tersimpan rapi di lemari pakaian. Kado tersebut belum ada ku buka, aku bahkan hampir lupa bahwa Gar pernah memberikannya. Ah, mungkin jika Gar tahu kalau aku hampir melupakan pemberiannya pasti ia akan sangat marah. Tanpa menunggu lagi aku langsung membuka kertas warna-warni yang membungkus benda tersebut, ukurannya tidak terlalu besar sehingga aku dengan mudah membukanya. Sebuah kotak kecil yang sangat lucu terlihat ketika kertas tersebut telah terbuka seutuhnya. Aku tersenyum melihat benda mungil tersebut, dan tanpa berlama-lama aku langsung membukanya. Bersamaan dengan kotak yang terbuka, sebuah peri kecil muncul dari dalam kotak tersebut, bernari diiringi musik yang sangat merdu. Aku tersenyum bahagia, tak menyangka Gar memberikan benda yang sangat lucu seperti ini. Mataku beralih melihat tulisan yang ada di penutup kotak tersebut. "Dari Gar untuk Puan Kecil (Rhe)." Aku tersenyum membaca tulisan tersebut, ternyata Gar masih mengingatku sebagai puan kecilnya. Panggilan yang ia buat khusus untukku, dan aku menyukai panggilan tersebut. Kemudian aku mencari lagi kertas atau tulisan lain yang barangkali masih ada di di dalam kotak tersebut, pasalnya sebelum pergi kemarin Gar mengatakan bahwa ia di dalam kotak tersebut ada beberapa tulisannya, ia bahkan tidak mengatakan bahwa kotak tersebut ialah kotak musik. Namun, setelah aku mencari tidak ada tulisan apapun di dalam kotak tersebut. Aku mencoba memeriksa kertas kado yang tadi membungkus kotak ini, barangkali ada di sana dan ternyata tidak ada juga. Lalu, di mana tulisan-tulisan yang di maksud Gar? Apa dia lupa menyelipkannya atau memang tidak ada. Kuambil lagi kotak musik tersebut, memainkan musiknya hingga peri kecil yang ada di dalamnya bernari bak seorang balet. Lagi-lagi aku tersenyum, selalu saja begini Gar berhasil membuat luka ku menjadi suka ku hanya dalam waktu hitungan detik. Ketika memegang kotak tersebut, aku merasakan sebuah tekstur bagian bawah yang berbeda, sedikit kesat. Lalu, ku lihat bagian bawah kotak musik tersebut dan ternyata sebuah kertas di yang tempelkan lem terletak di sana. Kertasnya lucu, ada motif love dan peri kecil. Tanpa ku sadari sebuah lengkungan tipis muncul dari bibirku, ah, Gar selalu memiliki akal untuk membuatku penasaran dengannya. Tanpa menunggu lama aku langsung mengambil kertas tersebut, melihatnya beberapa detik dan tersenyum. Aku tidak tahu apa isi kertas tersebut, mungkin nanti aku akan membacanya karena saat ini aku harus menemui ayah dahulu karena sejak pulang aku tidak ada menemui ayah. Sebenarnya bukan hanya itu, ada juga alasan lain yaitu, aku takut membaca surat tersebut. Entah apa isinya, hanya sekedar kata-kata, atau ungkapan hati Gar, salam perpisahan, atau hal lain. Entah lah, yang pasti aku hanya berharap bahwa tidak ada hal buruk yang dituliskan Gar di dalam kertas tersebut, apalagi mengenai perpisahan. Ya, semoga saja. Ku harap semesta berpihak kepada ku. [][][][]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD