Bel pulang berbunyi seantero sekolah, semua siswa siswi langsung berlarian keluar kelas mungkin sudah tidak sabar ingin segera sampai ke rumah.
Sama halnya dengan ku, aku pun juga begitu berharap segera sampai ke rumah, merebahkan tubuh di kasur, berbincang dengan ayah, dan banyak hal lainnya.
Apalagi saat ini Gar tidak bersama denganku, jadi aku pun tidak punya alasan untuk pulang berlama-lama lagi.
Langkahku berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi, sekolah yang tadinya ramai kini sudah sepi layaknya tempat kosong. Ternyata bunyi bel sangat berpengaruh ya untuk kelangsungan sekolah ini.
Dari tempatku seseorang yang tidak asing melambai-lambaikan tangannya ke arahku sembari menampilkan sederet gigi putihnya.
"Lama kamu, Rhea," ucapnya ketika aku telah berada di depannya.
"Iya, sengaja."
"Kenapa?"
"Biar ga perlu berdesak-desakan saat keluar gerbang."
"Dasar kamu ya."
Aku hanya menjawab dengan kekehan.
"Ayo ke halte, tadi bus sudah lewat tau."
"Serius? Kok tumben cepat?"
"Ya mana aku tau, Emang aku supirnya apa."
Reflek tanganku bergerak memukul pundak Bima.
"Dih, pegang-pegang ihh," ledeknya.
Aku tertawa canggung, ah kenapa aku bisa seceroboh ini sih, kan jika begini aku jadi malu sendiri.
"Ga usah merah gitu mukanya Rhea," lagi-lagi dia meledekku.
"Dih, siapa yang malu. Ngapain juga malu sama orang kayak kamu."
Sekarang gantian dia yang tertawa. Tawanya keras tetapi terlihat tidak lepas, seolah ada yang tertahan sangat berbeda dengan Gar yang tertawa lepas seolah tiada beban.
"Sudah ayo ke halte sekarang, mau di sini terus sampai malam?"
"Eh, nggak lah, yaudah ayo." Kami berjalan beriringan menuju halte, selama di jalan Bima tidak ada diam. Ia terus saja mengoceh, memberikan lelucon, bahkan sesekali meledekku. Jujur sebenarnya Bima itu orangnya asik, mungkin jika bersama dia tidak akan ada moment akward seperti aku bersama Gar, karena Bima tipe cowok yang selalu punya topik untuk bercerita dan humoris.
"Rhea, biasanya kamu sampai rumah jam berapa?" Tanyanya ketika kami sudah sampai di halte.
"Nggak tentu sih, kadang jam empat kadang jam lima kadang juga jam enam."
"seriously? Lama amat, kemana aja lu."
"Kadang aku jalan bersama Gar, Gar selalu membawa aku ke tempat yang bagus. Jadi karena itu kami pulang selalu lama."
"Lah, emang di izinin sama orang tua kamu?"
"Di izinin dong, lagian ayah aku udh kenal dekat sama Gar."
"Oh, begitu pantas aja." Ucapnya sambil menganggukkan kepala. "Oh iya, Rhea, kenalin dong aku ke orang tua kamu biar enak bawa jalan-jalannya." Ucapnya lagi sambil menyengir tak berdosa.
"Ih apaan sih, baru juga kenal udah minta kenalin ke orang tua. Aneh banget."
"Ya gak papa dong, kan bagus itu tandanya aku serius sama kamu."
"Ih gaje kamu."
Bima terkekeh bersamaan dengan datangnya sebuah bus yang kami tunggu. Aku dan Bima langsung menaiki bus tersebut, dan memilih duduk di barisan belakang karena memang itu yang masih kosong.
Seperti biasa, aku menyalakan musik di handphone dan mendengarnya pakai headset. Tetapi seperti tidak untuk hari ini, karena keberadaan Bima di sampingku yang tidak bisa diam membuatku terpaksa tidak mendengarkan lagu melainkan mendengarkan ocehannya.
Bima itu seperti anak kecil yang baru pandai ngomong-- tidak ada diamnya. Terus saja berbicara tidak perduli orang lain mau mendengarnya atau tidak. Sebenarnya aku juga tidak ingin mendengarkan ocehannya, tetapi mau gimana lagi aku juga tidak tega membiarkannya mengoceh sendiri tanpa ada yang peduli. Bisa-bisa orang mengira kalau Bima itu gila.
"Rhea, kamu tau nggak aku tu ya kalau di sekolah paling malas sama pelajaran buk Ita, dia itu ngomong terus, nggak ada berhentinya." Bima bercerita panjang lebar dan aku hanya bisa menjadi pendengarnya.
"Sama dong, kayak kamu." Ledekku.
"Ihh, beda dong. Aku kan ngomongnya untuk menghibur bukan untuk mendidik."
"Justru bagus yang mendidik dong, kalau yang menghibur mah udah banyak."
"Tau dari mana? Justru yang menghibur itu yang sedikit, kalau yang mendidik itu mah udah banyak. Ada di mana-mana."
"Iya deh terserah kamu."
Setelah obrolan itu Bima mulai diam dan fokus bermain handphone, dengan begitu aku jadi bisa menikmati musik sambil melihat-lihat jalanan yang tampak ramai.
Pandangan ku tertuju pada sebuah toko bunga yang ada di sudut jalan, di sana sebuah motor Vespa berwarna kuning yang sepertinya aku kenali terparkir di depan toko itu. Dan tak lama seseorang yang sangat aku kenali keluar dari toko itu dengan membawa sebuah bunga.
"Gar ..." Ucapku. Tanpa sadar aku berdiri dari bangku ku. "Pak, berhenti disini ya, pak." Ucapku lalu langsung turun.
Bima yang ada di samping ku reflek juga ikut berdiri lalu mengikuti ku dari belakang.
Setelah membayar ongkos, aku langsung berlari ke toko tersebut menyusul Gar yang sepertinya sudah bersiap untuk pergi.
"Gar ..." Teriakku. Tapi hasilnya nihil, Gar telah pergi tanpa sedikit pun melihat ke arahku.
"Rhea, kamu kenapa? Dia siapa?"
"Dia Gar, kenapa dia nggak ngelihat ke arahku sih."
"Kamu yakin itu dia? Nggak salah orang?"
"Aku yakin, Bim, aku tanda sama motornya." Tanpa kusadari air mataku menetes begitu saja, sungguh rasanya sangat sakit. Di saat aku sedang merindukan sosok Gar, tetapi tidak bisa bertemu dengannya. Aku nggak tahu apa kesibukan yang di maksudnya, tetapi ia seperti menghindar dariku.
"Rhea, kamu kenapa nangis? Jangan nangis, hey."
Aku hanya diam, tidak memperdulikan omongan Bima. Yang aku inginkan saat ini hanya lah menangis, menumpahkan tangis ku yang sudah tertahan sedari tadi.
"Mending kita cari tempat yang agak sepi, biar kamu bisa nangis di sana. Lagian disini tidak enak, Rhea, orang-orang pada ngeliatin kamu ntar aku di tuduh ngapain-ngapain kamu lagi."
Bima menuntunku berjalan ke sebuah taman yang tidak jauh dari tempat ini, ia mendudukkan ku di sana dan membiarkan ku menangis tanpa sedikit pun menganggu.
Di sana aku tumpahkan segala tangis ku, tidak perduli lagi apa tanggapan Bima tentangku karena yang aku inginkan saat ini hanyalah menangis.
Aku merindukan sosok Gar, lelaki yang berhasil mencuri hatiku hanya dengan sekali pertemuan, lelaki yang berhasil mengambil kepercayaan ku yang bahkan sangat sulit ku berikan untuk orang lain.
Aku tidak tahu kenapa Gar seperti ini, dia berubah. Entah apa sebabnya yang pasti aku sangat merindukannya.
Tiba-tiba sebuah tangan mengelus kepala ku lembut, lalu menyandarkan di bahunya.
"Menangis lah, Rhea, tumpahkan semua air matamu. Aku bakalan temanin kamu disini," ucap Bima.
Aku bersandar di bahunya, sambil terus menangis.
"Bim ..."
"Iya, Rhea."
"Apakah semua cowok sama?"
"Sama gimana?"
"Memberikan kenyamanan pada cewek dan setalah cewek itu nyaman dan yakin padanya ia malah meninggalkan cewek itu."
"Nggak kok, Rhea, nggak semua cowok seperti itu. Ada beberapa yang baik, yang mencintai perempuan dengan tulus, kalau kamu berpikir seperti itu maka kamu salah."
"Tetapi kenapa Gar begitu, padahal selama ini Gar sangat baik denganku, dia bilang nggak akan nyakitin aku. Tapi apa, dia sama kayak laki-laki lain, kan."
"Kamu nggak bisa menyimpulkan begitu saja, coba tanya dulu ke dia, minta dia menjelaskan kenapa dia seperti itu. Aku percaya dia pasti punya alasan sendiri."
"Apa pun alasannya tetap saja menyakitkan."
Bima diam tidak lagi mengatakan apa pun, begitu juga denganku yang masih menangis sesenggukan.
Gar, kenapa kamu bisa sejahat ini. Kamu bilang kamu sedang sibuk dan tidak bisa menemui ku, tetapi nyatanya kamu malah pergi ke toko bunga dan membelinya. Aku nggak tahu bunga itu untuk siapa, yang pasti aku berharap semoga bunga itu bukan untuk seseorang yang spesial bagimu. Karena seperti yang pernah kamu katakan, tidak ada wanita lain yang spesial di matamu selain diriku.
Ya, semoga saja seperti itu ya, Gar.
::::