22. Bolos Bersama Bima

1376 Words
Dulu sebelum mengenal Gar, aku selalu berpikir bahwa semua lelaki itu jahat, tidak ada lelaki yang paling baik selain dari ayah, tidak ada lelaki setulus dan selembut ayah dan karena itu aku memutuskan untuk tidak ingin berteman dengan lelaki karena aku tahu kalau mereka hanya bisa menyakiti tetapi tidak bisa menyembuhkan. Namun segala pikiran ku mendadak hilang setelah aku bertemu dengan sosok Gar. Dia sama seperti ayah, dia baik, tulus, bertanggung jawab, dan tidak pernah kasar. Gar merubah segala persepsi ku tentang cowok, Gar membuat pikiranku terbuka, dan karenanya aku jadi lebih bisa menerima orang baru di kehidupanku. Seperti saat ini, aku dipertemukan dengan Bima. Bima yang awalnya ku pikir tidak sebaik Gar justru malah lebih asik dari Gar. Tapi tunggu bukan berarti aku membedakan mereka berdua, bukan juga membanggak-banggakan Bima, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Aku memang baru mengenal Bima, tetapi dari sikapnya ia menunjukan bahwa dia orang baik. Tapi tetap saja, sebaik apa pun Bima, Gar tetap menjadi lelaki terbaik setelah ayah versi ku. Meski pun nantinya aku bertemu dengan lelaki lain, Gar tetap menjadi yang terbaik. "Woyy." Aku tersentak kaget lantas tanpa sengaja memukul lengan Bima. "Apaan sih, buat kaget aja." "Lagian kamu melamun. Udah mau bel itu," ucapnya. "Eh iyaya, kalau gitu ayo kita balik ke kelas." "Yaudah ayo." Kami bangkit dari tempat masing-masing, agar bisa secepatnya balik ke kelas. "Rhea, liat deh burungnya bagus banget. Romantis gitu kan." "Ohh itu, kalau itu mah aku tau. Kamu lihat pohon itu, nah itu rumah mereka." "Lah kok kamu tahu?" "Ya tahu dong, aku kan sering ke sini. Ya memang sih nggak tau sendiri, tapi di kasih tau Gar." "Gar? Siapa tu?" "Kakak kelas yang tadi aku ceritain." "Ohh, jadi namanya Gar." "Iyaa." Kami kembali melanjutkan jalan, Bima sama sekali tidak bisa diam. Ia terus saja mengoceh, tetapi ocehannya justru terdengar sangat lucu. "Rhea, nanti kamu pulang naik bus juga kan?" "Iyaa." "Kita pulang bareng, ya. Aku tunggu kamu di depan gerbang." "Oke." Tanpa terasa kami sampai di koridor kelas sepuluh, aku langsung menuju kelas ku dan Bima menuju kelasnya. Sebelum balik ke kelas Bima masih sempat-sempatnya menggodaku dengan mengedipkan matanya ke arahku. Aku hanya tersenyum geli, sungguh Bima sangat lucu. Jam pelajaran selanjutnya berlangsung, guru PKN masuk ke kelas kami dan langsung memulai pelajaran. Aku memperhatikan dengan fokus setiap penjelasan yang dijelaskan bu Ita, namun itu hanya berlangsung sebentar karena seseorang datang ke kelas dan memanggil namaku. "Permisi, Bu." Ijinnya. "Iya, silahkan." "Saya kesini mau manggil siswi yang bernama Rhea, dia di suruh ke kantor karena ada tamu yang mau menemuinya." "Siapa yang suruh kamu ke sini?" "Pak Randre, Bu." Buk Ita melihat ke arahku. "Rhea, keluar sekarang temuin tamu kamu." "I-iya, Bu." Aku keluar dari kelas untuk segera menuju kantor. Baru saja kakiku ingin melangkah ke anak tangga, tiba-tiba seseorang dari belakang menarik tanganku lalu langsung membungkam mulutku dengan tangannya. Aku bahkan tidak bisa berbicara karena mulutku di tutupnya. "Ssttt," bisiknya. Aku melihat ke arah orang tersebut, ternyata orang itu adalah Bima. "Kamu mau ngapain, Bim?" Ucapku setelah ia melepaskan tangannya dari mulutku. "Aku bosan di kelas, maknanya aku kesini." "Tapi aku ga bisa, Bim, aku disuruh ke kantor. Katanya ada tamu yang mau ketemu." Tiba-tiba Bima malah tertawa. "Lah kok ketawa sih," kesalku. "Tamu kamu itu aku, Rhea." "Ha, maksud kamu?" "Ya tamu kamu adalah aku. Tadi aku suruh anak kelas sepuluh itu untuk manggil kamu dengan beralibi ada tamu, padahal nggak. Aku cuma mau bertemu sama kamu," jelasnya. Mendengar itu lantas membuat mataku membulat, tidak menyangka ternyata Bima senekat itu. "Apa sih Bima, ini nggak lucu sumpah." "Aku emang nggak melucu, ini benar, Rhea." "Terus kamu ngapain berbohong gitu, dengan kamu berbohong itu sama aja kamu membawa aku ke dalam masalah." "Masalah gimana? Ini bukan masalah kok, lagian kan ga ada yang tau." "Kamu bilang nggak ada yang tau, gimana kalau Bu Ita tanya ke pak Rendra dan pak Rendra malah menjawab jujur. Gimana? Pasti aku bakalan kenak masalah kan," tegas ku. Sungguh aku nggak percaya ternyata Bima bisa senekat itu. "Nggak mungkin, Rhea, karena buk Ita dan pak Rendra itu tidak pernah saling menyapa." "Maksud kamu?" "Ya begitu, pak Rendra dan Bu Ita dulu punya masalah dan karena masalah itu mereka tidak pernah saling berbicara. Dan itu sudah dari dua tahun yang lalu." Aku mengehela napas pelan, tidak habis pikir dengan Bima. "Apa pun itu aku nggak peduli, yang penting saat ini aku mau balik ke kelas." Baru saja mau berbalik, Bima justru malah menahan tubuhku. "Rhea, please temenin saya." "Nggak, Bim. Aku nggak mungkin bisa keluar di saat jam pelajaran seperti ini." "Sekali inii saja, please nggak lama kok." "Tapi bim--" "Rhea, please." Ia menggenggam tanganku, lalu menampilkan wajah sedihnya. Entah mantra apa yang di buatnya aku justru malah merasa tidak tega. "Emang mau ke mana sih?" Tanyaku. "Kita ke rooftop lagi, ya." "Tapi bim--" "Please, tidak lama kok, 20 menit saja." "Itu lama, Bim." "Nggak Rhea, nggak lama. Kita masih harus belajar tiga jam lagi, jadi tidak ada salahnya kan kita keluar sebentar. Hanya dua puluh menit tidak lebih." Dia terus saja memelas dengan menampilkan wajah sedihnya. Setelah berpikir panjang, akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Entah lah, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mengiyakan nya, tetapi ketika melihat wajah Bima aku jadi tidak tega. "Benar, Rhea?" "Hanya dua puluh menit." "Oke siap." Dia tersenyum, lalu langsung mengajakku pergi ke rooftop. Kami berjalan dengan mengendap-endap, takut ada guru yang melihat dan bisa-bisa kami akan di hukum. Setalah di pastikan sepi, kami langsung berlari sekencang mungkin berharap secepatnya sampai ke rooftop. Hanya membutuhkan waktu lima menit dan kini aku dan Bima telah sampai ke tempat tujuan kami. Bima duduk di sebelah ku, pandangannya menatap langit yang terlihat lebih dekat jika dilihat dari ketinggian seperti ini. "Rhea, terima kasih ya sudah mau menemani saya," ucapnya. "Iya, Bim." Kulihat tangannya merogoh saku baju lalu mengambil sebuah rokok dan korek dari sana. Sontak mataku membulat, tidak percaya dengan apa yang di lakukan Bima. "Bima kamu jangan merokok, ini masih area sekolah ntar kalau ada yang lihat kita bisa kenak masalah." "Tenang saja , Rhea tidak akan ada yang melihat." Ia menjelaskan koreknya lalu membakar rokok yang telah ia siapkan. Dengan sangat santai ia mengisap rokok itu, lalu membuang asapnya ke udara. "Apa gunanya sih merokok." "Gak ada gunanya." "Kalau nggak ada gunanya kenapa kamu masih merokok?" "Dengan merokok aku bisa menghilangkan rasa penat ku, Rhea." "Nggak harus merokok, Bim, ada hal lain yang lebih baik dari pada itu." "Tapi merokok adalah hal yang paling simple." Aku hanya bisa menghela napas, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bima. Kulihat wajahnya yang terlihat sangat kusut, sangat berbeda dari sebelumnya. Seperti ia sedang ada masalah, makanya ia melampiaskan dengan merokok. "Kamu lagi ada masalah ya?" Tanyaku mencoba untuk berhati-hati agar tidak salah bicara. "Hidupku memang selalu penuh dengan masalah." "Maksudnya?" "Lama-lama kamu juga bakalan tau." Aku terdiam, berusaha mencerna perkataannya. Sementara Bima, ia masih fokus menghisap rokoknya sambil menghembuskan asapnya ke langit-langit. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya menghabiskan sepuntung rokok itu, hanya sepuluh menit dan rokok itu tidak tersisa lagi. "Sudah, Rhea." "Apanya?" "Perasaan saya sudah lega." "Hanya dengan merokok?" Tanyaku heran. "Iyaa, karena dengan merokok aku bisa merelaksasi kan pikiran ku. Dan setelah itu perasaanku akan jauh lebih tenang." "Tapi tidak berlangsung lama, kan?" "Setidaknya bisa membaik." Ia bangkit dari tempatnya. "Sudah, ayo kita balik ke kelas. Sudah pas dua puluh menit." Sungguh aku tidak habis pikir dengan Bima, hanya demi merokok ia rela keluar saat jam pelajaran. Aku bangkit dari tempat ku, jalan terlebih dahulu, meninggalkan Bima di belakang ku. Sama seperti tadi, kami kembali berjalan mengendap-endap agar tidak seorang yang melihat. Dan setelah sampai di koridor kelas sepuluh, aku semakin mempercepat jalanku agar bisa sampai ke kelas. "Rhea ..." Bima memanggilku dari belakang, dan lagi-lagi aku berbalik untuk melihatnya. "Sekali lagi terima kasih, ya," ucapnya dengan senyum di kedua sudut bibirnya. Aku membalas senyumnya, lalu mengacungkan jempol ku ke arahnya. Gar, aku tahu kamu pasti akan sangat marah jika mengetahui kalau aku telah bolos pelajaran. Tapi sungguh Gar aku tidak bisa menolak permintaan Bima, dia sama seperti mu. Setiap perkataan yang keluar dari mulutnya seolah mempunyai mantra yang tidak bisa ku tolak. Ya, dia persis seperti mu Gar. ::::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD