Mataku terbelalak takjub dan tanpa kusadari mulutku terbuka sangking terkejutnya. Inikah yang dinamakan kebebasan? Bukan bebas dalam artian liar, melainkan bebas tak terbeban, sebab semesta telah menggantikannya dengan pemandangan yang menakjubkan.
"Awas mulutnya masuk buaya." Gar menyadarkan ku dari lamunan panjang. Ia duduk di atas rumput yang tumbuh liar di sekitar kami. Tangannya menarik tas ranselku, seolah meminta agar aku duduk di sebelahnya.
Aku menurut. Mendudukkan tubuhku tepat di sebelahnya.
"Masih ragu denganku?" Gar bertanya dengan tatapan yang tertuju pada danau dengan air yang amat jernih, danau tempat kami saat ini.
"Emm..., Enggak, kok."
"Bagus, deh. Gimana, suka?" aku mengangguk pelan. Bagaimana mungkin aku tidak suka, tempat ini sangat indah.
Kini kami diam. Tak ada suara yang keluar dari mulutku ataupun dia, hanya suara gemricik air danau yang terdengar.
"Rhe?"
"Iya?"
"Kemarin kan, saya sudah bercerita tentang saya. Sekarang kamu, dong yang bercerita tentangmu."
"Aku?"
"Iya, kamu."
"Gak ada yang menarik dari hidupku, Gar, semuanya abu-abu. Lebih baik kamu yang bercerita, sejarah danau ini misalnya."
"Justru saya ingin mendengar kisah abu-abu itu." aku menggeleng pelan. Tak ada yang harus diceritakan, hidupku penuh luka, dan Gar tak mungkin tertarik.
"Rhe..., hidup itu sejarah. Sejarah panjang yang gak mungkin terlupakan. Mau sekeras apapun kamu menghilangkannya dari ingatanmu, sejarah itu akan tetap tinggal dan memiliki tempat tersendiri di ingatanmu... "
"Tapi sejarah hidupku tidak ada yang menarik. Semuanya penuh luka, bahkan air mata."
"Itu kan menurutmu, tidak dengan orang lain. Bisa saja, seseorang tertarik dengan hidupmu, bahkan ingin sepertimu."
Aku menghela napas pelan. "Baiklah," ucapku. Entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Gar selalu bisa menaklukan ku, seolah ia mempunya mantra untuk membuat lawan beicarnya luluh begitu saja. Ah, Gar sungguh lelaki yang sangat misterius.
Gar menggeser tubuhnya menghadap ku. Matanya mengunci pandanganku. Telinganya seperti sudah siap mendengar semua cerita yang akan aku ceritakan. Cerita yang tidak menarik sama sekali tetapi membuatnya begitu ingin mendengar cerita tersebut.
Aku menghela napas pelan, pandangan ku tertuju pada sebuah pohon besar yang berada jauh di sebrang danau.
"Ayahku seorang perantau," lagi-lagi aku menghela napas, "Ia pulang sebulan sekali, itupun kalau. Lebih sering dua atau tiga bulan sekali. Bahkan ketika umurku sudah sepuluh tahun, dapat dihitung berapa kali aku bertemu dengan ayah." Gar mendengarkan dengan seksama, "Semasa pertumbuhan ku, hanya mama yang selalu ada untukku, yang selalu mendukungku, dan saat itu rasa sayangku sepenuhnya milik mama. Aku bahkan hampir membenci ayah, karena sewaktu SD teman-temanku sering kali mengejek bahwa aku tak punya ayah." tanpa kusadari air mataku menetes. Untuk beberapa saat aku diam sejenak.
"Kalau tidak bisa melanjutkan tidak usah dipaksa," ucap Gar.
"Sudah tanggung. Tapi kalau ku perpendek, gak papa, ya?"
Kulihat Gar menyunggingkan sebuah senyum.
"Sewaktu kelas sepuluh, ayah kembali. Pada saat itu ia kembali dalam keadaan sakit, aku yang saat itu masih berumur 12 tahun menganggap bahwa ayah hanya sakit biasa, lalu sembuh. Dan keluargaku kembali utuh layaknya keluarga lain. Tapi ternyata dugaan ku salah, ayah terkena stroke." aku memejamkan mata tatkala masa itu terlintas lagi di pikiranku.
"Hari pertama terkena stroke, mama masih perduli pada ayah. Hari kedua, mama tampak mulai resah. Hari ketiga, mama sering marah-marah tak jelas. Dan hari ke empat, tepatnya pukul 12 malam, mama membangunkanku. Berbicara berbisik agar aku mengikutinya, kesadaranku yang saat itu belum terkumpul sempurna membuatku hanya menurut. Dengan mengendap-ngendap mama membuka pintu, tanganku digenggam oleh mama.
"Dan kami berjalan menuju g**g. Di sana, kulihat sebuah mobil hitam telah menunggu. Dari kaca mobil yang terbuka, aku dapat melihat seorang pria paruh bayah telah menunggu kami di dalam mobilnya..., detik itu juga aku sadar apa tujuan mama. Tanpa memperdulikan mama, aku berlari. Kembali ke rumah, tak perduli mama terus memanggil namaku. Karena yang ada di pikiranku saat itu hanya ayah. Aku gak mungkin ninggalin ayah dalam keadaan sakit parah.
"Hari kelima, mama tak lagi ada, tak tahu berada di mana. Aku melewati hidup bersama ayah. Mengurus segala keperluan ayah, berperan sebagai anak sekaligus ibu. Masa-masa beliaku, semuanya untuk ayah..., sampai sekarang. Aku ingat pada suatu ketika tepatnya pukul dua malam, suara gelas pecah dari dapur membangunkanku. Aku tersentak, lantas berlari ke dapur. Di sana ayah sudah terlentang di samping kursi roda. Mulut ayah mengeluarkan buih, napasnya naik turun. Aku sangat panik, tangisku pecah tatkala mata ayah tertutup setelah mengucapkan, 'ayah sayang Rhea.' aku membekap tubuh ayah, menghapus buih yang keluar dari mulutnya. Menelungkupkan wajahku di d**a tuanya, memejamkan mata dan berdoa kepada Allah agar menyadarkan ayah.
"Tak selang beberapa menit, aku merasakan sebuah tangan mengelus kepalaku lembut. Lantas kuangkat kepalaku, dan melihat ayah telah membuka matanya. Air matanya terjatuh seiring tangisku yang pecah pada malam itu." aku tak kuasa. Tangisku semakin pecah di keheningan alam. Tak perduli lagi bagaimana rupaku, tak peduli lagi bagaimana pendapat Gar nantinya, yang jelas saat itu aku hanya ingin menangis.
Kurasakan tubuh Gar membekapku. Memberikan kehangatan yang teramat kurindu, menghapus air mataku, lalu berucap, "Saya bersamamu." saat itu juga benteng pertahananku runtuh. Rasa yang selalu terjaga seolah pecah, melebur menjadi potongan hati yang menemukan titik akhirnya. Rasa yang telah lama mati, kini kembali hidup, menemukan nyawa dengan nyawa lainnya. Detik ini juga, hatiku berikrar bahwa dia adalah akhir dari pengasinganku selama ini. Akhir dari segala pencarian panjang yang tak berujung.
Tuhan, jika dia orang yang kau kirimkan padaku, maka kuterima segala rencanamu.
"Mau saya beritahu sesuatu?" dia berucap lembut di telingaku seolah takut aku terganggu dengan bisikannya.
Lantas aku tersadar. Tubuhku berusaha menjauh darinya, namun suaranya menghentikanku. "Jangan dilepas sebelum perasaanmu lebih tenang," ujarnya. Aku mengangguk. Karena saat ini aku sunggu merindukan dekapan seperti itu.
"Rhe..., Hidup itu pilihan. Pilihan untuk berjalan maju, mundur, atau tetap bertahan pada satu tempat. Jika kita memilih maju, kita harus siap menerima segala kemungkinan yang terjadi. Berhasil, gagal, atau mencoba ulang untuk mencapai keberhasilan. Tapi, ending dari sebuah hidup yang maju akan tetap berhasil, meskipun kita harus mencoba kedua kalinya. Sebab Tuhan tidak akan mengecewakan makhluknya yang mau berusaha." dia berucap sembari mengelus kepalaku. Beberapa anak rambut yang hampir menutupi mataku, di pinggirkan olehnya, sehingga aku dapat melihat dengan jelas wajah teduh itu.
"Dan kalau kita memilih berjalan mundur. Kita harus terima satu kemungkinan yang terjadi. Yaitu, gagal. Sebab, tak ada gunanya berjalan mundur. Bukannya kita sudah tahu, kemungkinan yang terjadi? Lalu kenapa harus kembali mundur. Saya pernah menemukan sebuah teori sewaktu saya berada pada kegagalan; pertama kali gagal adalah pengalaman, kedua kali gagal adalah pembelajaran, dan ketiga kali gagal adalah pembodohan. Dari situ saya tidak mau gagal lagi. Saya akan melakukan apapun untuk keberhasilan, sekalipun harus keluar dari zona nyaman.
"Dan ketiga, tetap berada pada satu tempat. Kamu tahu, ini lebih buruk dari berjalan mundur. Jika seseorang memilih berjalan mundur, orang itu harus siap akan kegagalan yang tiada henti. Tapi tidak menutup kemungkinan ia juga sadar dan lelah akan kegagalan, dan perlahan memilih berjalan maju. Sementara orang yang berada pada satu tempat, adalah orang yang pengecut. Mereka tidak berani keluar dari zona nyamanya, padahal zona itu hanya semakin membuatnya terpuruk.
"Rhe..., hidup itu tak selamanya seperti roda yang kadang di atas dan kadang di bawah. Hidup itu bagaikan balon udara. Yang awalnya hanya sebuah benda yang tak berguna, namun ketika diisi angin ia akan tumbuh menjadi besar. Tapi besar saja juga tidak ada gunanya kalau tidak diterbangkan. Sebab hidup harus banyak perjalanan untuk sebuah pengalaman. Rhe, pengalaman itu sangat penting, bukan hanya untuk dijadikan pembelajaran melainkan untuk menjadi sejarah nantinya. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk beberapa keturunan mu nanti. Kamu tahu, kan zaman semakin hari semakin berkembang dan manusia tidak mungkin terkalahkan oleh zaman, kita nggak bisa dikendalikan oleh zaman, justru kita lah yang harus mengendalikan zaman itu agar kita nggak salah langkah.
"Dan inti dari semua ini, saya mau kamu berubah menjadi gadis yang berpikir maju, bukan hanya gadis yang bertahan pada satu titik yang menurut mu paling aman padahal justru titik itulah yang membuatmu semakin terpuruk dan tertinggal. Rhe..., percayalah, gak ada yang sia-sia untuk sebuah perubahan." ia melepaskan pelukannya dari tubuhku, matanya menatap manik mataku lekat.
"Jadi sudah siap untuk keluar dari zona nyaman?" tanyanya.
Aku terdiam sejenak. Masih ada sedikit keraguan yang teramat panjang. Jika ditanya apakah aku mau keluar dari zona ini, aku pasti akan menjawab ingin. Bahkan sangat ingin. Tetapi semua keinginan itu selalu terkalahkan oleh rasa takut, rasa tidak percaya diri. Aku takut akan kegagalan dan aku takut disaat aku sudah nyaman dengan zona yang baru, namun zona itu malah membuatku terluka. Aku takut akan hal itu.
"Rhe... saya akan selalu bersamu. Itu janji saya." ucapnya lagi meyakinkan.
Seperkian detik, kepalaku mengangguk. Menerima tawaran darinya.
Kini kupercayakan hidupku padanya, Kupercayakan setiap waktuku bersamanya. Tuhan, kuharap semua ini menjadi awal untuk perubahan dan menjadi akhir untuk sebuah pencarian.
《》《》《》