5. Tuhan, Semesta, dan Dia

1239 Words
Jika ditanya dari hari senin sampai minggu hari apa yang aku suka? Aku pasti akan langsung menjawab hari kamis. Kenapa? Karena di hari kamis semua mata pelajaran adalah pelajaran yang aku suka; Bahasa Indonesia, Ips, Agama Islam, Bahasa Inggris, dan terakhir Penjaskes. Tapi, yang paling aku suka pelajaran penjaskes. Karena pelajaran yang dimulai selesai istirahat kedua dan pelajarannya selalu bebas. Murid bisa melakukan apa aja pada saat pelajaran itu. Maka tak heran jika hari kamis kelasku sudah sepi sebelum bel pulang berbunyi. Karena rata-rata anak cowok di kelasku, akan langsung pulang begitu bel istirahat kedua berbunyi. Mereka keluar gerbang utama menggunakan baju olahraga, dengan alasan mau berlari. Padahal mereka cabut, tasnya saja sudah dilempar terlebih dahulu dari tembok belakang sekolah. Simple, kan? Tapi aku tidak seperti mereka. Daripada cabut, aku lebih memilih ke perpustakaan. Membaca buku di sana, atau hanya sekedar menumpang wi-fi. Tapi hari ini akan berbeda. Aku tidak lagi di perpustakaan, melainkan ke tempat yang belum pernah aku kunjungi. Kemana? Aku juga tidak tahu, hanya Gar lah yang mengetahui tempatnya. Kini aku sedang duduk di salah satu bangku yang ada di koridor kelas sepuluh. Menunggu Gar sembari mendengarkan musik. "Sudah lama?" Gar duduk di sebelahku, matanya menatapku lekat. Bahkan saat ini jarak wajah kami terbilang dekat. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. "Enggak, kok." "Bagus, deh. Yuk, ikut saya." "Kemana dulu?" "Ketempat yang belum pernah kamu kunjungi." "Iya aku tahu. Tapi di mana?" "Gimana saya ngasih taunya. Kamu kan belum pernah ke sana, saya jelasin pun kamu juga tidak tahu." Aku menggaruk tengkuk ku yang tak gatal. Ada benarnya juga sih, apa yang dikatakan Gar. "Yasudah, deh." Kami berjalan beriringan. Jalan yang pertama kami lewati ialah tangga rooftop, aku mengerinyit. Apa dia mau mengajakku ke rumah pohon lagi. "Ke rumah pohon?" "Enggak. Sudah ikuti saja." Aku mengangguk patuh lalu kembali berjalan mengikutinya. Tapi, tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Kenapa dia bisa keluar kelas, padahal jam pelajaran masih dimulai? "Gar.... " "Hmm?" "Kamu kok bisa keluar? Bawa tas lagi." "Ini pelajaran Biologi. Saya gak suka pelajaran yang terlalu banyak materi. Maunya yang langsung praktik." "Trus karena kamu gak suka, kamu bolos, gitu?" "Saya gak bolos, Rhe. Tadi udah izin juga sama gurunya." "Izin mau bolos?" "Enggak." "Lalu?" "Izin ke UKS. Saya bilang lagi gak enak badan." Aku terkekeh pelan. "Dasar. Bilang aja mau bolos pelajaran." "Belajar udah setiap hari, Rhe. Tapi jalan denganmu cuma di hari-hari tertentu." aku terdiam. Entahlah, seperti ada hal yang belum pernah kurasakan. Rasanya aneh, tapi indah. Setelahnya aku tak mengucapkan apa-apa lagi. Terus mengikuti langkahnya. Hingga tibalah kami di gedung SMP. Gar mendatangi Pak Mamat, tukang kebun yang kemarin kami temui. "Siang, Pak." "Eh, Nak, Garal. Ada apa?" "Pak, saya boleh pinjam pintu rahasia, gak?" "Mau kemana?" "Ke suatu tempat, Pak. Disekolah pelajarannya tidak seru." Aku terus mendengarkan perbincangan mereka. "Sama, Mba, ini?" aku tersenyum ketika pak Mamat menatapku. "Iya, Pak. Anggap aja lagi pdkt." Sontak aku mencubit lengan Gar. Tapi anehnya dia tidak kesakitan, malah cengengesan tak jelas. "Yasudah, saya izinin." Gar tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Kini langkahnya menuju sebuah pintu kecil berwarna abu-abu. Aku mengerinyit bingung. Mana pintu rahasia yang tadi dibilangnya. "Ini namanya pintu rahasia," ucapnya menjawab segala pertanyaanku. "Hah? Ini?" Gar mengangguk. Dan setelahnya membuka pintu kecil itu. Seiring dengan pintu terbuka, aku melihat sebuah rumah kecil yang terbuat dari papan. Atapnya dari tepas. Tapi anehnya tidak terlihat kumuh, malah sangat rapi dan bersih. "Ini rumah siapa?" Tanyaku. "Rumah Pak Mamat." Gar menyapa seorang wanita paruh bayah yang sedang menyapu halaman. "Siang, Bu." "Eh, Nak, Garal. Ada apa? Kok siang-siang udah mau pulang aja." "Mau ke suatu tempat, Bu. Sekalian pdkt." lagi-lagi aku mencubit lengannya. "Wahh, sukses, ya." "Iya, dong, Bu." "Bu, saya ambil motor, ya." Ibu itu mengangguk. Dan Gar mendorong sebuah vespa berwarna orange, tak lupa ia memakai helm dan memberikan satu helmnya lagi padaku. "Gar, ini motor siapa? Kok aku jadi bingung gini, sih." motor melaju meninggalkan sang ibu yang tak ku ketahui namanya. "Ini motor saya. Jangan bingung, Rhe. Ntar juga kamu bakalan senang." Aku menghela napas pelan. Lagi-lagi, tak ada alasan untuk tidak mempercayainya. "Pegangan, Rhe." Dengan cepat aku menggelengkan kepala. Tangan yang semula berada di atas lutut, kini berpindah ke belakang. Berusaha untuk menghindar. Bukan apa-apa, dibonceng begini saja sudah membuat jantungku berdetak tak normal. Bagaimana jika memegang pinggangnya. Ah, mungkin jantungku akan keluar dari tempatnya. "Ntar, kamu jatuh." "Enggak, Gar. Sudah tenang aja." selesai mengatakan itu, tiba-tiba Gar merem mendadak sehingga membuat badanku hampir jatuh kebelakang. Refleks, tanganku memeluk erat pinggang Gar dan wajahku bersandar tepat di bahunya. Aku bahkan dapat melihat wajahnya dari jarak yang amat dekat dan itu berhasil membuat jantungku berdetak semakin kencang. "Tuh kan. Gak percaya, sih," ucapnya dengan senyum jail yang terlukis di bibir tipisnya. "Kamu sengaja, kan?!" "Tidak. Tadi ada polisi tidur di sana, makanya saya rem mendadak." Aku tahu dia berbohong. Tapi sudahlah, aku juga gak mau memperpanjang masalah sepele seperti ini. Kini kami kembali diam. Gar, melajukan motornya dengan kecepatan biasa. Sementara aku melihat-lihat jalanan yang kami lewati. "The ..." Gar memanggilku, suaranya terdengar jelas karena saat ini ia memperlambat laju motornya. "Iya, Gar?" "Tadi saya dengar, loh." "Dengar apa?" Aku mengernyit bingung, apa yang di dengar Gar? Kenapa dia sangat misterius begini, sih. Ku dengar kekehan kecilnya, dan dari kaca spion aku dapat melihat Gar terus saja tersenyum. "Gar, kamu dengar apa? Jangan buat penasaran, ihh." "Detak jantung kamu." Ah, tiga kata itu saja sudah cukup membuat wajahku memerah dan mungkin saat ini sudah seperti tomat. Aku mengalihkan pandanganku ke arah jalanan, mencoba mengatur detakan jantung yang bergerak semakin kencang. "Gak papa, Rhe, wajar jantung kamu berdetak kayak gitu. Itu tandanya jantung kamu masih normal." "Apaansih, Gar, nggak jalas tau." Lagi-lagi Gar terkekeh pelan, ia mempercepat laju motornya. Mataku tak henti menatap kagum jalanan yang kami lewati. Pepohonan rindang tumbuh subur di pinggir jalan, beberapa hewan peliharaan; kerbau, kambing, kuda, tampak sedang memakan rumput di sebuah rawa-rawa. Beberapa kendaraan beroda dua ataupun beroda empat melaju sesuai aturannya. Lagi-lagi aku bersyukur karena sudah dipertemukan dengan Gar. Kenapa tidak dari dulu aku dan Gar bertemu. Setidaknya dia bisa menjadi teman di hari terburuk dalam hidupku. Motor Gar memasuki area perkampungan, lalu masuk ke salah satu hutan yang tak ku ketahui namanya. "Gar, kenapa masuk hutan?" "Karena jalannya hanya ini." Aku mengernyit. Seperti ada perasaan tak tenang. "Jangan takut. Saya gak akan macam-macam." Ah, aku sampai lupa kalau Gar bisa mendengar isi hatiku. "Aku gak takut, kok." "Tapi, cemas." Aku tidak menjawab lagi. Baiklah, akan ku putuskan untuk tidak berpikiran negatif terhadap Gar. Motor Gar tampak berjalan semakin lambat, lalu berhenti. Aku memandang sekitar. Tempatnya terlihat horor, seperti di tengah hutan. Pohon-pohon besar tumbuh mengelilingi kami. Karena terlalu cemas, aku sampai lupa melepas helm. Dan tiba-tiba Gar membuka helm yang ku kenakan. Lalu meletakkanya di kaca spion sebelah kiri. "Masih tidak percaya dengan saya?" Aku menggeleng ragu. Entahlah, otak dan hatiku seperti sedang beradu. Disatu sisi otak terus saja berpikir negatif, tapi hati tak henti meyakinkan bahwa semuanya akan baik, sesuai dengan harapanku. Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang menggenggam tanganku. Siapa lagi kalau bukan Gar. Dia tersenyum lembut, seolah meyakinkan bahwa ia tidak berniat buruk terhadapku. "Ayo, alam raya sudah lama menunggu kedatangan kita." ia berjalan dengan jemari yang terus mengapit jariku. Aku menurut. Dengan segala kepercayaan yang tersisa, langkahku bergerak mengikutinya. Kami masuk melewati dua pohon besar yang berada di sebelah kanan dan kiri. Dan ketika melewati pohon itu, telingaku seperti mendengar suara air. Sangat tenang. Dan bersamaan dengan itu, terlihatlah alam raya yang sangat indah. Mataku terbelalak, tanpa kusadari mulutku juga terbuka sangking terkejutnya. *Tuhan, begitu banyak hal yang tak ku ketahui selama ini. Sesuatu yang ku anggap hanya ada di dongeng, ternyata ada di dekatku. Semesta, terima kasih, karena telah mempertemukan ku dengannya. Terima kasih sudah bersedia menjadi tempat untukku bertemu dengannya. Dan, untukmu, Gar. Terima kasih telah memberikan hal yang baru untukku. Kuharap ini tak segera berakhir, bahkan tak akan pernah berakhir.* 《》《》《》
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD