50. Bakso atau Sate

1057 Words
Pencapaian terbesar orang tua ialah, ketika ia bisa mendidik anaknya agar tidak salah jalan, di tengah-tengah zaman yang semakin tidak normal. ~~~~~~ Kepalaku terasa sangat pusing, pandanganku pun masih mengabur sehingga untuk bangkit saja aku tidak sanggup. "Rhe, kamu sudah sadar?" "Um, Gar. Ini beneran kamu, kan?" "Iya, Rhe, ini saya. Kalau masih pusing kamu istirahat aja dulu," ucapnya lagi. Aku menggeleng pelan dan masih berusaha untuk duduk. "Gar, dia datang lagi, Gar. Dia mau jahatin aku lagi," ucapku sambil menangis. Rasa takut bercampur trauma itu masih sepenuhnya mendominasi kepalaku. Dengan cepat Gar memelukku, menenangkan, dan mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Aku takut, Gar," ucapku lagi. "Jangan takut, Rhe, saya akan selalu bersamamu." "Tapi dia bisa aja datang lagi, Gar." "Enggak, Rhe. Saya sudah menghabisinya dan dia juga sudah janji tidak akan mengganggumu lagi." "Kamu benar, Gar?" "Iya, Rhe. Tadi sebelum kamu pingsan saya sudah ada di sana, saya melihat kamu yang berusaha membela diri, berusaha melawan walau sebenarnya saya tahu bahwa kamu sangat ketakutan. Maafkan saya, ya, Rhe, karena tidak langsung menolong mu. Tapi kamu tenang saja, saya sudah membalasnya, kok, seperti yang kamu mau dan saya juga mengancamnya sehingga dia tidak akan pernah mengganggu kamu lagi," jelas Gar lembut. Ia mengelus-elus kepalaku dengan lembut, seolah dia tahu bahwa apa yang dilakukannya berhasil membuatku jauh lebih tenang. "Terima kasih, Gar." "Jangan bilang makasih ke saya, bilang makasih ke diri kamu karena ternyata kamu kuat, kamu berani, kamu tidak lemah, dan kamu berhasil melawan segala ketakutan itu. Saya bangga sama kamu, Rhe." Mendengar perkataan Gar membuatku menyadari bahwa aku berhasil, aku berhasil melawan ketakutan itu, berhasil menghilangkan trauma yang masih tersisa di dalam hati. Aku berhasil melakukan itu semua. Sungguh, aku bahkan tidak percaya ternyata aku mampu melewati itu semua, aku benar-benar berada di titik ini. Mungkin untuk beberapa orang ini terlalu berlebihan, tetapi tidak denganku yang selalu memendam rasa sakit itu sendirian, sehingga ketika aku berhasil meluapkannya ada rasa kebanggaan tersendiri karena berhasil melawan rasa takut itu. "Sekarang kamu sudah jauh lebih baik, kan?" tanya Gar. Aku mengangguk sebagai jawaban. "Yasudah, sekarang kita pulang, ya. Ini sudah mau jam enam sore, gerbang sekolah pasti akan di kunci." "Memang ini kita masih di sekolah?" tanyaku bingung. Gar terkekeh. "Ya iya, Rhe, kan tadi kamu pingsannya di parkiran jadi saya bawak kamu ke UKS, dong, karena itu yang paling dekat," jelas Gar. "Kamu bawak aku kesini baik apa?" "Um, ya, saya gendong." Gar terlihat gugup ketika menjawab pertanyaanku yang ini. Entah kenapa aku pun juga jadi gugup dan bingung harus bersikap seperti apa. "Yasudah, ayo, kita pulang, ntar keburu kesorean." "Iya, Gar." "Kamu masih sanggup jalan, kan?" "Sanggup, kok, Gar." "Bener?" tanyanya lagi. "Iya, Gar, bener." "Kalau nggak sanggup bilang, ya, biar saya gendong lagi." "Ih, Garrrr!" saat itu juga pipiku memanas karena ulah Gar. Dia selalu berhasil menggoda ku, sehingga membuatku benar-benar malu dan salah tingkah. Jika saja ada cermin disini, aku pasti bisa melihat wajah ku yang sudah memerah karena ulah Gar. *** Sesampainya di rumah, Gar tidak langsung pulang. Ia mau mampir dulu katanya, mengobrol denganku dan juga ayah mungkin ia begitu karena besok akan pergi dan selama beberapa Minggu tidak bertemu dengan ku dan juga ayah. Tadi ayah juga sudah mengobrol banyak dengan Gar, mereka membicarakan tentang politik, sekolah, keadaan sekitar dan masih banyak lagi hingga tanpa terasa sudah magrib alhasil Gar sholat di rumah bersamaku dengan ayah. Dan, kini sudah jam tujuh malam tapi Gar masih berada di rumahku. Aku sudah beberapa kali menyuruhnya pulang, tapi dia tidak mau karena masih ingin bersamaku. Untungnya Gar tinggal sendiri, jika tidak dia pasti akan habis di marahin oleh ibunya lantaran setelah pulang sekolah tidak langsung pulang malah keluyuran sampai larut malam. "Rhe, ayo kita beli makanan," ajaknya. "Kamu lapar ya? Itu ada lauk, kok, tapi ya gitu lauk tadi pagi." "Enggak, kok, Rhe, saya enggak lapar. Tapi kita harus beli beberapa cemilan, biar tidak terlalu kosong seperti ini," jawabnya. "Um, oke. Come on!" ucapku semangat. Gar terkekeh. "Kamu giliran di ajak beli makan semangat banget." "Harus, dong." Gar terkekeh, lalu kami masuk sebentar untuk pamit dengan ayah dan setelah itu langsung pergi mencari makanan yang pas untuk menemani kami malam ini. "Kamu mau apa, Rhe?" tanyanya. "Um, apa, ya. Sate kayaknya enak, Gar," ucap ku. "Oke, kita beli sate," jawab Gar semangat. "Tunggu dulu, Gar. Tapi aku masih bingung, kayaknya bakso juga enak." "Oke, kita beli bakso!" "Ih, jangan dulu." "Loh, kenapa?" "Salah satu aja, menurut kamu enakan sate atau bakso?" "Dua-duanya enak." "Salah satu, dong, Gar, kita enggak boleh boros." "Kalau bisa dua kenapa harus satu? Kita beli dua-duanya, saya yang traktir." "Nggak usah ih, Gar, kebanyakan." "Enggak, Rhe. Itu masih standard," jawabnya. Lalu tanpa menunda lagi, Gar langsung membawaku ke pedagang sate, membeli beberapa tusuk sate dan setelahnya langsung menuju pedagang bakso yang ternyata sangat ramai yang membeli bahkan sampai antri. "Gar, rame banget. Kayaknya nggak usah, deh," ucapku. "Enggak papa, Rhe, kita tunggu saja. Lagi pula enggak boleh, loh, kalau kita sudah sampai di suatu pedagang tapi kita tidak jadi beli." "Loh, kenapa nggak boleh?" tanyaku heran. "Ya karena jika kita sudah datang itu sama saja kita ngasih harapan ke mereka, terus kalau tidak jadi otomatis si penjual bakalan kecewa, kan?" Aku hanya ber-oh ria, karena ucapan Gar ada benarnya juga. Tapi aku tidak enak hati kalau Gar yang harus membayar semuanya. "Yasudah, tapi bakso ini aku yang bayar, ya," ucapku. "Enggak, Rhe, saya aja." "Ih, enggak bisa gitu dong, Gar. Kan kamu sudah bayar sate." "Tadi yang ngajak beli makanan siapa?" "Kamu." "Nah, yasudah berarti saya yang bayar, lagian kan tadi sudah saya bilang kalau saya yang bakalan traktir. Sudah kamu tenang saja." "Ih, Gar, tapi aku nggak enak kalau kayak gini." "Tapi saya enak, Rhe." Aku langsung tertawa mendengar perkataan Gar itu, dengan santai dia mengatakan bahwa dia merasa enak jika mentraktir ku seolah bukanlah beban untuknya. Gar memang berbeda, dia tidak pernah mempermasalahkan apa pun walau itu merugikannya. Dengan tulus ia memberikan apa yang ia miliki, tanpa meminta balasan ataupun mengungkitnya. Sungguh, melihat karakter Gar yang seperti ini, membuatku jadi sangat penasaran dengan ibunya. Aku yakin, ibu Gar adalah wanita yang sangat baik sehingga ia bisa mendidik Gar menjadi lelaki yang baik dan tulus seperti ini. Ibu Gar berhasil mendidik anak lelakinya, tugas yang menurut beberapa orang sepele tapi hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan itu. [][][][]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD