Dia yang membuat hidup mu hancur memang pantas mendapatkan maaf, tetapi tidak pantas untuk mendapatkan kepercayaan apapun lagi.
~~~~
"Gar, kamu masih ada hutang penjelasan sama aku, loh."
"Ah, iya, saya hampir lupa."
"Nah, sekarang sudah aku ingatin, kan. Sekarang coba jelasin apa."
"Saya besok akan berangkat ke Kanada," ucap Gar. Mendengar kalimat itu lantas membuatku terdiam, aku bahkan hampir lupa bahwa beberapa hari yang lalu Gar meminta izin bahwa ia akan ke Kanada menyusul keluarganya disana.
"Um, oke."
"Saya janji akan secepatnya kembali setelah keadaan Disty benar-benar membaik."
"Tapi kan sebentar lagi kamu sudah ujian kelulusan, apa tidak bisa di undur saja?" tanyaku masih coba untuk menahannya.
"Enggak bisa, Rhe. Saya nggak siap untuk menerima resiko apapun kalau saya mengundurkan kepergian ini. Saya takut Disty malah kecewa dan itu akan berpengaruh sama kesehatannya. Untuk sekolah hari ini saya akan bicara langsung sama wali kelas agar di izinkan, kalaupun tidak di izinkan saya akan tetap pergi, Rhe," jelas Gar.
"Yasudah kalau begitu."
"Besok saya langsung berangkat setelah pulang sekolah. Kamu bisa menemani saya, kan?"
Aku menjawab dengan anggukan. Jujur saja setelah beberapa kejadian aneh yang menggangu, aku malah semakin berat untuk melepaskan Gar dan jauh darinya. Aku takut dan terus bertanya, apakah aku siap melewati semuanya tanpa Gar. Bahkan tidak ada satupun yang tahu siapa orang itu dan apa tujuannya, lantas kalau orang itu adalah orang jahat yang ingin mencelakakan ku, pada siapa aku akan meminta tolong jika sewaktu Gar pergi orang itu malah memulai aksinya.
Tanpa disadari air mataku menetes, rasa takut itu benar-benar menghantuiku.
"Rhe, jangan menangis," ucapnya lalu menghapus air mataku.
"Aku takut, Gar."
"Apa yang kamu takuti?"
"Banyak, Gar, sangat banyak. Semuanya itu berputar-putar di kepalaku, menghantui, benar-benar membuat mental ku down."
"Rhe—"
"Gar, kalau orang itu datang lagi dan mencelakai ku, aku harus minta tolong ke siapa Gar? You know i only have you, who are always ready to help me. Lalu kalau kamu pergi aku harus minta tolong ke siapa, Gar? coba kasih tau aku."
"Rhe, kamu nggak boleh putus asa kayak gitu. Walaupun saya pergi, bukan berarti saya lepas tanggung jawab untuk menjaga kamu. Saya bakalan terus menjaga kamu, sekalipun saya jauh dari negeri orang."
"Gimana caranya, Gar? Coba kamu kasih tau ke aku?"
"Untuk sekarang saya tidak bisa kasih tau kamu, tapi kamu harus percaya kalau saya akan terus menjaga kamu."
Gar memelukku, mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja sekali pun ia tidak bersamaku.
"Kita masih punya Tuhan, Rhe. Bukan kah kamu yang selalu bilang ke saya bahwa Tuhan akan selalu bersama dengan umatnya, kan? Lalu kenapa kamu masih takut?"
Aku terdiam, Gar benar aku pernah mengatakan hal itu. Tetapi entah mengapa saat ini justru aku yang tidak mempercayai ucapan ku sendiri, padahal selama ini aku sendiri merasakan apa saja yang telah diberikan Tuhan untuk melindungi ku bahkan sewaktu Gar belum datang di kehidupan ku.
"Kamu percaya sama kehendak Tuhan, kan? Cara kerja semesta? Bantuan dari makhluk hidup lain yang ada di sekitar kita? Kamu percaya itu kan, Rhe?"
Aku mengangguk pelan.
"Lalu apa yang kamu takuti? Hanya karena saya selalu siap membantu kamu, bukan berarti sepenuhnya itu bantuan dari saya. Segala waktu, pertolongan yang saya lakukan untuk kamu, itu juga atas izin Tuhan, Rhe. Lalu kenapa sekarang kamu malah meragukannya dan bergantung pada saya?"
"Maaf, Gar." hanya itu yang bisa ku katakan, aku sendiri juga tidak mengerti mengapa aku jadi seperti ini, menggantungkan semuanya kepada Gar, padahal jauh sebelum ada Gar aku sudah melewati semuanya sendiri. Kepergian ibu, sakitnya ayah, bully, k*******n, sudah ku lewati bahkan tanpa ada Gar, lalu kenapa sekarang aku jadi seperti ini seolah tidak percaya pada kekuasaan Tuhan.
Sungguh aku benar-benar bodoh, hanya karena Gar yang selalu ada untukku, aku sampai lupa bahwa masih ada Tuhan yang siap sedia kapan pun ku butuhkan berlebih kali lipat kecepatannya dari pada Gar.
Tuhan, maafkan aku yang hampir melupakan kekuasaan-Mu. Padahal selama ini aku masih melakukan kewajiban sebagai umat-Mu, tapi dengan bodohnya aku lupa dengan segala keajaiban yang bisa Kau berikan padaku.
Semesta, apa yang terjadi dengan diriku. Mengapa semua ketakutan ini membuatku menjadi jauh dengan-Nya, padahal seharusnya ini semua menjadi pelajaran, bukan malah membuat ku jadi tidak percaya pada kekuasaan-Nya seperti ini.
***
"Rhe, kamu tunggu disini, ya."
"Kamu mau kemana?"
"Ke ruang guru sebentar, ada yang ketinggalan."
"Oh, oke." jawabku.
Lalu Gar pergi ke ruang guru untuk mengambil barang yang tertinggal itu, sementara aku menunggu di tempat parkir.
Sambil menunggu Gar, aku memainkan ponsel agar tidak suntuk. Melihat sosial media yang sering kali menampilkan konten lucu terkadang berhasil mengatasi kebosanan disaat lagi menunggu seperti ini.
"Rhea ..."
Tiba-tiba seseorang memukul pundak ku pelan dari belakang, lantas aku langsung berbalik karena itu pasti Gar.
"Kok cepat, Gar—" ucapan ku langsung terhenti ketika menyadari ternyata orang tersebut bukanlah Gar.
"Hei, apa kabar?"
Orang tersebut adalah Bima, lelaki yang saat ini sedang aku hindari dan masuk ke dalam list orang yang tidak akan pernah ku temuin lagi.
"Ngapain kamu disini?!"
"Loh, ini kan sekolah ku juga, Rhe, jadi aku berhak dong disini. Lagi pula motorku juga terparkir di sana." dia menunjuk ke salah satu motor yang berada di seberang motor Gar.
Dan saat itu juga aku langsung terkejut, ternyata motor Bima sama dengan motor cowok yang tadi mengikuti aku dan Gar dari belakang, dan itu tandanya dugaanku tadi benar.
"Oh, jadi yang dari tadi ngikutin aku dan Gar dari belakang itu kamu?" tanyaku sinis.
Bukannya menjawab dia malah tersenyum, padahal senyumnya itu membuatku semakin jijik dengannya.
"Atau jangan-jangan yang kemari mala ngintip dari balik pohon itu lo juga?"
"Yap, benar!"
Sungguh rasanya saat ini aku ingin sekali menamparnya, dengan santai dan tanpa merasa bersalah dia muncul lagi di hadapanku setelah apa yang telah ia lakukan. Sungguh, Bima adalah definisi orang yang benar-benar tidak punya malu.
"Pergi!" ucapku penuh penekanan. Rasanya aku sudah jijik dan muak melihat wajahnya yang terlihat sama sekali tidak menyesali apapun itu.
"Kenapa aku harus pergi, Rhea? Ini kan tempat umum."
"Iya ini memang tempat umum, tapi bukan berarti lo harus berdiri di depan mata gue!"
Bima malah terkekeh.
"Namanya juga jalan wajar dong aku lewat dari sini."
Sungguh, melihat wajah Bima yang seolah tidak bersalah membuatku kembali mengingat kejadian kemarin. Cowok ini benar-benar tidak tahu malu, setelah semua kejahatan yang ia lakukan padaku, bisa-bisanya dia muncul di hadapan ku seolah dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
Mataku terasa semakin panas, badan ku pun mulai bergetar, rasa takut itu kembali menjalar di tubuhku. Tidak mau terlihat semakin lemah, aku memilih untuk pergi dari sana.
"Loh, mau ke mana, Rhea?"
Bima menarik tanganku sehingga membuat langkahku terhenti. Saat itu juga aku semakin ketakutan, kejadian menyeramkan itu kembali berputar-putar di kepalaku.
"Lepasin!" ucapku dengan suara bergetar.
"Tidak, Rhea."
"Lepasin atau aku akan teriak!" ancam ku. Kini air mataku pun telah tumpah dan mengalir deras dari mata ke pipi.
"Rhea, aku cuma mau minta maaf—"
"LEPASIN!" aku menghentakkan tanganku, lalu langsung menamparnya.
Emosi, takut, benci, muak, sudah bercampur menjadi satu. Rasa trauma yang tadinya membuatku menjadi takut, kini berusaha untuk ku lawan. Aku ingat dengan ucapan Gar tadi siang, bahwa aku pasti bisa melewati semuanya walau tanpa adanya Gar di dekatku.
Pikiranku mulai terbuka dan terus mengatakan bahwa tidak boleh seperti ini, mau sampai kapan menjadi pengecut dan takut pada orang yang jelas-jelas bersalah pada kita.
"Rhea, tidak apa-apa kamu menamparku. Atau kamu mau tampar aku lagi? Tampar, Rhea, kalau itu bisa membuat kamu memaafkan aku," ucapnya.
Aku bahkan sama sekali tidak percaya dengan semua perkataan yang keluar dari mulut lelaki ini, terlebih sikapnya yang suka berubah-ubah hanya dalam hitungan detik membuatku sangat yakin bahwa dia hanya sedang drama.
"Kamu tahu apa yang buat aku bisa maafin kamu?"
"Apa, Rhea? Coba kamu kasih tau, aku pasti akan melakukannya."
"Jangan pernah muncul lagi di kehidupan aku, dan jangan ganggu hidup aku lagi!" ucapku penuh penekanan.
"Tapi, Rhea—"
"PERGI!" aku berteriak sekencang-kencangnya, meluapkan segala amarah yang tertahan selama ini. Badanku pun perlahan semakin melemas, bahkan sudah tidak sanggup menahan untuk tetap berdiri, perlahan pandangan mulai mengabur dan dalam hitungan detik aku sudah tidak sadarkan diri.
[][][][]