Laki-laki yang tulus mencintaimu adalah dia yang bisa menjadi pacar, teman, abang, atau bahkan musuh dalam waktu bersamaan.
~~~~~~
Selama perjalanan di sekolah entah kenapa aku merasa seperti ada yang mengikuti kami, aku beberapa kali melihat ke belakang dan ku lihat ada sebuah motor yang berada tepat di belakang kami. Motor itu di kendarai oleh seorang pria, dengan menggunakan hoodie hitam dan helm yang menutupi seluruh bagian kepalanya sehingga tidak terlihat wajahnya.
Ada hal yang membuatku aneh, yaitu ketika aku melihat ke belakang motor tersebut menepi lalu berhenti sebentar. Dan setelah beberapa saat, aku melihat lagi lagi motor itu yang lagi-lagi berada tepat di belakang kami.
"Gar ..." panggilku.
"Iya, Rhe, ada apa?"
"Coba kamu bawak motornya agak lambat."
"Memang kenapa, Rhe? Ini kan juga tidak terlalu kencang."
"Jangan banyak tanya dulu, agak lambat aja jalannya."
"Iya, deh." Gar mulai memperlambat laju motornya. Dari kaca spion masih terlihat jelas lelaki itu berada di belakang kami. Jika dia tidak mengikuti kami, seharusnya di saat motor Gar berjalan lebih lambat ia justru mempercepat laju motornya seperti pengendara lain. Ini malah tidak, ia justru masih setia berada di belakang kami.
Berarti dugaanku benar bahwa orang tersebut memang mengikuti kami, dari gerak geriknya saja sudah sangat kelihatan karena sedari tadi ia terus melihat ke arah kami.
"Gar, sekarang di percepat," ucap ku lagi pada Gar.
"Apanya, Rhe?"
"Astaga, jalan motornya di percepat, Gar!"
"Tadi kamu suruh di lambati, sekarang malah cepatin. Kamu kenapa, sih, Rhe."
"Gar, udah turuti aja. Nanti sampai sekolah aku kasih tau."
Gar menurut lalu mulai mempercepat laju motornya. Dari kaca spion ku lihat lagi orang tersebut yang juga ikut mempercepat laju motornya. Tidak salah lagi, orang ini memang berniat mengikuti kami. Diam-diam aku merekam lelaki itu dari kaca spion Gar, walaupun mukanya tidak terlihat tetapi setidaknya ini bisa jadi barang bukti yang penting dan sangat berguna.
Tak lama kami sampai ke sekolah, ketika motor Gar masuk ke gerbang, ku lihat lelaki itu berhenti tepat di depan gerbang dan melihat ke arah kami. Aku bahkan masih sempat merekamnya untuk ku tunjukkan pada Gar nanti.
"Sudah sampai, sekarang kamu jelasin kamu tadi kenapa." ucap Gar ketika kami telah turun dari motor.
Tanpa berbasa-basi aku langsung menunjukkan rekaman Vidio tadi pada Gar.
"Apa ini?"
"Lihat aja dulu," ucapku.
Gar melihat rekaman video tersebut, lalu mengerinyit bingung.
"Dia siapa, Rhe?"
"Aku juga enggak tahu, Gar, tapi dia ngikutin kita."
"Kamu tau dari mana dia ngikutin kita?"
"Dari pertengahan jalan tadi aku memang sudah merasa ada yang ngikutin kita, terus aku lihat ke belakang ada cowok itu. Aku liatin terus dan nggak lama dia berhenti ke pinggir, terus waktu aku sudah nggak lihat ke belakang lagi dia jalan lagi dan ngikutin kita ," jelas ku.
"Kamu yakin, Rhe?"
"Yakin, Gar, yakin banget. Dan tadi, waktu aku nyuruh kamu kurangi kecepatan, seharusnya kalau dia memang tidak ngikutin kita dia mempercepat kecepatannya, dong, dan berada di depan kita. Ini malah nggak, Gar, dia tetap jalan santai di belakang kita. Nah, pas aku suruh kamu cepatin lagi, dia juga bawak motornya malah makin kencang sambil terus nengok ke arah kita.
"Dan yang terakhir, kamu lihat di Vidio tadi kan, waktu kita sampai dan masuk gerbang dia justru berhenti di depan gerbang sambil lihat ke arah kita. Berarti dugaanku benar, kan, Gar?"
Gar mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan semua yang ku jelaskan ia pasti berpikiran sama denganku.
"Tapi siapa dia, Rhe? Untuk apa dia ngikutin kita?"
"Ntah, Gar, aku juga nggak tahu. Tapi apa mungkin itu lelaki yang sama dengan yang tadi malam ngintip aku dari balik pohon?"
"Bisa jadi, Rhe. Coba deh kamu lihat postur tubuhnya, terus hoodie, kan kamu bilang cowok yang tadi malam itu pakai hoodie hitam kan? Ini juga, Rhe."
"Astaga, iya, Gar, benar." aku menepuk jidatku, kenapa bisa-bisanya aku lupa dengan hoodie itu.
Dari warnanya memang sama yaitu warna hitam, tetapi aku tidak bisa pastikan bahwa hoodie yang digunakan cowok tadi malam dengan pagi ini sama atau tidak, karena aku juga tidak begitu jelas melihatnya.
"Yasudah, nanti kita selidiki lagi, ya, Rhe. Sekarang kita masuk dulu."
Aku mengangguk.
"Nanti jam istirahat saya ke kelas kamu ya, kita harus bahas ini."
"Iya, Gar." setelahnya kami berjalan masuk ke area sekolah, pagi ini kami sampai lebih lama berbeda seperti hari biasanya.
***
"Rhe, kamu yakin tidak tahu siapa orang yang tadi malam dan orang yang tadi pagi?" tanya Gar.
Aku dan Gar sudah berada di rooftop sekolah, Padahal jam istirahat baru berbunyi beberapa menit yang lalu, Lantaran kami tidak ingin menunda-nunda jadi kami memilih untuk langsung ke rooftop saja.
"Sama sekali nggak tahu, Gar. Tapi jujur aku curiga sama satu orang," jawabku.
"Siapa?"
"Bima." sejak malam tadi, aku terus berpikir dan membayangkan Bima, aku sedikit mencurigainya karena saat ini yang sudah mempunyai masalah dengan ku adalah Bima. Kalau pun orang itu bukan dia, pasti itu termasuk salah satu temannya.
"Kamu yakin?"
"Aku, sih, enggak begitu yakin karena saat ini aku juga enggak punya bukti yang kuat. Tapi entah kenapa feeling aku mengatakan kalau itu Bima, lagi pulak kan yang saat ini sedang ada masalah dengan ku cuma dia," jelas ku.
"Iya, sih, Rhe, bisa jadi. Tapi kita nggak bisa langsung menyimpulkan gitu aja, karena kita enggak punya bukti kuat."
"Iya, Gar. Tapi Gar, setelah aku lihat-lihat vidio tadi aku merasa cara cowok itu bawak motor hampir mirip sama Bima, yaitu badannya yang agak miring ke kiri. Iya, aku ingat banget Bima kalau bawak motor kayak gitu."
"Woww, kamu ingat cara Bima bawak motor, Rhe?" tanya Gar yang kini malah terlihat agak sinis.
Aku mengangguk pelan. "Ya, aku ingat karena kan dia beberapa kali bonceng aku, Gar."
"Tapi kamu sampe ingat cara dia bawak motor, berarti kamu terlalu memperhatikan geraknya, Rhe."
"Aku enggak terlalu memperhatikan, itu kek cuma sepintas aja terlihat sama ku, makanya aku ingat."
"Benar kah? Terus kamu tahu tidak cara aku bawak motor?"
"Gar, kamu kenapa tiba-tiba kayak gini, sih."
"Jawab dulu, Rhe."
Aku menghela napas, kenapa Gar jadi cemburuan seperti ini padahal dari tadi dia biasa saja.
"Ya, aku ingat lah. Kamu kalau bawak motor badannya tegak, tangannya suka nggak bisa diam, kadang mainin kunci, tepuk-tepuk stang motor, kadang sok-sokan lepas tangan, kadang sambil megangin tanganku atau cubitin kakiku."
Gar terkekeh lalu mengacak puncak kepalaku.
"Ternyata kamu teliti juga, ya," ucapnya sambil terkekeh.
"Iya, dong. Rhe gitu, loh. Kamu aja tuh yang tiba-tiba malah sinis gitu, cemburu kamu, ya."
"Ya pasti aku cemburu, cowok mana yang tidak cemburu ketika mengetahui gadisnya lebih memperhatikan cowok lain sampai segitunya."
"Enggak memperhatikan hanya kebetulan terlihat saja, makanya sampai sekarang aku ingat."
"Sama saja, Rhe, intinya kan kamu ingat."
"Enggak, Gar, beda."
"Sama."
"Ih, Gar." karena kesal aku mencubit lengan Gar sehingga membuatnya meringis kesakitan.
Aku tertawa puas, siapa suruh dia mencari masalah denganku kan begini akibatnya.
[][][]