Lelaki yang baik tidak akan melukai wanita, sebab ia mengingat bahwa ia di lahirkan dari seorang wanita juga.
~~~~
Siang ini, setelah selesai makan siang aku dan Gar memutuskan untuk pergi keluar sebentar, mencari angin sambil ngobrol-ngobrol santai.
Kalau dulu, sewaktu Gar pergi aku selalu menghabiskan waktu siang ku untuk tidur, dan kini Gar sudah kembali pastinya akan banyak tempat-tempat baru yang akan ku kunjungi lagi.
"Gar, kita kemana?" tanyaku.
"Ke taman saja ya, Rhe. Sambil minum ice creame."
"Okey." Aku tersenyum senang, hal sederhana seperti hanya duduk di pinggir taman, sambil meminum ice creame atau memakan jajanan pinggir jalan adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Terlebih ketika kita sambil mengobrol santai mengenai hal random yang pernah di alami, hal tersebut sangat berguna agar kita bisa lebih dekat dengan pasangan. Karena terkadang kebahagiaan itu di dapat dari hal yang paling sederhana.
Tak lama kami sampai di taman, aku dan Gar langsung memilih tempat yang tidak terlalu ramai karena kami ingin mengobrol tanpa adanya gangguan. Sebelum mencari tempat, tak lupa kami membeli ice creame dan juga beberapa cemilan yang tidak terlalu berat.
"Kita duduk disini aja, Rhe," ucap Gar.
Aku mengangguk, lalu tersenyum. Kemudian kami langsung duduk.
Gar membukakan ice creame untukku,
"Nah ..." ucapnya sambil menyodorkan ice creame tersebut.
"Terima kasih, Gar." Aku tersenyum, Gar memang selalu seperti ini. Ia peka terhadap hal-hal kecil seperti ini, dan itu yang selalu membuatku merasa sangat beruntung memilikinya.
"Enak, Rhe?"
Aku mengangguk semangat sambil terus menjilati ice creame.
"Makannya jangan berantakan kayak gitu," ucap Gar. Ia mengelap sisa-sisa ice creame yang ada di pipi dan ujung bibirku.
Jujur saja, walaupun sudah lama mengenal Gar, sudah sering pergi dengannya, jalan, tetapi tetap saja setiap kali Gar melakukan hal-hal kecil seperti ini jantung berdetak lebih kencang, aku masih gugup sama seperti pertama kali aku mengenal Gar, dan perasaan ku benar-benar sangat senang bak seorang yang baru mengenal pria. Tidak tahu sampai kapan perasaan ini muncul, tetapi aku harap seterusnya akan begitu dan Gar juga merasakan hal yang sama.
"Terima kasih, Gar," ucapku.
Gar tersenyum, lalu kembali memakan ice creame nya.
Untuk beberapa saat kami saling diam, fokus menghabiskan ice masing-masing sembari menatap jalanan yang tidak begitu ramai.
"Rhe ..." panggilnya.
"Iya, Gar?"
"Saya masih sangat menyesal mengenai kejadian yang menimpa kamu kemarin. Coba aja saya tidak mengijinkan ya, Rhe, pasti kamu tidak akan mengalami itu," ucapnya.
"Udah, Gar, enggak perlu diingat lagi. Toh, ini juga bukan kesalahan kamu, justru ini kesalahan aku karena terlalu memaksa untuk pergi dengannya."
"Enggak, Rhe. Ini kesalahan saya, saya benar-benar menyesal. Saya minta maaf ya, Rhe."
"Gar, kamu enggak perlu minta maaf. Udah ya kita enggak usah bahas itu lagi, yang terpenting saat ini aku sudah selamat."
"Tapi saya tau Rhe, kamu pasti trauma."
"Enggak papa, Gar, lama-lama juga bakalan ilang, kok."
"Enggak semudah itu, Rhe. Atau, gimana kalau kita ke psikolog aja? Kamu butuh penanganan dari profesional biar enggak di pendam-pendam gitu, ntar takutnya malah ngaruh ke psikis kamu, Rhe."
"Enggak perlu, Gar. Kamu tenang saja, aku baik-baik aja, kok. Kalau nanti seandainya aku merasa tidak tenang, aku pasti bilang ke kamu."
"Benar?"
"Iya, Gar, benar."
Dia tersenyum, lalu mengusap puncak kepalaku. Gar selalu memiliki kecemasan berlebihan jika sudah menyangkut keselamatan ku. Dia begitu karena dia sayang padaku, makanya jadi penakut seperti itu. Haha, Gar lucu banget, ya.
"Oh, iya, Gar, gimana keadaan adek kamu? Sudah baik?"
"Ya, begitulah, Rhe. Tidak begitu baik, tapi sedikit ada perubahan," ucapnya.
"Kasihan, ya. Aku pengen, deh, ketemu sama adek kamu. Ngobrol bareng, terus semangati dia. Kira-kira dia bakalan suka nggak ya sama aku?"
"Pasti suka, dong. Dari dulu Disty itu pengen banget punya kakak perempuan, dia selalu bilang sama saya begini 'Bang Gar kapan, sih, punya pacar. Abang kan tahu Disty pengen banget punya kakak perempuan, nanti kalau abang udah punya pacar kenalin sama Disty, ya. Disty pasti akan nerima dengan senang hati.' dia selalu mengatakan itu setiap kali bertemu dengan saya." Gar menceritakan kelucuan adik perempuannya itu dengan wajah yang lucu juga, aku sampai senyum-senyum melihatnya.
"Lucu banget, sih adik kamu. Gemes aku jadinya."
"Iya, Rhe, dia memang seperti itu. Terkadang dia suka cerewet padahal kalau lagi marah gitu bukannya buat saya takut malah saya lucu lihatnya."
"Haha, pasti gemesin banget."
"Sangat menggemaskan. Nanti kalau dia sudah balik ke Indonesia, saya akan kenalin ke kamu. Doakan saya ya, Rhe, semoga Disty benar-benar bisa sembuh. Dia pasti senang banget kalau aku kenalin ke kamu."
"Iya, Gar, pasti aku doain, kok. Aku juga tidak sabar bertemu dengan Disty."
Gar tersenyum. Tadi ketika Gar bercerita mengenai Disty, dari raut wajahnya aku dapat melihat bahwa Gar sangat merindukan adik perempuannya itu, Gar begitu menyayangi Disty, ia sungguh takut jika hal buruk terjadi pada adiknya itu.
Disty benar-benar beruntung punya Abang seperti Gar yang sangat menyayanginya, tidak heran kenapa Gar tidak pernah aneh-aneh dengan perempuan, sebab dia ingat bahwa dirinya mempunyai adik perempuan dan seorang ibu yang sangat ia sayangi. Ia tidak mau kejahatan yang ia lakukan malah berbalik kepada adik atau ibunya. Sebab bagi Gar, mereka adalah kebahagiaan untuk Gar.
Sebenarnya bukan hanya Disty yang beruntung memiliki Gar, tetapi aku juga. Di pertemukan dengan Gar adalah suatu kebetulan yang membuatku merasa sangat bahagia. Gar hadir dengan segala keanehannya yang bahkan di luar nalar, namun aku justru menyukai keanehan itu dan menerimanya dengan senang hati. Hingga saat ini bukan hanya keanehannya yang ku sukai, tapi orang yang memiliki keanehan itu— ya siapa lagi kalau bukan Gar.
Tetapi walaupun aku beruntung bertemu dengan Gar, ada hal yang membuatku tidak seberuntung Disty yaitu; Disty tidak akan pernah kehilangan Gar dan akan selalu menjadi yang paling utama untuk Gar, sedangkan aku kapan saja bisa kehilangan Gar, sebab aku bukan yang paling utama.
Sekalipun Gar sangat mencintai ku, tetapi jika ia dihadapkan dalam dua pilihan yaitu aku atau Disty, dia pasti akan memilih Disty karena Disty adalah prioritas Gar. Dan semua orang pasti akan melakukan hal yang sama begitu pun dengan aku.
Itulah yang membuat aku tidak seberuntung Disty, sebab Gar bisa pergi kapan saja dari hidupku bahkan detik ini. Karena mau bagaimana pun, Gar tetap lah seorang manusia yang di kendalikan oleh yang Maha Kuasa. Dan kapan pun semesta bisa mengubah perasaan Gar padaku, hingga membuatnya pergi dariku.
Membayangkan itu saja rasanya sangat sulit, sebab kehilangan Gar bukanlah hal yang ku inginkan dan tidak akan pernah. Semoga saja kali ini semesta berpihak kepadaku.
[][][][]