Tidak ada hal yang paling di takuti di dunia ini, selain kehilangan orang-orang yang di cintai.
~~~~~~
Setelah beberapa hari kejadian menakutkan itu, kini aku sudah lebih baik, tidak ada lagi ketakutan, trauma, atau hal lain yang menanggung mental ku.
Ini semua berkat Gar juga, ia selalu mensupport ku dalam keadaan apapun, memberikan nasihat-nasihat yang membuatku tenang, dan bahkan ia benar-benar membawaku ke psikolog untuk memastikan kesehatan mental ku.
Untungnya psikolog itu merupakan saudara Gar dan sama baiknya seperti Gar. Dia mengatakan bahwa keadaanku baik-baik saja, tetapi masih ada trauma sedikit tetapi tidak terlalu serius. Dia menyuruhku untuk healing, melakukan hal-hal yang aku suka, jalan-jalan ke tempat yang indah dan harus mulai bertemu dengan orang banyak agar rasa trauma itu hilang.
Dan benar saja, selama beberapa Minggu aku mencoba healing, rasa trauma itu beneran hilang dan semua ini berkat bantuan Gar juga. Ia mengajakku ke tempat yang sangat indah sehingga membuatku merasa jauh lebih tenang, membawaku ke sekolah pinggiran sehingga aku bisa berinteraksi dengan anak-anak di sana, ke pantai asuhan yang banyak anak-anak kecil kurang beruntung namun mereka tetap mensyukuri hidup mereka. Berkat itu semua, aku jadi sadar bahwa hidupku tidak se-menyedihkan yang ku kira, aku masih beruntung ketimbang anak-anak itu.
Dari situ perlahan pikiranku mulai terbuka, dan bertekad bahwa aku tidak boleh seperti ini terus, ada impian yang harus ku kejar dan ada ayah yang harus ku banggakan. Mungkin kejadian kemarin sebagai teguran kepadaku bahwa aku tidak boleh terlalu percaya kepada orang lain, apalagi orang yang baru di kenal.
Semenjak kejadian itu juga Bima tidak pernah menampakkan wajahnya lagi di hadapanku, bahkan sepertinya ia tidak sekolah selama beberapa hari sebab sudah beberapa kali aku melewati kelasnya bahkan masuk ke kelasnya karena disuruh guru, aku sama sekali tidak ada melihat dia. Entah lah, aku bahkan sudah tidak perduli lagi dengan lelaki itu, bahkan ketika dia berhenti sekolah pun aku tidak perduli.
"Woi, Rhea!"
"Ha, eh. Iya, Lola ada apa?" aku tersentak kaget ketika Lola memanggil tepat di telingaku.
"Ih, kamu ni, pagi-pagi gini melamun. Nanti kesambet baru tahu!"
"Melamun? Aku enggak melamun, kok."
"Enggak melamun gimana, dari tadi aku panggil kamu sama sekali enggak dengar. Padahal jarak kita tidak terlalu jauh."
"Serius? Hehe sorry, ya."
"Um, iya, deh. Oh iya, itu tadi ada cowok yang cariin kamu."
"Siapa?"
"Entah aku juga enggak tahu."
"Gar?"
"Bukan deh kayaknya, kalau Gar kan aku tahu mukanya, tapi ini belum pernah lihat."
Aku mengerinyit bingung, siapa yang lelaki yang mencari ku selain Gar, toh selama ini aku tidak punya teman lelaki lagi.
"Terus dia bilang apa?"
"Dia enggak ada nyampein pesan apa-apa, sih. Cuma tadi dia nyari Lo, terus gue mau panggil dia bilang enggak usah. Dan alhasil dia cuma liatin lo dari depan pintu."
Aku semakin bingung, siapa lelaki itu. Kenapa dia tidak mau bertemu dengan ku. Jika itu bukan Gar apa mungkin itu Bima.
"Sebelumnya kamu pernah lihat aku pergi dengannya?"
"Pernah, kalau enggak salah beberapa Minggu yang lalu, jam istirahat kamu pergi sama dia."
Deg.
ternyata benar, itu adalah Bima. Untuk apa dia mencari ku? Setelah semua keberengksek kan yang telah dia lakukan apa masih berani dia melihatkan wajahnya di hadapan ku? Aku bahkan jijik membayangkan mukanya, dan tidak akan pernah lagi mau bertemu dengannya.
Tetapi entah kenapa ketika mengetahui Bima kembali sekolah, perasaan was-was dan takut muncul lagi di benakku. Aku takut Bima melakukan hal yang sama padaku, ia menyakitiku, atau membalaskan dendamnya pada Gar karena waktu itu Gar telah menghabisinya.
Sungguh aku sangat takut, bahkan ketika jam pelajaran aku sama sekali tidak fokus dan pikiranku entah pergi kemana.
Ketika jam pelajaran selesai aku langsung menelepon Gar dan memintanya untuk segera datang ke kelasku. Kami tidak boleh berlama-lama di sekolah, pokoknya beberapa hari ke depan baik aku maupun Gar tidak boleh kemana-mana dulu selain ke sekolah, karena Bima bisa kapan saja membalaskan dendamnya terlebih ketika mengingat bahwa Bima mempunyai banyak teman yang bisa di katakan brandal. Dan tidak menutup kemungkinan Bima meminta bantuan pada mereka.
Tak lama Gar datang dan langsung masuk ke kelasku.
"Kamu kenapa, Rhe? Kenapa muka kamu pucat gini? Kamu sakit?" Gar langsung menghujaniku dengan beberapa pertanyaan.
Aku menggeleng pelan. "Dia datang lagi, Gar," ucapku pelan dan ketakutan.
"Dia? Dia siapa maksud kamu, Rhe?"
"Bima."
Saat itu Gar langsung terdiam, ku lihat rahangnya mulai mengeras dan tanyanya mengepal kuat seolah menunjukkan bahwa ia sangat benci dengan nama itu.
"Dia nemuin kamu?" tanyanya.
Aku menggeleng pelan, "Dia ga temuin aku, tapi tadi kata Lola dia ke sini, nyari aku. Tapi waktu Lola mau manggil aku, dia bilang nggak usah dan akhirnya dia melihati aku dari depan pintu kelas ... Gar, aku takut."
Gar memelukku lalu mencoba menenangkan.
"Kamu tidak usah takut, saya bakalan terus jagain kamu."
"Tapi tetap aja, Gar, dia bisa kapan aja muncul di hadapan kita lalu membalaskan dendamnya. Apalagi dia punya banyak teman yang bisa di bilang berandalan, aku takut Gar."
"Tidak usah takut, Rhe. Lagian untuk apa dia membalas dendam, kan disini dia yang salah dan harusnya yang balas dendam itu saya, Rhe. Pukulan kemarin saja tidak cukup membalas kemarahan saya padanya."
"Gar, kita pulang sekarang, ya. Dan untuk beberapa hari kita enggak usah kemana-mana dulu, aku takut, Gar."
"Rhe, lihat mata saya!" Gar memegang kepalaku, lalu menatapku dalam.
"Kamu percaya, kan, sama saya? Kamu percaya, kan, kalau saya akan selalu melindungi kamu?"
Aku mengangguk pelan.
"Terus apa yang kamu takuti?"
"Aku bukan takut dia menyakitiku lagi, tapi yang aku takuti dia mencelakai kamu, Gar. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan kalau sampai hal buruk terjadi sama kamu. Aku enggak sanggup, Gar."
Aku menangis sebagai bukti bahwa aku benar-benar takut kehilangan Gar.
Dan saat itu juga Gar langsung memelukku.
"Yasudah, saya turuti apa yang kamu bilang. Sudah jangan nangis lagi, kamu tahu, kan, kalau saya tidak bisa melihatmu menangis."
Aku mengangguk lalu perlahan menghapus air mataku. Gar semakin mengencangkan pelukannya, dan beberapa kali mencium puncak kepala ku.
Setelah itu ia melepaskan pelukan kami. Gar menatapku dalam, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Bahkan sangking dekatnya wajah kami saat ini, akan dapat merasakan deru napas Gar yang menggebu-gebu.
Disaat wajah kami semakin dekat, tak lama ...
cupp
Satu kecupan mendarat di bibirku. Sungguh jika bisa, saat ini jantungku pasti sudah keluar dari tempatnya sangking bahagianya aku.
Ini adalah kali kedua Gar mencium bibirku, walau hanya beberapa detik tapi entah mengapa aku sangat bahagia.
Ah, Gar, kenapa sih, kamu selalu berhasil buat aku salah tingkah kayak gini. Menyebalkan sekali.
[][][][]