46. Izin

633 Words
Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur, pikiranku tidak henti mengingat kejadian tadi siang antara aku dan Gar. Rasanya seperti campur aduk, aku sendiri bahkan tidak bisa mendeskripsikannya. Tapi saat ini yang pasti aku sedang senyum-senyum sendiri karena hal itu. Disaat sedang asyik membayangkan moment tadi, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku langsung mengambil benda pipih yang sudah berbunyi itu, dan ternyata Gar menelepon ku. Padahal aku lagi memikirkannya, eh sekarang dia malah menelepon. Sepertinya ikatan batin kami terlalu kuat ya, hehe. Tak mau panggilan ini malah terputus lantaran aku lama menjawabnya, akhirnya dengan cepat aku menjawab. "Halo, Rhe," ucap Gar dari sebrang telepon. "Iya, Gar. Ada apa?" "Tidak ada apa-apa, hanya kangen." Aku tersenyum ketika mendengar jawabannya itu, walaupun aku tahu bahwa Gar tidak bisa melihat senyumku itu. "Rhe ..." "Iya, Gar?" "Pasti tadi kamu lagi mikirin saya, kan?" "Ha? Umm, enggak, ah. Sok tau kamu, ih." "Memang saya tau dong, kan saya bisa tahu apa yang kamu pikiran." Astaga, lagi-lagi aku hampir melupakan kemampuan Gar yang ini. "Ihhh, Gar ..." rengek ku malu karena ketahuan memikirkannya. Ku dengar Gar tertawa dari sebrang telepon, sepertinya ia sangat puas telah menggodaku seperti ini. "Oh iya, Rhe ..." "Iya, ada apa, Gar?" "Sepertinya lusa saya akan pergi." "Pergi ke mana, Gar?" Ku dengar Gar menghela napasnya. "Nanti malam saya ke rumah kamu, ya, biar saya jelaskan secara langsung saja karena kalau lewat telepon kurang efektif." "Um, oke." "Yasudah, kamu istirahat lagi ya, Rhe." "Iya, Gar." "Nanti malam mau di bawakan apa?" "Tidak usah, Gar, yang penting kamu datang ke sini dengan selamat saja aku udah seneng." Gar terkekeh lagi. "Iya, deh. Yasudah kamu lanjut lagi istirahatnya, ya." "Iya, Gar." "Selamat istirahat, puan kecilku." "Selamat istirahat juga, Gar." Dan setelahnya panggilan terputus. Setelah panggilan terputus aku malah bertanya-tanya. Gar mau kemana? Apakah dia akan meninggalkan ku lagi? Atau dia ingin menjauh dari ku makanya ia mau berbicara langsung. Sungguh segala pertanyaan itu muncul di kepala ku, jika bisa aku ingin sore ini secepatnya berganti malam, agar aku bisa mendengar langsung penjelasan dari Gar, tanpa harus menebak-nebak seperti ini. *** Malam telah datang, di temani semilir angin yang sudah bercampur dengan oksigen. Sepertinya pun malem ini akan turun hujan— hal itu dapat di rasakan dari udara yang semakin dingin dan langsung menusuk kedalam tubuh. Aku bahkan tidak perduli lagi jika nanti akan turun hujan, kerena saat ini aku justru sudah menunggu Gar di depan rumah, menunggu kedatangannya lalu bertanya apa dengan dirinya. Tak lama Gar sungguhan datang. Ia membawa sebungkus martabak untuk ku dan ayah. Tetapi bukan itu yang ingin ku terima melainkan, penjelasan darinya. "Gar, duduk," ucapku. Gar tersenyum lalu langsung duduk. Ia menatapku dengan tatapan antara bahagia dan takut. "Rhe ..." "Langsung saja, Gar, jelaskan kamu mau kemana? Aku tidak mau pembahasan lain selain dari itu. Gar terkekeh. "Yasudah iya, saya akan jelaskan," ucap Gar. Ia menatapku serius, bahkan tidak berkedip. "Rhe, sepertinya lusa saya akan menyusul Disty di Kanada." "Memang keadaan Disty gimana, Gar?" "Tadi mama aku ngabarin katanya kondisi Disty semakin lemah dan dia terus manggil namaku, sepertinya Disty rindu dengan saya." Aku terdiam sejenak, merasa kasihan pada Gar. Saat ini Gar adalah anak tertua di keluarganya, ia sangat menyayangi adeknya sehingga sedikit pun hal buruk tidak boleh terjadi pada Disty. "Jadi saya harus secepatnya ke sana agar Disty bisa kembali semangat," lanjutnya. Aku hanya bisa terdiam, tidak bisa melarang namun tidak begitu mengijinkan juga. "Perginya emang harus lusa banget?" tanyaku. Gar mengangguk. "Iya, Rhe, karena Disty benar-benar sangat membutuhkan saya." "Lama nggak?" "Belum tahu, Rhe, yang pasti saya akan kembali ketika kondisi Disty benar-benar sudah baik." Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Ini adalah hal Gar, dan aku tidak bisa melarangnya, apalagi ini sudah menyangkut adek perempuannya. Mau tidak mau aku harus menyetujuinya, karena sekalipun tidak ku setujui Gar akan tetap pergi. [][][]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD