Dia yang tau bagaimana cara mengistimewakan mu adalah dia yang benar-benar menganggap mu berharga di hidupnya.
~~~~
Gar-anteng ❤️
Rhe, saya sudah sampai.
Wah, syukur, deh.
Gimana keadaan Disty?
Tak lama setelah membaca balasan pesan dariku, Gar langsung menelepon sehingga membuatku senyum-senyum sendiri.
"Hallo," ucapku.
"Iya, Rhe. Saya menganggu kamu nggak?"
"Enggak lah, sama sekali enggak mengganggu."
"Syukur, deh, kamu sedang apa?" tanyanya dari sebrang telepon.
"Hanya berbaring saja, Gar."
"Enggak belajar?"
"Udah."
"Anak pintar."
Aku terkekeh.
"Disana jam berapa, Rhe?"
"Jam sembilan malam, nih."
"Disini jam sembilan pagi, Rhe."
"Wah, bener? Enak dong."
"Enak gimana, yang ada saya capek Rhe dari Indonesia sudah menunggu sampai sore disini malah harus menunggu pagi ke sore lagi."
Aku terkekeh, benar juga apa yang dikatakan Gar. Jika di Indonesia dia pasti akan istirahat karena sudah hampir seharian beraktivitas, kini dia malah harus kembali menunggu beberapa jam lagi agar malam datang dan dia bisa beristirahat.
"Oh, iya, Gar. Aku mau nanya, deh."
"Tanya apa, Rhe?"
"Benar kamu nyuruh supir kamu untuk antar jemput aku?"
"Iya, benar."
"Gar, aku bisa terima tawaran kamu."
"Kenapa, Rhe?"
"Ya, aku nggak bisa aja. Kamu tahu kan gimana kondisi keluarga ku, kalau tetangga lihat aku diantar dengan mobil mewah yang ada aku dan ayah jadi bahan cerita, Gar."
"Kenapa harus peduli dengan ucapan mereka? Kan mereka hanya tau menggosipkan tanpa tahu kenyataan sesungguhnya."
"Gar, kamu enak ngomongnya. Tanpa tahu bagaimana perasaan ayah. Intinya aku tidak bisa menerima tawaran kamu, begitupun dengan ayah." aku terus berusaha keukhe agar Gar membatalkan niatnya itu.
Sementara Gar yang berada jauh di seberang telepon hanya bisa mendengus beberapa kali, tanpa berbicara apapun. Sepertinya ia sedang memikirkan cara lain.
"Rhe, dengan di antar jemput oleh supir ku kamu bisa lebih aman, Rhe. Jadi saya disini tidak khawatir denganmu."
"Tidak, Gar. Aku enggak bisa, akan lebih baik aku naik bus saja daripada aku naik mobil mewah tetapi jadi bahan gunjingan tetangga."
"Jadi permasalahan utama adalah kamu tidak mau diantar jemput dengan mobil?"
"Iya, Gar. Aku tidak mau dan tidak tega juga jika tetangga membicarakan hal buruk tentang ayah."
"Kalau naik motor?"
"Tidak juga, lebih baik aku naik bus saja, Gar."
"Tidak, Rhe, nggak aman untuk kamu."
Gar terus memaksaku untuk menerima tawarannya, ia benar-benar keras kepala bahkan disaat sedang jauh dan hanya bisa ngobrol melalui telepon begini ia masih bisa memikirkan keselamatan ku dan mengenyampingkan kepentingannya.
"Gar, kenapa selalu begini, sih. Ayah nggak setuju dan nggak mau merepotkan kamu juga karena selama ini kami sudah terlalu banyak merepotkan kamu."
"Rhe, saya sama sekali tidak merasa direpotkan, saya melakukan ini untuk orang yang saya sayang. Kan, bukan suatu masalah."
"Tapi aku dan ayah tidak mau terus-terusan bergantung denganmu, Gar. Toh, juga kamu sama seperti ku masih sekolah enggak seharusnya kami bergantung dengan mu."
Aku dan Gar terus berdebat, Gar terus berusaha meyakinkan ku bahwa dia tidak merasa keberatan dan dia juga menggaji supirnya dengan uang sendiri bukan meminta orang tua.
Hingga akhirnya kami memutuskan agar aku tetap diantar oleh supir pribadi Gar, namun hanya mengantar dah untuk pulang aku akan tetap naik bus.
Setelah mendapatkan kesepakatan itu barulah panggilan telepon kami terputus, mungkin jika aku tetap mengotot untuk naik bus panggilan telepon tersebut tidak akan terhenti. Sungguh, Gar memang sekeras kepala itu.
***
Karena perdebatan malam tadi, aku sampai lupa mengucapkan terima kasih kepada Gar mengenai hadiah yang ia berikan untukku. Padahal sejak kemarin, aku ingin mengatakan terima kasih tetapi selalu terlupa hanya karena perdebatan-perdebatan kecil kami.
Pagi ini sebelum berangkat sekolah Gar menyempatkan untuk melakukan panggilan video denganku, ia bercerita banyak hal mengenai Disty, salah satunya keadaan Disty yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
Gar juga mengatakan bahwa Disty sangat ingin bertemu dengan ku, ia bahkan meminta agar Gar membawaku kesana dan bertemu langsung dengannya. Mendengar antusias Disty seperti itu membuatku bahagia, ternyata Disty bisa menerima ku walau kami belum pernah bertemu sebelumnya.
"Jadi kapan kamu mau kesini?" tanya Gar dari sebrang telepon.
"Nanti, kalau sudah lulus sekolah."
"Kelamaan, Rhe. Disty kan mau bertemu kamu secepatnya."
"Gimana lagi, Gar, aku juga kan memikirkan sekolah."
"Gimana kalau waktu libur saja?" enak sekali Gar mengatakan itu, seolah Kanada dan Indonesia jaraknya dekat dan bisa pulang hanya dengan menggunakan angkot. Sungguh Gar sangat menyebalkan.
"Libur juga paling cuma sehari dua hari, Gar. Nggak ada libur panjang lagi, kecuali tahun depan," ucapku.
"Tapi kan nanti ada libur ketika anak kelas 12 ujian."
"Sama saja, kan kamu balik ke Indonesia, Gar."
"Ah, iya saya lupa. Kalau tidak selesai kamu ujian, dong. Tapi masih lama juga."
"Belum tahu, Gar, lihat nanti saja."
"Ah, nggak asyik kamu Rhe."
Aku terkekeh melihat wajah Gar yang mendadak jadi lucu karena memohon layaknya anak kecil itu. Mungkin jika ia ada disini aku sudah mencubit pipinya, agar dia tahu rasa.
"Ohiya, Gar, aku mau mengucapkan terima kasih sama kamu. Aku suka giftnya," ucapku sambil tersenyum.
"Terima kasih kembali, Rhe. Bagus deh, kalau kamu suka jadi saya nggak sia-sia buatnya."
"Ya pasti suka, dong, siapa juga yang nggak suka di kasih hadiah lucu kayak gitu."
Gar terkekeh sehingga membuat matanya menyipit, ia terlihat sangat menggemaskan.
"Oh iya, Gar, btw ternyata kamu diam-diam suka memfoto saya, ya. Ketahuan kamu, kan." aku tertawa karena telah berhasil meledak Gar, selama ini Gar terlihat sangat cuek sehingga tidak ada di benakku terpikir bahwa ia akan mengambil fotoku secara diam-diam. Mungkin untuk beberapa orang yang sudah sering melakukannya ini adalah hal yang biasa, namun berbeda dengan hubunganku dan Gar.
Gar hanya tersenyum sambil menganggruk-garuk kepalanya, gerak-geriknya yang terlihat salah tingkah membuat ingin terus meledeknya.
Namun, tiba-tiba supir Gar— yang sampai saat ini belum ku ketahui namanya datang untuk menjemput ku dengan menggunakan Vespa orange Gar.
"Selamat pagi, mbak, Rhea," sapanya dengan senyuman lebar. Ia terlihat sangat bersemangat.
"Pagi juga, Pak."
"Saya sudah cocok jadi Mas Gar Kw nggak, mbak?"
Aku tertawa, begitu pun dengan Gar yang mendengar perkataan bapak itu.
"Pak Sam, sudah pandai sekarang, ya," ucap Gar dari sebrang telepon.
"Ha? Eh, kok, ada suara Mas Gar? Ada Mas Gar, mbak?"
Aku tertawa melihat raut wajah supir pribadi Gar— yang ternyata bernama Pak Sam itu— ia kalang kabut ketika mendengar suara Gar dan mengira bahwa Gar ada disini.
"Tidak, Pak, ini saya sama Gar sedang video call," ucapku.
"Oalah, saya pikir Mas Gar loh ada disini."
"Haha, enggak kok, Pak."
"Pak Sam jangan goda-godain Rhe, ya, awas saja kalau ketahuan saya kasih tau sama bibi," celetuk Gar lagi.
"Nggak, kok, Mas. Saya juga tidak berani menggodai pacar majikan saya, yang ada saya di pecat."
"Oh, berarti kalau bukan pacar saya bapak berani godain gitu? Saya kasih tau sama bibi, ya—"
"Tidak, Mas, Gar. Saya juga enggak berani."
"Bener, ni?" tanya Gar lagi.
"Iya, Mas Gar bener."
Aku dan Gar terkekeh melihat ekspresi Pak Sam. Wajahnya yang lugu dengan suara medok khas jawa menjadi perpaduan yang sangat cocok untuk melucu. Pantas saja Gar sangat senang dengan kepribadian Pak Sam yang lucu dan lugu seperti ini.
"Yasudah, ya, Gar, aku pergi dulu."
"Iya, Rhe, hati-hati, ya. Kabari saya kalau sudah sampai."
"Iya, kamu nanti istirahat, ya. Tidur biar enakan badannya."
"Iya, Rhe. Yasudah kamu hati-hati, ya. Pak Sam jangan lupa jagain, Rhe, ya. Antar dia sampai sekolah dengan selamat."
"Siap, Mas Gar, pasti."
Setelah itu panggilan terputus. Aku di antar oleh Pak Sam dengan Orange kesayangan Gar.
Selama di perjalanan Pak Sam tidak henti berbicara, sepertinya ia berusaha untuk membuatku tidak jenuh seperti apa yang dilakukan Gar padaku. Mungkin ini juga perintah dari Gar, sehingga Pak Sam mau melakukannya.
[][][][]