53. Gift Spesial Untuk Orang Spesial

1258 Words
Kamu akan tahu bahwa dia benar-benar mencintaimu disaat ia meluangkan waktunya untukmu di tengah-tengah kesibukan yang ia hadapi. ~~~~~ Kini aku sedang berada di perjalanan menuju rumah, seperti yang di katakan Gar tadi bahwa aku akan di antar oleh supirnya sampai rumah dan aku hanya menurut saja. "Nama mbak, Rhe, ya?" tanya Pak supir itu. "Eh, iya, pak. Tau dari mana?" "Mas Gar sering banget cerita tentang mbak, hampir setiap hari dia cerita tentang mbak ke saya. Kayaknya Tuan Gar sangat sayang sama mbak." "Wahh, benar kah, pak? Gar cerita apa saja?" "Banyak sekali, pokoknya semuanya tentang mbak. Dia bilang kalau Mbak itu baik sekali, pendiam, dan nggak suka keramaian. Dia juga bilang mbak Rhe itu anaknya pintar, sayang sama orang tua dan nggak neko-neko." Aku terkekeh, ternyata diam-diam Gar selalu menceritakan ku dengan pekerja di rumahnya. Walaupun di depan ku dia terlihat cuek tetapi ternyata sebenarnya dia bucin. "Dia cuma cerita ke bapak saja?" "Enggak, sama istri saya juga. Kebetulan istri saya art di rumah mas Gar." Astaga ternyata Gar sangat mengidolakan ku ya, buktinya ia menceritakan semua tentangku pada art dan supirnya ini. Haha, Gar lihat saja kamu ya, akan ku tertawai kalau sudah pulang nanti. "Kayak kemarin sebelum pergi Mas Gar bilang ke saya kalau saya harus antar mbak sampai ke rumah, dia juga bilang selama dia tidak disini saya yang harus antar dan jemput mbak ke sekolah katanya biar aman dan Mbak Rhe tidak di dekati oleh cowok lain." "Ha? Serius pak, Gar bilang kayak gitu?" "Iya, Mbak, serius. Kalau nggak percaya tanya aja sama Mas Gar langsung." Astaga, sungguh Gar benar-benar tidak bisa di tebak. Bisa-bisanya ia menyuruh supirnya untuk mengantar jemput ku tanpa memberitahu lebih dulu. "Pak, tapi kayaknya itu nggak perlu, deh. Bapak nggak usah antar atau jemput saya, ya. Saya bisa naik bus, kok," tolak ku secara halus. "Duh, gimana ya, mbak. Kalau nggak saya laksanakan tugas dari Mas Gar yang ada nanti dia marah, lagi pula saya juga senang, mbak, karena akhirnya dapat kerjaan. Sebelumnya saya kerja serabutan dan nggak jelas, ini juga hitung-hitung Mas Gar membantu saya." Aku jadi merasa serba salah, sebenarnya aku tidak mau jika harus di antar jemput seperti ini, apalgi posisinya Gar tidak ada disini, tapi di sisi lain aku kasihan dengan bapak ini yang justru malah senang karena akhirnya mendapatkan pekerjaan. Tapi sungguh aku tidak bisa menerimanya, apalagi jika di antar jemputnya dengan mobil mewah seperti ini. Sebagai orang yang berasal dari kalangan kurang mampu aku justru merasa tidak pantas dan tidak nyaman naik mobil mewah seperti ini, dan aku juga takut jika para tetangga malah menjadikanku bahan gunjingan lantaran mendadak pergi dan pulang sekolah naik mobil. "Tapi saya tidak enak, pak, kalau seperti ini karena ini juga bukan tanggung jawab Gar. Saya tidak mau merepotkannya," ucapku lagi. "Duh, gimana, ya, mbak. Coba deh nanti tanya aja ke Mas Gar ya, mbak, gimana bagusnya aja. Kalau memang tidak jadi saya juga tidak bisa memaksa, mungkin belum rezeki saya." Aku mengangguk pelan, sebenarnya aku juga tidak tega melihat bapak ini karena ternyata tidak jadi bekerja, tetapi mau bagaimana lagi aku benar-benar tidak bisa menerima tawaran ini. Mungkin nanti aku akan menghubungi Gar agar ia memberikan pekerjaan lain kepada bapak tersebut, yang terpenting pekerjaannya bukan mengantar jemputku seperti yang ia mau. Tak lama kami sampai di rumah ku, sang bapak langsung turun dan berniat membukakan pintu namun dengan cepat aku larang. "Tidak usah, Pak, saya sendiri aja." "Enggak papa, mbak." "Enggak usah, pak, karena itu sama saja saya tidak sopan dengan orang tua." "Tapi kan itu tugas saya." "Itu tugas bapak kalau sedang mengantar keluarga Gar, kalau sama saya tidak usah pak, toh saya juga dari orang biasa, kok. Jadi santai saja." Sang bapak tersenyum lalu mengangguk. "Yasudah saya masuk ya, pak. Terima kasih." "Iya, Mbak. Sama-sama." Aku langsung turun dari mobil, lalu masuk ke rumah. Namun baru beberapa langkah aku berjalan, sang bapak memanggil lagi. "Iya, Pak, ada apa?" tanyaku ketika bapak itu telah berada di depanku. "Ini saya hampir saja lupa memberikan," ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak yang di lapis kertas hias. "Apa ini, pak?" tanyaku heran. "Saya juga kurang tau, mbak. Ini dari mas Gar dan saya di suruh kasih ke mbak." "Oh, gitu. Oke, deh, Pak. Terima kasih." "Sama-sama, mbak." Setelahnya aku lanjut masuk ke rumah, dan di ruang depan ternyata sudah ada ayah yang menunggu. "Assalamualaikum, Yah." "Waalaikumsalam, Rhe. Gimana Gar sudah berangkat?" "Sudah, Yah. Gar kirim salam sama ayah, katanya ayah sehat-sehat." Ayah terkekeh, mungkin ia berpikir bahwa walaupun Gar pergi ia tidak pernah melupakan aku dan juga ayah. "Tadi kamu diantar siapa?" tanya ayah lagi. "Oh itu, supirnya Gar. Tadi Gar yang nyuruh." Ayah mengangguk-anggukan kepalanya. "Ohiya, Ayah ..." "Iya, ada apa?" "Rhe lagi bingung banget ini." "Bingung kenapa? Baru aja Gar pergi, masa kamu sudah bingung begitu." "Ih, bukan itu, Yah." "Terus?" "Jadi gini, tadi pak supir itu bilang kalau dia disuruh Gar untuk antar dan jemput Rhe ke sekolah, dengan mobil itu. Otomatis Rhe nolak dong, apa kata orang nanti kalau Rhe di antar jemput pakai mobil mewah kayak gitu. Lagian Rhe sama Gar juga belum menikah, jadi Rhe ngerasa nggak ada hak untuk nerima itu. Menurut ayah gimana? Rhe tolak aja, kan?" "Iya, Rhe, tolak aja. Lagian kita sudah terlalu banyak merepotkan Gar, dan benar juga yang kamu bilang, apa kata orang nanti, yang ada kita malah jadi bahan gunjingan di sini. Orang-orang kan tahu keadaan ayah gimana, kalau nanti mereka melihat kamu diantar jemput pakai mobil kayak gitu pasti mereka akan berpikir aneh-aneh tentangmu. Ayah nggak mau itu sampai terjadi." "Iya, Yah. Rhe juga berpikiran seperti itu. Tapi Rhe juga merasa kasihan sama bapak itu, dia bilang kalau dia senang dikasih Gar pekerjaan ini karena sebelumnya dia nggak bekerja. Rhe nggak enak sama bapak itu." "Mau gimana lagi, Rhe, mungkin belum rezekinya. Bilang saja sama Gar kalau kamu enggak bisa nerima itu dan suruh Gar carikan pekerjaan lain untuk bapak itu. Mungkin jadi satpam atau yang lain, pasti ada, kok." "Iya, ayah, Rhe akan coba obrolin lagi sama Gar." ucapku. Setelah itu aku izin ke kamar untuk istirahat sebentar, badanku terasa sangat pegal dan aku harus tidur. Tetapi sebelum tidur aku akan membuka kado yang telah disiapkan Gar untukku, karena aku sangat penasaran apa isinya. Aku tidak menyangka Gar berpikir untuk memberikan kado sebelum pergi ke Kanada, entah kapan ia menyiapkan ini semua padahal aku sangat tahu bahwa sebelum berangkat ia terus bersama ku. Tetapi bisa-bisanya ia menyempatkan untuk membuat ini, Gar semakin sweet saja. Bungkus kado tersebut sudah terbuka dan tanpa menunggu aku langsung membuka kotak tersebut. Betapa senangnya aku melihat isinya yang ternyata bukan hanya satu jenis tetapi ada beberapa, yaitu; boneka beruang berukuran sedang yang sangat lucu, ada satu gaun yang sangat cantik, beberapa makanan ringan, dan satu benda yang membuatku tertarik yaitu sebuah notebook berwarna hitam yang sampulnya ada fotoku dan Gar. Aku tersenyum melihatnya dan sama sekali tidak menyangka bahwa Gar mempersiapkan ini semua. Aku langsung membuka buku tersebut, ternyata bukunya berisi kumpulan foto-foto ku dan juga Gar, serta ada beberapa kata-kata yang ia tulis untukku. Setiap lembar buku tersebut berisi foto kami, ada juga beberapa fotoku yang diambilnya secara diam-diam, dan dibawah foto tersebut ditulis beberapa bait kata yang membuat ku merasa sangat terharu. Lagi-lagi Gar memberikan kejutan yang tak terduga untukku, dia berhasil membuatku kagum untuk yang kesekian kalinya. Tiap kata yang ia tulis memilki makna yang sangat dalam, perasaan ku jadi campur aduk antara bahagia namun juga sedih. Bahagia karena ternyata Gar benar-benar menganggap ku spesial, namun sedih karena lagi-lagi kami harus terpisah oleh jarak. [][][][]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD