52. Keberangkatan Gar

1441 Words
Terkadang manusia sering kali menyakiti manusia lain, seolah mereka lupa bahwa Tuhan menciptakan untuk saling mengasihi bukan melukai ~~~ Jam istirahat kali ini benar-benar terasa berbeda karena Gar tidak ada bersamaku. Jika sebelumnya ia selalu menemaniku dalam keadaan apapun, kali ini tidak. Sang peramal itu sedang menyelesaikan urusannya sendiri yang tidak melibatkan ku di dalamnya. Hari pertama Gar tidak disini, aku memutuskan untuk menghabiskan jam istirahat di perpustakaan saja— kebiasaan yang dulu selalu ku lakukan— sebelum Gar hadir di hidupku. Aku menghabiskan jam istirahat ku dengan berkutik pada beberapa buku yang super tebal. Semenjak mengenal Gar aku merasa sudah sangat jarang membaca, ke perpustakaan saja mungkin bisa di hitung dan itu juga bukan untuk membaca melainkan untuk duduk bersantai sebentar. Dan kini, aku benar-benar melepaskan rasa rindu pada buku-buku ini dengan membuat list buku aja saja yang aku baca, setidaknya sebelum Gar kembali aku harus menghabiskan paling sedikit dua puluh buku untuk k*****a. Tetapi, baru saja beberapa menit aku berada di perpustakaan, tiba-tiba perutku terasa sangat lapar padahal dulu aku bahkan tahan berjam-jam tidak makan demi menamatkan satu buah buku. Karena merasa semakin tidak kuat, akhirnya aku langsung menuju kantin dan sepertinya setelah dari kantin aku akan langsung ke kelas karena bel masuk beberapa menit lagi juga akan berbunyi. Walaupun jam istirahat sudah mau selesai, ternyata kantin masih saja ramai tetapi bedanya mayoritas diisi oleh siswa laki-laki yang sedang menongkrong dengan teman-temannya. Sebenarnya aku sangat malas masuk ke kantin kalau ada sekumpul laki-laki seperti ini, karena dulu sewaktu SMP aku pernah di ejek oleh beberapa anak laki-laki yang sedang duduk di kantin, mereka mengatakan bahwa dandanan ku kampungan sekali seperti orang desa, saat itu aku tidak berani lagi ke kantin dan trauma itu terbawa hingga saat ini. Namun karena tidak tahan dengan keadaan perut yang semakin lapar, akhirnya aku mengumpulkan segala keberanian ku dan mencoba berdamai dengan masa lalu itu, aku yakin aku pasti bisa melewati kerumunan itu, toh saat ini juga dandanan ku tidak kampungan lagi seperti waktu di bangku SMP. Ketika melewati mereka aku berusaha untuk tetap tenang dan cuek saja, walau masih ada beberapa yang memanggilku dengan panggilan 'adek' dan ada juga yang bersiul seolah mereka tidak pernah melihat cewek. Setelah memesan beberapa makanan, aku langsung memutuskan untuk kembali ke kelas. Namun, sewaktu mau pergi tiba-tiba seorang siswa menghalangi jalanku. "Halo, Dek, kelas berapa? Kok keknya baru liat?" tanyanya. "Um, kelas sepuluh, kak," jawabku. Jujur saja aku sangat risih jika di ajak bicara di depan orang banyak seperti ini, terlebih saat ini teman-temannya sedang tertawa seolah lelaki ini sedang melucu. "Boleh kenalan nggak?" "Umm, maaf ya, kak, aku buru-buru." "Santai aja atuh, dek, kan belum bel." "Um, iya, kak, tapi aku mau ke kamar mandi," ucapku berbohong dengan harapan ia minggir dan memberikan ku jalan. "Wih, mau ke kamar mandi tu, Tar, apa lagi gas lah tunggu apa lagi," cetus salah satu temannya yang duduk di atas meja. Lelaki yang di panggil 'Tar' itu lantas menatapku dengan senyum-senyum, yang jujur saja membuatku geli. "Oh, mau ke kamar mandi, ya? Gimana kalau kakak temenin." Deg, saat itu juga dadaku terasa sakit, kejadian beberapa lalu yang hampir saja dilakukan Bima padaku kembali berputar-putar di kepala, perlahan tubuh ku pun mulai bergetar dan mata mulai memanas. Lalu spontan tanganku melayang ke wajah pria itu. Sekali tamparan lepas begitu saja di wajah lelaki yang bahkan tidak ku kenal, setelah itu aku langsung berlari sekencang-kencangnya, air mata setetes demi setetes mulai tumpah, aku bahkan tidak lagi melihat sekitar ku dan hanya fokus berlari ke mana saja yang pasti tidak ada seorang pun di sana. Gar, baru satu hari kamu tidak bersamaku, tetapi penghinaan itu kembali ku rasakan. Gar, aku takut, mereka terlalu jahat untukku. Gar, hanya denganmu aku merasa aman. Sungguh, bumi ini tidak cocok untukku jika tidak ada kamu di dalamnya. *** Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depanku, tak lama seseorang yang sangat ku kenal keluar dari dalamnya. "Rhe, kamu sudah lama menunggu?" "Tidak, kok, Gar. Aku juga baru disini." Dia tersenyum, lalu mempersilahkan ku masuk ke dalam mobilnya. "Ini mobil siapa Gar?" tanyaku, karena selama mengenalnya aku tidak pernah melihat mobil ini. "Mobil ibu saya, Rhe," ucapnya Aku hanya menganggukkan kepalaku, ternyata selama ini Gar punya mobil tetapi ia tidak pernah memamerkannya. "Sebelum ke bandara kita jalan-jalan dulu ya, Rhe." "Kemana?" "Kemana aja, yang penting kamu senang." "Nanti kamu telat." "Nggak, Rhe. Pesawatnya berangkat jam lima sore, kok," jawabnya. "Tapi kan bisa saja jalan macet, yang ada kamu ketinggalan pesawatnya." "Tapi, Rhe—" "Enggak usah, Gar, kita jalan-jalannya keliling bandara aja. Kayaknya seru, lagi pula aku belum pernah ke bandara." Gar terkekeh, "Yasudah, iya," jawabnya. Aku tersenyum, lalu beralih melihat jalan. Jujur saja aku masih merasa sedih karena kejadian tadi, entah bagaimana hari ku besok. Mungkin orang tersebut akan mencari tahu tentangku dan membalaskan dendamnya. Mataku mulai berlinang dan siap untuk menumpahkan benda cair dari dalamnya. Sebelum Gar melihat, dengan cepat aku menghapusnya. "Rhe ..." panggilnya. "Umm, iya, Gar?" "Kamu kenapa?" "Nggak papa, Gar." "Jangan bohong, Rhe. Saya tahu kamu lagi sedih." Aku hanya terdiam, tidak tahu lagi harus menjawab apa, pun dadaku terasa sesak. "Ada yang nyakitin kamu?" tanyanya. Aku menggeleng pelan. "Jawab, Rhe. Saya tahu kamu sedih, tapi saya nggak tahu apa alasannya. Jadi saya mohon, kasih tau saya." Aku tidak mau Gar sampai mengetahui hal ini, karena jika dia mengetahuinya bisa-bisa keputusan untuk mengundurkan keberangkatannya ke Kanada benar-benar ia lakukan. "Rhe, kamu nggak mau kasih tau saya?" "Aku nggak papa, Gar. Aku cuma merasa sedih aja karena harus jauh dari kamu." "Bener hanya itu?" Aku mengangguk. Lalu Gar memelukku erat, mencium puncak kepalaku beberapa kali dan terus menenangkan ku. Perlakuannya yang begitu lembut membuat air mataku tumpah dari tempatnya, aku benar-benar tidak sanggup harus melewati semua ini tanpa Gar. "Rhe, kenapa malah nangis? Jangan nangis gitu," ucapnya sembari menghapus air mataku. Aku tidak perduli lagi, saat ini aku hanya ingin menangis sambil terus memeluk Gar, karena setelah ini belum tentu aku masih bisa memeluknya seperti ini atau tidak. "Rhe, jangan nangis atau saya membatalkan keberangkatan ini," ancamnya. Tidak mau hal itu sampai terjadi, perlahan aku mencoba menenangkan diri agar tidak nangis lagi, tetapi aku sama sekali tidak mau melepas pelukanku dari badan Gar karena nanti aku akan sangat merindukan pelukan ini. Selama di perjalanan menuju bandara Gar beberapa kali membuat lelucon sehingga membuat mood ku jauh lebih baik, kami juga beberapa kali mengambil foto untuk kenang-kenangan selama Gar berada di Kanada. Tak lama kami sampai di bandara, Gar mengajakku berkeliling dulu, membeli makanan, dan lagi-lagi mengambil beberapa foto. "Nanti, kalau saya sudah tamat sekolah dan kamu libur, saya akan ajak kamu ke Kanada dan akan saya kenalin ke seluruh keluarga saya," ucapnya ketika kami sedang duduk menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang akan di naikin Gar. "Bener?" "Iya, Rhe, bener. Malah kalau kamu mau sekarang saya akan sangat senang." "Ih, nggak bisa kalau sekarang, kan aku harus sekolah." "Iya, iya, makanya nanti tunggu libur aja." "Oke, ohiya kamu berapa lama di sana?" "Kalau itu saya belum bisa pastiin, tergantung keadaan Disty juga, kalau dia sehat saya akan secepatnya pulang. Kamu doain aja, ya." "Siap, aku bakalan selalu doain supaya Disty bisa sembuh secepatnya." Gar tersenyum lalu mengelus puncak kepalaku. Tak lama pemberitahuan jadwal keberangkatan pesawat yang akan di tumpangi Gar mulai di umumkan, dan para penumpang di persilahkan untuk masuk ke pesawat. Aku menatap Gar dalam, sungguh aku tidak begitu siap untuk berpisah dengannya. Gar memelukku, lalu mencium pipiku beberapa kali. "Kamu jaga kesehatan, ya, selama saya tidak bersama kamu. Kalau ada yang jahatin kamu, tandai orangnya. Nanti setelah saya kembali akan saya beri dia balasan karena sudah berani menyakiti gadisku," ucapnya. "Kamu juga jaga kesehatan, jangan genit-genit disana ya, Gar." Gar terkekeh lalu mengacak puncak kepalaku. "Enggak ada yang bisa gantiin posisi kamu di hati saya," ucapnya dan berhasil membuatku tersipu malu. Lagi-lagi kami berpelukan sebelum Gar benar-benar pergi. "Nanti kamu pulangnya di antar sama pak supir, ya. Dia bakalan antar kamu sampai rumah." Aku mengangguk pelan. "Sampaikan salam saya sama ayah, dan semoga ayah sehat-sehat terus." "Iya, Gar." "Kamu jangan sering-sering sedih, kalau kangen vidio call saya." "Iya, Gar." "Satu lagi, jaga hati, mata, dan cinta kamu untuk saya." Aku tersenyum, lalu mencubit pipinya. "Iya, Gar-anteng." Gar terkekeh. "Saya berangkat ya, Rhe." "Iya, Gar. Kabari kalau sudah sampai, ya." "Siap, bos." Gar langsung berjalan menuju pesawat, aku terus memperhatikan tubuhnya yang perlahan mulai menjauh. Lagi-lagi air mataku menetes begitu saja, sangat berat rasanya melepas kepergian Gar terlebih dengan situasi ku yang seperti ini. Aku masih sangat membutuhkannya, tapi aku tidak mau egois. Sebab Gar masih memiliki keluarga yang harus di tanggung jawabinya, sementara aku hanya orang asing di hidupnya. [][][][]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD