15. Senin Bersama Gar

1077 Words
Setelah kejadian semalam, Gar semakin bertambah over denganku. Seperti pagi ini, ia memaksa agar aku pergi ke sekolah dengannya padahal aku sudah bilang akan naik bus saja tetapi ia tetap memaksa dengan alasan ia tidak mau kejadian seperti semalam terulang lagi. Sungguh Gar sangat keras kepala, tetapi jujur saja entah mengapa hatiku merasa senang di perlakukan spesial seperti itu. Kini aku telah siap dan tinggal menunggu Gar saja. Aku sengaja menunggunya di luar, karena tak mau kejadian Minggu lalu terulang lagi-- di saat Gar menunggu di luar tanpa memanggil ku terlebih dahulu, padahal pada saat itu aku sedang menunggunya. Tak lama suara motor yang kini begitu ku kenali terdengar lalu setelahnya sosok Gar hadir. Aku tersenyum, senyum yang menyambut kedatangan Gar di pagi ini. "Sudah siap?" Tanyanya. Aku tersenyum, "tentu sudah." "Ayah kamu mana? Saya mau pamit dulu." "Tadi kata ayah kita berangkat saja, karena ayah sedang di kamar mandi." "Benar?" "Iya, Gar, benar." Gar menganggukkan kepalanya, lalu setelah itu memasangkan helm di kepalaku. Ah, di pagi seperti ini Gar sudah membuat jantungku berdetak tidak normal saja. "Sudah sarapan?" Ia bertanya sambil mengunci helm yang sudah ada di kepalaku. "Sudah, Gar." "Topi, dasi, sudah di bawa?" "Iya sudah." "Semua buku pelajaran sudah lengkap?" "Iya, Gar, sudah. Kamu ih udah kayak ayah saja." "Ya memang harus seperti itu, Rhe. Bagi ayah kamu adalah putri kecilnya dan bagi saya kamu adalah puan kecil saya. Sama-sama gadis kecil yang harus di jaga." Aku tersenyum, bisa ku pastikan saat ini wajahku sudah merona merah dan ini semua karena ulah Gar. "Kita berangkat sekarang?" "Iya dong, Gar. Buruan ntar takutnya telat." "Tenang saja, bersama saya kamu nggak akan mungkin telat." Aku mencubit pundaknya, "Sok iya kamu mah." Ucapku. Gar terkekeh lalu mulai menyalakan kembali motornya. "Pegangan," ucapnya ketika aku telah duduk di atas motor. "Iya bawel." Ku dengar Gar terkekeh dan setelah itu mulai melajukan motornya. Seperti biasa, Gar selalu bersenandung layaknya seorang yang sedang sangat bahagia. Ia sama sekali tidak peduli walaupun ada orang lain yang mendengarnya, karena baginya selama itu tidak menganggu ia akan terus melakukannya. "Gar ..." Panggilku. "Iya, Rhe." "Ganti dong lagunya, yang lain. Masa setiap hari itu terus." "Gausah teriak-teriak, Rhe. Kamu ngomong di dalam hati saya juga bisa dengar." Aku menepuk jidatku, merasa bodoh bisa sampai melupakan hal itu. "Yasudah saya ganti, ya." Gar mulai bersenandung lagi, namun kini dengan lagu yang berbeda. Ah, entahlah aku selalu suka dengan setiap lagu yang ia nyanyikan. Walau tak begitu jelas terdengar yang pasti lagu itu seolah berhasil membawa ku terbawa suasana. Dan itu semua karena Gar. Tanpa terasa kami sampai di sekolah, Gar langsung memarkiran motornya di tempat parkir kemudian melepas helm yang tadi ku kenakan. "Kenapa tidak parkir di rumah pak Mamat saja?" Tanyaku. "Takutnya nanti tidak keburu karena memerlukan banyak waktu untuk berjalan dari rumah pak Mamat ke sekolah. Saya tidak mau nanti kita telambat dan kamu dihukum." "Oh, begitu." Gar meraih tanganku, berjalan masuk menuju area sekolah. Sekolah masih sepi, mungkin karena masih terlalu pagi jadi para murid belum berdatangan. "Kita kecepatan ya, Gar?" "Sepertinya begitu. Tapi kan lebih baik seperti itu, dari pada kita telat kan?" "Iya sih, tapi aku--" "Takut berada di kelas?" Aku tersenyum lalu mengangguk perlahan. "Kita duduk di taman dulu mau?" "Boleh." Gar selalu berhasil menjadi penenang ku. Ia selalu tahu apa yang aku ingin dan apa yang tidak aku inginkan. Sungguh aku sangat beruntung di pertemukan olehnya. "Kita ke kelas kamu dulu, ya, untuk menyimpan tas kamu." "Iya, Gar." Koridor kelas sepuluh sepi, hanya ada beberapa siswi yang sedang duduk di depan kelas. Mungkin mereka juga marasakan hal yang sama seperti ku makanya mereka menunggu di luar. Selama di perjalanan menuju kelas aku dan Gar tidak ada yang bersuara, kami hanya diam tak tau mau membahas apa. Tetapi tangan Gar sama sekali tidak melepas genggaman tangannya dari tanganku dan karena itulah beberapa siswi yang telah datang terus saja memperhatikan kami. Setelah sampai di kelas aku langsung meletakkan tas ku di laci lalu kembali menyusul Gar. "Tidak capek, Rhe?" Tanyanya yang berhasil membuatku bingung. "Capek? Nggak kok." "Yakin? Kita harus turun naik tangga, sekarang yakin mau turun lagi? Ini lantai tiga loh, Rhe?" "Terus gimana?" "Kita disini saja, ya. Sampai bel berbunyi baru kita turun. Saya nggak mau kamu kecapekan apalagi nanti kita harus upacara." "Yasudah, Gar. Terserah kamu saja." Kami memilih untuk tetap berada di kelasku, melihat orang-orang berlalu lalang dari lantai tiga. "Mereka keliatan kecil gitu ya, Gar." "Karena jaraknya jauh, Rhe jadi penglihatan kita mengecil." "Lucu, kayak semut." Tanpa kusadari Gar memandangi wajahku tanpa sedikit pun beralih dan ketika aku melihat balik ke arahnya, ia malah tersenyum. "Kenapa lihatin aku kayak gitu." "Kamu lucu." "Kamu baru tahu?" "Haha, sudah lama kok." "Terus kenapa baru bilang sekarang?" "Untuk apa aku memberitahu hal yang semua orang sudah mengetahuinya." Blush, lagi-lagi pipi ku merona di buatnya. "Gar ..." "Iya, Rhe?" "Terima kasih, ya." "Untuk?" "Semuanya." "Saya belum memberi apa-apa untuk kamu, jadi kenapa berterima kasih." "Dengan kehadiran kamu di hidup aku saja sudah lebih dari cukup dan berhasil membuat aku bahagia." "Rhe, sejak kapan kamu bisa puitis kayak gini." Aku terdiam sejenak lalu tanpa sadar menutup wajahku dengan tangan. Ah, sungguh aku juga baru sadar kenapa aku bisa mengatakan hal itu pada Gar. Semesta aku sangat malu. "Kenapa malu begitu?" "Ha? Em enggak kok." "Tidak apa-apa, Rhe. Saya suka kamu seperti itu, lebih percaya diri. Terus begini ya, Rhe." "Em enggak gitu--" "Kenapa gugup gitu?" "Enggak, kok." "Itu gugup, malah mukanya merah lagi." "Gar ihh." Lagi-lagi aku menutup wajahku, Gar dia berhasil membuatku malu untuk yang kesekian kalinya. Ku lihat Gar tertawa. Tawanya lepas. Dan aku bahagia melihatnya. Tanpa kami sadari sekolah semakin ramai, para murid sudah berdatangan dan sepertinya bel akan berbunyi. "Mau turun?" Tanya Gar masih dengan sisa tawanya. "Iya, Gar. Kayaknya sebentar lagi juga bakalan bel, kan." Gar mengangguk. Kami berjalan menuruni tangga, beberapa siswa dan siswi memperhatikan kami. Bahkan ada beberapa anak perempuan yang memanggil nama Gar, aku tidak tahu siapa mereka tetapi sepertinya mereka anak kelas sebelas. Gar sama sekali tidak memperdulikan panggilan dari beberapa siswi tersebut, ia terus berjalan dengan tangan yang menggenggam erat tanganku. Jujur saja ada rasa senang di benakku, tetapi ada juga rasa takut. Takut kalau orang-orang menganggap ku rendah karena berani mendekati seseorang yang mungkin pria idola di sekolah ini. Semesta ku harap semuanya akan baik-baik saja dan tak ada masalah untuk kedepannya mengenakan kedekatan ku dengan Gar. Ya, semoga saja seperti itu. ::::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD