16. Kejadian di Senin Itu

1248 Words
Ternyata sulit ya jika sudah terbiasa menghabiskan waktu dengan seseorang, ketika kita tidak bersama dengan orang itu semuanya terasa hampa, tidak secerah bersamanya. Seperti yang aku rasakan saat ini, tadi Gar mengatakan bahwa jam istirahat nanti ia tidak bisa menemaniku karena ia harus ikut rapat OSIS, aku sendiri tidak tahu kenapa ia yang harus mewakilkan kelasnya sementara dia bukan salah satu perangkat kelas. Dan karena itu lah aku merasa sangat jenuh, sendirian di kelas sementara yang lain telah pergi bersama teman akrab mereka. Seperti yang pernah aku katakan, aku tidak terlalu mudah dekat dengan seseorang bahkan hingga saat ini aku hanya dekat dengan teman sebangku ku itu pun juga tidak terlalu dekat hanya sekedarnya saja. Aku tidak tahu ada apa dengan diriku, tetapi yang pasti setelah pengalaman hidup yang telah aku lewati bersama ayah, tumbuh dewasa hanya ditemani dengan ayah, orang-orang yang aku percaya satu persatu berkhianat, dan saat itulah aku tidak percaya lagi dengan orang lain selain ayah. Hingga Gar datang, dia merubah segalanya. Dia lah satu-satunya pria yang aku percaya setelah ayah, dia berbeda dan apa adanya. Aku selalu bersyukur dipertemukan dengannya, bagiamana pun akhir cerita kami nanti aku akan terima. Sebab di pertemukan dengannya saja sudah menjadi suatu anugrah untukku. Baru saja beberapa menit aku berada di kelas, kini aku sudah merasa jenuh. Mungkin lebih baik aku pergi saja ke perpustakaan; membaca buku selalu bisa membuat moodku membaik, atau hanya sekedar duduk sembari mendengarkan musik. Ya itu lebih baik dari pada hanya berdiam diri di kelas. Ku langkahkan kakiku keluar kelas, suasana koridor sangat sepi mungkin karena semua murid sedang makan di kantin atau bisa jadi sedang melihat pertandingan olahraga di lapangan. Aku menuruni satu persatu anak tangga dan ketika tepat di lantai dua-- tepatnya di koridor kelas sebelas ada tiga orang gadis yang mungkin adalah kelas sebelas. Aku tidak mengenal merek, tetapi anehnya kenapa mereka melihatku dengan sangat sinis seolah mereka mengenalku. Aku mencoba untuk tidak peduli dan terus berjalan tanpa memandang wajah mereka. "Ohh jadi ini cewek ganjen itu?" Salah seorang dari mereka berucap dengan suara lantang dan perlahan mereka berjalan ke arahku. "Lo yang namanya Rhea?" Tanyanya lagi. "Hm iya kak, ada apa, ya?" "Ga usah sok polos, deh lo. Luarnya doang yang polos tapi dalamnya murahan!" "Maksudnya gimana kak? Maaf aku nggak ngerti." Jujur saja aku sangat bingung dengan perkataan mereka, apa maksudnya? Kenapa mereka menuduh ku seperti itu. "Lo yang godain Garal, kan? Hm dasar murahan!" "Garal?" "Ih asli ya, ini anak jago banget sih aktingnya. Sok polos banget sumpah." Tiba-tiba salah satu dari mereka mendorongku hingga aku terjatuh dan lutukku pun berdarah. "Lo pura-pura b**o apa b**o beneran?" "Sorry kak, tapi aku beneran nggak tau maksudnya apa." "Lo udah godain calon pacar gue. Garal Adinata Pradipta, Lo lupa, hah!" Bodoh, sungguh aku sangat bodoh. Aku bahkan lupa nama lengkap Gar, padahal ia pernah memberi tahukannya padaku. "Sorry kak, aku nggak tau karena aku nggak memanggilnya Garal tetapi Gar." "Gue nggak peduli, yang penting mulai sekarang lo jauhi dia!" "Gar nggak pernah bilang kalau dia punya pacar, jadi kenapa aku harus menjauhi dia." "Berani lo ya? Lo nggak tau siapa kita?" Salah seorang yang berbadan besar berjalan ke arahku, lalu dengan gerakan cepat ia menarik rambutku kasar, seorang lagi bahkan dengan ganasnya menampar pipiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, seluruh tubuhku rasanya kaku. Bahkan rasa sakit pun tak lagi ku rasa, hanya terasa sesak di d**a. Mereka dengan kasarnya mengeroyoki ku, dan setelah itu menyiram wajahku dengan air es sisa mereka. Aku hanya bisa menangis, dalam hati terus memanggil nama Gar. Aku percaya Gar pasti mendengar panggilan ku, ia pasti akan datang menolongku. Aku percaya dengannya. "Mulai sekarang lo jauhi Gar atau lo bakalan ngerasain hal yang lebih parah dari ini!" "Maaf kak, aku tidak bisa." "b*****t! Lo berani nantangin kita?!" Aku hanya diam tidak mau melawan. Hingga untuk yang kesekian kalinya mereka menarik rambutku kasar dan kini rasa sakit itu mulai terasa. Sangat sakit. "Gar, aku butuh kamu." Dalam hati aku terus menyebutkan kalimat itu, berharap Gar akan segara menolongku. "Kalau lo nggak ngejauhi Gar lo bukan cuma berurusan sama kita, lo juga bakalan berurusan sama anak kelas dua belas. Dan rasanya bakalan lebih sakit dari apa yang Lo rasain seka--" "Berhenti!" Suara itu, aku mengenalnya. Sungguh. Suara yang selalu ada di saat aku membutuhkannya, kini dia hadir lagi. Menjadi penolong untuk ku. "Ada hak apa kalian melarang Rhe untuk dekat dengan saya?" "Ga-garal." "Jawab! Hak apa kalian melarang seseorang untuk dekat dengan saya?!" Ketiga perempuan tersebut hanya diam, sangat terlihat jelas wajah mereka ketakutan. Sementara Gar, wajahnya merah. Ia terlihat sangat marah. Sungguh ini adalah kali pertama aku melihatnya semarah itu. "Rhe, kamu di apai sama mereka?" Gar menduduk di depan ku. Tangannya menggenggam erat tanganku. "Kalian apakan, Rhe?!" "Gar, sudah. Aku nggak apa-apa." "Nggak apa-apa kamu bilang Rhe? Kamu sudah terluka kayak gini, seragam kamu basah, rambut kamu berantakan, lutut kamu berdarah. Dan kamu bilang kamu nggak apa-apa?" "Sudah, Gar." Gar berjalan ke arah tiga gadis itu, matanya menatap mereka tajam. "Jangan pernah sekali-sekali kalian sakiti, Rhe atau kalian berurusan dengan saya." "Tapi kak dia itu--" "Diam! Saya tidak pernah dekat dengan kalian bahkan melihat wajah kalian saja saya tidak sudi!" Gar berjalan ke arahku, lagi-lagi berlutut di depan ku. "Maaf Rhe, maaf. Ini semua karena saya, sungguh Rhe maafin saya. Kalau saja saya menemani kamu mungkin kamu tidak akan merasakan ini." "Gar, enggak papa. Aku baik." "Enggak, Rhe, enggak. Kamu enggak baik-baik saja, kamu terluka Rhe." Ku lihat air matanya keluar dengan sendiri, bahkan matanya memerah. Semesta bagaiman mungkin aku bisa menjauh dari lelaki yang sangat tulus seperti Gar. Aku tidak akan sanggup semesta, tidak akan pernah. "Kita ke UKS ya?" Tanyanya lembut. "Gak usah, Gar. Aku ke kelas saja." "Enggak, Rhe. Kita harus ke UKS." "Tapi Gar--" "Jangan membantah." Tiba-tiba tangan kekar Gar menarik ku ke pelukannya lalu menggendong ku. "Gar, aku bisa jalan sendiri." "Tidak Rhe, saya tidak akan membiarkan kamu kesakitan." "Tapi aku nggak apa-apa, Gar." Gar tidak menjawab perkataan ku, ia mulai berjalan tanpa memperdulikan ku yang meminta di turunkan. Dan ketika tepat berada di depan ketiga gadis itu, Gar berhenti. Metanya menatap mereka tajam. "Kalian akan membayar semua ini, tunggu saja karena saya tidak akan membiarkan siapa pun melukai Rhe. Camkan itu!" Ucapnya lalu berlalu meninggalkan ketiga gadis itu. "Gar ..." Panggilku pelan. "Iya, Rhe. Kenapa Rhe? Ada yang sakit? Sabar ya sebentar lagi kita sampai di UKS." Aku menggeleng. "Terima kasih, ya." "Nggak Rhe, kamu nggak perlu berterima kasih." "Tapi Gar--" "Sudah, sebentar lagi kita sampai di UKS." Aku terdiam, menatap wajah Gar dengan jarak sedekat ini. Siang ini wajahnya berbeda, tidak seteduh pagi tadi. Wajahnya terlihat penuh amarah. Sungguh aku tidak suka wajah Gar seperti ini, karena aku tidak melihat kedamaian di sana yang ada hanyalah amarah yang menggebu. "Gar ..." "Rhe, jangan banyak bicara dulu." "Aku tidak suka melihat wajahmu seperti sekarang, karena tidak teduh seperti biasa." "Sudah lah, Rhe--" "Senyum." Pintaku. "Nggak." "Gar, senyum." "Bagiamana mungkin saya bisa senyum sementara kamu lagi ngerasain sakit kayak gini?" "Gar, please." Gar mengehela napasnya, dan kemudian tersenyum. Senyum yang sangat aku sukai hingga detik ini. "Terima kasih." "Sudah jangan banyak bicara." Semesta, aku tidak tahu apa makna dari kejadian hari ini. Yang pasti apa pun maknanya ku harap semuanya demi kebaikan ku dengan Gar. Aku tidak meminta Gar untuk terus bersama ku, yang ku pinta hanyalah biarkan Gar selalu menjadi pelindung ku meskipun ia tidak berada di dekatku. ::::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD