Ayunda tiba-tiba saja menutup teleponnya ketika dia melihat Axel kembali masuk ke kamar mereka, pria itu berjalan menuju lemari pakain dan terlihat sibuk memilih baju untuk dia pakai. “Nggak jadi tidur?” tanya Axel tanpa menoleh ke arah Ayunda.
“Jadi.” Hanya itu jawaban Ayunda.
Axel berjalan menghampiri Ayunda setelah selesai memakai pakainnya. Pria itu mencium lembut kening istrinya. “Aku ada urusan pekerjaan, mungkin pulang malam.” Pria itu langsung berlalu begitu saja dari hadapan Ayunda.
“Cih!” Ayunda mengelap kasar keningnya, dia terlihat begitu jijik degan tingkah Axel. “Dasar munafik! Kenapa selama ini aku begitu bodoh! Kamu pikir aku tidak tahu ke mana kamu pergi ...,” gumam Ayunda. Gadis itu mengepalkan tangannya, terlihat begitu emosi jika mengingat semuanya. Kenapa dia bisa terlena dengan perlakuan Axel yang nyata-nyata itu semua palsu. Ayunda kembali meraih ponselnya, menghubungi sahabatnya, Meli.
“Lanjut, Mel.”
“Dia itu sekertarisnya Axel.”
“Pantas saja.”
“Kenapa?”
“Enggak, aku capek!”
“Ya udah, istirahat aja.”
“Baiklah, aku tutup teleponnya ya.”
Ayunda langsung menutup panggilan teleponnya, walaubagaimanapun hatinya terasa begitu perih, selama ini ternyata hubungan mereka begitu dekat dan sangat rapat, bahkan kalau dia tidak salah dengar ‘mereka sudah menjalin hubungan itu selama satu tahun’. Ayunda meninjukan tagannya ke sebuah bantal, dia benar-benar merasa orang yang paling bodoh di dunia ini. Dia merasa tertipu, merasa selama ini semua yang dilakukan untuk suaminya merupakan hal yang paling konyol. “Satu tahun! Selama itu?! Bahkan umur pernikahan kita genap satu tahun. Jangan salahkan aku jika aku membalas semua perbuatanmu padaku ...,” gumam Ayunda.
***
Axel terus melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang tentu saja bisa menyalurkan kebutuhan batinnya setelah mendapatkan penolakan dari istrinya. Wajah tampannya terlihat begitu kesal, kadang dia memukul kemudinya, padahal dia sudah membayangkan malam penuh gairah bersama Ayunda karena dia yakin sekali istrinya masih suci. Dia bertekad melakukannya atas saran sahabatnya supaya Ayunda tidak curiga dengan pernikahannya yang secara diam-diam. “Ah, sial! Seharusnya malam ini Yunda jadi milikku selamanya.” Axel mengernyit. “Eh, bentar! Tenang aja Xel, masih banyak waktu untuk mendapatkan Yunda.” Pria itu menyunggingkan senyumnya, hingga tanpa sadar mobilnya sudah terparkir di depan sebuah rumah minimalis. Tanpa berpikir panjang, pria itu langsung masuk ke dalam rumah setelah dia turun dari dalam mobil. Seorang wanita cantik menyambutnya dengan penuh kegembiraan, dia adalah Lina. Wanita yang sudah Axel nikahi secara diam-diam .
“Ayang ... katanya malam ini nggak datang,” ucap Lina manja.
Axel tersenyum, dengan penuh semangat meraih pinggang Lina. “Aku mana tahan nggak datang malam ini ...,” bisik Axel tepat di telinga wanita ini.
Lina tersenyum puas, meraih kerah baju Axel. “Kamu nggak berpikir untuk menyentuh wanita itu?!” Ini sebuah pertanyaan yang tentu saja adalah sebiah ancaman dari Lina.
“Nggaklah ... kamu yang terbaik selamanya.” Itu yang terucap di bibir Axel tapi lain dengan isi hatinya yang nyata-nyata saat ini dia tengah membayangkan jika wanita di depannya adalah Ayunda.
“Tapi kenapa kamu nggak usir saja perempuan itu, kamu tega ngebiarin aku tinggal di rumah sempit ini?” rayu Lina, sejak pertama menikah dengan Axel dia sudah begitu membenci Ayunda, bahkan dia ingin sekali menyingkirkan perempuan yang diperlakukan Axel layaknya seorang ratu.
“Kamu nggak usah khawatir, aku pasti belikan kamu rumah yang besar. Patuhlah kamu malam ini ...,” bisik Axel tepat di telinga Lina.
Wanita itu tersenyum licik, tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua saling mebalas satu sama lain, menyalurkan gairah mereka di tengah keheningan malam.
***
Keesokan harinya, Ayunda sudah bangun dari tadi pagi, perempuan cantik itu sudah berdandan rapi untuk pergi ke kantor miliknya. Dia bahkan tidak peduli dengan Axel yang tidak pulang ke rumah, bahkan dia mengabaikan beberapa pesan dari Axel yang tentu saja penuh alasan dari pria itu tentang ketidak pulangannya malam tadi. Ayunda berhenti sejenak saat pintu rumahnya terbuka, menampilkan sesosok Axel dan wanita sexi yang berdiri di belakang suaminya.
Axel langsung berjalan menghampiri Ayunda yang terlihat sangat rapi, pria itu mengernyit. “Sayang, kamu mau ke mana?”
“Pergi! Kenapa?!” Ayunda menunjuk ke arah si wanita yang ternyata adalah Lina. “Dia siapa?”
Axel berusaha tenang, cukup terkejut dengan jawaban Ayunda yang terdengar ketus. “Oh, dia sekertaris aku. Tadi aku sengaja memberi tumpangan sama dia karena kebetulan sekali rumah Rico searah sama dia.” Axel benar-benar pandai sekali berbohong, nyata-nyata dia menginap di rumah Lina sampai pagi.
“Oh, sekertaris kamu?!” Ayunda tersenyum sinis. “Kamu sudah mulai berani membawa perempuan itu pulang ke rumah.” Ini batin Ayunda yang berbicara.
Lina maju, berjalan mendekati Ayunda, mengulurkan tangannya kepada wanita cantik itu. “Saya Lina, Bu.” Kembali menarik tangannya karena tidak mendapatkan sambutan dari Ayunda, perempuan licik itu tersenyum, padahal hatinya dongkol sekali melihat kesombongan Ayunda. “Ternyata Ibu jauh lebih cantik aslinya ya ....”
Axel terlihat gugup dengan kata-kata Lina yang memang sedang memancing suasana. “Dia sering melihat foto pernikahan kita di kantor.”
“Begitu, ya ...?” Ayunda yang terlihat sangat muak tidak peduli dengan adengan di depannya, wanita itu berjalan menuju ke arah pintu tapi langsung ditahan Axel ketika berjalan melewati pria itu.
“Kamu mau pergi ke mana? Ini masih pagi banget, biar aku anterin ya?” bujuk Axel, kata-kata itu berhasil membuat hati Lina memanas.
Ayunda melirik tangannya yang dipegang oleh Axel, dia terlihat sangat jijik, hati dan perasaanya sudah mati saat dia dengar sendiri penghianatan suaminya. “Aku mau belanja. Nggak perlu kamu anter!” ketus Ayunda.
“Ehem!” Tiba-tiba saja Lina berdehem. Axel langsung melepaskan tangan istrinya.
Ayunda tersenyum ketir. “Teryata kamu begitu takut menyinggung perasaannya.” Ini suara hati Ayunda yang bicara.
“Enak, ya! Tanpa harus bekerja bisa ngabisin duit suami!” celetuk Lina.
Ayunda menatap ke arah Lina. “ Siapa kamu?! Berani sekali mengritik aku.” Ayunda berusaha menunjukkan siapa dirinya di depan Lina.
“Eh, Sayang jangan marah. Lina itu memang kadang bicaranya suka ngawur,” sanggah Axel.
Ayunda geleng kepala. “Dia sengaja membela perempuan itu di depanku?!” Batin Ayunda. Jari telujuknya menunjuk ke arah Lina. “Kelihatannya kamu paham betul sama sekertaris kamu.”
Wajah Axel memerah, tidak menduga dengan respon Ayunda. “I—itu karena—“
“Tiap hari kita ketemu, terus—“
“Jelas saja, dia ‘kan sekertaris aku, makanya ketemu terus.” Axel buru-buru memotong ucapan Lina.
“Iya, ‘sekertaris’!” ucap Lina kesal. “Huekk!” Tiba-tiba saja perempuan itu merasa mual.
“Kamu kenapa?” tanya Axel panik.
Ayunda melotot. “Apa mungkin ...?”