“Dia hamil?” batin Ayunda. Hatinya terasa begitu perih, bukan hanya penghianatan tapi ini sebuah penghinaan untuk seorang wanita normal.
“Kamu kenapa, Lin?” Axel tanpa sadar langsung menghampiri Lina dengan raut wajah yang begitu khawatir, pria itu memegang pundak Lina.
Lina tersenyum sinis, melirik ke arah Ayunda yang terlihat lemas. “Nggak tau, tiba-tiba aja mual.”
“Minggir!” ketus Ayunda. Dia tidak ingin melihat adegan itu lebih lama lagi.
Axel tersadar, buru-buru melepas tangannya, berusaha meraih Ayunda yang melewati dirinya. “Sayang! Aku bisa jelasin.”
Ayunda menoleh ke arah Axel. “Apanya yang perlu dijelasin?” ejek Ayunda. “Oh, sebentar!” Gadis itu mengangkat jari telujuknya. “Jangan-jangan, kalian ada hubungan!” tebak Ayunda.
Wajah Axel memanas, sedangkan Lina menatap Ayunda dengan tatapan menantang. “Enggaklah! Mana mungkin!” Sanggah Axel.
“Oh, ya. Ya! Mana mungkin kamu suka sama sekertaris kamu sendiri, apa hebatnya dia,” ejek Ayunda.
“Memang kenapa kalau sekertaris? Toh hidup aku nggak bergantung sama cowok!” ucap Lina semakin berani.
Ayunda menghela nafas, rasanya ingin memukul wajah pelakor itu. “Asal kamu tau aja, ya ... kalau cowok itu suami sendiri nggak masalah. Asal bukan suami orang! Paham!” kesal Ayunda.
“Sudah, kalian ini apa-apaan. Nggak usah ribut, ini masih pagi.” Axel berusaha menjadi penengah.
Ayunda cukup tercengang, menatap Axel dengan tatapan penuh amarah. “Kamu ....” Ayunda menunjuk ke arah Axel. “Lucu sekali!” Ayunda tersenyum sinis. “Kamu pikir dia madu aku, sampai segitunya belain sekertaris kamu!”
“Sayang, kamu jangan salah paham, aku cuman—“
“Cukup! Lain kali kasih tau ke sekertaris kamu itu, biar dia tau batasannya!” Ayunda memotong kata-kata Axel. “Minggir, aku mau pergi!” gadis itu pergi begitu saja dari hadapan mereka berdua.
“Sombong sekali! Siapa sebenarnya istri Axel!” ucap Lina setelah Ayunda tidak terlihat lagi di ruangan itu.
“Husst! Jangan sampai ada yang denger. Lagian ini masih pagi, kita hampir ketahuan,” bujuk Axel.
Lina menatap kesal Axel. “Biarin ketahuan! Aku capek kek gini terus. Aku sudah bersabar dari kita SMA lho! Aku juga pengin diakuin di depan semua orang, bukan cuman wanita nggak tahu diri tadi!”
Axel memijit kepalanya, makin hari Lina makin melonjak. “Sampai kapan harus aku bilang, cintaku hanya untuk kamu. Ayunda itu cuman istri di atas kertas, aku nggak mau sampai keluarga besar aku tahu, apalagi keluaraga Ayunda, ini bisa berakibat fatal untuk bisnis keluarga kita. Kamu harus ngerti, ini juga demi masa depan kamu nanti.”
Lina manyun, melingkarkan tangannya pada lengan Axel, kemudian bergelayut manja. “Maaf, aku hanya kesal sekali pada perempuan itu. Aku—Huek!” Lina kembali merasa mual.
“Kamu yakin baik-baik saja?” tanya Axel khawatir.
Lina melepas tangannya pada lengan Axel, wanita itu menutup mulutnya, wajahnya terlihat pucat. “Aku—“ Belum selesai Lina melanjutkan kata-katanya, wanita itu sudah dulu pingsan.
Axel yang cukup terkejut langsung menangkap tubuh Lina, menepuk-nepuk wajah wanita itu. “Sayang! Bangun!” ucap Axel cemas. Pria itu tidak pernah tahu jika perbuatannya diawasi oleh seseorang yang dari tadi cukup terkejut dengan adegan itu.
Melihat Lina yang terlihat cukup pucat dan lemas, Axel langsung menggendong tubuh itu, membawanya keluar dari rumahnya untuk menuju rumah sakit yang terdekat, dia begitu khawatir jika terjadi sesuatu dengan wanita yang begitu dia cintai sejak dia masih di bangku sekolah.
***
Kantor Ayunda
Ayunda ternyata tidak pergi berbelanja seperti perkataannya tadi, dia sengaja berbohong ke Axel untuk menutupi pekerjaan yang sudah beberapa hari ini dia lakukan bersama Meli. Ayunda terlihat serius, dia sedang membahas sebuah proyek besar besama Meli.
“Kamu kenapa gelisah?” tanya Meli disela-sela pembicaraan mereka.
“Aku masih kepikiran sama perempuan itu.”
“Maksud kamu, Lina?!” tanya Meli.
Ayunda mengangguk. “Iya, dia tadi membawa perempuan itu pulang ke rumah.”
“Apa! Dia semakin berani sekali, dasar b******k!” Meli terlihat sangat emosi. Perempuan itu berdiri, menggebrak meja di depannya, tubuhnya sedikit mencondong ke arah Ayunda. “Terus, kamu diam aja?”
“Aku nggak ada waktu buat perempuan kek gitu. Aku capek, Mel. Aku ingin segera pergi dari neraka ini, aku ingin memulihkan bisnis keluargaku, itu saja. Aku udah muak!” Meskipun berusaha tegar, air mata Ayunda tetap saja meleleh, dia merasa tidak berguna, merasa bodoh sekali, mengorbankan waktunya yag begitu berharga hanya demi seorang pria b******k.
Meli berjalan memutar, mendekati sahabatnya, mengelus pelan pundak Ayunda yang bergetar. “Air mata ini tidak pantas untuk pria itu.”
Ayunda menghapus air matanya, kembali bersikap tegar. “Aku tidak menangisi pria itu. Aku hanya menangisi diriku yang begitu bodoh.”
Meli tersenyum. “Ini baru sahabat aku.”
“Ayo kita lanjutkan proyek ini, aku ingin melihat Axel hancur pelan-pelan.” Ayunda terlihat sangat serius.
“Ayo! Aku akan bekerja maksimal untuk proyek ini.” Meli mengepalkan tangannya, dia sudah bertekad ingin memberi pelajaran untuk pria tidak tau diuntung itu, selama ini Ayunda lah yang bekerja di belakang layar, wanita itu diam-diam selalu membantu Axel untuk mendapatkan sebuah proyek besar, itu sebabnya perusahaan Axel semakin berkembang pesat.
“Ayo!” jawab Ayunda, dia semakin bersemangat saat teringat Lina yang mual-mual tadi. “Kayaknya perempuan itu hamil.”
Meli lagi-lagi terkejut dengan pernyataan Ayunda. “Apa?!” Meli berusaha meredam emosinya. “Sumpah ini cowok bener-bener bikin aku emosi, udah pagi-pagi sekali bawa gundik ke rumah, terus hamil, terus ... terus aku pengen nyekek dia!” Tiba-tiba saja Meli berteriak.
Ayunda cukup terkejut. “Udah sabar, aku aja tenang. Ngapain mikirin hal yang nggak berguna, bikin cepet mati aja!”
Tiba-iba saja Meli menatap Ayunda dengan tatapan penuh menyelidik. “Eh, bentar. Itu laki kamu kemana aja, pagi-pagi udah bawa gundik aja.”
Ayunda menghela nafas. “Namanya pria, dia butuh pelampiasan. Setelah aku tolak dia, pamitnya sih mau ketemu klien tapi aku tau kalau dia tidur di rumah perempuan itu. Najis sekali! aku harus menyerahkan keperawananku sama sampah kayak dia.”
“What!!” Demi apa, bola mata Meli sampai hampir keluar, dia menunjuk ke arah Ayunda dengan ekspresi yang sulit dibayangkan. “Ka—kamu masih perawan?”
Ayunda mengangguk, kali ini dia tersenyum geli dengan ekspresi sahabatnya yang tiba-tiba saja menjadi pucat. “Iya!” Gadis itu mengedipkan sebelah matanya. “Kenapa? Masalah buat kamu?” ejek Ayunda.
“Dia itu normal, nggak?! Masa itunya nggak bisa berdiri, padahal kamu sempurna kek gini.”
Tawa Ayunda hampir saja pecah akibat pertanyaan Meli. “Mana aku tahu, jangan tanya aneh-aneh!”
“Emang waktu deketan nggak ada yang kerasa keras?” Meli kembali mengulangi pertanyaan bodohnya.
“Nggak usah tanya aneh-aneh!” kesal Ayunda yang sebenarnya dia tidak begitu paham dengan perkataan Meli.
“Hadeh ... sayang sekali. Aku kira kamu ‘suhu’, ternyata masih ‘cupu’!” celetuk Meli.
Ayunda melotot, wajahnya cukup memerah. “Diam! Ini perintah atasan!” kesal Ayunda.
“Idih! Nggak ngaruh!” jawab Meli masih degan ekspresi anehnya.
Tiba-tiba saja ponsel Ayunda berdering, gadis itu mengambil ponselnya, cukup terkejut saat melihat siapa nama si pemanggil.
“Siapa?” tanya Meli penasaran.
“Papa. Kira-kira ada apa ya ...?”