Pelayan mendekat, Rainier meletakkan beberapa lembar ratusan di atas meja. “Tolong bantu pelkan.”
“Oh. Baik, Pak. Terima kasih.”
No s**t, no drama. Selama itu bisa diselesaikan dengan uang, Rainier lebih memilih jalan pintas itu daripada memberikan kesempatan untuk seorang wanita mendekatinya.
“Ayo. Ganti baju dulu.” Rainier dengan wajah datarnya mengangkat Raja dari kursi, menenteng lagi tas sport selempangnya.
Jujur, kepala Rainier pening. Bukan karena sakit kepala, tapi stres sendiri ngurus anak-anak sendirian. Di dalam kamar mandi pun, Yuda masih tak mau lepas dari papanya, memeluk seperti koala.
“Duduk sini dulu.” Rainier susah payah mendudukkan Raja di atas westafel.
Pengunjung toilet menatap prihatin. Ada juga bapak-bapak yang dengan bangga menepuk-nepuk punggung Rainier.
“Jadi ini huh, kenapa mama kalian selalu bawa ganti baju banyak-banyak,” gumam Rainier. Tak ada yang menjawab di toilet sepi itu.
Raja masih pasang muka polos, dan Yuda masih anteng memeluk papanya. Dipegangi papanya dengan satu tangan.
Dengan satu tangannya yang lain, Rainier gerak cepat. Melepas pakaian basah putra bungsunya, lalu mengelap tubuh putranya dengan tisu sampai kering-
“Kata Mommy harus pakai bedak!” kata Raja.
Yuda menoleh melihat adiknya.
“Huh?” tanya Rainier nge-lag.
“Kata Mommy harus pakai bedak dulu sebelum pakai baju!” kata Raja lagi.
Rainier nge-lag part dua. Baru setelah beberapa saat paham maksud putranya.
Tak banyak kata tak banyak apa, Rainier langsung memakaikan bedak bayi banyak-banyak di tubuh Raja. Sampai penuh sekujur tubuh baru memakaikan celana dan baju ganti.
Beres Raja, ganti Yuda. “Daddy, mau pipis.”
Rainier sudah ingin nangis rasanya. Belum juga Raja yang tiba-tiba diam di tempat. “Lagi poop pasti,” kata Rainier.
Tak lagi garang, keluar kamar mandi wajah Rainier sudah bagai benang kusut. Super terlihat lelah.
Pemuda itu kembali ke kursinya tadi, bergantian mendudukkan Raja dan Yuda. Ia mengangkat tangan, memanggil pelayan.
“Coffee. No sugar no cream. As black as possible,” kata Rainier. Memesan kopi tanpa gula dan tanpa krim. Dia ingin yang paling hitam yang mereka punya.
“Daddy! Daddy! Mommy!” panggil si kembar bergantian.
“Mm. Iya?” jawab Rainier lelah. Asal membelai kepala kedua putranya sembari membuka handphone. Tak sabar menelepon istrinya. Khawatir juga istrinya belum sampai sejak tadi.
“Sayang nyampai mana?” telepon Rainier.
“Ini sudah sampai. Mas sebelah mana?”
Rainier cepat menoleh. Kalah cepat sama Yuda dan Raja yang berlarian menuju mama mereka.
“Mommy!” panggil Yuda dan Raja bersamaan. Memeluk kaki Lyssa erat-erat.
Lyssa tersenyum. Membungkuk untuk menggendong Yuda. Raja langsung cepat-cepat memanjat tubuh mamanya.
Rainier melihat Lyssa seperti melihat malaikat penyelamat. Wajah pemuda itu langsung sumringah. Datang menemui istrinya.
“Sayang, lama banget,” kata Rainier, mengambil Yuda dari gendongan istrinya.
“Macet banget tadi, Mas.”
Rainier cengar-cengir, hilang sudah kegundahan. Ia bahagia memeluk istrinya. Iseng mengecupi pipi Lyssa berulang kali.
Raja yang masih bergelayutan di kaki mamanya melihat kedua orang tuanya penuh rasa ingin tahu. Para wanita yang sedari tadi memantau Rainier tak habis pikir. Kok bisa, wajah tampan Rainier yang semula bagai triplek bisa jadi secerah ini.
Para pengunjung pria juga tak kalah tertarik, melirik-lirik Lyssa. Maklum ya, wajah Lyssa yang cantik, tubuh tinggi semampai, dengan lekukan dan isian di tempat-tempat yang tepat. Sangat memanjakan mata.
“Tadi anak-anak rewel nggak, Mas?” tanya Lyssa. Dibantu Rainier duduk.
“Nggak. Biasa aja,” jawab Rainier. Sudah lupa kesusahan-kesusahan yang dia alami sebelumnya.
Lyssa mengangguk-angguk. Dia membungkuk untuk mengangkat Raja duduk di kursi, lalu duduk. Rainier juga begitu, bersiul-siul bahagia sembari mengurus Yuda.
Acara makan malam kali ini sebenarnya lumayan berat. Raja yang muncul lagi hobi lamanya, ngelepeh-lepeh makanan, juga Yuda yang nggak mau ngunyah, diemut terus makanannya. Sampai dua jam kemudian, keluarga kecil itu baru keluar dari rumah makan.
“Biar aku yang mandiin mereka. Mas mandi dulu saja,” kata Lyssa begitu mereka sampai rumah.
“Nggak. Biar aku saja yang mandiin mereka. Sayang istirahat saja,” balas Rainier.
Anak buahnya yang dia utus untuk membawakan mobilnya juga sudah sampai, memberikan kunci sebelum memesan taksi.
Lyssa mengangguk. Mengambil alih tugas menyiapkan keperluan setelah mandi.
“Kalian istirahatlah. Biar malam ini Yuda sama Raja belajar tidur berdua,” kata Lyssa pada dua baby sitter.
“Baik, Nyonya,” jawab dua baby sitter itu bersamaan.
“Kya! Daddy! Daddy!” jerit tawa anak-anak dari dalam kamar mandi. Entah mereka ngapain saja dengan papa mereka.
Rainier keluar dengan pakaian setengah basah, datang menggendong dua anaknya dalam balutan handuk besar. Langsung disambut Lyssa, gantian menggendong kedua anaknya.
Pasangan suami istri itu bahu membahu mengeringkan rambut, memakaikan lotion, diaper, hingga pakaian tidur anak-anak mereka. Baru kemudian mengangkat kedua anak mereka ke kasur. Kali ini mereka satu kasur di kasurnya Yuda.
“Tidurlah,” kata Rainier. Baring miring di sebelah Yuda. Bergantian dia mengecup pipi kedua anaknya.
Lyssa juga sama, bergantian mengecupi pipi gembil kedua putranya. Raja berbalik, memeluk mamanya. Satu tangannya naik, meremas-remas d**a mamanya.
Rainier speechless.
“Kayak papanya kalau mau tidur,” komen Lyssa.
Rainier tertawa, memeluk Yuda sebagai ganti. Dia tepuk-tepuk punggung putra sulungnya.
Raja masih sama, meremasi terus d**a mamanya sampai dia jatuh tertidur. Yuda juga sudah tidur, hangat di pelukan papanya.
Tangan Rainier menjangkau, membelai lembut pipi istrinya. Mereka berdua teduh saling melihat satu sama lain. Menunggu sampai tidur kedua anak mereka benar-benar nyenyak baru perlahan keluar dari kasur, mengganti tubuh mereka dengan guling.
Sampai kamar, Rainier langsung mendesak istrinya ke pintu kamar, mencium bibir istrinya penuh nafsu. Ia belai-belai tubuh samping istrinya.
Jari Lyssa tenang menepuk-nepuk d**a suaminya.
Rainier perlahan ikut tenang, meletakkan dahinya di dahi istrinya, melihat mata Lyssa dalam-dalam.
“Apa?” tanya Lyssa, lembut melihat suaminya dengan senyuman.
Rainier tak menjawab, semakin memeluk istrinya. Ia kecupi leher istrinya sebelum melepaskan, mempertemukan lagi dahi mereka.
“Apa, Mas? Kalau ada yang mau diomongin, bilang saja,” kata Lyssa.
Rainier sedih melihat istrinya. “Tadi mamaku ke sini ya?”
“Ya,” jawab Lyssa.
Rainier melenguh frustrasi, meletakkan kepalanya di pundak istrinya. Pernikahan mereka memang tanpa restu. Tapi Rainier, sekalipun tak pernah menyesali keputusannya menikahi Lyssa.
Rainier mengangkat lagi kepalanya, melihat istrinya dalam-dalam.
“Aku akan bilang ke mereka untuk menutup gerbang kalau Mama ke sini.”
Lyssa menggeleng. “Tidak perlu, Mas. Biar aku saja yang berusaha. Siapa tahu kan, Mama bisa menyukaiku.”
“Mamaku sangat keras kepala. Lihat saja, kita sudah menikah tiga tahun, tapi Mama masih belum juga merestui kita.”
“Biar saja,” kata Lyssa. Meletakkan kepalanya di d**a Rainier.
Rainier mengembuskan napas lelah, membelai punggung tegar istrinya. “Aku khawatir. Takut kamu kenapa-napa. Setiap Mama ke sini, kamu pasti langsung down.”
“Aku tidak down,” balas Lyssa.
“Iya gitu. Tadi nggak nafsu makan kan?”
“Hm. Sudahlah. Mas sana mandi dulu.”
“Temani,” balas Rainier menggoda.
“Hahaha. Ya udah, ayo.”
“Aku mandiin,” balas Lyssa dengan kerlingan.
Belum-Belum dan Rainier sudah super excited. Mencium bibir istrinya kuat-kuat.
Di kamar mandi, hanya desahan dan desahan yang terdengar. Rainier memang liar saat main, tapi Lyssa, dia paling pandai jika itu soal menggoda suaminya.
“Ah! Mas Rainier!” desah Lyssa dengan kerlingan. Wajahnya yang cantik ia buat super sudektif, manis melenakan.
Rainier semakin terlena, kuat merajai istrinya dari belakang. Napas pemuda itu terus memburu, terus memburu sampai akhirnya tiba di puncak. Basah dan hangat di dalam sang istri.
***
“Gimana? Puas?” tanya Lyssa begitu keluar dari kamar mandi, tubuhnya berbalut handuk kecil, seksi memesona.
“Puas,” balas Rainier dari depan meja rias. Sudah beres selesai siap-siap untuk tidur.
“Sini.” Rainier meraih istrinya, dia dudukkan di pangkuan.
Rainier telaten mengeringkan rambut istrinya, agak mundur-mundur ke belakang saat menggunakan hair dryer untuk Lyssa.
Jari tangan Rainier kasar, tapi tetap lembut saat memakaikan aneka skin care di wajah istrinya.
“Bibir, yang bibir belum,” kata Lyssa, memanyun-manyunkan bibirnya.
Rainier tertawa pelan, memakaikan lip care sebagai rangkaian terakhir skin care istrinya.
Mengecup dalam leher istrinya, Rainier berkata, “Aku habis ini kerja ya?”
“Kerja di kamar,” balas Lyssa, melihat wajah suaminya dari pantulan kaca. Ia angkat tangan Rainier, ia remaskan di dadanya.