7. Husband and Wife

1386 Words
Rainier melepas sekalian handuk Lyssa, ia remas d**a besar nan lembut milik istrinya. “Ah. Hah.” Lyssa terus menggoda, ia turunkan tangan Rainier satunya. Ke bawah menyentuh miliknya. “Ah, Rainier,” desah Lyssa tak tahan, berbalik untuk menggigiti pundak suamiya. “Lagi?” bisik Rainier di telinga istrinya. Tubuh Lyssa bergetar, merasakan sentuhan jari-jari Rainier di bawah sana. “Tidak mau, habis ini kamu tinggal kerja,” balas Lyssa merajuk. “Aku kerja di kamar, aku temani sampai kamu tidur,” balas Rainier. Lyssa tersenyum puas. “Oke,” balasnya. Tubuh kekar Rainier kuat membawa Lyssa ke kasur, lembut meletakkan tubuh telanjang istrinya. “Tubuhku indah kan?” tanya Lyssa, berpose seksi di atas kasur. “Hahaha. Sangat cantik,” balas Rainier. Lyssa terus berpose, berlenggak-lenggok menggoda suaminya. Rainier suka saja sih digodai Lyssa, dibumbui cinta, Lyssa telah menjadi paling wanita paling sempurna dalam hidup Rainier. Selesai puas main-main, Rainier pergi sebentar ke kamar sebelah yang merangkap ruang kerjanya. Dia datang dengan tumpukan file beserta laptop dan dudukannya. “Lembur?” tanya Lyssa, tengkurap melihat suaminya. “Iya,” jawab Rainier. Mulai mapan di atas kasur. “Yang, aku sambil ngerokok boleh?” izin Rainier. “Boleh.” “Mau aku buatin kopi?” tawar Lyssa, sudah akan beranjak bangun. “Nggak usah deh, Yang, besok pagi saja kopinya.” “Nggak pakai kopi, tapi seperti biasa?” tanya Lyssa. “Iya, seperti biasa.” “Mm.” Seperti biasa apa yang dimaksud Rainier? Apa lagi kalau bukan mesumin Lyssa. Satu tangan ngerokok, sesekali meletakkan rokok untuk membuka-buka file. Sementara tangan Rainier yang lain, anteng nyandar di d**a Lyssa, sesekali meremas, sesekali bermain dengan pucuk. “Dadaku lembut kan?” tanya Lyssa, melihat suaminya dari bawah. Rainier mengalihkan sebentar konsentrasinya dari laptop, turun mengecup bibir istrinya. “Lembut, semuanya lembut,” balas Rainier, menggerayangi semua bagian tubuh istrinya yang bisa dia jangkau. Lyssa tertawa, puas melihat wajah bucin suaminya. Aneka perawatan tubuh terbayar oleh gestur suaminya yang semakin hari semakin cinta. “Aku tinggal tidur dulu,” kata Lyssa, menarik selimut menutupi tubuh. “Mm. Good night, my lovely wife.” Rainier jeda sebentar dari kerjaan, membelai-belai wajah istrinya, tangan satunya juga tak berhenti membelai d**a istrinya. Lyssa terbawa suasana, senang dalam belai dan kecup Rainier. Damai pergi ke alam mimpi. Setidurnya Lyssa, Rainier lanjut bekerja. Wajah pemuda itu serius. Berbisik saat sesekali melakukan panggilan telepon. Hening di rumah Rainier. Suara gonggongan anjing milik tetangga sesekali terdengar di kompleks perumahan mewah tersebut. Rainier terus bekerja. Saat tak kuat lagi menahan kantuk, ia bergegas membuka selimut, mengisap kuat-kuat pucuk d**a istrinya. “Ah. Sshh. Rainier!” desah Lyssa dalam tidur, sudah terbiasa sekali dibeginikan Rainier saat sedang tidur. Tangannya masuk ke helai-helai rambut hitam suaminya. Suara kecupan terus terdengar dari dalam kamar. Rainier tak hentinya mengecupi d**a juga leher istrinya. Lyssa sampai terbangun, tak kuasa menahan nafsu. “Masih mau lembur?” tanya Lyssa. “Iya,” jawab Rainier terengah. Menatap tulus pada istrinya. Lyssa tenang membalas mata, membelai lembut wajah suaminya. Perusahaan Rainier masih seumur jagung, belum ada sepuluh tahun, itulah kenapa pemuda itu super protektif pada usaha yang dia kelola. Lyssa sebisa mungkin mencoa memahami suaminya. “Ayo gih, main bentar. Habis ini aku temani,” kata Lyssa. “Terima kasih.” Rainier tak buang waktu, toh dress tidur Lyssa sudah acak-acak dari tadi. Pemuda itu mengeluarkan pusakanya dari kurungan, langsung tempur begitu siap. Lyssa terus mendesah, membantu suaminya meraih kepuasan dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Benar-Benar, jiwa muda tengah membara. *** Selesai pertempuran yang basah dan panas tersebut, pasangan suami istri itu pergi mandi air dingin. Kali ini Lyssa pun tak lagi mengenakan ‘baju dinas,’ melainkan piyama yang murni piyama. “Yang, aku lusa sepertinya keluar kota,” kata Rainier. Mengambil dua botol air minum dari kulkas kecil dalam kamar. Memberikannya satu pada Lyssa selesai membukakan tutup botol. Lyssa meminum beberapa teguk sebelum berkata, “Pokoknya jangan lupa saja nanti tanggal tiga kita ada janji piknik sama Evan.” Rainier mengembuskan napas lelah. “Aku harap Evan segera menikah dan punya anak sendiri.” “Dia sudah punya Yuda, mungkin itu alasan Evan tak ingin buru-buru menikah.” “Tapi Yuda anakku,” balas Rainier, mellow memeluk istrinya. Lyssa tenang balas memeluk suaminya. “Semua juga tahu kalau Yuda anaknya Evan.” Rainier masih manja-manja, merajuk pada istrinya. Setelah puas baru lanjut kerja. Lyssa wanita yang cerdas. Dulu saat masih sekolah, dia langganan selalu rangking satu. Lulus kuliah pun langsung kerja. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, Lyssa tentu bisa sangat membantu kerjaan Rainier. Suami istri tersebut bahu membahu saling membantu, bekerja bersama. Sekitar pukul dua, kerjaan mereka akhirnya beres juga, selesai beres-beres berkas langsung tepar di atas kasur. *** Tidur nyenyak tak berlangsung lama. Pagi telah datang. Suara langkah kaki-kaki kecil yang berlarian, datang ke kamar Lyssa dan Rainier, menggedor-gedor pintu. “Daddy! Daddy!” “Mommy! Mommy!!” teriak Yuda dan Raja bergantian. “Ughh.” Rainier berguling, menindih istrinya. Ia tutup kepalanya dengan bantal. Lyssa yang juga sudah bangun, keluar dari tindihan suaminya, setengah mengantuk membuka pintu. “Mommy!!!” teriakan Yuda dan Raja menggelegar di pagi hari. “Mm. Morning, Raja. Morning, Yuda.” “Morning, Mommy!!” jawab Yuda dan Raja bersamaan. Kedua bocah itu penuh semangat minta digendong. Baby sitter yang mengantar mereka berjaga di depan kamar, bersiap mana kala dibutuhkan. Lyssa menutup pintu, menggendong kedua anaknya. Malam mengurus suami, siang mengurus kedua bocah. Sudah makanan sehari-hari untuk Lyssa. Sampai di kasur, kedua bocah itu langsung minta diturunkan, penuh semangat melonjak-lonjak di atas kasur. Lyssa pergi ke kamar mandi, siap-siap pagi. “Aw! Aw! Sakit. Iya. Daddy bangun! Daddy bangun!” “Hahahaha,” tawa para bocah. Suara Rainier yang mengerang kesakitan juga tawa para bocah teredam saat Lyssa mandi, selesai mandi dia menyaksikan pemandangan yang biasa. Raja dan Yuda yang penuh semangat berloncatan di atas tubuh papa mereka. “Jangan seperti ini, Sayang. Kasihan Papa kalian,” kata Lyssa, mengangkat Yuda yang berdiri di punggung papanya. Raja langsung cari aman, duduk di atas leher papanya. Yuda mengikut, duduk lagi di punggung Rainier. “Thank you, Honey,” kata Rainier dari balik bantal. “Mm,” jawab Lyssa. Bersenandung, Lyssa memakai skin care pagi. Rainier yang mencium bau segar sabun dan sampo menoleh, mengintip istrinya dari sela-sela bantal di atas kepalanya. “Oh wow. Super seksi, Yang,” kata Rainier, melihat nafsu tubuh istrinya. Yuda dan Raja bersamaan, menoleh ke Rainier lalu melihat ke mama mereka. “Super seksi, Yang!!” teriak Yuda dan Raja, menirukan daddy mereka. Rainier dan Lyssa tertawa. “Rainier awas ya kalau ngomog ngaco lagi, ditirukan anak-anak lho” kata Lyssa, tertawa sambil melihat Rainier dari depan meja rias. Rainier hanya tertawa, melihat lekat-lekat tubuh istrinya. Tubuh Lyssa segar bugar, dengan tetes-tetes air sisa mandi tadi. Balutan handuk kecil hanya menutup sebagian kecil dari tubuh ranumnya. Wanita seksi itu duduk di depan meja rias, dilihati suami dan kedua anaknya. “Jika kalian cari istri nanti, cari yang seperti mama kalian,” kata Rainier. “Huh? Apa itu istri, Pa?” tanya Yuda. Mulai melompat-lompat lagi di atas tubuh papanya. Raja ikutan, kembali melompat-lompat. Rainier pun kembali merintih kesakitan. “Aw! Aw!” “Yang, Ayang. Help, Yang!” teriak Rainier memanggil-manggil istrinya. *** Selesai siap-siap pagi yang super ribet, keluarga kecil itu lari pagi sebentar. Lebih tepatnya sih jalan pagi. Lyssa orangnya malas olahraga. Ditambah lagi kedua anak mereka yang masih belum genap tiga tahun, jalan pun langkahnya kecil. Di antara anggota keluarga itu, hanya Rainier saja yang lari-lari di tempat sembari mengimbangi jalan kedua anaknya. “Sayang?” panggil Lyssa. “Iya?” Rainier menoleh ke belakang, diikuti dua anaknya. “Gendong,” kata Lyssa merajuk. “Hahaha. Sini.” Lyssa langsung ceria, naik ke punggung suaminya. “Ough!” desis Rainier, mengeratkan gigi memegangi kaki istrinya. “Daddy! Gendong!” teriak Raja histeris. “Tidak. Hari ini mama kalian,” balas Rainier. Selesai menikah, tubuh pemuda itu semakin kekar. Jaga-Jaga tenaga untuk menggendong istri dan dua anaknya. Lyssa bahagia, manja sekali pokoknya sama Rainier. Si duo bocil merengek-rengek, tapi tak diindahkan oleh Rainier, masih lanjut berlari-lari kecil. “Untuk yang hari ini larinya paling cepat, besok pagi Daddy gendong,” kata Rainier. Yuda dan Raja langsung berhenti merengek. Dengan langkah kecilnya berlomba satu sama lain. Rainier memelankan langkah, berlari di belakang si kembar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD