10. Mendamaikan Rainier

1908 Words
“Mommy! m***m itu apa?” tanya Yuda, memunculkan kepalanya di pundak Rainier. Raja adiknya ikutan nongol sekalian. “m***m itu saat mama sama papa kalian berduaan di kamar,” jawab Ragil. “Huh?” tanya Yuda dan Raja bingung. Rainier dan Lyssa bergeleng kepala, tak berniat menjelaskan kata ‘m***m’ untuk anak mereka. Rombongan kecil itu melewati koridor kantor, para karyawan sopan menyapa. Rainier hanya mengangguk, melewati para karyawannya sampai dia tiba di ruangannya. Hugo, sekretaris pribadi Rainier sudah menunggu, membukakan pintu untuk atasannya. Pemuda itu berbisik-bisik melaporkan sesuatu sembari ikut masuk ruangan. “Ya, kerja bagus. Jika ada sesuatu segera laporkan padaku.” “Baik.” Hugo menganggukkan kepala pada Rainier juga rombongan, baru kemudian pamit keluar. Tak menunggu lama, ruang kerja Rainier yang biasanya hening, saat ini ramai sekali. Raja dan Yuda benar-benar gila-gilaan mainnya. Apalagi Leo dan Ragil yang sangat memanjakan. Rela-Rela saja dinaiki. “Kya!! Lebih cepat, Paman! Lebih cepat!” teriak Yuda histeris. Dia dan adiknya tengah beradu, di atas punggung Leo dan Ragil berlomba siapa yang lebih cepat. Leo dan Ragil yang terbawa suasana pun tak kalah heboh, merangkak sambil berteriak-teriak. “Kya! Kya!!” jerit tawa anak-anak. Lyssa tenang menemani suaminya kerja di sofa tamu, di bawah meja, tangan Rainier sesekali membelai, meraba paha istrinya. Dian dan dua baby sitter tenang menyiapkan buah-buahan dan aneka camilan. “Arghhh! Paman menyerah, Paman lelah sekali!” kata Ragil, terkapar di lantai kantor. Untung lantai kantor Rainier berlapis karpet terbaik. Yuda dan Raja pun berbondong-bondong, memijiti Ragil. Leo tentu tak mau kalah, ikutan teriak. “Aduh, punggung Paman sakit sekali!” teriaknya lebay. Raja dan Yuda pun heboh, berlari-lari mendatangi Leo. Sebentar di Leo, balik lagi ke Ragil. Leo dan Ragil super lebay akting teriak-teriak minta dipijit. Orang-Orang itu terus heboh main, tanpa tahu sejak kapan Rainier membawa istrinya menyelinap masuk ke kamar istirahat. “Ah. Ah,” desah Lyssa. Di atas ranjang, dia sedang ‘dikerjai’ oleh suaminya. Rainier liar sekali. Padahal hanya berbatas tembok dan pintu dari anak-anak, tapi dia berani sekali merajai Lyssa habis-habisan. Untung sound proof. “Ah, Mas. Jangan kuat-kuat,” rintih Lyssa. Tak kuasa dihentak-hentak oleh suaminya. Pakaian mereka masih utuh, hanya terbuka di bagian-bagian penting saja. Melihat wajah istrinya yang super tak tahan, Rainier malah semakin tak bisa menahan. Ia naikkan kaki kanan Lyssa ke atas pundaknya, menghentak kuat. Lyssa semakin meringis. Apalagi saat Rainier turun, mengangkat blus Lyssa sebelum liar mengisapi gunung kembar kenyal milik istrinya. “Ah, ah, Rainier,” ringis Lyssa. Takut dicari anak-anaknya, Lyssa pun turun tangan. Kedua tangannya ia posisikan di atas kepala, wajah cantikya ia atur, berekpresi menggoda melihat suaminya. “Mas Rainier,” desah Lyssa lembut. Pinggulnya ia goyang-goyangkan, memberi sensasi lebih dalam penyatuan mereka. “Mas,” desah Lyssa lagi. “Rajai aku, Mas,” kata Lyssa. Rainier semakin tak tahan, memegang pinggul istrinya dengan kedua tangan. Lyssa mengaitkan kaki satunya ke punggung Rainier, lembut meliuk-liukkan tubuh. “Ah, Mas. Mas. Mas. Mas Rainier!” Desahan Lyssa benar-benar menggoda iman. Rainier tak kuat lagi, menghentak-hentak keras, sampai mentok pinggul mereka menyatu. “Sshhh,” desah Rainier, menahan pinggul istrinya saat dia mengeluarkan cairan-cairan miliknya. Lyssa tersenyum puas, memutar-mutar pinggulnya, membuat Rainier menggeram menahan rasa. Ia gerakkan lagi pinggilnya beberapa kali, sampai tuntas habis semua miliknya, basah sampai keluar-keluar. “Sudah?” tanya Lyssa dengan senyum lebar. “Ya,” jawab Rainier. Ia turun lagi. ia belai wajah ayu istrinya, ia kecup dalam-dalam bibir seksi berbalut lipstik merah terang di bawahnya. Tinggal remasan-remasan lembut di d**a Lyssa yang tersisa. Lyssa balas membelai wajah suaminya, memandang lembut. “Gimana? Masih marah nggak?” tanya Lyssa. “Ya?” jawab Rainier tak paham. Dia coba ingat-ingat, baru teringat tentang pertengkarannya dengan Evan tadi. “Biasa sih,” jawab Rainier. “Tolong jangan diambil hati ya? Kalau Evan marah, lalu Mas ikutan marah. Gimana kalau sampai gak bisa baikan? Gimana nanti nasibku sama anak-anak,” ucap Lyssa, manyun imut-imut mengerucutkan bibir. Rainier gemas mengecup bibir istrinya. “Kamu sama anak-anak kan tanggung jawab aku sih, nggak ada hubungannya sama Evan atau siapa pun.” Rainier mengeluarkan miliknya dari dalam Lyssa, lalu rebahan miring. Manja membenam-benamkan wajahnya di d**a besar istrinya. “Pokoknya ya, Mas. Kalau bisa, jangan sampai berantem lagi sama Evan. Gak boleh. Harus ingat aku sama anak-anak,” kata Lyssa. Lembut menyisiri rambut suaminya. “Mm,” jawab Rainier. Bersama Lyssa, dia sudah lupa, sama sekali lupa pada Evan ataupun perseteruan bisnis yang tengah berlangsung. “Sama kamu tuh, nyaman banget. Aku berasa punya tempat tujuan untuk pulang. Sama kamu berasa punya tempat untuk kembali,” kata Rainier, melihat wajah istrinya dari bawah. Masih asyik nyandar di d**a istrinya. “Aku, sama anak-anak juga harusnya,” kata Lyssa. Gemas mengecup pucuk hidung suaminya. “Anak-Anak bentar lagi juga gede. Setelah nemu pasangan hidup, mereka juga bakalan berkeluarga sendiri. Ujung-Ujungnya tetap aku sama Adek lah berdua.” “Benar juga,” kata Lyssa. Puas, Rainier mengangkat tubuhnya, menggagahi Lyssa lagi untuk berciuamna. Ciuman yang nyaman, dengan belai-belaian lembut di beberapa bagian. “Sudah, Mas. Ayo mandi. Kasian Leo sama Ragil.” “Mm.” Selesai mandi dan berganti pakaian, Rainier yang pertama keluar dari kamar istirahat. Lyssa masih dandan di dalam. “Puas?” sindir Leo, di atas pundaknya ada Raja yang duduk, perkasa dan ceria diajak jalan-jalan Leo ke sana ke mari. “Puas,” jawab Rainier tak tahu malu. Mengambil Raja dari pundak sahabatnya. “Nanti kalau kamu punya anak perempuan, pasti aku jodohin sama Raja,” sambung Rainier. “Hahaha. Janji lo ya?” “Ya,” jawab Rainier pendek, duduk lagi di meja kerjanya sembari memegangi Raja agar anteng dalam pangkuan. Leo masih terbuai janji manis. Pas Ragil datang dari luar, habis ngantar Yuda pipis di kamar mandi karyawan, Ragil mencak-mencak ke Rainier. “Aku udah rawat Yuda segininya lho, ya. Awas kalau kamu ingkar janji, bilang kalau aku punya anak cewek kita bakal besanan!” Leo jelas tak terima. “Rainier udah janji sama gue!” teriaknya. “Halah, kapan? Rainier udah ngomong sama aku sejak dulu.” “Lo ingkar janji sama gue, Rain?!” teriak Leo tak terima. Dia selalu merasa menjadi super bestie untuk Rainier. “Jelas gua lebih berhak daripada Ragil!” katanya. Rainier mengangkat tangan, menghentikan Ragil yang hendak balas mendebat. “Guys, kalian lupa? Aku ada dua anak,” kata Rainier, merentangkan tangan kanannya. Leo dan Ragil saling lihat-lihatan. Raja dalam pangkuan Rainier, juga Yuda dalam gendongan Ragil, kedua bocah itu melihat antusias pada orang-orang dewasa. Bukan rahasian umum, semua juga tahu, kalau Yuda adalah anak dari Evan. Musuh besar mereka saat SMA dulu. Lyssa, Evan, Rainier, Ragil, Leo, juga banyak karyawan Rainier saat ini adalah teman-teman satu SMA dulu. “T-Tapi,” kata Ragil canggung. “Tapi kenapa?” Lyssa yang sudah datang mengambil Yuda dari gendongan Ragil. “Bukan aku, Yang. Mereka kok yang ungkit-ungkit,” kata Rainier mengadu. “Hmph.” Lyssa duduk di sofa tamu. “Tolong ambilkan susunya Yuda,” kata Lyssa. Baby sitter Yuda bergegas mengambilkan termos hangat dari tas mereka, menuang sedikit di botol s**u milik Yuda. Yuda tidak suka s**u hewani, jadilah dia khusus minum s**u vegetarian. “Yang, kok diam? Beneran bukan aku lho yang ngomong,” kata Rainier, tidak nyaman kerja jika istrinya ngambek begini. “Iya, Lyss. Kita kok yang salah,” balas Ragil. Merasa bersalah juga sudah beda-bedain Yuda dan Raja. “Lagian, Mas sih, kok janji-janjiin mau besanan sama Ragil sama Leo. Nikah ya terserah anak-anak nanti dong maunya sama siapa,” kata Lyssa. “Wah, Lyss. Nggak bisa gitu dong,” kata Leo tak terima. Bergeser duduk di sebelah istri sahabatnya. “Gua sama Rainier udah kenal lama, udah sejak SMP lho, Lyss. Lo tega banget dah.” “Hm.” “Iya, Lyss. Bener, kita ini bestie-nya Rainier lho,” sambung Ragil. “Hm,” balas Lyssa. Dia sudah tidak sekesal tadi, memaklumi sahabat-sahabat suaminya. “Tergantung nanti,” jawab Lyssa. Sudah mulai terbujuk. “Udah deh, entar anak gue sama Yuda nggak papa. Biar nanti anaknya Ragil sama Raja. Yuda juga ganteng kok,” balas Leo, mencubit gemas pipi Yuda. “Oh ya?” Lyssa minta diyakinkan, minta dibujuk dan dirayu. Ragil yang nge-fans berat sama Rainier pun tak mau kalah, berusaha jadi besan. “Iya, Lyss. Beneran lho. Aku lihat dari mana pun Yuda super ganteng. Maklum saja, mamanya saja super cantik.” Lyssa mencoba menyembunyikan senyum. Bahagia mesem-mesem. Semakin deh Ragil dan Leo penuh semangat merayu-rayu. “Memangnya kalian akan segera nikah? Aku lihat story kalian masih sering clubbing,” kata Lyssa. “Ya ampun, please deh, Say. Club itu milik kita. Ya kali kita nggak mampir,” jawab Leo. “Benar juga. Gimana kabar Limitless sekarang?” tanya Lyssa. Ragil dan Leo antuasias, penuh semangat menceritakan ini dan itu. Si Ragil malah keenakan ngemper di karpet dekat kaki Lyssa, curhat tentang wanita yang tengah dia pacari saat ini. Lyssa tak kalah semangat memberi motivasi, bahagia bisa membantu teman-teman Rainier. Rainier tersenyum, senang lanjut kerja. “Daddy! I want Mommy!” Raja menggeliat-geliat ingin turun, tapi diabaikan papanya. Masih Rainier peluk sambil ia kecupi pipi gembil putranya. *** Makan malam kali ini, makan malam formal. Satu kantor Rainier ajak keluar semua. Restoran yang mereka tempati penuh diisi anak buah Rainier. “Ditraktir Bos!” Teriakan itu terdengar dari sana-sini. Bahagia dan lepas. Bisa pulang cepat, dapat traktiran lagi. Di tengah canda tawa, Rainier dan beberapa orang penting AR Group berdiri. Suasana hening seketika. “Kalian makanlah,” kata Rainier. Wajahnya datar, meski muda namun tetap berwibawa. Dia lihati wajah orang-orang yang bekerja untuknya. “Mau ada badai apapun di luar sana, biar aku yang tangani. Kalian hanya perlu lakukan yang terbaik. Lakukan yang terbaik pada apapun itu tugas kalian.” “Baik, Bos!” balas para karyawan bersahut-sahutan. Kebanyakan karyawan Rainier memang laki-laki, hanya sedikit karyawan perempuan. Itu pun hampir tujuh puluh persen karyawan elite Rainier saat ini adalah bekas teman se-gang Rainier saat SMA dulu. Lyssa di sebelah Rainier, dengan dua putranya yang tertidur dalam gendongan itu tak kalah beriwibawa. Cantik dan tenang, sangat serasi untuk Rainier di mata para karyawan. Rainier mengangguk, tenang melihat semua anak buahnya. “Jangan mengecewakanku,” katanya. Hening. Semua orang meneguk ludah gugup. Banyak yang sudah menundukkan kepala, tak berani melihat dan dilihati Rainier. “Kerja bagus hari ini. Sampai jumpa besok pagi,” pungkas Rainier “Baik, Bos.” Para karyawan berdiri, melihat sampai Rainier dan rombongan keluar semua. Sampai di luar, Rainier mengecupi anak istrinya. “Sayang pulang saja dulu. Tunggu aku di rumah,” kata Rainier. Lyssa menggelengkan kepala. “Aku tunggu. Kita pulang bareng-bareng.” Rainier dengan jarinya membelai pipi istri tercintanya. “Tapi nanti tunggu mobil ya?” bisiknya. “Mm.” Rainier mengecup lagi kening istrinya, setelah itu berbalik, masuk ke mobil bersama asisten juga sekretaris pribadinya. Rombongan orang-orang penting, termasuk juga Ragil dan Leo ikut rombongan. Terpisah dengan mobil-mobil mereka. Lyssa masih berdiri, melihat saat mobil suaminya menjauh. “Mari, Nyonya,” ajak Dian. Mobil van Lyssa juga bodyguard bayangan sudah menunggu. Lyssa menguatkan hati, masuk mobil bersama kedua anaknya yang tertidur. Tentang Rainier. Lyssa juga tahu, bisnis Rainier yang tampak di luar memang tentang usaha sewa menyewa gedung AR juga perhotelan. Tapi selebih itu, Rainier juga punya beberapa klub malam, mengikuti jejak tauladan panutannya, Senior Kwan. Dan ... hanya Rainier dan teman-temannya yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sebenarnya terjual belikan dalam kedok klub malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD