Agar bisa di kantor Rainier lebih lama, selesai anak-anak bangun, Lyssa langsung memberi anak-anak makan buah dan s**u formula untuk pengganjal perut, setelah itu mandiin sekaligus nyiapin anak-anak, rapi dan tampan bersiap keluar.
Dua pelayan di rumah Lyssa, Dian dan Rina, ditambah dua lagi baby sitter, ikut rombongan mengantar Lyssa dan anak-anak.
Untuk alasan keamanan, semua pelayan dan pekerja di rumah Rainier adalah bodyguard, Rainier latih di sekolah butler untuk bisa menjadi pelayan sekaligus bodyguard untuk keluarga kecilnya.
“Mama itu apa?”
“Kantor polisi.”
“Mama itu apa?”
“Tempat belanja.”
“Mama itu apa?”
Dahlah pokoknya, Raja dan Yuda benar-benar tidak akan berhenti bertanya. Satu bertanya, yang satu lagi pasti ikut bertanya, tak akan ada habisnya.
“Aku mampir tempat Evan bentar,” pesan Lyssa pada Rainier.
“Oke,” balas Rainier pendek.
“Aku mampir bentar sama Yuda,” chat Lyssa pada Evan.
Lyssa memang harus menjaga perasaan Rainier, tapi dia juga harus menjaga perasaan Evan selaku ayah dari Yuda. Berhubung juga saat ini Evan masih ngantor di perusahaan yang keluarganya dulu akuisisi, satu jalur sama gedung AR, gedung milik Rainier yang juga tempat kantor Rainier, sekalian saja Lyssa mampir.
“Untung chat. Aku baru mau keluar,” balas Evan.
“Ya,” balas Lyssa.
Lelah sih sebenarnya, berada di antara dua lelaki seperti ini. Tapi ya, sepertinya akan seperti ini terus sampai nanti. Bahkan meski Evan sudah menikah dan punya anak pun, tak akan bisa menghapus fakta, bahwa Yuda adalah anak Lyssa dari Evan.
Setiba di gedung tempat Evan kerja, Lyssa menunggu pintu mobil dibukakan pelayan sembari membantu kedua anaknya keluar.
Turun dari mobil, dua anak Lyssa sudah persis seperti tuan-tuan muda di fim-film, baju mahal, dandanan rapi. Dengan pipi chubby-chubby tanda kesuburan.
Evan yang sudah menunggu di depan gedung langsung tersenyum lebar.
Evan dan Yuda, sama-sama pemalu, penjaga perasaan juga. Tiap mau melakukan sesuatu pasti hati-hati dan dipikir dulu.
“Yuda sayang. Sana ketemu Papa dulu, Nak,” kata Lyssa, mendorong punggung putra sulungnya menuju Evan.
Yuda ragu, melihat mamanya, lalu melihat Evan yang terlihat gugup menunggu.
“Evan, sekali-kali, kamu harus yang mulai juga meluk Yuda duluan,” kata Lyssa.
Tak menahan lagi, Evan langsung berhambur, berlutut untuk memeluk anaknya.
Yuda juga tak malu-malu lagi, merangkulkan kedua tangan mungilnya di leher papanya.
“Mmuah. Anak papa apa kabar?” kata Evan, bahagia mengecupi pipi anaknya.
“Baik,” jawab Yuda malu-malu.
Sekretaris juga asisten pribadi Evan yang menemani atasannya itu ikut terharu melihat Evan dan Yuda, sedikit-dikit, mereka tahu juga masalah pribadi atasan mereka.
Evan masih berbunga-bunga, menggendong Yuda sembari memperlihatkan sekeliling gedung.
Raja yang masih di sebelah Lyssa, menarik genggaman tangan mamanya.
“Iya, Sayang?” tanya Lyssa.
“Apa aku bukan anaknya Papa Evan? Kenapa Papa Evan tidak menggendongku juga?” tanya Raja polos.
“O-Oh, ya. Raja anaknya Papa Evan juga kok. Anaknya Papa Rainier juga. Sini, biar Mama yang gendong.”
Meski manyun, Raja masih mau juga digendong mamanya.
Raja cemburu melihat Yuda digendong Evan, manyun-manyun melihat kakaknya.
“Mommy, kenapa aku dan Kak Yuda punya dua papa?” tanya Raja.
Lyssa mengecup sayang pipi anaknya. “Kalian punya dua papa, karena kalian ada dua,” balas Lyssa.
Raja mengangguk-angguk, puas mendengar jawaban mamanya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Evan akhirnya puas juga. Mengembalikan Yuda ke gendongan Lyssa.
“Nggak berat, Lyss, nggendong dua gitu?” tanya Evan.
“Berat pasti, tapi mereka anakku. Bentar lagi juga gede, nggak akan minta gendong lagi,” kata Lyssa.
“Aku lihat ada yang sampai SD masih minta gendong lho,” balas Evan.
“Kalau sudah SD minta gendong ya aku suruh papa mereka yang gendong,” balas Lyssa.
“Papa mereka? Aku?”
“Ya, kamu dan Rainier.”
Akhirnya, senyum tulus mampir juga di wajah Evan. “Sorry buat yang tadi. Tolong bilangin ke Rainier, aku minta maaf.”
“Nggak, bilang saja sendiri.”
“Ya kali aku minta maaf ke Rainier.”
“Kan tinggal chat ‘Sorry’ gitu aja beres sih.”
“Hm. Baiklah, akan kulakukan setelah ini.”
“Terima kasih,” balas Lyssa tulus.
Lyssa dan kedua anaknya melihat Evan lama.
“Evan, percayalah. Rainier tidak pernah sekalipun memperlakukan Yuda berbeda. Rainier sangat baik pada Yuda. Aku tahu, sampai kapan pun Rainier tidak akan pernah ada baiknya di mata kamu dan keluarga kamu. Tapi, aku hanya ingin kamu percaya, kalau kami tulus sayang sama Yuda.”
“Aku tahu, Lyss. Aku tahu,” kata Evan.
“Aku hanya sedih. Aku cemburu pada Rainier.”
Lyssa menunduk, malu juga. Dulu, saat Rainier menculiknya yang akan menikah dengan Evan, harusnya Lyssa bisa saja kabur dari Rainier, tapi, dalam hati Lyssa, memang dia telah lama memilih Rainier.
“Maaf,” kata Lyssa tulus.
Evan menghela napas, melihat mantan wanita terkasihnya yang tengah menunduk.
“Tidak bisakah, Lyss? Aku mungkin bisa lebih baik dari Rainier. Aku mungkin bisa, lebih sayang ke anak-anak melebihi sayang Rainier ke anak-anak. Aku mungkin juga bisa menjadi suami yang lebih baik dari Rainier. Tolong beri aku kesempatan.”
Evan memang sering sekali berkata yang seperti ini. Meski begitu, sekalipun tak pernah hati Lyssa goyah. Wanita itu mengangkat kepala, tersenyum pada mantan kekasihnya.
“Maaf, tapi tidak bisa,” kata Lyssa dengan senyuman.
Lyssa masih tersenyum, membenarkan posisi dua anaknya dalam gendongan. Kedua anak itu penuh rasa penasaran mendengarkan obrolan mama mereka meskipun tak mereka pahami.
Evan menghela napas. Butuh waktu lama sampai dia akhirnya rela.
“Pergilah, pasti mau ke Rainier kan? Sana pergi,” kata Evan. Ada lara dalam matanya.
“Terima kasih,” balas Lyssa tulus. Dalam hati dia lega, setidaknya Evan sudah tak marah lagi, tinggal menenangkan suaminya sekarang.
Evan pria gentleman, sejak dulu, sampai sekarang pun masih. Membantu Lyssa dan dua anaknya masuk ke mobil, membantu memakaikan sabuk pengaman untuk anak-anak. Begitupun masih sempatnya dia menunggu sampai mobil van Lyssa tak lagi kelihatan.
***
“Aduh Yuda, Raja, gemas sekali!” kata para penghuni gedung.
Sampai di gedung AR, Raja dan Yuda tak ubahnya pangeran kecil. Disapa, disanjung, dan disayang banyak orang. Raja dan Yuda memang sudah sangat terkenal di antara pengguna gedung AR.
Ditemani Dian dan dua baby sitter, Lyssa naik ke lantai empat belas. Lantai untuk kantor perusahaan Rainier.
Begitu keluar dari lift-
“Raja, ya ampun gemesin!!” jerit para karyawan wanita.
Raja memang pandai mengambil hati para wanita. Gayanya itu super menggemaskan. Berpose-Pose imut mencuri afeksi.
“Ini. Kakak ada cokelat lho,” kata para karyawan.
Tak menunggu satu menit, berita kedatangan Yuda dan Raja sudah menyebar. Para karyawan berbondong-bondong datang melihat calon penerus Rainier.
“Terima kasih. Terima kasih,” kata Yuda dan Raja ceria, menerima banyak sekali hadiah. Mereka sudah tak lagi digendong Lyssa, sudah turun sejak dapat hadiah pertama.
Meski Yuda sedikit pemalu, dia tetap dapat juga aneka hadiah dari karyawan. Seabrek jajanan itu dibawa oleh baby sitter.
“Di mana Rainier?” tanya Lyssa.
“Oh. Pak Rainier sedang ada meeting, Bu.”
“Sama client atau partner?” tanya Lyssa.
“Rapat internal saja kok, Bu.”
Lyssa mengangguk-angguk. Duduk di sofa lobi. Petugas resepsionis bergegas menyiapkan minuman favorit Lyssa dan anak-anak.
Beberapa orang karyawan masih stay, menemani Lyssa sekalian bantuin momong Yuda dan Raja.
Yuda yang awalnya malu-malu bersembunyi di belakang mamanya lambat laun berani juga digendong salah seorang karyawan. Si Raja malah sudah main kejar-kejaran sama resepsionis kantor.
“Sayang.”
Lyssa menoleh, melihat suaminya.
Rainier dengan langkah lebar datang menuju istrinya, di belakangnya, wajah-wajah para kolega masih terlihat kusut, sepertinya selesai meeting serius.
Baru juga Rainier hendak meluk cium istrinya, dua anaknya yang tahu papanya sudah datang langsung datang menyerbu.
“Daddy!!!” teriak mereka keras-keras.
Menghela napas, Rainier balik kanan, membungkuk sembari membuka tangan lebar-lebar untuk anak-anaknya.
“Bagaimana hari ini?” tanya Rainier, memeluk ciumi kedua anaknya.
“Hari ini aku dapat kue cokelat! Banyak sekali! Yay!!” teriak Raja senang.
“Mama bilang tidak boleh makan cokelat banyak-banyak, Raja!” balas Yuda.
Rainier dan orang-orang di lobi tertawa, gemas sendiri melihat Yuda menasihati adiknya.
“Kalian pasti mau pacaran kan? Sini, biar Raja sama aku,” kata Leo.
“Iya, bener,” sambung Ragil.
Rainier menghela napas tak peduli. “Ayo, Yang,” katanya pada Lyssa. Rainier berdiri sembari menggendong kedua anaknya.
Lyssa, si istri bos yang cantik nan seksi itu ikut berdiri, digandeng suaminya.
Para karyawan perlahan bubar, kembali bekerja. Sementara Leo dan Ragil, sahabat Rainier sejak SMA dulu itu nyelonong buntutin sobat mereka.
“Ngapain ikut?” tanya Rainier tanpa menoleh ke belakang.
“Udah gua duga kalian pasti mau m***m, ya kali kalian m***m depan anak-anak!” balas Ragil sewot.
“Kita tidak pernah m***m di depan anak-anak,” balas Lyssa, menoleh ke belakang.
“Iya, di depan anak-anak nggak pernah. Di belakang anak-anak sering kan?” balas Leo, dibalas cekikikan oleh Ragil.
Lyssa memutar mata, menoleh lagi ke depan.
“Tidak usah dihiraukan,” kata Rainier.
“Ya,” balas Lyssa.
“Ciye yang mau m***m,” goda Ragil, heboh lagi ketawa-tawa gaje bareng Leo.