3. Menantu dan Mertua

1246 Words
Lyssa yang sudah kehilangan kepercayaan diri, menunduk. Tak sanggup ditatap mata awas suami dan mantan kekasih. “Oke.” Lyssa sungguh tak percaya. Mulut wanita itu membulat ‘O’ saat wanita itu mengangkat kepalanya. Pertama kali dalam seumur hidup, Evan akan masuk di kediamannya bersama Rainier. Sebelumnya, Evan tak pernah mau saat ditawari masuk ke rumah Rainier. Rainier membenarkan posisi si kembar dalam gendongan. “Mari,” ucap pemuda itu. Berjalan mendului. “M-Mari,” ajak Lyssa lagi. Wanita itu berjalan lambat-lambat. Menoleh ke belakang untuk memastikan tamu mereka ikut. Tante Sheila membenarkan scarf, masuk dengan kepala yang terangkat tinggi. Tangannya posesif menggandeng di lengan putranya. Pelayan di rumah Rainier bergegas ke dapur, menyiapkan meja makan. “S-Sudah setahun ini aku ikut kelas masak. Kadang suka masak untuk sarapan,” bilang Lyssa bangga. Tante Sheila yang semula melihati lukisan di dinding rumah mendengus singkat, mungkin tak suka dengan pilihan seni Rainier yang terlalu abstrak. “Ambil kelas di mana, Nak?” tanya Tante Sheila pada Lyssa. “D-Di yang dekat jalan utama itu, Te. Yang punyanya chef terkenal.” “Oh, yang itu? Iya, Mama tahu.” Merasa lebih percaya diri lagi, Lyssa memberanikan diri tersenyum lebar. Sesekali melirik pada Evan. Pemuda itu masih acuh. Dingin melihati deretan foto Rainier dan teman-temannya di lorong koridor. Baru setelah foto berganti menjadi rentetan foto Lyssa dan Rainier, pemuda itu memalingkan wajah. Datar melihat putranya yang diam-diam melihatinya. Lyssa menunduk. Tak lagi berusaha untuk mencairkan suasana. *** Dapur merangkap ruang makan Rainier memiliki dua bangku panjang. Puluhan kursi berderet di sana. Rainier memang sering mengundang teman-temannya makan malam di rumah. Pelayan Lyssa sopan membukakan kursi. Sementara Rainier masih dengan wajah datarnya mendudukkan putra kembar mereka di kursi anak. “Apa Yuda makannya teratur?” tanya Tante Sheila. “Teratur kok, Te. Yuda makannya lahap. Kecuali pas lagi sakit.” “Yuda pernah sakit? Kenapa Mama tidak tahu?!” Lyssa yang tengah menyiapkan makan malam di belakang konter serba salah. “M-Maaf,” kata wanita itu. Rainier mengembuskan napas kesal. Tak suka istrinya dimarahi seperti ini. “Masak apa hari ini, Yang?” tanya pemuda itu. Datang menuju istrinya. Jika tidak ada tamu, mungkin saat ini dia sudah memeluk cium istrinya. “Mi dingin dengan acar mentimun dan minyak wijen,” balas Lyssa ceria. “Hm. Kelihatannya enak.” Senyum Lyssa kian lebar. Wanita itu malu-malu menyuapkan sebagian pada Rainier. “Enak,” balas Rainier. “Terima kasih,” balas Lyssa senang. Ceria menyajikan makan malam. Evan mendengus. Tak lagi berminat melihat ke konter. Pemuda itu mengalihkan pandangan ke dinding dapur. Semakin Evan lihat, semakin dia tak ingin melihat apa pun. Dapur ini penuh dengan foto Rainier dan Lyssa! Tante Sheila juga menampilkan wajah tak senang menyaksikan kemesraan Lyssa dan Rainier. Dia pun memilih untuk melihat cucunya saja. Cucunya itu sangat penurut, anteng duduk di kursi. Wajah Yuda yang sangat mirip dengan wajah ayahnya membuat Tante Sheila betah memandang. “Yuda mau duduk sama Oma?” panggil Tante Sheila. Si kecil Yuda menganguk, lalu menggeleng. Tersenyum malu-malu. Raja yang tadinya bernyanyi, “Makan, makan,” langsung tak terima karena tak ditawari. Bocah itu mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Aku! Aku! Aku mau dipangku sama Oma!” Entah siapa pun itu papanya, Raja tetaplah bocah yang menggemaskan. Tante Sheila tertawa senang. “Ya sudah, sini Yuda sama Raja. Dipangku Oma bareng-bareng.” “Yeee..!!” Bersorai, dua bocah lelaki itu saling bertarung, turun dari kursi mereka sebelum berlari cepat-cepat ke Oma mereka. Tawa Tante Sheila terdengar merdu, penuh kasih sayang. Betapa bahagianya dia, di hari tua seperti ini punya dua cucu yang lucu-lucu saling berebut untuk menciumnya. Lyssa tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Meski ada pelayan, dia dan Rainier sendiri yang menyiapkan makan malam untuk tamu dan anak mereka. Rainier yang tak ingin anak-anaknya menganggu tamu-tamu mereka, mendudukkan si kembar ke kursinya lagi. “Selamat makan,” ucap Rainier. Wajahnya datar, sedatar nada bicaranya. “Mari,” imbuh Lyssa dengan senyum lebar. Evan mengangguk, berterima kasih. “Selamat makan!!” teriak Raja kencang. “Selamat makan, Sayang,” balas Lyssa dari sebelah. “Selamat makan, Mama!” jawab si kembar bersamaan. “Bilang ke Daddy juga.” “Selamat makan, Daddy!” “Papa Evan?” “Selamat makan, Papa Evan!” “Oma?” “Selamat makan, Oma!” Tante Sheila tertawa-tawa, senang melihat tingkah lucu si kembar. “Iya. Oma makan. Selamat makan, Sayang!” ucap Tante Sheila, menirukan mamanya si kembar. Yuda tersenyum kalem, mengangkat garpu. Sementara Raja, jangan tanya. Bocah itu tiba-tiba mengangkat kakinya di atas meja, bersandar santai di kursi kayu. Rainier menjeda makan. Dia membenarkan dulu posisi anaknya. “Duduk yang benar,” kata pemuda itu. Mengambilkan garpu ke tangan Raja. “Selamat makan,” ucap Rainier pelan. “Selamat makan!” balas Yuda dan Raja bersamaan. Baru setelah itu, Raja mau makan. Lahap bertarung dengan kakak kembarnya. Baru setelah melihat si kembar makan, Evan dan mamanya mengangkat garpu. Mencicipi masakan Lyssa. Hening. Hanya ada suara gumaman tak jelas dari Raja. Wajah Evan dan mamanya merengut aneh. Evan sampai menaikkan alis. “Rasa apa ini, Lyss?” Untuk pertama kalinya, Evan mau bicara pada Lyssa. Tentu saja Lyssa suka. Wanita itu tersenyum lebar. “Cold sesame noodles!” jawab Lyssa bangga. Evan dan mamanya kompak mengangguk. Melihat wajah bahagia Lyssa, mereka tak berani berkomentar. Hanya sesekali minum air putih tiap kali selesai makan. Rainier sebagai pemuja Lyssa, dengan bangga menyelesaikan makan malam. Senyum pemuda itu tengil, bersiul-siul saat membantu anak-anaknya makan sembari menunggu dessert. Evan yang terpancing oleh Rainier tentu tak mau kalah. Pemuda itu membuang jauh-jauh fungsi lidahnya, lahap makan. Tak peduli seberapa manisnya mi mereka, tak peduli seberapa banyak Lyssa menambahkan irisan daun seledri, jika Rainier saja bisa menghabiskan, tentu dia juga bisa! “Mau nambah?” Pertanyaan polos Lyssa disambut oleh suara keselek dari Evan dan mamanya. “T-Tidak, terima kasih,” jawab mereka bersamaan. Rainier lagi-lagi tersenyum bangga. Jelas hanya dia yang sanggup menghabiskan semua masakan istrinya. Berulang kali menolak, Evan dan mamanya tetap pulang dengan bingkisan kue dari Lyssa. Bukannya mereka tak suka, hanya saja, mereka sudah mencicipi kue itu saat dessert tadi. Kue rasa keju buatan Lyssa ... sangat menyeramkan! *** Hari berlangsung damai. Di suatu siang yang hangat, Lyssa berlatih memasak cookies dengan kedua buah hatinya. Hatinya riang, tidak sampai pelayannya melapor. “Nyonya besar datang.” Lyssa membeku. Kedua bocahnya masih asyik bermain tanpa tahu perang batin yang sedang mama mereka alami. Suara ‘tuk tuk’ sepatu hak tinggi mendekat. Lyssa semakin panik. Pintu dapur yang setengah terbuka semakin dibuka lebar. Keempat pelayan Lyssa berderet di depan pintu, menyambut ... mama mertua. “Selamat siang, cucuku.” Berbeda dengan Tante Sheila yang menganggap kedua anak Lyssa sebagai cucunya, Mama Ratih, mamanya Rainier, hanya menganggap Raja saja sebagai cucunya. “Grandma!!” teriak Raja kencang. Sementara Raja berlarian menyambut neneknya, Yuda berlari ke mamanya, memeluk kaki. “S-Selamat siang,” sapa Lyssa takut-takut. Tangannya erat memeluk putra sulung. Mama Ratih tak menggubris, mengangkat Raja dalam gendongan. “Grandma bawain kamu banyak sekali oleh-oleh,” ucap Mama Ratih. Kedua pelayan yang dia ajak meletakkan puluhan kotak hadiah di meja makan. Raja bahagia, berteriak-teriak saat membuka hadiahnya satu per satu. “Aku mendengar mertuamu datang bawa hadiah untuk cucunya, tentu saja aku harus mengirim hadiah untuk cucuku,” bilang Mama Ratih. Wanita itu angkuh, melihat Lyssa dengan pandangan merendahkan. Lyssa hanya bisa tersenyum. Padahal jelas, yang mertuanya adalah Mama Ratih, bukan Tante Sheila, tapi Mama Ratih selalu mengatainya menantu Keluarga Sanjaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD