Raja bahagia bermain dengan robot baru pemberian neneknya. Teringat saudaranya, bocah itu pun mencari-cari. “Ayo main!” teriaknya, melihat Yuda di belakang mama mereka.
Yuda yag semula ketakutan langsung tersenyum begitu melihat adiknya, berlari kencang menuju adik kembarnya. “Ayo main!” ulangnya senang.
Kedua bocah itu bahagia asyik tertawa-tawa, sama sekali tak ingat pada mama mereka. Lyssa masih sama, berdiri menguatkan hati di belakang konter.
Ratih mungkin sudah lupa pada Lyssa. Wanita yang biasa dingin itu tertawa lepas. Bahagia saat Raja menggandengnya ke sana ke mari.
“Ambilkan mainanku!” teriak Raja pada pelayan.
Pelayan-Pelayan yang dibawa Ratih sudah hafal betul dengan rumah Lyssa, mereka gerak cepat bahkan sebelum pelayan-pelayan Lyssa bergerak.
Ratih mengangguk puas.
Lyssa tersenyum lemah, melihat saat pelayan-pelayan ibu mertuanya datang dengan berkotak-kotak mainan. Dapur luas di kediaman Lyssa-Rainier semakin semarak saat Yuda dan Raja mengeluarkan semua mainan mereka.
“Ayo naik pesawat!” ajak Yuda.
“Ayo!!” jawab Raja tak kalah semangat.
“Aku akan membawa Grandma ke luar angkasa!” teriak Raja. Satu tangan dia membawa mainan pesawat, sementara tangan yang lain mengandeng neneknya.
Yuda bahagia memeluk adiknya, ikut ‘terbang’ dengan memeluk adiknya dari belakang. Ketiga orang itu penuh tawa mengitari meja makan Rainier yang luas.
“Hahaha. Aduh, Sayang. Grandma capek. Grandma capek,” bilang Ratih. Tak bisa berhenti tertawa sedari tadi.
Lyssa dalam diam mulai membereskan bekas-bekas adonan cookies. Pelayan-Pelayan Rainier juga seperti nyonya mereka, diam-diam membantu Lyssa membereskan konter.
“Grandma! Grandma! Aku mau puppy!” teriak Raja.
“Aku juga mau puppy!” teriak Yuda juga.
Lyssa yang tengah menyiapkan teh untuk mertuanya itu menoleh ke belakang, melihat saat nenek beserta kedua bocah lelaki itu tengah berdiri dalam lingkaran hulahop besar warna merah, bekas hulahop olahraga milik Lyssa dulu.
Raja dan Yuda insting melihat ke Lyssa, langsung diam begitu dilihati mama mereka.
Ratih yang mulai curiga pun keluar dari lingkaran hulahop, berjongkok di depan cucunya.
“Ada apa, Sayang? Cerita sama Grandma.”
Raja ragu tak menjawab. Ratih menoleh kesal pada Lyssa. “Apa kau sedang menakuti cucuku?!” teriaknya.
Lyssa diam tak menjawab, berbalik untuk lanjut membuatkan teh untuk mertuanya. Lyssa merasa terkhianati sekali saat dia mendengar Raja berbisik-bisik dengan neneknya.
Tentang puppy keinginan Yuda dan Raja, bocah kembar itu sudah lama bilang ingin. Sayangnya Lyssa takut hewan, itulah kenapa Rainier tak pernah membelikan anak-anaknya puppy.
“Grandma jangan bilang Mama,” bisik Raja, terdengar sampai ke Lyssa.
“Iya, Sayang. Cucu Grandma tenang saja, nanti biar Grandma yang ngomong sama mama kamu.”
“Beneran?” tanya Raja senang, cadelnya sampai keluar.
Meski Yuda takut pada Ratih, tapi tetap bocah itu ikut senang, berpelukan dengan adiknya, tak sabar akan punya anjing peliharaan.
“Tante, tehnya silakan.” Lyssa tenang membawakan nampan berisi teh untuk mertuanya.
Ratih berdiri, mengibas debu saat melihat Lyssa. “Kau pikir aku sudi minum tehmu?”
Lyssa bimbang, melihat kedua anaknya yang polos bergandengan tangan. Dalam hati bertanya, apakah anak-anaknya tahu jika saat ini mama mereka tengah dirundung?
Berdecak jijik, Ratih berkata, “Siapkan makan siang cucuku.”
Lyssa minggir. Berasa di rumah orang saat pelayan-pelayan yang dibawa Ratih menginvasi dapurnya.
“Sayang, sini,” panggil Lyssa pada Yuda. Dia letakkan nampannya di atas meja. Langsung dibersihkan oleh pelayan Ratih. Dibuang begitu saja teh yang baru Lyssa buat.
Yuda melihat adiknya, tapi melihat mamanya yang merentangkan tangan, Yuda memilih mamanya, berlari masuk ke pelukan mamanya.
Raja juga bimbang, tapi dia sudah biasa seperti ini. Disayang-Sayang neneknya seorang diri.
Dari dulu hingga sekarang, jika sedang bersama Ratih, trauma Lyssa tentang kekejaman Ratih dulu selalu muncul. Lyssa tak pernah berani duduk jika Ratih tak menyuruhnya.
Begitulah, seperti saat-saat Ratih berkunjung, Raja makan disuapi neneknya sambil PW duduk di meja makan, sementara Yuda disuapi Lyssa. Digendong sambil berdiri.
Suara tawa Raja terdengar tergelak-gelak, dicumbu terus oleh neneknya.
“Mama, apa Grandma tidak menyukaiku?” tanya Yuda polos.
Lyssa tergesa menutup bibir putra sayangnya. “Sayang nggak boleh panggil ‘Grandma’ ya?” bisik Lyssa, takut jika mertuanya mendengar Yuda memanggilnya dengan sebutan ‘Grandma.’
“Kenapa tidak boleh?” tanya Yuda.
Lyssa membawa anaknya agak ke belakang, menjauh dari Ratih, mencoba menjelaskan sebisa mungkin. “Karena Grandma itu neneknya Raja, kan Yuda sudah punya Oma Sheila sama Oma Vania,” kata Lyssa.
Vania adalah istri papanya Lyssa. Sementara Lyssa adalah anak hasil perselingkuhan papanya dengan seorang wanita asal Italia. Butuh perjuangan panjang sampai akhirnya Lyssa diterima oleh keluarga ayahnya.
Yuda manyun mengerucut. Lyssa ikut sedih juga, apalagi setelah itu Yuda tak nafsu makan. Semakin kacau rasanya hati Lyssa.
***
Selesai menyuapi makan siang dan menidurkan anak-anak, Lyssa kembali dihadapkan pada mama mertuanya.
Ratih duduk bersedekap di ruang tamu, melihat ke halaman dari pintu rumah yang terbuka sementara Lyssa berdiri di pinggir pot dekat sofa, ditemani deretan pelayan di belakangnya.
Dalam suasana yang mencekam, Ratih menoleh, melihat Lyssa yang menundukkan kepala. “Cucuku bilang tidak boleh papanya memelihara puppy karena kau tak suka hewan. Sungguh?” cercanya.
“Maaf,” jawab Lyssa. Lyssa wanita yang cantik, dengan tubuh indah yang berisi di tempat-tempat yang tepat. Namun, saat ini, semua aura kecantikan Lyssa benar-benar tertutup rapat oleh rasa ketidak percayaan dirinya.
Suara Ratih tiba-tiba meninggi. “Itu karena kau tak pernah punya orang tua! Itulah kenapa saat menjadi orang tua pun kau tak becus!”
Memang benar Lyssa tak punya orang tua. Mamanya dulu bunuh diri saat ditinggal papanya, Lyssa lalu dititipkan di panti asuhan, untuk kemudian diasuh oleh pamannya yang belum menikah.
“Maaf,” jawab Lyssa, hampa dan kosong.
“Aku bisa dengan mudah mencarikan mama baru untuk cucuku. Tinggal menunggu sampai Rainier bosan saja punya istri sepertimu,” kata Ratih sembari berdiri. Ia mengeluarkan segepok uang dari dalam tas, melemparkannya ke atas meja.
“Uang jajan cucuku,” katanya.
“Terima kasih,” jawab Lyssa.
Lyssa masih tenang, mengantar mertuanya keluar rumah. Sampai mobil mertuanya tak lagi kelihatan baru lemas, terduduk di anakan tangga depan rumah.
“Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja?” teriak pelayan-pelayan Lyssa panik.
“Ya. Kalian pergilah,” jawab Lyssa, mengeluarkan ponselnya dari saku dress.
Para pelayan yang khawatir tak langsung pergi, mereka hanya mundur saja beberapa langkah, memberi privasi untuk nyonya mereka.
Lyssa langsung menelepon suaminya. “Kapan pulang?” tanyanya begitu telepon tersambung.
Meski Rainier sedang rapat, dia tetap mengangkat telepon istrinya. Maklum saja, Rainier adalah CEO sekaligus owner perusahaan. Terserah Rainier meski dia mengangkat panggilan pribadi dalam rapat internal perusahaanya. Tak akan ada yang menegur.
“Iya, Yang?” balas Rainier.
“Mas kapan pulang?” ulang Lyssa, menunduk melihati cincin pernikahan mereka.
“Err, bentar.”
“Break. Lima menit,” kata Rainier pada deretan anak buah di depannya, menutupi speaker handphone dengan tangan.
Orang-Orang di depan Rainier mengangguk, cepat namun tanpa suara satu per satu keluar ruangan, menyisakan beberapa orang saja teman dekat Rainier.
“Iya, Bae?” tanya Rainier, mendekatkan lagi ponselnya ke telinga.
“Kapan pulang?” tanya Lyssa lagi. Murung menunduk melihati kuku-kuku kakinya.
Rainier melihat jam tangannya. Ragu hendak menjawab.
“Lembur pasti,” kata Lyssa.
“Sayang sudah makan?” tanya Rainier mengalihkan pembicaraan.
“Nanti pulang jam berapa?” tanya Lyssa merajuk. Lyssa memang manja, manja sekali kalau sama Rainier.
“Err? Setengah sembilan?” balas Rainier.
“Kalau setengah sembilan gak sampai rumah aku kunci kamarnya.”
“Hahaha. Jangan gitu dong, Yang.”
“Hmph.”
“Nanti aku usahakan setengah sembilan sampai rumah pokoknya.”
“Ya,” jawab Lyssa pendek, sudah akan mengakhiri panggilan.
“Sayang sudah makan belum?” tanya Rainier lagi.
“Belum.”
“Makan ya?”
“Iya habis ini.”
“Nanti kirimin aku foto pas Sayang lagi makan.”
“Oke.”
“Bye-Bye. Sampai jumpa nanti di rumah.”
“Mm.”
Lyssa mematikan telepon, masih sibuk melihati kuku kakinya yang baru saja dia ganti cat warna putih kemarin sore.
Lyssa masih asyik melamun, entah apa yang ada dalam pikirannya.
“Nyonya,” panggil Dian, pelayan Lyssa, saat mentari siang bergerak menyinari wajah nyonyanya.
Lyssa meng-“Hm hm,” lalu berdiri, pergi ke lantai dua.
Para pelayan mengikut di belakang.
“Aku akan tidur sebentar. Kalian juga istirahatlah,” kata Lyssa, berhenti untuk melihat para pelayan di belakangnya.
“Baik, Nyonya,” jawab para pelayan terkecuali Dian. Mereka membungkukkan badan sebelum kembali turun.
“Um, makan siangnya?” tanya Dian.
Lyssa mengembuskan napas lelah. “Nanti. Selesai anak-anak bangun, aku akan makan.”
Dian ingin membantah, tapi tak berani.
“Tolong ambilkan uang Raja tadi,” kata Lyssa.
“Baik,” jawab Dian. Wanita itu mengantar Lyssa ke kamar anak-anak sebelum turun ke bawah. Uang dari Ratih tadi masih di meja tamu.
Sampai di kamar anak-anaknya yang luas, Lyssa berdiri di depan pintu, melihat Raja yang tertidur pulas di kasur lantai tebal berbentuk mobil sport warna merah. Raja memang sangat suka dengan mobil-mobilan. Berbeda dengan Yuda yang lebih sederhana. Dia tidur anteng di kasur sebelah, berbentuk segi empat biasa, dengan selimut tebal bermotif pemadam kebakaran hadiah dari Evan dulu.
Kedua baby sitter Raja dan Yuda yang semula tidur mengiring langsung berdiri, sopan menyambut nyonya mereka.
“Kalian istirahatlah,” kata Lyssa.
“Baik, Nyonya.”
“Nyonya,” panggil Dian, sudah sampai dengan segepok uang puluhan juta.
“Ya,” jawab Lyssa. Dia masuk ke dalam, membuka salah satu lemari. Di dalam lemari tersebut ada sepasang lemari brankas. Satu dengan nama Kak Yuda, satunya Dik Raja.
Lyssa meng-scan sidik jarinya, lalu memasukkan sandi.
Pintu brankas Dik Raja terbuka, menampilkan brankas tiga susun penuh dengan uang.
“Rainier ingin besarin mereka pakai uang sendiri, jadilah, uang-uang untuk mereka menumpuk tak terpakai.”
Dian tersenyum, menyerahkan uang yang dia bawa.
Lyssa memasukkan uang tersebut, melihat-lihat deretan uang yang bertumpuk-tumpuk. Dia mengambil satu, lalu memberikannya pada Dian.
“Nyo-Nyonya, ini terlalu banyak!” kata Dian panik.
“Sudahlah. Daripada tidak terpakai kan? Mending buat kamu biar kepakai.”
“T-Tapi,”
“Sudahlah. Terima saja.”
“T-Terima kasih.”
“Mm,” jawab Lyssa. “Berikan juga beberapa ke pelayan yang lain,” tambahnya.
“B-Baik, Nyonya.”
Lyssa menutup kembali pintu brankas. “Sudah. Kamu istirahatlah. Aku ngantuk.”
“Baik, Nyonya!”
Dian keluar kamar, tak lupa untuk menutup pintu.
Lyssa mengembuskan napas lelah. Setiap selesai bertemu mama mertuanya, perasaannya selalu saja down.
Suara ponsel bergetar. Lyssa melihat pesan masuk dari suaminya. “Sudah makan?” tanya Rainier.
“Sudah,” jawab Lyssa berbohong. Dia pergi ke kasur, mengambil Raja dari kasur mobil, menidurkannya di sisi kakaknya sebelum dia sendiri ikut rebahan, memeluk kedua anak-anaknya.
Lyssa melihat lagi ponselnya, tidak ada jawaban dari Rainier meski pesannya sudah centang biru dua. Lyssa mengirim selfie dengan kedua anaknya. “Aku tidur dulu,” tulisnya, tak lupa menambahkan emotikon love.
“Selamat beristirahat,” balas Rainier.
“Mm.”
Lyssa sih sebenarnya bukan lelah secara fisik, tapi dia lelah sekali dalam hati. Dia sudah akan tidur saat teringat pada Evan. Dia pun mengirim ulang foto selfie-nya tadi ke grup bertiga dengan Evan dan Rainier.
Tak sampai satu menit, dua pesan masuk dari dua orang berbeda di grup bernama Twin’s Daddy tersebut.
“Yuda tidak terlalu kelihatan,” balasan dari Evan. Sementara balasan dari Rainier berupa tiga emotikon hati warna merah.
Lyssa memotret Yuda lagi, kali ini lebah jelas. Kemudian mengirimkannya di grup.
“Sangat mirip denganku,” balas Evan.
“Ya. Kamu papanya,” balas Lyssa.
Rainier tak kalah cepat saat membalas, “Bibirnya Yuda mirip seperti punyaku.”
Evan tak menggubris. Jelas Yuda tidak ada mirip-miripnya dengan Rainier. Lyssa membalas pesan suaminya dengan stiker animasi wanita ber-“Yeah!”
Raja di depan Lyssa bergeliat, berbalik untuk memeluk mamanya. Wajah bocah itu mengendus-endus d**a besar mamanya sebelum terbenam di sana.
Lysssa mengirim foto Raja yang seperti itu, mengirimkannya pada Rainier. “Seperti papanya,” tulis Lyssa.