bc

RAGA: Catatan Anak Kelas Sebelas yang Pengen Viral tapi Gagal Terus

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
drama
sweet
campus
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Raga cuma pengen satu hal: viral. Tapi tiap kali dia nyalain kamera, yang keluar justru asap dapur, lemparan penghapus, tahu isi yang dingin, dan status meme internal grup kelas.

Novel ini nge-follow Raga — murid kelas sebelas SMA Swasta Cendana yang yakin suatu hari bakal dapet 10 ribu follower, padahal follower-nya baru 1.200 (delapan di antaranya ibu-ibu arisan ibunya). Dari konten sarapan yang gosong, seragam murah yang dipaksa keliatan mahal, sampai review jajanan depan sekolah yang ketahuan copas dari Google Maps — Raga terus aja bikin rencana yang gagal dengan cara yang bikin lo geleng-geleng.

Lewat 25 catatan harian yang jujur dan receh, kita liat Raga nyoba segala cara: live t****k yang viewer-nya cuma ibu dan temennya Sandi, hari tanpa HP yang gagal jam sembilan pagi, merch murahan yang gak ada yang beli, sampai video lamanya yang tiba-tiba viral jadi meme legenda. Dia suka sama Sisca tapi gak berani nyapa. Dia bentrok sama ortu soal "main HP terus". Dia diundang talk show sekolah dan panik karena gak tau mau omong apa.

Tapi justru di kegagalan itulah Raga jadi relate. Karena jujur aja, kita juga sering salah tebak.

Ini bukan cerita anak pinter yang sukses. Ini cerita anak biasa yang berani tunjukin kalau hidupnya berantakan, terus ketawa sendiri pas liat semuanya ngepul nggak jelas. Di akhir, follower-nya naik dari 1.200 jadi 12.000 — tapi dia tetep Raga: anak sebelah yang mungkin lo kenal, atau mungkin lo sendiri.

chap-preview
Free preview
Konten Pertama yang Berakhir Jadi Meme Internal
Kenal Raga? Anak kelas sebelas di SMA Swasta Cendana yang rambutnya selalu agak berantakan karena dia terlalu malas pakai sisir tapi terlalu peduli sama filter kamera? Itu dia. Serius, kalau lo mampir ke kelas sebelas IPA-2 dan nanya "mana Raga?", semua bakal nunjuk ke anak yang lagi nonton t****k di balik buku paket biologi. Dia nggak ngetop. Jangan dibayangin kayak influencer yang mobilnya bagus. Raga itu tipe anak yang punya 1.200 follower, delapan di antaranya ibu-ibu grup arisan ibunya, dan dia yakin suatu hari bakal viral. Keyakinan itu belum terbukti sejak dia bikin akun dua tahun lalu. Sabtu pagi itu dia bangun dengan ide yang menurutnya jenius. "Gue bakal bikin konten 'apa adanya anak SMA jaman now'," katanya ke bantal. Bantal nggak jawab. Emangnya bantal bisa jawab. Raga mandi pakai shampoo yang udah mau habis sampai botolnya bunyi "krok krok krok" dan dia bilang "sisa terakhir, kayak sisa uang jajan gue". Itu menurutnya punchline. Dia rekam. Tiga detik. Dia hapus karena suaranya kedengaran kayak lagi masuk angin. Jam sepuluh dia already di depan kulkas. Isinya: telur enam butir, sambel botolan yang dari lebaran tahun lalu, dan susu kental manis yang ibunya bilang "nanti buat kopi". Raga ambil telur dua, mau masak dadar. Dia nyalain kompor, lupa matiin exhaust fan yang emang dari sananya rusak, jadi dapur berasap dalam satu menit. Dia panik. Bukan karena takut ibu pulang, tapi karena kamera HP lagi record dan asapnya bikin dia batuk kayak orang lagi demo. "Guys, ini namanya teknik smokey makeup ala dapur," katanya sambil batuk. "Viral kan harus ada sacrifice." Ibunya pulang jam dua. Raga udah bersihin dapur, telurnya jadi dadar yang gosong di pinggir, dan videonya dia upload dengan caption "anak kostan bikin sarapan tanpa drama". Dia yakin ini bakal dapet 10 ribu view. Dapatnya: 47 view. Tiga di antaranya dari dirinya sendiri buat cek komentar yang ternyata cuma satu: temennya, Sandi, nulis "wkwk asapnya kombatan bang". Raga bales "ini aesthetic mode". Sandi nggak bales. Tapi Raga nggak nyerah. Dia buka notes, tulis ide konten selanjutnya: "review jajanan depan sekolah", "cara pake seragam biar keliatan mahal padahal murahan", "rantai lagu yang gue denger pas lagi galau tapi gak pernah galau". Dia ngerasa ini semua bakal relatable. Nanti malam dia coba rekam diri lagi di kamar. Lampu kamarnya kuning, temboknya ada noda bekas dia nempel poster tapi copot, jadi tinggal bekas lem yang kuning. Dia bilang "aesthetic jadul". Kamera blur karena dia lupa fokus. Dia tetep upload. Besoknya pas sekolah, Sandi nemuin dia di kantin. "Lu tau gue kirim video lu ke grup kelas?" tanya Sandi sambil kunyah bakso. "Grup kelas? Yang isinya 34 orang itu?" "Ya. Sekarang lu jadi meme internal. Foto lu lagi batuk asap itu gue crop, jadi sticker." Raga nggak tau mau seneng atau sedih. Di satu sisi, dia kepake. Di sisi lain, dia jadi bahan lawakan, bukan influencer. "Gue juga dapet tiga follow baru," kata Raga, nyari pelipur. "Ya iyalah, mereka mau liat lu kena musibah lagi," jawab Sandi jujur. Terlalu jujur. Pas pelajaran sejarah, Raga malah buka t****k di bawah meja. Gurunya, Pak Dedi, jalan mendekat. Raga kaget, HP nyelip ke dalam celana dalam jinsnya dengan refleks yang salah sasaran. Pak Dedi cuma ngeliatin. "Raga, HP lu di pinggul kanan atau kiri?" tanya Pak Dedi datar. "Kiri, Pak," jawab Raga tanpa mikir. "Berarti lu masukin ke kantong kiri, tapi posisi lu miring. Bedanya tipis." Pak Dedi balik ke depan. "Besok bawa keluar, jangan dimasukin ke tempat yang gak semestinya. Nanti meledak gue gak tanggung jawab." Kelas ketawa. Raga duduk sambil ngerasa pinggulnya panas bukan karena HP, tapi karena malu. Tapi dia kmren malah senyum tipis. Ini bahan konten juga, kan? "Guru sejarah ngajarin child safety lewat celana," katanya ke Sandi pas istirahat. Sandi cuma ngeleng "lu emang". Sorenya mereka dapet tugas kelompok bikin presentasi soal "tokoh sejarah lokal". Raga ngerasa ini kesempatan emas buat bikin konten "anak kelompokan yang panik". Dia bilang ke Sandi, "gue yang rekam, lu yang ngerjain, nanti gue taruh suara ASMR pas lu nulis biar relatable." Sandi nanya, "ASMR apaan?" "Suara pulpen gesek kertas. Gen Z suka itu." "Lu tuh aneh," kata Sandi, tapi dia tetep nulis. Raga rebahan di kursi, HP diangkat ke atas, narasi dengan suara pelan kayak dokumenter, "Di sini kita liat anak kelas sebelas yang lagi pura-pura ngerti sejarah padahal tadi pas dikasih soal malah nanya 'Pak, ini beneran ada orangnya?'" Sandi lempar penghapus ke muka Raga. Kena. Raga lanjut, "dan itu dia, lemparan penghapus yang simbolisasi kegagalan sistemik." Sandi lempar lagi. Kena lagi. Mereka selesai jam lima. Tugasnya jadi, walau isinya cuma copas dari Wikipedia tapi dibahasainggrisin dikit biar keliatan pinter. Raga upload story "productive day with the boys" padahal yang produktif cuma Sandi. Pulang sekolah Raga jalan kaki ke halte. Hujan tiba-tiba turun, dia gak bawa payung, jadi lari ke warung depan halte yang atapnya bocor di satu sudut. Dia berdiri di situ sama bapak-bapak yang jualan gorengan. "Anak, jangan berdiri di bawah tetesan itu," kata bapaknya. "Nanti bajunya basah." "Udah basah, Pak," jawab Raga jujur. Bapaknya ngeleng, kasih dia tisu. Raga duduk di bangku plastik warung, buka HP, liat view videonya naik jadi 52. Lima tambahan. Mungkin dari grup kelas yang ngehekik. Tapi dia senyum kecil. Dia rekam diri di warung, hujan di belakang, gorengan lagi digoreng, suara cetak biru. "Ini namanya konten spontaneous," katanya. "Gak perlu setting mahal, cukup bapak gorengan dan atap bocor." Dia upload. Dapat satu like. Dari ibunya. "Makasih, Bu," katanya ke notif. Ibu nggak bales, mungkin lagi sibuk. Dia liat anak SMP pada main Pokemon GO kayaknya, atau mungkin cuma jalan sambil HP. Dia ngerasa jaman sekarang aneh tapi dia juga aneh, jadi adil. Di halte dia duduk, buka HP, liat view videonya naik jadi 52. Lima tambahan. Mungkin dari grup kelas yang ngehekik. Tapi dia senyum kecil. "Lama-lama naik juga," katanya pelan. Emang belum viral. Tapi dia mulai paham satu hal: konten yang jujur soal betapa kacau hidup sendiri, ternyata lebih gampang relate daripada konten yang dipura-pura rapi. Besok dia mau rekam dia gagal pake seragam biar keliatan mahal. Dia udah tau bakal gagal. Itu justru bagus buat konten. Raga itu begitu. Sering salah tebak, hampir selalu gagal viral, tapi dia jalan terus. Kayak kebanyakan anak Jakarta yang cuma pengen dilihat, walau caranya suka konyol. Dan jujur, kita butuh tipe kayak dia. Yang berani tunjukin kalau hidupnya sebenernya berantakan, terus ketawa sendiri pas liat asap dapur ngepul nggak jelas. Besok dia udah rencanain konten baru: "cara pake seragam biar keliatan mahal padahal murahan". Dia udah beli pins warna-warni lima ribu di tokped, yakin itu bakal ngangkat aura. Sandi udah bilang "lu bakal keliatan kayak karyawan minimarket yang lagi demo". Raga gak dengerin. Dia emang jarang dengerin, dan itu bagian dari kenapa kita suka liat dia gagal. Itu Raga. Anak sebelah yang mungkin lo kenal. Atau mungkin lo sendiri.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

DADDY'S BEST FRIENDS: Filthy Short Erotica Collections

read
2.2K
bc

Three Alpha Bikers Wants An Open Marriage(An Erotic Paranormal Reverse Harem)

read
120.7K
bc

From Prison to Power: Rise of the War Goddess

read
1K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.0M
bc

The Elemental Lycan: The Devine Elemental

read
1K
bc

Tis The Season For My Revenge, Dear Ex

read
78.6K
bc

The Bounty Hunter and His Wiccan Mate (Bounty Hunter Book 1)

read
106.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook