PART 9 - TEMAN JALAN

1785 Words
*** Davin telah selesai menyusun rencana kunjungan harian dan bulanan untuk mengetahui rute dan calon pelanggaan yang akan dituju satu bulan ke depan. Pekerjaanya sebagai pharmaceutical sales representative atau biasa disebut 'med rep' dalam bahasa sehari-hari membuatnya sering menghabiskan waktu kerjanya di luar kantor untuk melakukan kunjungan rutin kepada customer. Ia harus membangun hubungan dan relasi yang baik dengan customer dalam jangka panjang. Davin merogoh kunci motornya yang berada di dalam kantong jaket yang ia sangkutkan di kursi kerjanya. Ia memainkan kunci motor dengan memutarnya di jari telunjuk, gantungan kunci minnie mouse menghiasi kunci motornya. Ia tersenyum sendiri. "Woah..!! sekarang lo jadi penggemar Minnie mouse bang?? Gak nyangka gue, badan gagah kayak lo ada sisi feminim nya." "Berisik! Lagian bukan urusan lo!" ketus Davin. "Bakal jadi urusan gue juga kalau calon kakak ipar gue menyimpang." Rafqi melipat tangannya di dadȧ. "Seakan lo paling bener sendiri." "Hahahaha, sentimen banget, Bang!" Rafqi meletakkan sebuah paper bag berwarna cokelat di atas meja kerja Davin. Ia menyandarkan punggungnya pada partisi kantor yang menjadi penyekat meja dan kursi staf yang satu dengan staf lain. "Buat Abang Davin, pas sekali jam makan siang kan?" Rafqi melirik arloji dipergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul setengah satu siang. Davin memindai penampilan Rafqi yang terlihat terlalu santai dan tidak seperti pakaian yang dia gunakan untuk bekerja. Seketika itu pula Rafqi melihat Davin. "Nggak perlu heran gitu juga kali, Bang. Hari ini gue ambil cuti, gue kesini khusus nganter ini doang buat lo," ucap Rafqi sambil menunjuk makanan yang ia letakkan di meja tadi. "So sweet kan gue, udah kayak bini lo yang repot-repot nyiapin makanan terus nganter ke kantor buat makan siang." "Sialȧn!" umpat Davin melirik tajam ke arah Rafqi. Rafqi tertawa lepas. Untunglah di ruangan itu sepi hanya ada mereka berdua, karena Rafqi datang pada saat jam istirahat sementara staf yang lain sedang makan siang di luar kantor. "Udah buru dimakan. Tenang aja, Bng, gue enggak bakal ngeracunin lo, karena gue masih mau jadi ipar lo." Davin menggambil satu berkas lalu memukulkannya ke lengan Rafqi. " Banyak omong lo, pergi sana!" "Wah lo kagak bisa diuntung ya, Bang, kagak terimakasih malah seenaknya ngusir gue," ucap Rafqi dengan senyuman mengejek. Rafqi menegakkan badannya. "Kemarin acara pertunangan kakak gue, Bang. Bukan maksud gue nggak mau ngundang, tapi pasti lo lagi sibuk-sibuknya karena kerjaan yang seabrek, sepupu lo yang manis itu udah cukup banget buat jadi perwakilan. Makanan itu dari kakak gue yang paling baik hati. Pesan dia buat lo ... Semoga lo cepet nyusul." Davin mengayunkan kembali gulungan berkas yang masih ia pegang, tapi dengan gesit Rafqi menghindar. "Oke dah gue nggak mau lama-lama disini, gue pergi, mau kencan! Nggak asik kang Bang, kencan sama tumpukan file, daftar obat sama nama-nama customer?" Seperti merasakan hawa panas hanya dari tatapan Davin, Rafqi segera berlari kecil meninggalkan ruangan itu. Ia tidak ingin ditelan oleh Davin. "Calon ipar kurang ajar!' batin Davin. Ia menatap kembali layar laptopnya. Mengkaji ulang rencana kunjungannya, lusa janji temu dengan salah satu dokter spesialis kandungan dan ginekologi Rumah Sakit Mitra Sehat. Davin tersenyum penuh arti. Ia membuka paper bag dari Rafqi. Hanya membayangkannya saja sudah membuat nafsu makannya meningkat. *** "Aku mau kamu jadi teman jalan aku" "Nemenin aku kalau aku mau pergi ke luar." Kalimat itu seperti kaset rusak yang terus menerus berputar di kepala Tiara. Kalimat yang diucapkan Davin tiga hari yang lalu sebagai hadiah yang ia minta atas kemenangannya. 'Apa maksudnya? Kenapa harus minta hal seperti itu? Kenapa harus aku? Sampai kapan?' Tiara merutuk dalam hati. Tiara melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar rumah sakit, tujuannya tentu saja pulang ke kos setelah seharian bekerja. Waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore. Tiara mengambil ponselnya yang berada di dalam tas untuk memesan ojek online. Lima menit kemudian ojek online yang ia pesan datang. "Mbak Tiara, ya?" tanya seorang paruh baya yang mengenakan jaket hijau yang tak lain adalah driver ojek online. "Iya, Pak." Tiara menerima helm yang diberikan si driver. "Tiara." Perempuan itu menoleh, mencari si pemilik suara yang memanggil namanya. 'Dia lagi...Panjang umur sekali.' Tiara berusaha tersenyum pada orang yang memanggilnya. Davin yang mengetahui Tiara akan naik ojek online mengambil helm yang dipegang Tiara dan mengembalikannya ke si driver. "Maaf Pak nggak jadi," ujar Davin seraya memberikan uang ke si driver . "Maaf Mas ini kebanyakan." Si driver ojek online merasa sungkan. "Nggak apa-apa Pak, itu rejeki Bapak." Si driver menatap Tiara dan Davin bergantian. "Terimakasih Mas, minta tolong nanti di cancel aja ya, Mbak," sahut si driver. Tiara mengangguk ragu, ia masih terlihat bingung saat driver ojek online meninggalkannya. Rasanya ingin marah atas perilaku Davin yang seenaknya sendiri, tapi ia teringat perihal 'hadiah'. Tiara masih menatap Davin, menahan kesal yang ada di hatinya. Kenapa akhir-akhir ini Davin sering muncul di hadapannya. Seakan mengerti akan arti tatapan yang tertuju padanya, spontan mulut Davin tertutup rapat, kedua sudut bibir Davin tertarik ke atas, bahunya sedikit bergetar, ia menahan tawa. Davin menaikkan sebelah alisnya "Apa kamu berpikir aku penguntit?" Tiara mengangkat kedua bahunya. "Aku tadi habis ketemu dokter obgyn di rumah sakit ini, dokter Endy," ujar Davin memberitahu Tiara. "Siapa yang hamil, Kak?" tanya Tiara dengan polos. Davin terbahak hingga kedua sudut matanya berair. "Apa harus ada yang hamil dulu baru bisa bertemu dokter obgyn?" ucap Davin dengan pelan. Tiara menutup sisi wajah dengan tangan kanannya, semburat merah muda muncul di kedua pipinya. "Ma-maaf, Kak, aku kurang fokus." Tiara menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona. Kenapa Tiara bisa lupa bahwa pekerjaan Davin adalah medical representative, hal yang lumrah jika ia sering bertemu dengan dokter. Davin mengulas senyum. "Istri dokter Endy mau membuka apotik, jadi kita menawarkan kerjasama dan dokter Endy minta ketemu di sini setelah jam prakteknya selesai." "Kamu nggak suka sering ketemu aku?" Davin menatap Tiara tanpa berkedip. "Hmm...biasa aja, hanya sedikit terkejut," jawab Tiara sambil menggigit bibirnya. Davin mengangguk pelan. "Mau pulang kan? Ayo aku antar." Davin merogoh kantong celananya, wajahnya terlihat agak panik. Kantong celana dan kantong jaket tak luput dari jarinya yang sibuk mencari-cari. Davin juga membuka tas yang ia bawa, benda yang dicari tak didapatkan. Ia berusaha mengingat. "Ck...dimana, ya?" gumamnya sambil menggaruk kepala. "Apa Kak?" "Tunggu dulu ya, Ra, sepertinya kunci motorku tertinggal di ruangan dokter Endy. Jangan kemana-mana, aku ambil dulu." Langkah kaki Davin bergerak menjauh. Tiara mengedarkan pandangannya, mencari tempat untuk menunggu Davin. Namun, tiba-tiba seseorang menyenggol bahunya dari belakang dengan keras membuat badan Tiara hampir jatuh bila ia tak sigap menjaga keseimbangan tubuhnya, seperti tas yang ada di bahunya terhempas ke tanah. "Uuppss…Sorry." Suara perempuan yang menyenggol Tiara terdengar dibuat - buat. Tiara hanya melirik sekilas lalu mengambil tasnya yang terjatuh. "Siapa lagi dia?" tanya perempuan itu menatap punggung Davin yang semakin jauh. "Mangsa baru? Tapi bisa jadi malah lo sendiri yang menjadi mangsanya bukan?" Pertanyaan itu terlontar dari perempuan bernama Mita, yang Tiara kenal sebagai pegawai administrasi di rumah sakit tempatnya bekerja. "Ada lagi yang mau Mbak sampaikan?" Tiara memperhatikan Mita yang berada di hadapannya. Sementara Mita hanya bungkam sambil memandang bengis Tiara, tujuannya belum berhasil. Tiara membalikkan badan, mengayunkan langkah dari tempatnya berdiri. "Lo memang pandai memanfaatkan wajah dan penampilan alim untuk menjerat laki-laki dungu seperti mereka," ujar Mita tanpa rasa bersalah. Langkah Tiara terhenti. "Mereka?" gumam Tiara. "Lo enggak mendadak amnesia dong. Baru dua bulan yang lalu lo nolak Rio, sekarang udah dapet yang baru," cemooh Mita. Tiara tidak pernah menceritakan tentang Rio kepada siapapun. Ia tak mau dirinya dan Rio menjadi 'buah bibir' orang lain. Tapi sekarang hatinya sendiri tercabik karena ucapan Mita. Faktanya Mita seolah tahu tentang kehidupan Tiara. Lantas dari siapa Mita mengetahuinya? "Aku menolak kak Rio Mbak seperti ini, gimana kalau aku terima kak Rio?" Tiara masih berdiri membelakangi Mita. "Lo..!!" Hardik Mita seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah lawan bicaranya. Tiara berbalik, menurunkan perlahan jari Mita yang tepat di depan wajahnya. "Mbak suka sama kak Rio, lebih tepatnya cinta." Tiara menatap datar Mita. Cara Mita memandang Rio sangat kentara jika perempuan itu menaruh hati pada perawat bedah yang tempo lalu duduk bersama Tiara di kantin rumah sakit. Tapi Mita tidak pernah mampu untuk mengutarakannya, itulah yang Tiara lihat selama ini. "Mengalihkan pembicaraan lo?" Mita membuang muka ke arah lain. "Itu kenyataannya kan, Mbak." Ucapan Tiara lebih terdengar sebagai pernyataan. Tujuan Mita ingin membuat Tiara marah, menarik perhatian orang-orang disekitar mereka. Mita hendak mempermalukan Tiara, tapi apa yang terjadi malah sebaliknya. Tiara menyodorkan ponselnya." Berikan nomor ponsel, Mbak?" Mita mematung, menatap penuh tanya. Ia mengabaikan Tiara. "Nomor ponsel Mbak, aku akan bantu Mbak," ulang Tiara. "Lo coba memperdayai gue? Ini pasti cuma salah satu siasat buat ngedapetin mangsa baru lo itu." Mita tersenyum sinis. Tiara berdecak, semakin lama berbicara dengan Mita hatinya semakin nyeri. Mita sebenarnya perempuan yang baik, sikap serta tutur katanya saat menghadapi pasien atau keluarga pasien terbilang sopan dan ramah, begitu pula dengan teman sejawat. Namun, berbeda bila ia bertatap muka dengan Tiara, raut wajahnya akan tampak seperti sekarang, amarah dan cemburu buta menguasainya. "Sebegitunya Mbak menilaiku?" Tiara menarik kembali tangannya hendak menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, akan tetapi tangan Mita dengan cepat mengambil alih benda pipih itu. Perasaan malu dan canggung tergambar jelas pada raut wajah Mita saat mengetik deretan angka di ponsel Tiara. "Aku memang enggak sebaik yang Mbak lihat, tapi aku enggak seburuk yang ada dipikiran Mbak." Tiara meninggalkan Mita setelah meminta kembali ponselnya. "Sudah ketemu, ayo pulang." Davin menunjukkan kunci motornya. "Mmmm." Tiara dibuat terperangah, karena lagi dan lagi Davin memakaikan helm untuknya. "Mau makan dulu?" Tanya Davin begitu roda motornya membelah jalanan Jakarta yang padat. "Aku mau langsung pulang, Kak." "Kalau begitu kita bung--" "Kak, tenang saja ... Aku masih ingat kok kalau aku punya hutang hadiah sama Kakak, tapi tolong jangan hari ini." Deg. Davin menelan salivanya, perkataan Tiara menyentil hatinya. "Baiklah." Seketika ia melirik Tiara lewat spion, lalu tak lama fokus kembali ke arah jalanan di depan. 'Ada apa dengannya?' Tiara langsung masuk ke rumah kosnya sesudah berpamitan dengan Davin, tanpa berbasa-basi menawarinya untuk mampir. Sore itu Tiara gunakan waktunya untuk tidur, mungkin saja bisa menjadi obat hatinya yang terluka. Hingga ketukan pintu membuat ia terjaga dari tidurnya. Teman kosnya di depan pintu menjinjing satu kantong plastik bertuliskan sebuah nama resto yang cukup familiar. "Nih, pesananmu sudah datang," ucapnya seraya menyerahkan kantong plastik ke jari tangan Tiara. "Aku enggak merasa pesan apa-apa, Mbak," sahut Tiara dengan wajah bingung. "Tapi itu atas nama kamu Tiara, masa iya itu pesanan Mbak." Perempuan itu terkekeh dan berlalu dari sana. Tiara menutup pintu kamar dan memilih untuk mandi terlebih dahulu dibanding melihat isi kantong plastik itu. Keluar dari kamar mandi Tiara meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Ada dua pesan masuk, dari Adel dan yang teratas pesan dari laki-laki yang tadi mengantarnya pulang. Kak Davin. [ Jangan lupa dimakan, semoga kamu suka. ] ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD