PART 8 - GAMES

1546 Words
Lebih dari lima belas menit mereka berada di dalam bianglala yang mati mesinnya. Davin yang awalnya terlihat tenang mulai menunjukkan kegelisahannya, terlebih kandung kemihnya yang terasa penuh meminta untuk segera dikosongkan. Davin menundukkan kepala, menatap paras perempuan yang masih setia bersandar pada daada bidangnya. 'Cantik.' Davin menggeser perlahan kepala Tiara agar posisinya lebih nyaman. Tiara sudah lebih tenang dari sebelumnya. Wajahnya terlihat teduh, mata memejam, napas teratur, kedua tangan yang melingkar di pinggang Davin sedikit merenggang. Tiara tidur. Davin tersenyum lebar. 'Anak ini, bisa-bisanya tidur dalam keadaan seperti ini.' Davin berdecak dalam hati. Suara mesin bianglala dan wahana permainan lainnya kembali terdengar. Cahaya lampu menerangi tempat itu. "Yeeeee… nyalaaaa!!" "Alhamdulillah ya Allah." Sorak-sorai pengunjung pasar malam terdengar membahana. Davin menepuk-nepuk pelan pipi Tiara. "Ra bangun, ayo kita turun," ucap Davin sambil melirik petugas wahana yang membukakan pintu, tatapannya tajam seolah menyuruh petugas itu pergi. Tiara membuka kelopak matanya, memperhatikan sekitarnya. Perempuan ini terkesiap saat menyadari ia tidur dalam pelukan Davin. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Seakan alarm tubuhnya memberi peringatan, ia segera memberi jarak dengan Davin. Tiara mengusap kedua pipinya secara bergantian dengan punggung tangannya. Jangan sampai ada jejak basah di pipinya yang tirus. Mau ditaruh mana mukanya? Akan semakin malu lah dirinya. Tiara bangkit dari duduknya kemudian mengambil langkah cepat keluar meninggalkan Davin yang masih duduk di dalam sangkar besi. 'Bodoh, bodoooh banget Tiara, tadi kamu ngapain coba!' batin Tiara memaki dirinya sendiri. Ia berulang kali memijat keningnya. "Sssshhhh…" Davin mendesis sambil menekan perutnya sendiri, membuat Tiara rmenoleh ke belakang. Tiara mengernyitkan dahi. "Kenapa kak? Kakak sakit perut?" tanyanya. Davin menggelengkan kepala. "Aku ke toilet sebentar, ya?" "I-Iya Kak, aku tunggu disini," ujar Tiara yang tersenyum melihat Davin mengambil langkah seribu. Mata Tiara fokus melihat ke satu arah. Ia tertarik ingin mencobanya. "Mau naik wahana lain? Atau kita cari makan?" Davin bertanya sambil memasukkan satu tangannya ke dalam kantong celana. "Kita coba itu dulu, Kak," pinta Tiara seraya menunjuk ke satu titik. "Boleh." Tiara dan Davin berjalan beriringan ke salah satu permainan di pasar malam yang mungkin mulai punah, wahana ketangkasan lempar kaleng susun. "Ayo, Kak." Davin merogoh dompet yang ada di sakunya, tapi tak lama ditepis pelan Tiara. "Udahlah kak, gantian aku yang bayar. Lagian nggak seberapa," cengir Tiara. Tiara menukar dua lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah dengan dua belas bola tenis kepada perempuan penjaga permainan yang tengah mencuri pandang ke arah Davin. Namun, baik Tiara ataupun Davin terlihat tak perduli. "Ini Kak." Tiara membagi bola tenis ke Davin. Satu bola tenis hendak Tiara lempar ke arah tumpukan kaleng yang sudah tersusun tinggi. "Tunggu!" teriak Davin membuat gerakan tangan Tiara berhenti di udara. Davin menaikkan satu alisnya. "Akan semakin seru kalau kita buat pertandingan." "Eh." "Ini sebagai games awal, selanjutnya akan ada dua games lagi. Pemenangnya adalah siapa dari kita yang bisa memenangkan dua kali dalam games." "Oke siapa takut!" ucap Tiara pongah. Davin menyeringai. "Lalu yang kalah..harus menuruti satu keinginan pemenang. Ya...anggap saja itu sebagai hadiah." "Hah??" Tiara melongo, mulutnya terbuka. Kenapa ia gampang sekali menyetujui tanpa tahu apa maksud Davin, apa yang akan ia sandang nanti, menang atau kalah. Bahagialah jika ia dapat memenangkan pertandingan ini, tapi bagaimana jika ia kalah? "Kamu tadi sudah setuju, kan?Jadi sekarang aku mulai duluan, " ujar Davin santai sambil melempar bola pertamanya ke tumpukan kaleng karena Tiara masih berdiri kaku di tempatnya. 'Ibu doakanlah anakmu ini menang...semoga aku menang, menang, menang. Eh, bukan semoga tapi pasti menang, menang, menang..Aku pasti bisa. Ganbatte Tiara!' Mantra yang Tiara rapalkan dalam hati, saat melihat bola tenis Davin menjatuhkan kaleng-kaleng ke tanah. "Giliranmu." Titah Davin. Seorang laki-laki penjaga permainan telah menghitung dan menata kembali kaleng yang jatuh karena lemparan bola Davin. Tiara melakukan pemanasan pada jari-jari tangan dan berulang kali menggerakkan kedua lengannya. Tak bisa dipungkiri entah kenapa tiba-tiba ia merasa gugup. Davin berdiri tiga langkah di belakang Tiara. Bibir Davin melengkung ke atas melihat tingkah laku Tiara, jelas rivalnya bersungguh-sungguh saat melempar bola. Penjaga perempuan berambut ikal sebahu, memakai kaos ketat dan celana sebatas paha mendekat ke arah Davin. "Aku malam ini free." Suara perempuan itu lirih namun begitu menggoda, ia membelai lengan Davin dengan jari-jarinya. "Lo butuh dijaga?" tanya Davin yang masih menatap punggung Tiara. "Ya tampan," jawabnya penuh percaya diri. Davin menggenggam lembut jari-jari yang tengah menyentuh lengannya, dalam satu gerakan ia menghempaskannya dengan kasar. "Kalau lo butuh dijaga, mulai dari sekarang belajarlah jaga sikap dan ucapan lo," ucap Davin dengan dingin tanpa melihat lawan bicaranya. Si perempuan bergegas meninggalkan tempat itu dengan muka merah padam. "Aiissh..!!" Tiara meletakkan kedua telapak tangannya di atas kepala. Nyatanya, enam bola tenis yang sudah ia lempar hanya mampu menjatuhkan beberapa kaleng aluminium, selisihnya berbeda jauh dengan Davin. "Aku mau satu putaran lagi," ucap Tiara. Davin lantas memberikan satu lembar uang berwarna biru pada penjaga lelaki itu. "Ambil kembaliannya." Si penjaga laki-laki memberikan bola pada Davin dan Tiara. Mereka bermain kembali. Walaupun Tiara sudah membidik target dan melempar bola sekuat tenaga, tetap saja masih ada kaleng yang tersisa. Jumlah kaleng yang dijatuhkan Davin lebih banyak dari Tiara. "Oke-oke aku kalah untuk games ini," ujar Tiara dengan lemas. "Lalu?" Tiara bersedekap. "Games kedua aku yang tentuin." "Nggak masalah." Davin tersenyum kecil. Tiara melangkah lebih dahulu meninggalkan Davin yang ada di belakangnya. "Mbak..mas..hadiahnya!" seru penjaga laki-laki itu membawa sepasang gantungan kunci dan dua botol minuman isotonik dingin. Ia berjalan cepat mengejar kedua insan tersebut. Tiara yang mendengar seruan penjaga itu acuh tak acuh. Kekalahan yang ia terima membuatnya malas. "Makasih." Davin menerima hadiah itu, lalu meletakkan gantungan kunci pada telapak tangan Tiara. Perempuan berjilbab memandang telapak tangannya, sepasang gantungan kunci lucu berbahan karet karakter mickey dan minnie mouse sebesar jari jempol orang dewasa. Tiara mengambil asal salah satunya, dan memberikan nya pada Davin. Minnie mouse. "Apa kita akan pulang? Gimana kalau kita makan dulu?" Davin terlihat bingung melihat Tiara menuju parkiran. "Ke tempat games ke dua, Kak. Nanti sekalian kita cari makan," jawab Tiara tanpa melihat Davin. "Minum dulu, baru kita lanjutkan." Davin memberikan botol minuman isotonik. Tiara hanya meneguk minuman itu sedikit. Mereka sampai di salah satu warung makan pinggir jalan yang menjual berbagai menu makanan. "Dua porsi ceker level satu aja ya, Pak, es jeruknya dua," ucap Tiara memesan makanan pada si bapak pemilik warung. "Siap, tunggu sebentar ya Neng, biar Joko nanti yang antar ke meja. Tumben nggak pesan yang pedes neng?" "Sekali-kali Pak," timpal Tiara dengan senyuman. Davin membelalak, ia tak percaya dengan menu yang dipesan Tiara. Dua gelas es jeruk dan dua porsi ceker ayam level paling rendah yang tiap piring berisi tujuh buah ceker. Selama ini Davin belum pernah mencicipi ceker ayam, bukannya tak ingin mencoba, tapi penampakan dari makanan itu menurutnya menggelikan. "Ra...ini??" "Ini games kedua, Kak, nggak harus pedes, kan? Takutnya nanti sakit perut. Yang penting siapa yang lebih cepat menghabiskannya. Atau kakak mau tambah level?" ucap Tiara dengan enteng. Davin memijat pangkal hidungnya, ia tak mau menyerah sebelum perang. 'Tunjukkan kalau lo bisa Dav,' batin Davin sambil memejamkan mata. Sementara Tiara melihat Davin dengan tatapan yang tak bisa ditebak. "What?!" Tiara membekap mulutnya dengan satu tangan. Ia amat terkejut melihat Davin yang mencuci tangan di wastafel tak jauh dari tempat mereka duduk. Piring Davin yang berisi ceker ayam sudah kosong hanya tersisa tulang belulang di mangkuk yang lain, sedangkan miliknya masih tersisa dua. Ia lantas ikut mencuci tangannya di wastafel. "Kenapa nggak dihabiskan?" tanya Davin melihat isi piring Tiara sambil membersihkan mulutnya dengan tisu. Tiara menghela napas lemah. Mana mungkin? Sebelumnya Tiara dapat melihat dengan jelas Davin menahan mual melihat ceker ayam itu, apalagi setiap akan memasukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya, Davin menutup mata. 'Kak Davin nggak berbuat curang, kan?' Tiara menatap Davin penuh selidik. Sebenarnya Tiara-lah yang ingin berbuat curang, usai bermain lempar kaleng di pasar malam tadi ia tiba-tiba teringat apa yang pernah di ucapkan Adel. 'Ada sepupu gue yang nggak doyan ceker ayam, bahkan mungkin nggak pernah menyentuh ceker ayam.' Maka dari itu Tiara mengajak Davin ke tempat ini, salah satu tempat makan yang sering Tiara dan Adel kunjungi untuk mengisi perut di kala lapar. Melihat raut wajah Davin yang masam, Tiara yakin sepupu yang dimaksud Adel adalah Davin. Ia semakin yakin akan menang digames kedua. Tapi apa yang sekarang terjadi? Senjata makan tuan? "2-0." Davin tersenyum penuh kemenangan, lalu meneguk es jeruknya hingga tandas. "Jadi Kakak mau hadiah apa?" Tiara bertanya dengan malas. "Aku masih lapar, hadiahnya kita bicarakan setelah makan. Kamu mau pesan apa?" Davin membaca daftar menu. "Capcay dan air putih dingin." "Oke. Ada lagi?" Davin memanggil pelayan untuk memesan makan. Tiara menggelengkan kepala, pikirannya berkelana entah kemana, melihat ke depan tanpa berkedip. "Tenang aja, aku nggak akan minta hadiah yang aneh-aneh." Davin menyadarkan Tiara yang sedang melamun. Tiara hanya diam, pandangannya mengarah pada jalanan di depan warung, masih ramai hilir mudik kendaraan bermotor. "Kamu bilang enggak takut ketinggian, apa kamu phobia tempat gelap?" Davin mengulum bibirnya sendiri. "Oh tadi, aku sedikit kurang nyaman dengan ruang gelap, Kak. Apalagi denger teriakan-teriakan, maaf untuk yang tadi," ucap Tiara dengan lirih sambil menundukkan kepala. Ia menyembunyikan kedua tangannya di pangkuan. Dahi Davin berkerut. "Kena--." Ucapannya terhenti ketika pelayan meletakkan pesanan mereka di meja. "Silahkan Kak, ini pesanannya, selamat menikmati," ujar pelayan tersebut. Davin dan Tiara makan tanpa bersuara, hingga makanan mereka habis. "Jadi..Kakak ingin apa sebagai hadiah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD