***
Tiara sedikit malas melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, padahal ia sudah menyegarkan diri dengan mandi.
Ingin sekali waktunya ia gunakan untuk tidur dibandingkan keluar kos. Namun, Tiara ingat beberapa barang kebutuhan sehari-harinya sudah menipis bahkan ada yang benar-benar habis. Mau tak mau ia harus ke minimarket yang biasa ia kunjungi.
Tidak salah bukan bila Adel menjulukinya 'Putri Tidur' ?
Tiara bergerak menutup pintu utama rumah kosnya lalu membawa langkahnya membuka pengait pagar bercat hitam.
Tepat saat pintu pagar terbuka tanpa sengaja pandangannya tertuju pada laki-laki di seberang jalan yang tengah duduk di atas motor, wajahnya tertutup kaca helm.
Dahi Tiara mengernyit, Ia tampak berfikir.
'Sepertinya enggak asing. Siapa ya? ' batin Tiara, antara ingat dan lupa.
Ia menggelengkan kepalanya pelan.
'Entahlah.'
Tiara kembali melangkahkan kakinya. Baru empat langkah beranjak, Tiara berbalik menoleh kembali ke arah laki-laki tadi, ternyata orang itu juga sedang memperhatikannya.
Tiara memicingkan mata guna menajamkan penglihatannya.
'Kak Davin,' batinnya.
Apa ia tak salah lihat?
Laki-laki yang ada di seberang jalan itu menstarter motornya dan berhenti di samping Tiara lalu membuka kaca helmnya.
"Mau kemana?" tanya Davin.
"Ah, mau ke minimarket, Kak." Tiara masih tampak tak percaya bahwa memang Davin yang ada di depan kosnya.
"Oh pasti Kakak mau ambil jaket ya? tunggu sebentar, Kak, aku ambilkan dulu," lanjutnya.
Tiara berjalan mengarah ke pagar kosnya hendak membuka pagar kembali.
"Bu..Bukan itu..Mmm..maksud aku jaketnya bisa kamu balikin lain waktu aja," ucap Davin terbata.
Tangan Tiara masih menggantung di atas kait pagar.
"Lalu, kakak kenapa ada di sini?" tanya Tiara, rasa penasaran tak dapat ia tutupi.
"Ayo naik, aku antar. Kamu bilang mau ke minimarket, kan?" perintah Davin seraya menyodorkan helm lain, ia tak menjawab pertanyaan Tiara.
Dahi Tiara berkerut dalam mendengar ucapan Davin.
"Nggak perlu, Kak, minimarketnya deket kok, keluar gang ini terus nyebrang jalan dikit sampai," ujar Tiara.
Tanpa permisi Davin langsung memakaikan helm di kepala Tiara, mengaitkan tali pengikat hingga berbunyi 'klik'.
Mata Tiara mengerjap. 'Sebenarnya apa maunya? '
Davin menggerakkan kepala menunjuk jok motor belakang menggunakan dagunya.
Seperti terhipnotis, Tiara mengikuti perintah Davin tanpa menolak lagi.
Tiga puluh lima menit mereka habiskan di dalam minimarket, membeli kebutuhan sehari-hari Tiara.
Davin hanya membeli kopi yang diseduh dengan air panas yang disediakan minimarket itu.
Mereka duduk di teras minimarket, ditemani dua kantong besar tas belanja ramah lingkungan berwarna biru bergambar pohon tergeletak di dekat kaki Tiara.
Tatapan Tiara tertuju pada dua kantong belanja itu.
Lima menit yang lalu Davin dan Tiara sempat berdebat di depan meja kasir mengenai barang-barang yang berada di dalam keranjang belanja, membuat pramuniaga yang berdiri di depan perangkat hitung menatap heran kedua insan tersebut.
Namun, akhirnya Davin yang memenangkan perdebatan itu. Davin yang membayar semua belanjaan Tiara.
Davin juga menambahkan beberapa produk ke dalam keranjang saat pramuniaga sedang menghitung dengan melakukan scan pada barang-barang di keranjang belanja.
Tiara mendengus kesal.
Sebenarnya barang-barang yang Davin ambil tidak begitu Tiara butuhkan.
"Mau kopi?" tanya Davin melirik Tiara, yang dijawab dengan gelengan kepala.
"Kamu keberatan nggak kalau setelah ini ke mall?" Davin bertanya lagi.
"Kakak butuh sesuatu?" Tiara balik bertanya.
"Enggak ada yang mau di beli, sih. Mmm...pengen jalan aja, atau mungkin kamu mau beli sesuatu?" Davin menggaruk kepalanya, ia terlihat canggung.
Tiara memandang dirinya sendiri. Jilbab instan, baju yang ia pakai benar-benar baju rumahan, setelan panjang berbahan santung rayon dan sandal jepit berwarna hitam.
Davin mau mengajaknya ke mall? Yang benar saja.
Mungkin Tiara akan cuek dengan penampilannya sendiri, tapi Davin..apa dia tidak akan malu?
"Habis magrib aja gimana, Kak?" tawar Tiara.
"Baiklah," jawab Davin terdengar riang.
Sesampainya di kos Tiara meletakkan kantong belanjaannya, berganti pakaian lantas mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat magrib.
Tiara duduk di kursi teras rumah kosnya, menunggu Davin yang sedang shalat magrib di masjid.
Terdengar suara motor menyapa telinganya. Tiara berdiri lalu menghampiri Davin yang turun dari motornya.
"Kakak bilang tidak butuh sesuatu hanya mau jalan-jalan, kan?" tanya Tiara mengoreksi ucapan Davin saat di minimarket tadi.
"Iya, kenapa?"
"Kalau gitu kita ke pasar malam aja." Tiara menggigit bibir dalamnya, sedikit takut jika Davin menolak atau mungkin menertawakannya.
Sebenarnya ia sedang malas ke mall. Lebih tepatnya tidak ingin kesana.
"Ayo, dimana?" Davin tampak semangat.
"Nggak jauh dari sini, sekitar lima belas menit," ucap Tiara seraya memakai helm lalu menyusul Davin yang terlebih dahulu duduk di motor naked bike nya.
Suasana di pasar malam terlihat ramai. Lalu lalang orang mulai dari orang tua, keluarga kecil, muda mudi nampak bahagia menikmati hiburan malam tersebut.
Suara musik yang diputar dengan volume tinggi, lampu warna-warni, beragam gerai makanan, stand pakaian serta berbagai produk dagangan lainnya dengan harga ramah di kantong mengisi tempat lapang itu.
Berbagai macam wahana permainan anak-anak, komidi putar, kereta api mini, kora-kora, tong seetan serta rumah hantu juga ada di sana.
"Waaah…" Davin berdecak takjub.
"Kakak nggak suk--"
"Ayo kesana." Davin spontan menarik pergelangan tangan Tiara, melangkahkan kakinya mendekat ke wahana permainan bianglala.
Tiara masih memandangi pergelangan tangannya yang sedang digenggam, beberapa saat kemudian Davin baru menyadarinya.
Davin melepas genggaman tangannya. Ia menggaruk belakang telinganya. "Sorry," ucapnya merasa bersalah.
Tiara mengangguk kecil sambil menunduk, menutupi wajahnya yang merona.
"Kita naik bianglala, yuk? Kamu enggak takut ketinggian, kan?" ujar Davin mengurai rasa gugupnya.
"Enggak." Tiara mendongakkan kepala melihat kincir raksasa dengan banyak sangkar burung besi menjulang tinggi di hadapannya.
"Tunggu di sini aku beli tiketnya dulu."
Tiara kembali menganggukkan kepala.
Setelah cukup lama antri, Davin menyerahkan dua lembar tiket diberikan pada penjaga wahana bianglala.
Davin dan Tiara masuk ke dalam sangkar besi tersebut duduk saling berhadapan. Kincir raksasa itu mulai berputar pelan.
"Udah lama banget aku nggak datang ke tempat seperti ini, terakhir kayaknya aku usia delapan tahun ke pasar malam sama papa," ucap Davin membuka obrolan.
"Oh ya?"
"Ya... Waktu itu aku sampai nangis, aku pengen banget naik bianglala sedangkan papa nggak mau aku ajak naik, papa punya trauma dengan ketinggian. Aku yang masih kecil masa bodoh dengan itu semua. Tangisku aku bawa sampai pulang ke rumah. Papa kena marah mama karena udah bikin anak kesayangannya ini nangis sampai bengkak matanya." Davin menceritakan masa kecilnya bersama papanya.
"Hahahaha...terus?" Tiara tertawa sambil memegang perutnya.
"Aku mogok bicara sama papa, bertatap muka pun aku malas. Hingga sore hari sepulang dari kantor papa membawa satu tas besar berisi berbagai mainan yang udah lama aku incar. Rasa marahku hilang begitu saja, mana mungkin aku membiarkan hadiah-hadiah itu ditarik kembali sama papa karena aku yang masih ngambek." Davin tersenyum sendiri mengingat apa yang dulu ia lakukan pada papanya.
"Pantas saja kakak begitu excited naik bianglala," ucap Tiara masih dengan tawanya.
Tadinya ia mengira Davin tidak akan mau dan suka ke tempat ini, bisa saja Davin berpikir terlalu kekanakan-kanakan orang dewasa seusia mereka masih mendatangi tempat hiburan seperti pasar malam ini.
Bianglala yang mereka naiki berada di setengah putaran dan akan kembali naik.
"Bukankah dari sini kita bisa melihat gemerlap kerlap-kerlip lampu kota dan ternyata selama ini kita terlihat kecil," ucap Davin sambil melihat ke arah luar.
"Dari sini juga kita bisa melihat pemandangan yang indah dan menakjubkan," sambung Davin. Namun, pandangan matanya mengarah pada perempuan yang duduk tepat di hadapannya.
Sementara Tiara tengah asyik memandang sekeliling lalu beralih ke depan, mereka saling bersitatap cukup lama.
Jantung Davin berdetak lebih kencang, hatinya bergetar. Rasa itu mulai tumbuh di hatinya.
Grrekk..grrrreekk...grrreeeeekkkk.
"Aaaaaa…aaaa...!!" Suara teriakan bergema memenuhi tempat itu.
Tiba-tiba bianglala dan semua wahana permainan di pasar malam itu berhenti berputar, cahaya lampu yang menyinari tempat itu pun ikut padam. Akan tetapi masih ada sinar bulan yang menerangi serta pantulan lampu dari gedung-gedung tinggi di sekitar tanah lapang itu, sehingga keadaan tak begitu gelap gulita.
"Mama..mama..aku takut gelap ma, maaa..maaa!!" Terdengar suara teriakan dan tangisan seorang anak kecil yang turut berada di bianglala itu.
"Heeii...kalian yang dibawah! Tolong cepat perbaiki, cepat nyalakan!! Teriak seseorang dengan histeris dari salah satu sangkar besi yang lain.
"Iya tunggu, kami mohon sabar sebentar, kami akan segera memperbaikinya," ucap seseorang dari bawah dengan keras yang nampaknya merupakan salah satu mekanik dari wahana di pasar malam itu.
Tiara membisu, matanya terpejam, ia meringkuk. Kedua tangannya memeluk lutut kuat, menyembunyikan wajahnya yang sarat akan ketakutan.
"Tiara.." Davin memangil perempuan itu, ia cemas melihat keadaan Tiara.
Tidak ada jawaban, terdengar isakan kecil dari mulut Tiara.
Davin menyentuh kedua bahu Tiara, menggoyangkannya perlahan.
"Ra.."
Tiara bergeming.
Davin beralih duduk di sebelah Tiara. Kedua tangannya ingin sekali merangkul bahu perempuan bertubuh langsing yang ada di sampingnya itu untuk memberikan ketenangan, tapi ia urungkan.
"Kak, aku ... ak--," ucap Tiara terputus dengan suara serak sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Davin, wajahnya bersembunyi pada d**a bidang lelaki itu.
Tiara tak mampu melanjutkan ucapannya, butiran bening berlomba-lomba keluar dari kedua manik matanya.
Keringat dingin mengucur dari kulit putihnya, tubuhnya gemetar. Jemari tangannya semakin erat mengikat pinggang Davin.
Davin dapat merasakan baju bagian depannya yang basah. Ia tertegun, tak lama ia tersadar.
Davin akhirnya balas memeluk tubuh ringkih itu, beberapa kali mengusap lembut kepala Tiara yang tertutup jilbab.
"Tenang, Ra, tidak akan terjadi apa-apa. Ini tidak akan lama, mereka akan segera memperbaikinya. Jangan takut, aku ada disini," bisik Davin dengan lembut tepat ditelinga Tiara.
Davin tidak bermaksud mencari kesempatan dalam kesempitan. Situasi dan kondisi yang membuatnya harus melakukan sesuatu untuk mengurangi kegelisahan yang dialami Tiara.
Apa mungkin Davin hanya berdiam diri sedangkan Tiara terlihat ketakutan? Tidak mungkin, kan?