PART 6 – DAFTAR KONTAK TERBLOKIR

1229 Words
*** Aroma tumisan bumbu menguar harum di dapur rumah Adel. Tangan lincah Tiara menambahkan telur orak-arik, suiran ayam, nasi dan bumbu pelengkap lainnya kedalam wajan yang ada di hadapannya, beberapa kali ia mengaduk isi dalam wajan hingga matang. Kemudian memindahkannya ke dalam piring, menjadikannya dua porsi. Tiara memasak nasi goreng untuk menu makan malamnya dengan Adel, sementara Adel menyiapkan minuman dan menunggu Tiara di meja makan. Malam ini Tiara menginap kembali di rumah Adel karena bunda Alia masih dinas keluar kota. “Kayaknya enak nih,” celetuk Adel menerima piring berisi nasi goreng dari tangan Tiara. “Hahaha, aku enggak ngejamin rasanya, maklumin aja amatiran,” ucap Tiara sambil meraih sendok dan garpu. Adel memasukkan satu sendok penuh nasi goreng kedalam mulutnya. “Enak.” seru Adel mengacungkan dua jari jempolnya. “Pagi olahraga malam nimbun lemak,” sambung Adel dengan cengirannya. “Ya udah sini-sini.” Tangan Tiara mengambil kembali piring yang ada di depan Adel namun detik berikutnya di tarik kembali oleh Adel. “Kenapa mau di ambil lagi sih, Ra? Gue kan mau makan,” protes Adel. “Yakin mau makan? "Enggak takut gendut?" tanya Tiara. Adel nyengir memperlihatkan giginya "Lagian kalau enggak mau gendutan kalori yang masuk ke tubuh kamu di imbangi gerak atau olahraga dong, Del," lanjut Tiara. “Iya..iya. Tapi kalau berisi dikit, unyu kali ya, semi montok gitu." Adel berucap sambil menggerak-gerakkan alisnya . Keduanya terbahak. Setelah selesai makan malam Tiara membereskan meja makan dan peralatan dapur yang tadi ia pakai, sedangkan Adel mendapat bagian mencuci perkakas tersebut. Lantas mereka beranjak ke ruang shalat untuk melakukan shalat isya’ berjamaah, setelah itu menaiki anak tangga masuk ke kamar Adel. “Udah ngantuk lo?” tanya Adel melihat Tiara yang keluar dari kamar mandi merebahkan badannya ke ranjang, memeluk guling serta menarik selimut hingga dadâ . “Mmmm ....” gumam Tiara yang sudah memejamkan matanya. “Gampang banget lo ngantuknya.” Terdengar nada singkat dari ponsel Adel. Ia tersenyum, kemudian berbalas pesan dengan Rafqi. “Ra, apa abang ngehubungi lo?” tanya Adel tiba-tiba. “Abang siapa?” Tiara balik bertanya, suaranya pelan tapi masih terdengar oleh Adel. “Ya abang Davin lah, siapa lagi,” jawab Adel yang masih sibuk membalas pesan masuk dari Rafqi. “Ya enggak mungkinlah, Del, kita enggak sedekat itu.” Tiara masih menutup matanya, kantuk mulai melandanya. “Soalnya kurang lebih seminggu yang lalu gue ngasih nomer lo ke abang .” Ujar Adel memberitahu. Tiara seketika membuka lebar matanya. “Hah?! Apa?!” Tiara mengubah posisi berbaring menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang, menatap tajam Adel. Ia tak habis pikir kenapa Adel semudah itu memberikan nomor ponselnya tanpa ijin, walaupun itu Davin sepupu Adel sendiri. "Kenapa ngasih nomor aku enggak bilang-bilang dulu sih, Del!" protes Tiara. “Sorry, kalau Abang nggak minta duluan, gue juga enggak bakal ngasih nomor lo kali, Ra." Tiara membuang napas pelan. Tangan kirinya meraba nakas yang ada di sebelah ranjang, mengambil ponselnya yang sejak tadi sore ia non aktifkan. “Berapa nomornya?” tanya Tiara seraya mengaktifkan ponselnya. Adel menatap bingung Tiara, mencari kontak Davin di ponsel lalu memberikannya pada Tiara. Tiara mencocokkan nomor yang ada di ponsel Adel dengan nomor-nomor yang ada di ponselnya. Adel menyandarkan kepalanya di bahu Tiara, ia ikut memperhatikan layar ponsel milik temannya itu. Kedua mata Adel melotot melihat nomor Davin berada di daftar kontak terblokir ponsel Tiara. Adel merebut ponsel milik Tiara. “Astagaaa, salah apa abang? Kenapa nomor abang lo blokir, Ra? Apa dia chatting aneh-aneh? Atau waktu kemarin nganter lo pulang dia macam-macam? Terus ini kenapa banyak banget nomor yang lo blokir?” cerocos Adel panjang lebar penuh tanya, menilik nomor-nomor yang diblokir Tiara. “Atau lo masuk DPO polisi ya, Ra?” tuding Adel terlihat curiga. Tiara mendorong pelan lengan Adel, membuat sang teman sedikit menjauh darinya. “Enak aja kalau ngomong. Balikin, Del!” Seru Tiara merebut kembali ponselnya. Kemudian menunjukan layar ponselnya ke Adel, jari jempolnya membuka blokir nomor Davin. “Nih sudah aku unblock. Bukan salah dia, aku yang salah.” Lalu menyerahkan ponsel Adel yang sedari tadi masih ia pegang. “Ck..” Adel mencebik, mimik wajahnya masih menaruh prasangka pada Tiara. Tatapan matanya beralih ke layar ponsel yang berdering, menampilkan nama ‘Bebeb’ disana. Adel berbaring membelakangi Tiara untuk mengangkat panggilan dari Rafqi. Namun, pikirannya masih berputar tentang Tiara dan Davin. Tiara pun ikut berbaring kembali menarik selimut menutupi tubuhnya. Tidak seperti dugaan Adel. Karena memang tidak ada yang aneh pada pesan Davin yang masuk ke salah satu aplikasi chatting milik Tiara. [ Hai Tiara, Lagi apa? ] 18.28 [ Sibuk ya? ] 19.59 Pesan itu yang masuk ke ponsel Tiara, tanpa Tiara balas dan tidak ia ketahui siapa pengirimnya. Tiara langsung memblokir nomor tersebut. Begitu pula saat Davin mengantarkan Tiara pulang ke kos setelah mereka menonton bioskop bersama Adel dan Rafqi . Davin mengantar Tiara dengan selamat tepat di depan pagar kos sebelum jam sepuluh malam. Dua minggu yang lalu... “Kak.” Tiara terlihat sedikit ragu memanggil Davin saat mereka sudah berada di area parkir motor, Davin yang tengah memakai helmnya sendiri menoleh ke arah Tiara. “Ya," jawabnya. “A.. Aku pulang sendiri aja, " ucap Tiara, tangannya memilin tali tas selempang yang ia bawa. Sebelumnya Adel memang meminta Davin untuk mengantarkan Tiara pulang ke kos, mereka berpisah di depan pintu utama mall. “Ini sudah malam," ucap Davin, suaranya terdengar khawatir sambil melihat ke sekelilingnya. Tiara melihat jam tangannya. “ Enggak apa-apa, Kak, baru jam sembilan kurang lima belas menit. Biasanya kalau dinas siang aku juga pulang malam, bahkan jam sembilan lebih dari rumah sakit, " kata Tiara memberitahu. Tiara berusaha menolak dengan halus. Ia merasa tidak enak hati dalam waktu bersamaan pulang dan pergi diantar Davin, sedangkan mereka baru kenal. Tiara menjaga ucapannya agar Davin tidak tersinggung, sebab Davin sudah mempunyai niat baik untuk mengantarnya pulang. “Udahlah aku antar pulang sekalian.” Davin menyerahkan helm. Tiara bergeming. Davin menarik napas pelan. Sejenak ia memperhatikan Tiara lalu melepas jaketnya menyampirkan pada kedua bahu Tiara. "Pakai, angin malam enggak baik untuk kesehatan," perintah Davin dengan lembut. Tiara benar-benar terperangah. 'Apa ini..bentuk kepedulian? Kasihan? atau modus?' batin Tiara. Davin menstarter motornya, diikuti Tiara yang sedikit terpaksa duduk di jok belakang. Sepanjang jalan Tiara dibuat mabuk kepayang oleh Davin. Laki-laki ini benar-benar ... wangi. Tiara turun tepat di depan pagar rumah kosnya. "Makasih ya, Kak, " ucap Tiara sedikit menunduk. "Ya, aku langsung pulang," pamit Davin seraya mengulas senyum. "Mmmm ...." Motor beserta pengendaranya semakin jauh dari rumah kos Tiara, hilang ditelan gelapnya malam. Setelah membuka pintu kamarnya, Tiara melihat bayangan dirinya pada cermin. "Aduh, kenapa bisa lupa, "gerutu Tiara sambil menepuk jidatnya. Tiara sekarang tahu kenapa Davin tiba- tiba meminta nomer ponselnya ke Adel. 'Kak Davin pasti mau minta kembali jaketnya," batin Tiara. Sementara di tempat lain, Davin memandang lesu layar ponselnya. Sudah tujuh hari ia menunggu balasan pesan dari salah satu nomor, tapi yang di tunggu tak kunjung muncul. Davin membuka kembali pesan yang ia kirim, dua pesannya centang dua biru, tetapi pesan ketiganya centang satu abu-abu. "Apa yang salah?" Gumamnya. Ia melempar ponselnya ke atas ranjang. Memijat tengkuknya yang terasa pegal lalu tak lama meraih kembali ponselnya. Mengetik pesan disana. Bawel [ Lo enggak salah kasih nomor, kan? ] Empat puluh lima menit berlalu pesan itu baru mendapatkan balasan. Bawel [ Yang sabar ya Baaang.] Davin mengerutkan dahi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD