PART 5 - AKU KAPOK PUNYA SAHABAT

1488 Words
Tiara duduk manis di salah satu kursi kantin rumah sakit sambil menyeruput cup minuman berisi jus strawberry yang ada di atas meja, wafer roll choco banana juga tak luput ia kunyah, sesekali ia melihat lorong rumah sakit yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Ia menunggu Adel. Sudah menjadi kebiasaan jika Tiara dan Adel memiliki jadwal dinas yang sama mereka akan pulang bersama, kecuali bila Adel sudah ada janji dengan Rafqi. Dan kali ini Tiara yang akan menginap di rumah Adel. Mereka berencana joging bersama keesokan harinya. “Ra.” “Ya..” Tiara mendongakkan wajahnya setelah beberapa menit lalu pandangannya tertuju pada taman kecil yang ada di dekat kantin. “Eh, hai Kak,” sapa Tiara setelah menyadari siapa orang yang sudah memanggilnya. “Sendirian?” tanya si pemilik suara bariton. Belum sempat Tiara menjawab si lelaki yang memakai name tag di dadaa kanannya berlogo sama dengan milik Tiara kembali bertanya. “Boleh aku duduk?” “Iya kak, duduk aja," jawab Tiara seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sedangkan lawan bicaranya menarik kursi yang ada dihadapannya. “Enggak ganggu, kan?” “Enggak lah, aku lagi nunggu Adel,” ucap Tiara memberitahu. “Kakak sendiri?” Si lelaki mengangkat plastik putih yang sedari tadi dibawanya. “Beli makanan, tadi enggak sempat makan siang.” Tiara melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Jangan sering telat makan, entar yang ada gantian kakak yang jadi pasien disini.” “Siap paduka ratu. Kalaupun sakit aku mau kamu yang ambil darahku ” Senyum si lelaki terpampang jelas saat menatap Tiara mencebikkan bibirnya. “Mending kalau cuma di sampling darah aja, nah kalau di eksekusi temen-temen kakak sendiri di ruang bedah central, gimana?” “Kaaann, gitu doanya?” Ujar si lelaki sedikit tak terima. “Hahahaha.” Tiara tertawa puas.” Dinas siang?” tanya Tiara lantas meminum jusnya. “Dinas pagi,” jawabnya. “Mau pulang bareng?” “Ah, maaf kak aku udah ada janji sama Adel.” “Ya udah, berarti enggak masalah, kan, kalau aku makan disini, sekalian nemenin kamu yang lagi nungguin Adel,” ucap si laki-laki seraya membuka plastik yang berisi makanan dan botol mineral lalu menaruhnya di atas meja. “Gimana yaaa.. mau dilarang Kakak udah gelar dagangan di atas meja gitu,” sindir Tiara menatap makanan yang mulai disantap si empunya, membuat si laki-laki tertawa renyah. ”Kayaknya akhir-akhir ini kamu ngehindarin aku, ya, Ra?” ucap sang laki-laki setelah menelan makanannya. Tiara menatap laki-laki yang berada dihadapannya, ia menaikkan satu alisnya. “Ngehindarin?” ulang Tiara. “Kalau aku ngehindarin kakak nggak mungkin kan kita duduk berdua disini?” Tiara menimpali. “Kan kebetulan aja kita ketemu.” Laki-laki itu menyendokkan kembali makanan ke dalam mulut. Tiara menghela napas panjang. “Hmmm, karena kita jarang ketemu makanya Kakak ngerasa aku menghindar dari Kakak gitu? Buat apa coba aku ngehindar? Kayak punya hutang besar aja.” Tiara tertawa menampilkan gigi putihnya. “Aku berharapnya sih bisa jadi dept colector hati kamu, tapi layu sebelum tumbuh subur, patah sebelum berbunga.” Ucapnya memelas. “Idiiih, apa sih yang kakak makan? Sejak kapan jadi melankolis gak jelas gitu?” cibir Tiara. Si laki-laki yang merupakan perawat bedah di Rumah Sakit Mitra Sehat itu tertawa lebar. Masih ia ingat dengan baik satu bulan yang lalu ia menyatakan perasaannya pada perempuan yang tengah duduk didepannya, akan tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Tiara menyukainya sebagai teman. “Kita masih bisa berteman kan, Ra?” ujarnya menatap lekat ke dua mata Tiara, satu jari kelingkingnya ia angkat tepat dihadapan Tiara. "Konyol!" ujar Tiara sambil tersenyum, namun tetap mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking rekan sejawatnya. “Teman." Mau tak mau Tiara menyahut. “Eheemm ... Sorry, Ra, udah bikin lo kelamaan nunggu,” ujar Adel yang sudah berdiri di dekat kursi Tiara, membuat kedua orang yang duduk berhadapan menoleh bersamaan. “Eh, enggak apa-apa, Del,” sahut Tiara lalu berdiri membawa tasnya . “Kak, kita pulang duluan ya.” “Makasih Kak sudah nemenin Tiara, pulang dulu, ya?” Adel ikut berpamitan. “Iya, dengan senang hati.” Laki-laki itu tersenyum ramah ke arah dua perempuan tersebut, kedua tangannya membereskan kardus sisa makanan lalu meneguk air dalam botol kemasan. “ Hati-hati di jalan.” *** Udara pagi yang segar dan sinar matahari yang cerah semakin membuat Tiara dan Adel antusias untuk joging. Satu jam lebih mereka mengelilingi komplek perumahan Adel. Bulir-bulir keringat nampak di wajah keduanya, mereka sudah terlihat letih. “Istirahat di sana, yuk.” Tiara menunjuk taman yang ada di seberang jalan. “Lo kesana duluan entar gue nyusul, gue mau beli minum,” ucap Adel meninggalkan Tiara, melangkahkan kakinya ke penjual minuman yang berada di dekat taman. “Oke!” seru Tiara. Tiara duduk di bawah pohon besar yang rindang, beralaskan rumput taman yang hijau dan apik. Angin berhembus membelai halus wajah Tiara. Kakinya ia luruskan ke depan, kedua tangannya ia tarik kebelakang menopang badan. Handuk kecil yang menggantung di lehernya ia gunakan untuk menghapus keringat di wajahnya. Tak lama Adel menyusul duduk disampingnya membawa dua botol mineral dingin dan dua bungkus cilok berbumbu kacang, lalu membaginya pada Tiara. "Adem ya ...." ucap Tiara. Adel menganggukkan kepala. "Tapi ini pohon banyak ulet bulunya enggak, ya?" sambung Tiara sambil mendongakkan kepala, melihat ranting dan dedaunan pohon tempat ia dan Adel berteduh. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Adel mengedikkan kedua bahunya, acuh. "Lo lebih milih mana, digerepe'in ulet bulu atau digerepe'in cowok?" goda Adel menahan tawanya. Kedua bola mata Tiara membulat. "Enggak dua-duanya, kamu aja tuh yang digerepe'in!" "Yakin enggak mau?" Adel menyipitkan kedua matanya. "Bodoo amat, Del!" Hardik Tiara. Adel tertawa puas. “Lumayan ramai juga ya disini,” ujar Tiara melihat sekeliling taman sementara tangannya membuka botol minuman. Selain Adel dan Tiara ada beberapa orang yang tengah berolah raga, ada pula yang hanya sekedar bersantai ria atau menemani anak-anak mereka bermain di taman. “Iya ini Sabtu, kalau Minggu lebih ramai lagi.” Adel membetulkan kuncir rambutnya yang mengendur. “Oh ya.” “Kapan lo dines pagi? Anter gue beli high heels dong, Ra , please,” bujuk Adel. Adel melihat ekspresi wajah Tiara, tanpa Tiara mengeluarkan suara pun Adel tahu jawaban apa yang akan diberikan temannya itu. “Ayolah ra,entar gue beliin tunik, sepatu, ataauuu lingierie.” Adel masih membujuk, matanya berkedip-kedip seperti kucing yang minta dipungut. “Enggak ah!” tegas Tiara. ”Kamu lupa? Baru dua minggu yang lalu kita jalan, Del. Terbuat dari apa sih kaki kamu? atau kurang banyak papper bag yang kamu bawa sama kak Rafqi kemarin?" cerocos Tiara terlihat kesal. "Terus lima hari yang lalu kita ke Arion kenapa enggak beli itu barang.” Tiara menusuk cilok dengan sedikit kasar lalu memasukkannya ke dalam mulut. “Huhuhu, iya kemarin gue lupa enggak beli high heels sekalian,” ucap Adel tanpa dosa, ia terlihat menyesal. Tiara menutup rapat wajahnya dengan handuk, mengusap wajahnya berkali-kali. Seandainya di taman itu sepi ingin rasanya ia berguling-guling di hamparan rumput taman, menumpahkan kekesalannya. 'Sabar-sabar.' Sejak mengenal Adel ia mulai faham, temannya ini maniak shopping. Bagi Adel tidak cukup mengelilingi mall hanya tiga jam saja. Tiara harus berulang kali menggertak Adel akan meninggalkannya di mall bila Adel tetap kekeh masih ingin memanjakan mata dan menguras isi dompet. Berbeda dengan Tiara yang kurang begitu suka menghabiskan waktunya terlalu lama di pusat perbelanjaan. Selain bekerja, Tiara lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar kosnya, tidur atau mengerjakan pekerjaan rumah. Ia lebih suka jalan-jalan di alam terbuka, melihat pemandangan alam yang begitu indah dan mempesona. Namun, Tiara juga sering mengalah mengikuti kemauan Adel, demi menyenangkan hati sang teman. “Ajak bunda Alia,” ucap Tiara memberikan saran. Adel menghela napas panjang, sepertinya percuma memaksa Tiara. jawaban temannya itu tidak akan berubah. Adel terlihat memikirkan ucapan Tiara, sepertinya tidak ada salahnya mengikuti saran dari Tiara, mengajak bundanya untuk menemani membeli high heels. Lagi pula sudah lama ia tidak pergi bersama bunda Alia, hanya saja ia harus terlebih dahulu menyiapkan telinganya untuk mendengar petuah-petuah dari bunda Alia sebelum pergi bersama. ‘Kamu masih muda, Del, bersenang-senang boleh tapi jangan berlebihan, tahu batasan. Sisihkan uangmu untuk ditabung. Jangan membeli yang sekiranya tidak terlalu dibutuhkan.’ Nasehat bunda Alia yang sudah Adel hafal di luar kepala. Tiara pun sering mendengar langsung ucapan bak mantra itu secara langsung. Tapi Tiara mengerti tujuan bunda Alia untuk kebaikan Adel. “Katanya sahabat, tapi nganter ke mall aja enggak mau.” Adel mencemooh. “Bukan, aku bukan sahabat kamu. Kita cukup jadi teman. Aku kapok punya sahabat.” Tiara mengatakannya dengan menekankan pada setiap kalimat. “Kenapa?” Adel menatap serius Tiara, dahinya mengernyit dalam, rasa penasaran hadir dalam pikirannya. Adel merasa hubungannya dengan Tiara selama ini bisa dikatakan lebih dari sekedar teman, bahkan Adel sudah menganggap Tiara sebagai saudaranya. “Sudahlah, lupakan,” ucap Tiara beranjak meninggalkan Adel yang masih duduk di rerumputan. “Hei, tunggu, Ra!” teriak Adel memanggil Tiara, namun yang dipanggil tidak menoleh tetap menarik langkah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD