"Alden, Buka, Den!" teriakku sambil menekan bel secara membabi buta pada doorphone interkom di depan apartemennya.
Aku masih belum berhenti memencet bel. Alden harus bangun dan membukakan pintu untukku. Ini masih pagi, aku yakin dia masih bergelung dengan selimutnya apalagi ini hari libur.
"Bawel gila! Kalau lo bukan Bos gue, udah gue minta satpam buat nyeret lo keluar." Alden membuka pintunya sambil mengucek-ngucek matanya. Sudah jelas dia baru bangun tidur, nyawanya bahkan belum terkumpul sepenuhnya.
Aku menatapnya sekilas lalu melanjutkan langkahku masuk dalam apartemennya tanpa peduli dia meracau tidak jelas. Kalau kata Tante Ilen—Mama Alden—anggap saja apartemen sendiri.
Aku langsung menuju ruang tamu dan duduk manis di sana.
"Talent yang kata lo alumni agensi sebelah, udah berhasil lo rekrut?" tanyaku pada Alden yang berdiri di hadapanku sambil menatapku sinis.
"Pagi-pagi udah tanya pekerjaan aja sih, Lo. Libur Bos libur!" protes Alden sambil meraup mukanya frustasi.
"Lo cuci muka dulu gih, gue lapar mau cari makanan di dapur lo. Boleh ya?"
"Heleh sok-sokan izin, biasanya juga langsung ngacak-ngacak isi apartemen gue," balas Alden singkat lalu pergi begitu saja.
Aku melangkah ke dapur dan mencari beberapa makanan yang bisa aku makan. Masih terlalu pagi memang dan aku sudah membuat keributan di tempat orang.
Aku menghela nafas berat ketika tidak menemukan apa-apa selain roti tawar yang layak dikonsumsi. Tidak ada snack, tidak ada bahan makanan, tidak ada buah, hanya air mineral dan minuman beralkohol yang memenuhi isi almari pendinginnya.
Memang seharusnya aku sudah memprediksi hal itu, dia seorang produser musik yang hari-harinya ia habiskan di studio miliknya. Apartemen hanya tempat dia mampir tidur. Masalah makan, Alden adalah pelanggan fast food, jadi memang masuk akal jika tidak ada makanan di sini.
Aku menunggu roti tawar yang aku panggang di dalam oven. Tidak masalah jika hanya ada roti dan margarin, bagiku itu sudah cukup untuk sarapan.
"Gue yakin lo datang ke sini nggak mungkin cuma buat nanyain pekerjaan, kecuali itu urgent dan menurut gue nggak ada yang urgent untuk sekarang," ucap Alden tiba-tiba sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Selain menjadi seorang produser musik, dia juga menjadi seorang freelance di agensiku sebagai talent scout. Awalnya kita menjalin relasi karena dia mengincar salah satu talent yang masih berada di bawah kontrak agensiku untuk ia orbitkan sebagai solois di bawah labelnya. Aku bahkan tidak habis pikir bagaimana bisa aku menyetujui idenya untuk freelance di tempatku. Mungkin karena kita menjadi lebih dekat setelahnya atau karena kemampuan dia dalam mengenali potensi talent sangat mengagumkan. Aku tidak yakin, yang jelas kita menjadi teman sampai sekarang.
"Zelline..."
"Iya." Aku mengambil roti tawar panggang ala kadarnya ini dan meniriskannya di piring. "Lo mau nggak, Den?"
"Kalau gue bilang nggak, emang ten pieces roti itu mau lo habisin semua?"
"Iya."
Alden meraih dua piring berisi roti itu dan membawanya ke ruang keluarga. "Fix sih, yakin gue, pasti lo ada masalah."
"Sok jadi cenayang lo!" Aku mengikuti Alden sambil membawa dua botol air mineral. Lalu meletakkannya di meja.
Aku mengambil duduk di sebelah Alden. "Alden..."
"Brian kan? Pasti Brian! Kenapa? Berantem lo berdua?"
Yaps, you got strike!
Ngomong-ngomong Alden ini salah satu sahabatnya Brian. Aku memang sudah kenal dengan Alden sebelum mengenal Brian, tapi aku merasa justru lebih dekat dengan Alden setelah aku bertunangan dengan Brian. Mungkin karena aku sering curhat masalah Brian kepadanya.
"Iya emang Brian, tapi nggak berantem. Ya kali gue berantem sama dia."
"Terus?"
"Emang Brian nggak bilang apa-apa sama lo?" Kalau dipikir-pikir sebenarnya Alden itu kasihan juga, dia sering mendengarkan curhatan kedua belah pihak—aku dan Brian—yang isinya sepertinya sama saja.
"Nggak, tuh," balas Alden, dia mengerutkan keningnya. "Apaan sih?"
"Brian tanya tentang pernikahan sama gue," lanjut gue, "Kemarin, dan gue masih kepikiran sampai sekarang."
Alden menatapku sebentar kemudian tertawa terbahak-bahak.
Sialan! Salah tempat curhat sepertinya.
"Nggak usah ketawa, gue pecat lo!" ancamku yang sebenarnya aku yakin tidak berguna. Dipecat pun dia masih punya keluarga yang kaya raya dan masih punya usaha.
"Ampun, Bos!" Dia melanjutkan, "Dia tanya doang? apa ngajakin married?"
"Ngebahas doang sih."
"Terus kenapa lo pikirin sih, Beb? ya wajar dong si kadal ngebahas pernikahan, apalagi nyokap lo yang tiap hari mulutnya nggak berhenti komat-kamit, udah pasti stres itu anak."
"Justru karena itu, gue merasa gue nggak ada harapan sama Brian. Sementara mami terus maksa gue buat nikah. Gue harus gimana dong, Den? Bantuin mikir!"
Satu tahun dan kita masih seperti ini saja. Hanya sesekali kita menjalin romansa untuk meningkatkan keintiman. Selebihnya, kita tidak lebih dari seorang teman.
"Married sama gue aja, Zell. Dijamin harta kekayaan kita kalau dijumlah bakal melebihi luasnya antartika Dijamin sejahtera sampai 10 tanjakan deh," gurau Alden sambil merangkulku.
"Sinting! Nih ya gue kasih tahu, lo tuh opsi terakhir yang gue pilih kalau spesies laki-laki di muka bumi ini udah punah." Aku serius, Alden adalah opsi terakhir. Aku hanya tidak mau kehilangan teman seperti dia. Lebih baik kita tidak menjalin romansa jenis apapun yang berpotensi merusak hubungan yang harmonis ini.
"Sakit, Zell, sakit. Belum apa-apa udah ditolak mentah-mentah gue," Alden memasang wajah merananya yang berlebihan. Aku hanya melihatnya malas, he is just another king of drama.
"Alden... gue serius." Aku menatapnya dengan wajah memelas.
"Nggak usah sok mellow gitu deh, sumpah nggak cocok. Lo tuh pantesnya jadi ratu iblis yang suka menyiksa, mana ada cosplay jadi korban."
Bangke! Mulutnya lemas sekali ya, Kak.
"Bertingkah sesuai karakter ya, Den? Okay, fine. Karena gue merasa udah nggak ada harapan sama Brian, better gue cari cowok lain sih mending. Kali aja nemu yang cocok, gue langsung ajak married lah."
"Sinting!" Giliran Alden yang mengolokku. "Kan lo masih tunangan sama Brian?"
"Ya terus apa masalahnya? Its just about status by the way." Aku mencomot roti yang sedari tadi diam menyaksikan obrolan kita. Ngomong-ngomong aku lapar sekali.
"Lagian kalau perburuan kali ini berhasil, misal i got my right one and Brian can find his mate too. Bukankah itu lebih mudah? Kita nggak perlu repot-repot terjebak dalam hubungan tidak jelas seperti ini tanpa kepastian."
Alden tampak berpikir kemudian mengangguk-angguk setuju. Dia bahkan tidak mau repot-repot mengomel karena ide gilaku. Sepertinya doktrin sesatku sudah merusak sel di otaknya.
"Kalau lo pada akhirnya malah jatuh cinta sama Brian?" tanya Alden, sepertinya dia masih penasaran dengan apa isi otakku.
"Ya bagus dong, Den. Berarti hipotesis gue di awal terbantahkan dan gue nggak perlu repot muter-muter cari cowok terus-terusan," balasku enteng.
Bukankah ini lebih simpel dan menjanjikan daripada terus menunggu update hubunganku dengan Brian yang tidak ada perubahan secara signifikan?
Alden menghela nafas pasrah. "Terserah lo aja deh, gue cuma berharap yang terbaik buat lo sama Brian."
Aku tersenyum penuh arti. "Kalau gitu bantuin gue dong!"
"Apalagi sekarang? Perasaan gue nggak enak."
"Kenalin gue ke temen-temen cowok lo dong, Den!" pintaku sambil mengerling.
"Nggak-nggak, temen-temen gue nggak ada yang bener," tolak Alden.
"Nggak bener? Kayak lo? Kayak Brian? sejenis kadal penghuni rawa gitu? Nggak apa-apa sih, kali aja bisa gue jinakin."
Alden memasang wajah masam. "Ya nggak usah diperjelas kali. Tahu gue tahu, sadar diri kok. Makanya, kalau lo niat buat yang diajak serius, gue nggak ada rekomendasi."
"Yaudah lah ya, santai aja sih. Cowok masih banyak kok. Mana tahu setelah ini nemu di jalan."
"Ngapain itu di jalan? ngemis maksud lo?" ledek Alden.
Sialan!
"Zelline..."
"Hem."
"Good luck ya! Kalau udah mentok dan nggak ada arah, ingat Zel, lo masih punya opsi terakhir," ujar Alden yang membuatku tersenyum miring.
Dont worry, Den! I wont let my self to touch my last option.