Chapter 1—Ajakan Menikah?

1802 Words
Sore ini, aku baru tiba di Jakarta setelah menyelesaikan perjalan bisnis di Singapura hampir sepekan penuh. Mengelola modeling agency di usiaku yang menginjak ke-26 tahun ini benar-benar membuatku nyaris lupa dengan waktu untuk bersenang-senang. Setiap saat aku hanya akan memikirkan tentang bagaimana mengelola bisnisku dengan baik, menjalin mitra sebanyak mungkin, dan menjadikan para talent di rumah produksiku terkenal hingga mancanegara. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru bandara mencari sopir yang seharusnya sudah stay sejak beberapa menit yang lalu untuk menjemputku. Namun sialnya, aku bahkan tidak menemukan batang hidungnya setelah beberapa menit menunggu di ruang tunggu. Waktu adalah uang, hal itu mutlak bagiku. Aku beranjak dari kursi tunggu sambil melangkah menyeret koper. Lebih baik aku menggunakan layanan taksi daripada terus menunggu tanpa kepastian. Aku melangkah dengan percaya diri. Sebenarnya aku sangat menyukai berjalan di tempat keramaian seperti ini. Aku sangat sadar jika aku adalah perempuan yang cantik, berpostur ideal, dan berpenampilan menarik. Apalagi sebelum menjalankan bisnis permodelan, aku sudah terbiasa menjadi model sejak masih di kelas menengah pertama. Jadi, ketika menjadi pusat atensi publik, aku sangat menikmatinya. "Sayang sekali, Nona Zelline Mabella. Sangat tidak sesuai ekspektasi," ujar seorang laki-laki yang menghadang langkahku tiba-tiba. Sebenarnya aku cukup terkejut mendapati Brian Cavero, tunangan yang tidak kuharapkan namun sayangnya terlalu tampan dan kaya untuk kuabaikan itu muncul tiba-tiba di hadapanku. "Gue pikir lo bakalan ngamuk-ngamuk atau paling nggak nyebut penghuni kebun binatang dulu karena sopir lo nggak datang, eh ternyata malah tebar pesona," ucap Brian yang harus kuakui tampak menawan dengan setelan jas kerjanya. "Siapa yang tebar pesona? Orang gue cuma jalan. Udah dasarnya aja gue cantik dari lahir." Aku adalah penganut sekte narsisme, jadi jangan heran jika aku terlalu banyak memuji diri sendiri. Aku mengacuhkan kehadiran Brian dan melanjutkan lagi langkah yang sempat terhenti tadi. "Tapi seneng kan, gue yang jemput?" goda Brian lalu ikut melangkahkan kakinya di sebelahku. "Jadi lo ya yang bikin Pak Budi nggak datang? Nggak ada kerjaan ya, Pak? Apa jangan-jangan lo baru aja dipecat? Sorry banget ya, Yan. Gue nggak mau hidup susah." Brian memutar bola matanya malas. Tentu saja tidak mungkin dia dipecat di perusahaannya sendiri kecuali dia terlibat aksi pidana. "Mana ada gue dipecat, yang ada bokap gue seneng pake banget gue mau jemput lo. Jarang-jarang lagi direktur keuangan yang super sibuk nan tampan ini punya waktu luang." Aku mencibir, sudah terlalu hafal dengan sifat narsis Brian yang nyatanya sebelah dua belas sama dengan sifatku. Jika dipikir-pikir, hubungan kita cukup baik mengingat pertunangan kita yang baru dilakukan sekitar 1 tahun yang lalu itu berlandaskan perjanjian bisnis. Keluarga Brian memiliki bisnis properti yang sama dengan bisnis yang dikelola oleh keluarga besar papa. Meski tidak sebesar perusahaan keluarga papa, cabang perusahaan PLC sudah menyebar di beberapa kota. "Brian, gue capek," keluhku. Sebenarnya bukan lelah secara fisik, tapi secara mental. Selama satu minggu aku harus menyelesaikan beberapa kontrak kerja sama dari pihak client. Ada oknum yang tidak tahu diri dan hanya ingin untungnya sendiri. Siapa yang ingin bekerjasama dengan pihak seperti itu. Jika bukan karena dia brand ternama dengan reputasi baik dan berguna untuk mendongkrak portofolio agensiku, aku tidak akan sudi bekerjasama dengannya. Brian menghentikan langkahnya dan menatapku penuh arti. "Mau diseret?" Sialan! Ekspresi dan mulutnya sangat tidak sinkron. "Nggak sekalian lo gelindingin aja?" Dia tertawa puas. Dengan kesal aku mendorong koper yang berada di tanganku ke arah Brian. "Bawain ya, sekalian lo ambil mobil lo. Gue tunggu di sana aja ya, cepetan! Bye!" Brian mematung di tempat melihatku yang sudah menjauhi dia. "Niat mau ngerjain malah gue jadi babu, lupa gue kalo lo tu cewek titisan iblis." Dari tempatku melangkah, aku masih bisa mendengar gerutuan Brian. Salah sendiri usil di saat moodku sedang kacau. *** "Jadi bagaimana?" tanya Brian dari arah dapur. Aku bahkan tidak mengerti apa maksudnya. Aku juga menurut-menurut saja ketika dia mengajakku ke apartemennya alih-alih ke apartemenku sendiri atau ke kantor. Seharusnya aku kembali ke kantor dan mengecek banyak dokumen setelah absen selama satu minggu. Tapi Brian bahkan tidak peduli dengan ucapanku dan aku sama sekali tidak ingin adu mulut dengannya atau mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu karena sepertinya aku memang butuh istirahat sebentar. "Apanya yang bagaimana?" tanyaku sambil merebahkan diri di sofa putih empuk yang menghadap ke arah televisi. Benar-benar sangat nyaman. Rasanya punggungku menemukan tempatnya berlabuh. "Minum dulu, nanti saja, daripada tersedak." Brian menyerahkan matcha latte kesukaanku. Aku bangun dari posisi tidurku dengan enggan. Ayolah, belum ada sepuluh menit aku rebahan sudah diminta bangun lagi. Tapi matcha latte sangat menggoda. Brian masih diam sambil memperhatikanku yang meneguk segelas latte dengan kilat. Sumpah demi apapun aku sangat benci dengan cara Brian menatapku—tatapan memuja. Membuatku terkadang bisa gugup setengah mati meski aku cukup tahu dia memang akan berlaku seperti itu dengan deretan mantan kekasihnya. Mungkin karena dia memanglah seorang player profesional. "Sudah?" tanya Brian dan aku mengangguk. "Apaan sih, Yan? Jangan bikin gue penasaran!" Aku balas menatapnya lekat. Memang dia saja yang bisa menatap dengan cara seperti itu, aku juga bisa. Dia tersenyum dengan sangat menawan. Tangannya dengan lihai meraih puncak kepalaku dan mengusapnya pelan. "Jadi sudah dipikirkan belum?" Brian bertanya lagi. Aku semakin mengernyit. Apanya? "Kapan kita akan menikah?" Pertanyaan dia yang lolos sangat mulus dari mulutnya itu membuat verbalku tidak berfungsi dalam beberapa detik. Seharusnya aku tidak menghabiskan latteku dan benar-benar tersedak daripada harus pura-pura batuk untuk menghindari kecanggungan. Brian tersenyum, "aku tidak berekspektasi ekspresimu akan seterkejut itu, Zel." Oke, Brian sudah mengganti panggilan kita menjadi aku-kamu, di mana aku akan menurutinya. "Terkadang kita perlu menjadi lebih intim dalam berlisan untuk mengenal satu sama lain, Zel. Kalau kamu nggak keberatan, kita bisa memulai dari panggilan." Kata-kata Brian di saat awal-awal kita baru bertunangan menjadi pemicu hubungan kita menjadi lebih baik. Hingga akhirnya, di beberapa kesempatan, ketika kita memang butuh bicara serius, ketika kita ingin berkeluh kesah, ketika kita ingin meromantisasi hubungan, kita akan mengubah panggilan kita terlebih dahulu. "Kamu lagi ngerjain aku? Cuma mau lihat bagaimana ekspresi aku kayak gimana?" "Nggak-nggak, aku serius," ucap Brian lagi. Serius bagaimana? Dia tidak sedang benar-benar mengajakku menikah, kan? "Brian, C'mon! Kita pernah membahas hal-hal seperti ini sebelumnya. Maksudku, tentang pernikahan." Aku cukup was-was mendengar jawaban dia selanjutnya. "Justru karena kita pernah membahas hal ini, Zel. Aku ingin tahu kamu masih pada pendirianmu apa sudah berubah pikiran," lanjutnya. "lalu?" Brian, please! Dia Biasanya tidak bertele-tele seperti ini. "Desakan keluarga kamu dan papa. Yah-" Aku memotong ucapannya, oh jadi karena itu. Setidaknya aku tahu apa masalahnya sekarang. "Abaikan saja! Mami mulutnya memang seperti itu. Lagian kita yang menjalani, bukan mereka." Aku menghela nafas berat. "Brian... aku menginginkan pernikahan yang sesungguhnya. Kalau sampai detik ini kita masih seperti ini. Aku mau kita jalani aja dulu. Kita bertunangan sudah dengan paksaan, meski kita pada akhirnya saling memahami. Tapi aku nggak mau kalau menikah dengan cara yang sama, Yan." Brian mengangguk, dia merengkuh pundakku dan memelukku pelan. Aku membalas pelukannya dan menyandarkan kepalaku di d**a bidangnya. Sejenak aku memejamkan mata menikmati sensasi ini—hangat dan memenangkan. Brian mengelus rambutku pelan. "Ngantuk ya? pasti capek banget. Tidur di kamar ya, Zel?" Aku masih enggan membuka mata dan berpindah posisi. Mungkin karena terlalu nyaman. Kalau diingat-ingat, kita pelukan seperti ini masih beberapa kali, sepertinya masih sanggup dihitung dengan jari. Brian tiba-tiba mengangkat tubuhku. Reflek, aku melingkarkan tanganku pada lehernya erat—takut terjatuh. "Resek ih, kalau jatuh gimana coba?" protesku pada Brian dan hanya dibalas cengiran. Menyebalkan! Brian merebahkan tubuhku di atas kasur, di kamarnya. "Udah, sekarang bobok deh. Nanti malam aku bangunin untuk makan malam." "Bobok sound sweet ya," celetukku sambil terkekeh. Brian menarik hidungku gemas. "Ngeledek banget sih..." Aku menarik tangan Brian yang mau melangkah pergi. Katakan aku memang sedang gila atau anggap saja masih terkena efek jetlag. Tapi aku sungguh ingin Brian di sini. "Mau ditemenin? Biasanya juga langsung ngusir. Deket dikit aja langsung kayak harimau ngamuk," ledek Brian. Tidak dipungkiri aku memang sangat menjaga jarak dengan Brian. Hanya sesekali bercengkrama mesra, selebihnya hanya bertingkah seperti teman biasa. Aku hanya tidak ingin terjatuh sendirian—menyukai dia—ketika dia dengan terang-terangan mengatakan sulit untuk suka padaku. Sementara, sifatnya berbanding terbalik dengan mulutnya—dia bersikap kelewat manis. Jadi, aku harus hati-hati. "Sini.." Aku menepuk bantal di sampingku. "Jadi, mau ditemenin bobok apa mau dibobokin?" Shit, mulutnya! Aku menendang kakinya sebal. Dia tertawa lalu berbaring di sampingku. "Awas macam-macam!" peringatku. "Satu macam aja sih sebenarnya." Dia balas menggoda. "Brian!" Dia terkekeh. Beberapa saat kemudian keheningan melanda kita. Tidak ada suara hingga panggilan dari Brian memecah kesunyian. "Zell..." "Zelline..." "Hm?" Jujur mataku terasa berat sekali. Aku ingin memejamkan mata tapi sepertinya Brian ingin memulai pembicaraan lagi. "Menurut kamu, kita bisa nggak sih saling jatuh cinta nantinya? Apa pada akhirnya kita akan tetap seperti ini? atau justru menikah tanpa cinta?" Brian sepertinya masih belum ingin beranjak dari topik ini. Aku maklum, karena bagaimanapun juga hubungan kita sangatlah aneh dan butuh kejelasan. Sementara kita bahkan tidak tahu bagaimana cara memperjelasnya. Status kita hanyalah tunangan, tidak lebih dari itu, tapi kita bertingkah lebih dari itu meski tidak menggunakan perasaan. Di sisi lain aku mengharapkan perasaan yang tulus nantinya. Sangat rumit dan kita sendiri yang membuat kerumitan itu. "Sudah tidur ya?" tanya Brian. Aku memang memejamkan mata, tapi aku masih mendengarkannya. "Belum, hampir." Aku membuka mataku dan mengubah posisiku untuk menghadap ke arah Brian, "Aku pikir, kita bisa. I mean falling in love to each other. Tapi kamu bilang, it will hard for u to falling in love with me. Apa mungkin bakal jadi one side ya? Kasian banget nasibku." Brian terkejut. Mungkin lagi-lagi dia tidak berekspektasi dengan jawabanku. Aku memang bukan seseorang yang suka memendam. Aku lebih suka mengutarakan apa yang ada di dalam pikiranku. Untuk saat ini, itulah yang aku rasakan. "Kamu masih ingat ternyata dengan ungkapanku last time. Tapi jujur, Zell, sekarang aku jadi yang nggak yakin. Aku nggak pernah berhasil menjalani hubungan serius dengan siapapun. Meskipun sekarang, rasanya aku setuju dengan pendapatmu." Brian terlihat menimbang-nimbang ucapannya. "Kok bisa berubah?" tanyaku. Aku tahu hari manusia mudah berubah bahkan dalam hitungan detik. Tapi aku penasaran sekarang. Tidak mungkin tidak ada penyebabnya, kan? "Karena saat itu kamu tampak sangat jauh, Zell. You look so far and it look like i cant reach u from this way. Kalau sekarang, bukan berarti kita memang sudah sangat dekat, tapi aku merasa kita bisa saling mengerti. Ya... selain itu, kamu selalu membuatku ingin lebih mengenalmu. Zelline, aku benar-benar nggak bisa menebak apa yang ada dalam pikiranmu." Aku terkekeh. "Kamu bukan cenayang, Sayang. Jadi, mana bisa ngerti apa yang ada dalam pikiranku. Aku aja kadang nggak ngerti." Brian mengelus pipiku lembut, "Dipanggil sayang akunya. Duh mulutnya manis banget ya Zell." "Kenapa? Mau nyicip?" Aku tersenyum jail. "Udah tidur, nggak usah mulai. Dicium beneran nangis lagi." Aku tertawa pelan dan segera memejamkan mata. Brian memelukku dan membiarkan aku bersandar pada lengannya. Biarkan semuanya seperti ini. Setidaknya untuk saat ini, aku merasa ini lebih dari cukup. To be continued ✨
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD