Salah Belok - Tapi Beneran Deg-degan
Hidup Nayara Anindya Pradipta hari itu resmi menjadi tontonan dan lelucon dalam hidupnya sendiri. Bukannya lucu tapi malah membuat hidupnya jungkir balik. Dengan “gagal total” atau mungkin "gagal move on."
Semua gara-gara peta digital sialan di ponselnya yang dengan lantangnya mengatakan “Tujuan Anda berada di sebelah kanan.” Padahal, kanan yang dimaksud bukan kafe mungil tempat di mana dia akan bertemu dengan seseorang untuk membicarakan tentang kerja sama.
Nayara tertegun. “Oke, ini jelas bukan kantor klien. Kenapa pula gedungnya mirip banget sama coworking space?” gumamnya, sambil mendorong pintu kaca.
Tulisan yang tak sempat dilirik oleh mata Nayara. Cukup besar padahal. Klinik, men. Lengkap dengan tulisan : “Dr. Revan Arkana Satriya, Psikolog Klinik.”
Dan tentu saja, ini takdir atau sekedar candaan hidupnya. Tuhan punya selera humor yang mampun membuat Naraya kalang kabut.
“Permisi, apa benar ini kafe—” Nayara sudah setengah membuka pintu, sebelum kalimatnya membeku di udara.
Pria di dalam ruangan itu menoleh dari tempatnya berdiri, sepertinya dia sedang berbincang dan menoleh saat Nayara mengucapkan salam. Tatapan teduhnya naik perlahan, sampai akhirnya mereka saling menatap—cukup lama untuk membuat waktu berhenti, dan paru-paru Nayara seakan berhenti memompa.
“Oh Tuhan….” bisiknya pelan.
Revan Arkana Satriya. Mantan pacar. Pria yang dulu menjadi alasan ia lari sejauh mungkin. Dan sekarang? Ia muncul lagi… dalam jas abu muda, dengan tanda pengenal Psikolog Klinis di dadanya, dan tatapan yang—sialan—masih sama seperti empat tahun lalu.
Revan meletakkan file di depannya, menegakkan tubuh, lalu tersenyum tipis. “Masih aja… nggak bisa baca map, Ara?”
Suaranya dalam, lembut, tapi sarat akan sindiran yang dibungkus dengan sikap santai yang sama seperti dulu. Nada yang langsung membuat jantung Nayara turun ke ginjal.
“Aku—aku salah tempat. Aku pikir ini… kafe.” Ia menatap papan nama di luar, berusaha menahan malu yang sudah sampai ubun-ubun. Sejak kapan ada tulisan Klinik di sini?
“Siapa juga yang nyelipin klinik di sebelah coffee shop kayak gini, sih? Terus ini sejak kapan tulisannya pindah ke sini?” gerutunya pelan sambil menunduk.
Revan terkekeh kecil, berjalan menghampiri wanita cantik itu. “Coba deh liat, dari dulu tulisannya tetap itu dan tetap di tempat yang sama."
“Ya… siapa tau kan, konsepnya unik.” Nayara mencoba mencari alasan namun pipinya memanas. "Atau mungkin map-nya yang salah titik."
"Bukan salah map-nya, tapi salah kamu yang nggak bisa bedain arah, Ara.”
Lagi-lagi Nayara tertegun. Darah Nayara langsung naik ke kepala. Hanya Revan dan keluarganya yang memanggilnya Ara. Panggilan khusus itu, sekali terdengar, bikin semua pertahanan hatinya goyah.
Dia mendongak, menatapnya dengan dagu terangkat. “Jangan panggil aku Ara.”
Revan diam sebentar, lalu menunduk sedikit, menatap tepat ke matanya. “Kalau gitu… aku harus panggil apa? Pasienku?”
Nayara menatap sinis, tapi matanya masih gemetar. “Udah deh, aku pergi. Salah belok doang ini, nggak usah sok akrab gitu.”
Namun Revan bergerak lebih cepat. Tangannya menangkap pergelangan Nayara sebelum wanita itu sempat keluar. Sentuhannya hangat. Terlalu familiar. Dan masih sama.
“Dunia kecil banget ya, Ara,” gumamnya. “Tapi kayaknya kamu masih lari ke arah yang salah.”
Nayara terdiam. Degup di dadanya mulai liar. Sial. Kenapa harus dia salah baca map hari ini. Nayara takut jika ia salah belok membuatnya terjebak dan kembali lagi ke masa lalu yang sama. Dan kali ini, bukan karena kesalahan GPS. Tapi karena hatinya sendiri yang belum bisa update lokasi.
“Lepasin, Rev,” bisik Nayara, masih mencoba menetralkan degub jantungnya.
Tapi bukannya melepas, Revan malah menariknya keluar, seolah-olah Nayara bocah yang nyasar butuh dituntun langsung. Memang, bagi Revan sangat berbahaya jika harus melepaskan Nayara begitu saja.
Mereka keluar ke jalan kecil di sisi gedung. Revan berhenti di depan bangunan mungil dengan pintu kaca transparan dan papan nama sederhana.
“Leaf & Bean Coffee.”
“Café yang kamu cari,” ujar Revan ringan. “Sebelah klinik aku, Ara.”
Nayara menatap papan nama itu, lalu melotot tak percaya. “SERIUSAN? Ini café nyelempit di sebelah klinik kamu?!” suaranya meninggi, tangannya refleks menepuk keningnya.
Revan mengangkat alis, ingin tertawa tapi dia tahan. “Konsep hidden gem. Tapi jelas banget kalau kamu yang hidden, Ara.”
“Ugh!” Nayara mendengus keras.
“Ini juga… bisa café nyelempit gini! Mana Google Maps kayaknya sengaja buat nyasarin aku.” Gerutunya sambil cepat-cepat merapikan rambut yang sudah berantakan karena dirinya yang panik.
Revan hanya mengamati dengan tenang, senyum tipis menghiasi bibirnya. “Aku rasa, bahkan kalau dikasih map manual sama GPS hidup-hidup, kamu tetap salah belok juga.”
Nayara menoleh dengan tatapan tak suka, tapi wajahnya justru makin merah. “Udah ah! Aku telat meeting!” katanya, buru-buru melangkah masuk ke dalam café.
Revan berdiri di belakangnya, masih dengan ekspresi santai itu. “Kalau nyasar lagi, jangan lupa… klinik sebelah selalu terbuka buat kamu.”
Nayara nyaris keseleo karena buru-buru, sambil dalam hati menggerutu, empat tahun menjauh, ketemu sekali aja udah bikin otaknya mau meledak. Semoga tidak lagi. Cukup sekali saja dirinya mempermalukan diri sendiri dihadapan mantan pacar yang masuk dalam daftar pria yang dia benci.
Nayara menatap bangunan di hadapannya. Di luar, papan kecil kafe itu bergetar diterpa angin. Tulisan samar, tapi cukup jelas untuk membuat Nayara menelan ludah.
“Turn Right — Sometimes, The Wrong Way Leads You Home.”
---
Nayara Anindya Pradipta menunduk dalam-dalam sambil menahan napas, berharap lantai kafe terbuka dan menelannya bulat-bulat. Baru lima menit lalu ia kabur dari klinik sebelah — dan oh wow, tubuhnya masih terasa panas.
Dunia memang punya kejutan humor aneh. Dari ratusan klinik di kota ini, kenapa harus milik dia yang berdampingan dengan kafe tempat meeting-nya?
“Oke Nayara, tarik napas. Fokus. Klien, bukan mantan. Klien.”
Ia memaksa langkahnya ringan, membuka pintu Leaf & Bean Coffee dengan senyum profesional versi terbaik yang bisa ia kumpulkan dari puing-puing harga diri yang berserakan di luar tadi.
Aroma kopi langsung menyergap — wangi espresso dengan hint caramel. Suasana tenang, rapi, dengan interior kayu minimalis. Untung tempatnya nyaman, setidaknya hatinya bisa sedikit istirahat dari panasnya emosional mendadak.
“Selamat sore, Mbak Nayara?” seorang pria berjas abu tersenyum dari meja pojok.
Kliennya — Pak Dirga, marketing manager dari brand startup beverage yang akan bekerja sama.
Nayara cepat-cepat membalas senyum. “Iya, maaf banget, Pak. Tadi saya… eh, sempat salah tempat.” Kalimat terakhir meluncur dengan tawa canggung yang terlalu dipaksakan.
Pak Dirga tertawa ringan. “Salah tempat? Wah, semoga bukan sampai nyasar ke klinik sebelah ya.”
“Ahahaha…” Nayara ikut tertawa… kaku. Astaga, Pak, kok bisa nebak ya bapak ini.
Ia duduk, membuka laptop, mencoba menjelaskan konsep copywriting untuk campaign “The Warm Cup Project” — proyek iklan yang seharusnya sederhana.
Tapi setiap kali ia melihat warna abu muda di jas Pak Dirga, otaknya malah menampilkan flashback visual seorang pria lain dengan jas yang sama.
Revan. Tatapan matanya. Tangan hangatnya yang tadi menarik pergelangan tangannya—sedetik, tapi cukup untuk membuat jantungnya tidak sinkron selama dua puluh menit berikutnya.
“Masih aja nggak bisa baca map, ya, Ara?”
Suara itu bergaung lagi di kepala Nayara, membuat kalimatnya di depan klien jadi belepotan total.
“Jadi… jadi konsep yang saya maksud itu kayak, uh, kopi yang menghangatkan perasaan—eh bukan, bukan perasaan, tapi suasana hati pembaca.” Ia cepat-cepat menelan ludah.
Ya Tuhan Nayara, kamu. Fokus Nay, kerja.
Pak Dirga menatapnya dengan senyum bingung. “Suasana hati pembaca, ya? Hmm, kedengarannya menarik. Kamu sendiri suka kopi apa, Nayara?”
“Yang pahit. Tapi enak.” jawabnya spontan. Lalu baru sadar, tone suaranya terlalu serius.
Pak Dirga tertawa kecil. “Wah, filosofis juga ya jawabannya.”
Nayara membalas tawa itu, tapi jemarinya di bawah meja sibuk meremas ujung rok — tanda kalau pikirannya belum balik ke jalur normal.
Saat mereka menutup laptop dan diskusi hampir selesai, pelayan datang membawa dua cangkir latte dan satu americano. Senyum pelayan itu lebar.
“Titipan dari pelanggan di sebelah, Mbak. Katanya ini pesanan favorit Mbak dulu — hazelnut latte, tanpa gula, tapi foam-nya tebal.”
Jantung Nayara berhenti sepersekian detik.
Pak Dirga menoleh heran. “Wah, Mbak Nayara punya penggemar rahasia, nih?”
Nayara nyengir tipis. Dan sialnya, hatinya juga masih memgingat kesukaannya.
---
Kadang yang paling bikin salah arah, bukan map-nya.
Tapi hati yang diam-diam masih mengharap jalan pulang ke orang yang sama.